Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (Surah Al Hajj : 67)

Ada yang salahkah dengan kita di hari ini ? tatkala seorang ulama Saudi dalam La Tahzan mengingatkan kita agar tak hentinya berpijak pada kacamata orang lain. Dari mulai cara berjalan, mode,pakaian, hingga prinsip pun yang lebih baik berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri Secara global kita adalah sekumpulan manusia-manusia yang lahir dan tumbuh serta mengaku bertanah air satu, berbahasa satu kemudian kelahirannya yang mengantarkan pada sebuah negara merdeka di kawasan asia tenggara atas dasar senasib dan sepenanggungan yang satu terikat perih si bawah corong penjajahan kolonial.

Secara garis merah kita jauh lebih agung dari pada sebatas ikatan kebangsaan dan tanah air semata.  Namun kecintaan kita pada skup yang ini bukan menjadi primordarial etnik buta atau buah dari fundamentalisme fanatik kasar.  Islam telah diakui para sejarawan yang mengaku hidup matinya memeluk erat penderitaan bangsa besar ini di masa lalu dan tanpa tedeng aling-aling yang menghalangi ia bersikap subjektif sebagai pemicu utama teriakan dan pekikan kemerdekaan dan kebangkitan negara-ngera tertindas.  maka jadilah kita umat Islam ada dan berperan serta dalam proses panang pertumbuhan semangat,  ideology,  pandangan hidup,  identitas,  kultur budaya atau bahkan sikap individu.

Memang ada yang salah.  Tapi terlalu naïf rasanya kesalahan itu dilabeli label “namanya juga manusia gak luput salah dari khilaf dan dosa “ dan di saat yang sama malah kesadaran itu tengah dibangun dan ditumbuh kembangkan sejalan dengan kepentingan lain yang bersenyawa secara menarik dalam tubuh bangsa dan ummat ini. Ya ! kenyataanya ia tengah tumbuh dan berkembang pada kepentingan yang lain dibawa dari awal ideologi dan pandangan hidup diproklamirkan serta dimulai oleh dua The Founding Fathers kita : Bung Karno dan Bung Hatta. Terlepas dari perdebatan sejarawan kapan itu terjadi dan tanggal berapa serta bulan apa namun keberadaannya bukan fakta yang fiksi atau fiksi yang memfakta.  Namun Ira M Lapidus salah seorang sejarawan barat agaknya harus sepakat bahwa justru setelah bangsa-bangsa Timur dan afrika merdeka proses dekontruksi arah hidup itu telah dimulai dan digalakkan.  Mari lah kita tengok sesaat apa yang berlaku di tahun 97-98.  sebuah gambaran jelas terpampang di pelbagai Koran dan media saat itu dan Alhamdulillah saya berkesempatan untuk untuk melihatnya sekali lagi dalam sebuah buku yang berjudul Mengembalikan Kemakmuran Islam Dengan Dinar & Dirham yang ditulis oleh M.Iqbal.

Semenjak Krisis Moneter yang bermula dari devaluasi Baht berimpacts pada seluruh negeri seputar kawasan Asia Tenggara tak luput Indonesia , mau tak mau Indonesia yang kala itu berada di bawah rezim Soeharto terpaksa menandatangani Letter Of Intent dengan International Monetary Fund (IMF) di bawah Direktur IMF,  Immanuel Camdessus.  Pahit.  Itulah yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia dan sebagian ekonom yang masih memiliki kepekaan nurani pada arti di sebalik lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Tapi itulah realita yang memaksa mantan “macan asia “ ini bertekuk lutut merelakan independensi rumah tangga ekonomi Indonesia. Pahitnya pun bukan tanpa sebab, ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat dan pertumbuhan pasar saham yang luar biasa seiring dengan masuknya dana luar negeri secara berlebihan dan of course dalam doktrinasi Kapitalisme “Tak Ada Makan Siang Gratis “ . Alat Imprealisme modern itu adalah mencetak berlembar-lembar uang kertas tanpa basis uang emas se-gram pun dan tentunya alat pemeras klasik yang ampuh mencekik rakyat penduduk dunia dalam malapetaka : Riba

Bahwa Pinjaman Hutang IMF plus bunganya menguras harta anak cucu kita atau entah di saat kita masih renta masih saja terkena imbasnya dalam skala makro. Seperti kenaikan BBM yang disinyalir permainan spekulasi pasar Internasional untuk bisa makan gratis dengan menghisap negara-negara dunia ketiga penghasil minyak . Bahwa realitanya untuk mengatasi hutang pemerintah Amrik yang meningkat dari tahun ke tahun ditambah pasca penyerangan ke iraq.  Namun apa susahnya mencetak uang dolar berlembar-lembar dan sisanya untuk mengantisipasi beban inflasi hanya “dipindahserahkan” ampasnya ke negara-negara yang memegang uang dollar.

Bahwa Konspirasi Zionis International telah menjadi rahasia umum warga dunia dan realitanya berjilid-jilid buku telah ditulis untuk menuak kejahatan luar biasa gerakan zionis yang menjadi otak utama dari Kapitalisme Dunia.  Dan Bahwa esensinya sugesti dari menteri ekonomi,  gubernur BI,  analisa para ekonom konvensional untuk meningkatkan investasi especially dari investor asing tak lain untuk semakin menusuk dalam korban-korbannya dengan perbandingan yang pernah dibuat salah seorang ekonom Indonesia : Satu Dollar yang masuk ke negeri kita adalah sama dengan 1000 rupiah yang keluar dari negeri kita !

Aneh,  tragis dan unik memang permainan ekonomi Dunia. Sadar tidak sadar Pemerintah telah lama digiring para opini umum negara-negara Industri dan adidaya “Klo pgn maju liatin cara-cara gue bisa maju “ . Maka ongkosnya sangat mahal dan terlalu melangit hingga jangankan para tajir yang kena getahnya rakyat kecil pun yang konon Ekonomi Kerakyatan adalah ekonomi yang bersikap pro terhadap kepentingan rakyat banyak semakin dibuat blunder dengan gonjang ganjing krisis ekonomi global.

Maka bertanyalah kita pada hari, bulan, atau bahkan untuk tahaun-tahun yang akan datang:  Mengapakah kita masih rela mengaku peduli dengan rakyat banyak namun dalam hal kebijakan yang lebih banyak diuntungkan segolongan kecil atau bahkan konspirator zionisme yang terbukti banyak bermain lincah dalam hal memporak porandakan urusan hajat rakyat banyak di pelbagai negara ?  Dan mengapakah dari sekian analisa para ekonom baik Amerika Serikat atau pun Indonesia sendiri tak satu pun yang menyentuh tiga pilar penting tadi dalam sistem perekonomian konvensional sedangkan ia rahasia yang bukan lagi rahasia segelintir orang saja ?  dan tanyalah pada kita di ruangan cermin nurani tak pernah dusta kapankah kesejahteraan rakyat akan kembali sedang kita selalu membebek, mengekor dan mengguk-guk siang malam tanpa istirahat ? Dan yang terakhir seperti akhir tulisan Sofyan Syafrie Harahap Guru Besar Akuntansi Universitas Trisakti di harian Republika,  Sampai Kapan Ekonomi Islam sistem dari Allah Yang Maha Agung ini sabar menunggu ?