Saat ini pun mahasiswa yang peduli dan kritis bisa bertanya pada kalangan yang selama ini mengaku sebagai perwakilan wajah Indonesia yang lebih pluralis dan bahkan paling nasionalis.: Milik siapa Nasionalisme itu ?? Milik ummat atau rakyat ? . Dan kalau milik rakyat, mengapa perlu ada satu kubu yang melabeli dirinya sebagai rumah bagi kaum nasionalis ??. ya, selain bukan dari kubu itu maka ia bukan yang nasionalis dan oppositenya bisa sektarianisme dan bahkan “musuh bersama ideologis “. Inilah inferior yang bermula dari bersayapnya kata membuat sejumlah cendikiawan sepnjang peta politik Indonesia menjadi kian inferior dan rendah diri kalau perlu ikut cium tangan kawan koalisinya agar takj dicap sebagai musuh ideologis.

Amin Rais pun akhirnya menjadi salah tingkah dengan membalikkan asas PAN yang tadinya Islam ke sekedar menyematkan asasnya yang baru :Nasionalisme. Walhasil kita saksikan di pemilu 2004 dan 200k, suara partainya melonjak drastis. Dan suara PPP dan PBB pun tak jauh berbeda. Yang pertama nasib da nasabnya sebagai ”warisan” orde baru dan yang kedua sebagagi romantisme pada sejarah emas seorang Muhammad Natsir dan Masyumi. Semakin Inferior ”ngeri” dicap buakn bagian nasionalis; Identitas dan ideologi yang nature nya banyak berjasa dari selama ini khittah yang diperjuangkan dilebur jadi bak ”uang kertas ” yang bisa dipakai sebagai karcis untuk masung ke gelanggang kubu para nasionalis.

Tetapi strategi dan taktik yang dijalankan oleh PKS, sejauh pengamatan saya, memang terbilang unik dan tak lazim. Untuk sementara koalisi-koalisi yang digalang dengan Golkar dan PDIP membuat sejumlah kader da’wah di grass root dan paling lantang mengaku sebagai ”Penjaga Ashalah ” menjadi gerah. Ya, Untuk sementara inklusifnya PKS merangkul pelbagai kalangan seperti dalam Pilkada DKI Jakarta dan di Bogor dengan para Habaib membuat mereka yang menyampaikan hati nurani untuk memimpi bangsa ini dengan partai islam menjadi berkerut keningdan sekptis akhirnya. Tetapi bukankah ekslusif ke dalam dan inklusif ke luar akhirnya menjadi pilihan yang realistis? Tanpa menghilangkan idealitas. Pun Publik berhak memperoleh wajah islam di lingkup kehidupanya atau kalau masih trasa inferioritasnya, Mengapa dan apa yang salah bila membuat publik pun betah dengan wajah yang lebih beradab dan sejalan dengan fitrah manusia ?

Pada saat kampanye akbar PKS di lapangan Sempur Bogor, siapa pula yang akan melarang anak-anak Punk menaikmati Bongkar dan Bentonya Kantata Takwa ?. Siapa juag yang akan risih dengan kehadiran para habaib dan ulama NU saat tabligh akbar Maulid Nabi SAW yang diselengggarakan oleh PKS bahkan tidak ada kritik yang masuk kalau dalam kampanyenya pun dinyanyikan pula penuh takzim lagu kebangsaan kita tercinta Indonesia Raya.

Aaah…. Ada benarnya memang yang ditulis oleh akhina Arya Sandiyudha yang bukuya Renovasi Da’wah Kampus baru saja saya dapatkan dari Delano, temen seperjuangan di rohis SMAN 16, Da’wah kita jangan sampai sibuk memperhatikan isu-isu internasional tapi tenggelam dan melupakan isu-isu yang sebenernya sangat dekat dengan kultural kebangsaan kita. Nah , Nasionalisme juga dalam konteks kekinian menjadi pertanyan kritis di tengah-tengah skenario globalisasi. Akankah ia lahir sebagai anti tesa atas globalisasi atau sekedar kepemilikan ”warisan” yang hanya berhal\k dilimpahkan pada satu kelompok dan terjadilan nasioanalisme itu. Nasionalisme sebagai jalan panjang pengorbanan yang lahir dari naluri iman menjaga dan mengisi kemerdekaan Bangsa Indonesia agar tak jatuh ke tangan komprador asing jauh lebih produktif dan rasional dan dewasa serta beradab. Dibandingkan dengan mempertanyakan kembali atau malah mempertegas dikotomisasi antara partai politk yang berbasis agama dan nasionalis seperti dalam tayangan program Barometer di SCTV semalam sebelum perhelatan akbar Pemilu Indonesia digelar.

Dalam acara tersebut dihardirkanlah DR Hidayat Nur Wahid dari PKS dan RuyaDI Hutasoit dari PDS. Dan dari pihak panelis, dihadirkan Anis Baswedan dari Paramadina, Dr Komaruddin Hidayat dari UIN Syarif Hidayatullahdan satu lagi seorang budayawan, (saya lupa namanya …) namun terlihat sangat ambigu menyampaikan pendapatnya.Tetapi saya sepakat denga pandangan Anis Baswedan, memang pertama-tama masyarakat akan memilih partai islam dilandasi motif saluran ekspressi identitas nasmun dalam perjalanan ke depan, masyarakat akan cerdas menilai adakah selama ini manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat terhadap keberadaan partai Islam ?? ( klo yang ini saya mempunyai bahasan yag lain lagi …inshaAllah secepatnya )

Pertanyaan dan pernyataan yang memetakan dengan jauh antara Islam Politik dengan Islam nasionalis yang cenderung sudah jadul punya; semestinya menjadi catatan tersendiri bagi sejumlah kalangan yang selama ini fasih berbicara modernitas dan pluralisme, bahwa di kalangan terdidik ini pun belum mendapatkan ” edukasi politik” yang baik dan memadai. Saya meragukan sejumlah nama yang dikenal publik sebagai pengasong liberalisme dan pluralisme mempuyai juga idealisme seperti yang pernah dipoaparka oleh teman saya dalam kajian LDK.

Kalau memang Idealisme mereka ada tenatu bukan pure dibawa sendiri ke ruangan publik Indonesia especially harus mengorbankan UIN sebagai ”laboratorium eksperimen” nya. Bisa jadi pramatisme kepentingan asing di Indonesia untuk urusan sosial dan agama. Mereka yang tadinya pure idealis karena pertimbangan ekonomi dan pendidikan akhirnya bersedia mengasong dagangan usang dari mulai Demokrasi hingga kesetaraan Gender. Yach kalau ada spionase melayu yang sudah sering kita dengar tapi kali ini kita mulai dibudayakan akrab dengan para komprador berwajah melayu ini.

Yang ada pribadinya menjadi muara para dualis. Dualime intelektual dan spritual. Hidup boleh sebagai jablay tetapi tetap bisa mengaku paling dekat dan sudah sangat dekat dengan Tuhan. Seorang kyai pun salah tingkah dibautnya, sajadah dan rapal zikir menghadap kiblat tetapi jiwa dan fikiran asik masyuk bercengkrama dengan Las Vegas dan Lisabon. Seperti halnya seoarang mahasiswa UKI yang mengaku muslim dalam acara debat di Tv One , berteriak nyaring ”Gue walaupun jacket almamater gue Universitas Kristen Indonesia tetapi gue muslim !!” dan mengkritisi ekonomi Syariah seagai ekonomi gaya orang Arabdan kapitalisme agama. Maka kita pun berhak tertawa lebar-lebar menonton ambiguitas dualisme mereka yang lagi-lagi salah tingkah dalam bernasionalisme :Dhalal koq bangga ??

Astaghfirullahaladzim ……