Sebenarnya, tulisan ini sudah sangat lama direncanakan oleh saya dari beberapa bulan yang lalu. Seketika saya menyaksikan sebuah fenomena baru yang terjadi dan berlakunya fenomena tersebut bagaikan rangkaian bola salju yang menggelinding menggulirkan warna perubahan pada wajah tiga negeri tersebut. Secara garis umum, tentunya pembaca sekalian sudah hampir bisa menebak tema apa yang diangkat dalam tulisan ini. Tetapi sebenarnya lebih luas dari itu semua. Lebih luas dari sekedar batas-batas geografis yang menyekat satu sama lain dan memberikan pandangan hidup yang murni kelahirannya dalam perjalanan bangsa-bangsa dan Peradabannya

The Wonder Of Istambul

Fenomena kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan rupanya tidak bisa dianggap berdiri sendiri. Jauh sebelum itu semua menjadi puncak kegemilangan prestasi geliat da’wah di Turki, telah dimulai sejumlah pergerakan walau belum bernuansa aktifitas politik namun justru yang paling vital adalah kaderisasi ummat melalui gerakan Madrasah An Nur yang dipelopori oleh Badi’uzzaman Said Nursi dengan Risalah An Nurnya. Melalui Thariqah-Thariqah Sufi yang tersebar di seantero Istanbul dengan misi mentarbiyah akidah dan akhlak masyarakat Turki kembali pada nilai-nilai Islam yang luhur.

Kemudahan di dalam iklim Sekular baru didapat seketika Partai Demokrat berkuasa. Perdana Menterinya, Adnan Mandaris, memperkenankan pembangunan kembali Masjid-masjid dan madrasah-madrasah hingga pelatihan-pelatihan khatib. Tapi itu tak lama, Para Sekularis melalui junta militernya yang bertekad melindungi ajaran Kemalisme melakukan kudeta militer terhadap Pemerintahan Adnan Mandaris Sedangkan Adnan Mandarsi sendiri pun dikenai hukuman gantung.

Pada Tahun 1970, muncul Partai Salamah Nasional dengan pendirinya Najmuddin Erbakan. Dengan sangat tegas dan vokal, Najmuddin Erbakan mengkritik habis perilaku Demokrasi di Turki yang telah salah kaprah. Baginya Perbaikan demi perbaikan dan pembenahan dalam sturkutr masyarakat akan berhasil ketika Masjid dan Negara tak dipisahkan lagi seperti selama ini yang terjadi. Selain itu Puncak keberhasilan dari gerakan Partai Salamah Nasional ini adalah kemenangannya pada Pemilu tahun 1975 dengan meraup kursi sebanyak 45 kursi di majelis parlemen Turki.

Dan efeknya, kegiatan keummatan dan social keagamaan kembali hidup serta menemukan peluang besarnya mentarbiyah ummat lebih besar lagi. Partai Salamah Nasional pun pernah meluncurkan program gerakan 1000 Buku dengan bekerja sama dengan kementrian pendidikan. Program tersebut menampilan kebudayaan Turki dengan sisi Islamnya yang selama ini digelapkan oleh kalangan sekularis Turki dan ketika Najmuddin Erbakan ditanya oleh salah seorang reporter bahwa bukankah melalui Demokrasi sebenarnya teah melanggar prinsip-prinsip Syariah? Najmuddin Erbakan menjawab “Apa lagi yang bisa kita buat ?? Apakah kita mampu mendirikan kembali sarana-sarana pendidikan Islam dan membuka kembali masjid-masjid serta mengangkat idealism kita yang islami di Parlemen ? “

However kemenangan Partai Keadilan dan Pembangunan, tidak berdiri sendiri. Setidaknya telah ada serangkaian pilar yang fundamental dalam strukur masyarakat Turki yang mengubah mereka menjadi silent mayority di tengah klaim-kkalim partai para sekularis lain atas nama ideology Kemalisme dan Attaturkismenya. Keberhasilan Partai Keadilan Pembangunan telah banyak memberikan pelajaran pada kita. Demokrasi bukan mutlak haram atau terlarang bagi Islam bahkan malah seperti yang sering diklaim oleh kalangan Hizbut Tahrir “Demokratiyya Nizhamul Kufr “ atau dijadikan jebakan Barat dan system kapitalismenya untuk selamanya memenjarakan islam terpojok di masjid-masjid dan surau. Sebaliknya sejumlah reaksi dari kalangan sekuler hingga tindakan represif militer menyiratkan bahwa dalam standar apapun yang mereka buat, kebathilan takkan pernah menang sebaliknya Da’wah siap memenangkan pertarungan dimanapun arena dan system yang disediakan oleh para sekularis.

Go To KL

Perbincangan mengenai sejarah panjang mantan negeri khilafah yaitu Turki kita sudahi sejenak…. Beralih sebentar ke sebuah negeri seberang tak jauh dari kita dan kerap terlibat pertikaian dengan negara kita. Dalam satu rumpun bahasa yang sama dan bahkan tanah yang sama setidaknya harus menjadikan hubungan multi bilateral lebih kuat dana satu ukhuwwah yang tak hanya disandarkan pada kesamaan ras. Yach Di Malaysia tempatnya, Negeri Tetangga yang memiliki pemeluk Islam terbanyak juga ini ada sebuah fenomena yang perlu kita pelajari darinya.

Hampir-hampir Islam melingkupi tiap ruangan dan sendi kehidupan di Tanah Melayu ini. Tetapi kenyataanya partai-partai islam seperti hampir sudah kehilangan popularitasnya sebelum PRU12 setahun kemarin. Akan tetapi kekalahan Partai Barisan Nasional telah merubah secara drastis peta parlemen Malaysia dan mengubah wacana dunia selama ini; bahwa Islam takkan menang dengan demokrasi dan selamanya Islam takkan pernah bisa disatukan dengan ruangan politik yang profan dan ekonomi yang gambling. Namun kenyataanya lagi-lagi berbicara realitas mengalahkan asumsi demi asumsi.

Politik yang sarat dengan risywah di Parlemen Malaysia pun telah membuat rakyat Malaysia yang terdiri dari tiga etnis utama ini semakin malay dengan sikap perubahan di negerinya yang stagnan dan hanya mencapai kegemilangan pembangunan yang semu dari disimbolkannya menara Petronas namun konflik dan politik ketuanan melayu masih menjadi persoalan klasik. Sekularisme Berbaju Islam, kalau kata Oleh Solihin. Kenyatanya meski menjadikan Islam sebagai agama resminya. Sikap represif militer pemerintah ketika di masa Mahatir Mohammad masih kerap berlaku. Mulai dari pengawasan masjid-masjid dari khutbah-khutbah khatib yang dianggap fundamentalis hingga ancaman penutupan madrasah-madrasah.

Kesederhanaan sosok menteri besar negeri Kelantan yang juga menjabat Presiden PAS (Partai Islam Semalaysia), Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat, memberikan poin yang menentukan kemenangan itu sendiri dan mengubah bandul percaturan kekuasaan itu ke genggaman para penggiat islam yang memilih Demokrasi sebagai sarana/ wasilah perjuangan. Perjuangan membumikan Islam ke sektor formalitas negara atau dalam bahasanya M Anis Matta, melegalkan yang benar dalam pandangan agama dan meilegalkan yang memang kedudukannya bathil atau fasid serta dapat meninmbulkan mudharat bagi masyarakat luas. Sikap kebijakan yang dikeluarkan olehnya semasa menjabat Menteri Besar Kelantan jauh dari sikap gegabah dan membiarkan masalah-masalah seperti hudud dipending samapi saatnya yang tepat.

Namun yang jelas ketika saya bercengkrama dengan seorang kengkawan saya di Kuala Lumpur, sosk Tuan Guru Nik Abdul Aziz Nik Mat, tak hanya disegani orang melayu Islam tetapi juga warga China yang tinggal di Kelantan pun menrauh simpati pada beliau. Kesederhanaan beliau baru lah satu factor lain di antara factor penentu lainnya yang menakdirkan kemenangan PAS pada Pemilihan Umum Raya ke 12 di tahun 2004 lalu. PAS kembali merebut Kelantan setelah sebelumnya dikuasai oleh pejabat Barisan Nasional. Penang, yang merupakan tempat tinggal PM Abdullah Badawi juga tak luput dari kemenangan mutlak PAS. Begitu juga Perak dan Trengganu. Tak luput dari Kemenangan PAS.

bersambung neeehh ………………..