Indonesia Kita …..

Ada cerita dari Indonesia kita, Cerita ketika statistic angka mayoritas dapat dibuyarkan seketika dengan hitungan minoritas. Ada cerita dari ruangan tamu negeri kita yang paling terbelakangan adalah mereka yang mayoritasnya saudara-saudara kita sendiri. Yang memenuhi Masjid setiap Shalat Juma’at dan Hari Raya Idul Fitri. Saudara-saudara kita juga, yang kata Pak Syafii Antonio, bila Naik Haji dan pulang dari tanah suci, oleh-olehnya made in Chinna, Taiwan,Canada, Hong Kong dll. Bukan Made In Egypt, Marocco, atau bahkan KSA dan bahkan tabungan hajinya dari Bank Konvensional yang notabene sarat dengan riba.

Tapi saksikanlah ada cerita juga dari negeri kita, segolongan anggota DPR dari sebuah Fraksi yang jumlah mereka tak lebih dari 10 % tapi berani mengembalikan gratifikasi sebesar 1,9 Milyar ! Sisanya, fraksi-fraksi lain yang totalnya 90 % hanya sangup mengembalikan 21,8 Juta! What’s Wrong ?? Ada Cerita lain yang ternyata kita amsih ada di Indonesia ini, Cerita ketika para anggota Dewan ini kerap menjadi Key person praktik korupsi anggota DPR.

Tapi antara keajaiban atau memang sudah diskenariokan untuk muncul sebagai Pahlawan di tengah krisis. anak-anak muda ini yang kelak kita kenang hari ini sebagai Partai Keadilan Sejahtera. Bila diadakan pemilu sekarang juga maka akan segera menduduki posisi 5 besar secara nasional. Efeknya pun, yang tak pernah terduga oleh pengamat politik; bahwa keberadaannya telah ikut atau turut mencegah demoralisasi melalui undang-undang yang telah di sahkan melalu perjuangan keras di parlemen seperti Undang-Undang Pornografi. Dan regulasi yang bertujuan memudahkan akses Perbankan Syariah dan Sukuk melalui Undang-Undang Perbankan Syariah dan Surat Berharga Sertifikat Negara. Artinya,  selama bisa mengakomodasi kemudahan ummat islam dalam tataran social yang luas dan memudahkan akses kaum muslim dengan sector ekonomi dan politiknya mengapa tidak ?

Terancamnya Demokrasi Kita

Ketika Demokrasi telah berubah wajahnya menjadi semi totaliter dan merangkak pada tongkat kekuasaan sang Tiran. Seperti yang pernah berlaku di Al Jazair dengan penggulingan FIS dari pemenangan pemilihan umum dan yang pernah terjadi di Turki dengan kudeta militer pada kekuasaan Partai Demokrat dan Refah dan sempat juga PAS mengalami tribulasi berupa pelarangan media massa yang vocal mengkritik kebijakan pemerintah dan melarang ceramah terbuka yang bertujuan memberikan edukasi politik bagi masyarakat maka yang terjadi sebenarnya bukan bagaimana Islam takkan pernah bisa menang dengan Demokrasi yang telah diciptakan kalangan sekuler untuk menjebak kaum muslimin.

Masalahnya hanya berupa waktu yang seberapa jauh bisa diberdayakan di sela-sela kemenangan itu belum berpihak mendekatkan diri ke dalam sanubari ummat. Lazimnya ia harus memiliki efek ganda. Artinya dengan kemenangan sebuah partai Islam seharusnya bisa meringankan beban yang ada dalam masyarakat dalam maslahah yang telah mengeluarkan mudharat. Selama ini jelas tidak terbukti janji-janji para jurkam tapi mimpi kemakmuran itu justru berubah menjadi serangkaian kebijakan dan regulasi yang sama sekali tak berpihak kepada masyarakat banyak dan implikasinya jauh lebih dinikmati oleh segelintir orang.

Segelintir orang yang berlindung dibalik payung hukum dan celah yang terbuka luas untuk dicari hillahnya. Tetapi di penghujung kekuasaannya berakhir masih jua mengkampanyekan dirinya telah tebrukti mengantarkan rakyat yang telah diperasnya pada kesejahteraan dan kemakmuran. Belajar dari pengalaman Ikhwanul Muslimim di Yordania. Keshalihanh dan integritasnya ternyata belum cukup untuk mengelola Negara. Sontak, mereka pun diminta mundur oleh rakyat yang pernah memilihnya.

Belum Dewasanya Barat

Masalah lainnya, kembali pada hakikat kalau kita mencerminkan diri sebagai partai dakwah. Jangan mengusung teori The Clash Of Civilazation kesini….bukan tanpa sebab tapi cobalah kita perhatikan ghirah yang kembali dari peraduanya dari Istambul, Kuala Lumpur, hingga Jakarta masih dianggap oleh Samuel Huntington dan Fukuyama sebagai ketakutan emosional akan kedigdayaan Barat dan Hegemoninya yang mencengkram dunia. Oleh karena itulah, kata mereka berdua, Kaum Muslimin bangkit dan bergolak atas dasar ketakutan yang masih bersifat labil dan emosional.

Yah kenyataanya dari nilai hakikat, kaum muslimin benar-benar takut. Takut akan lenyapnya keadilan bagi si papa dari ujung Papua hingga lenyapnya kesejahteraan bukan bagi diri mereka saja tetapi juga seluruh alam dan seisinya yang ikut harus membayar kerugian pada Kapitalisme atas kekalahan dunia Islam. Maka terkenanglah judul buku Syaikh Abul Hasan Ali An Nadwi, “Apa Derita Dunia Akibat Kekalahan Kaum Muslimin “ Maka Da’wah berarti kita telah memutuskan untuk mencintai.

Dan bila telah berkembang ruh cinta kita yang lahir dari kemurnian Iman berarti kita telah memutuskan untuk memberi.Kita boleh saja berjanji pada segenap rakyat Indonesia dan meyakinkannya seratus persen dengan asumsi samanya keyakinan dengan kita bahwa harapan itu masih ada namun persoalannya sejauhmana kita mampu memelihara janji kita itu dengan menepatinya. Janji dan seribu tepukan untuk optimis boleh saja menimbulkan harapan tetapi dengan member kita telah menerbitkan kepercayaan dan keyakinan bahwa Cinta itu akan menghangat dalam rindunya keemasan ummat manusia itu kembali. Masih ada bumi Palestina dengan kemenangan HAMMASnya membuat Ghaza diembargo, Masih ada bumi Sudan dengan penangkapan presidennya yang masih sepihak, lagi-lagi membalikkan tesisnya Huntington dan Fukuyama dan menegaskan di balik keberhasilan semu konvensionalnya Barat kembali islam yang dilirik sebagai jawaban atas permasalahan masyarakat dunia.

Ending

Dari Istanbul, Kuala Lumpur Hingga Jakarta, ada terlalu banyak pelajaran yang sepatutnya kita ambil dan renungi bersama. Turki, dengan segala rahasia mistikus para sufi serta kemegahan Istanbul yang menjadi perbendaharaan serta diitirafkan sebagai warisan dunia bukan lagi Daulah Khilafah Islamiyah Usmani, Malaysia pula yang memiliki akar kebudayaan Melayu Islam telah lama mengikrarkan diri bukan Negara Islam dan takkan pernah menerapkan syariat Islam apalagi Indonesia yang sangat jauh dari ideal sebuah negeri berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia untuk menerapkan dan mengplikasikan nilai-nilai islam dalam dimensi sosio muslimnya.

Tetapi kaidah Fiqh mengajarkan kita akan dua hal: yang pertama Ma la Yatimmul Wajib Ila Bihi Fahuwa Wajiib, Dalam konteks siyasah, Politik Islam bukan berarti ancaman menuju Negara Theokrasi yang bahkan Sayyid Abul Ala Al Maududi menyebutnya sebagai Negara Setan. Tetapi seiring yang digagaskan oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dan jumhur ulama kontemporer lain bagaimana tiap muslim dapat merasakan ketenangan beribadah dan menunaikan kewajiban serta mendapatkan hak yang pantas serta ia dapat dengan mengarahkan politik pada tujuan mencapai kemaslahatan dan meminimalkan mudharat.

Nah yang kedua,, kaidah Fiqh mengajarkan pada kita “Ma La Yudriku kulluhu La Yatraku kulluhu. Sesuatu urusan yang belum optimal namun masih bisa berkembang bukan bererti ditinggalkan sama sekali. Persis seperti ungkapan orang melayu, Kalau Ada bende jangan diambil semua kalau tak ada bende jangan tak boleh buat langsung. Maka jawabannya adalah harapan itu masih ada bagi dunia. Bukan hanya Indonesia yang selalu Nampak terpuruk. Bukan hanya bagi Turki yang hampir-hampir da’wah tak mendapatkan celah menghirup udara segar dari balik represifnya system sekularisme Turki. Dan bukan hanya bagi Malaysia yang masih berjuang membulatkan identitas melayu Islamnya dalam segala lini kemudian di sector perbankan sendiri Malaysia telah beralih ke Hanafieconomics yang cenderung rasional dari sebelumnya Shafiieconomics yang moderat.

Maka, seperti yang ditegaskan oleh Akh Salim Fillah dalam bukunya, Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim. Demokrasi hanyalah arena dan dimana pun arena itu ditentukan oleh pemuja kebathilan dan fasid maka InshaAllah Da’wah lah yang akan tetap memenangkannya .