Fiuh….sudah sangat banyak pengarang tak lelah jua mengulas benda satu ini. Antara berbagai keistimewaannya serta ironi -ironi yang banyak bermunculan. Akan tetapi ada sebuah alasan yang paling sering dilontarkan oleh banyak orang mengapa enggan membaca buku sedangkan mustahil  rasanya  suatu peradaban yang terdiri dari pandangan Hidup dan identitas yang jelas dapat tumbuh dan berkembang dan berpengaruh dalam dan menghangatkan kopi sejarah peradaban dunia .

Especially keagungan para Khalifah yang memukau dengan kegemilangan prestasi bagaimana membawa sebidang tatanan masyarakat menjadi begitu ternama dan dipandang tidak dengan sebelah mata. Jauh sebelum mereka yang terpukau dan hingga tertetes alir liurnya pada peradaban Westren yang sukses menggadaikan Izzah dan kehormatan diri sebagai makhluk yang bernurani fitrah merdeka dari belenggu ikatan apapun selain Allah Ta’ala yang Maha Terpuji .

Karena dari khazanah yang tersimpan rapi dengan penuh dedikasi itulah khususnya di dunia Islam, kitab-kitab klasik atau yang disebut juga Turats hingga hari masih tersisa semangat untuk mengkaji dan menggali kembali seribu satu keagungan nilai-nilai dan etika yang diwariskan oleh para ulama salafushalih. Ia diwariskan dengan mencatatnya dalam pelbagai lembaran kitab namun para Ulama salaf itu juga paham sangat secara proporsional tentang bagaimana sikap yang paling tepat memperlakukan ilmu pengetahuan dan ahlinya .

Pada beberapa masa tertentu dalam lembaran peradaban sejarah Islam. Ada saat-saat pahit yang harus ditterima oleh ummat Islam. Kekejaman Inquisisi Spanyol oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, serbuan bangsa Frank, Mongol, dan Tartar pada dunia Islam menciptakan sebentuk gambaran rebah dan bangun semula dan membuktikan survavilitas yang sangat tinggi tradisi keilmuan Islam dan keagunga lembaran yang pernah dicoretkan keemasan ketika seonggok kemanusiaan terkapar di bawah kaki para Paus dan Kardinal dan ancaman inquisisi pada siapa saja yang berani berekperimen dan hasil ekspereimennya tersebut bertentangan dengan doktrin Gereja .

Beberapa belakangan ini, Negeri Spanyol yang sempat disebut sebagai Mutiara di Ujung Eropa ini mendapat berkahnya dari hasil penggalian kitab-kitab Turats yang tersimpan apik dibalik tembok-tembok Istana Al Hambra saat tengah dilakukan renovasi. Negeri yang pernah dibuka oleh Thariq Ibn Ziyad dan Musa Ibn Nusair ini dikejutkan oleh penemuan banyaknya kitab Turats yang masih tersimpan dalam tembok-tembok Istana Al Hambra. Dari sini sungguh seharusnya menghadirkan gelora lain yang memindahkan cara pandangan kita pada bagaimana para ulama terdahulu memberikan perhatian yang sangat tinggi untuk menumbuhkembangkan tradisi keilmuan yang berpijak dari akar dan dataran orisinalitasnya tiada diragukan yaitu AL Qura’an dan Sunnah .

Lain Spanyol lain pula beberapa provinsi negeri ini, dalam tulisan saya yang akan dating, InshaAllah, Akan ada pemaparan sejarah yang cukup kompleks tentang arti dan makna dari distorsi yang banyak menimpa sejarah. Hingga orang-orang pun hanya memandang sebelah mata, memandang sejarah tidak lain tumpukan buku-buku lapuk yang telah dimakan rayap di sebuah pojok gudang tua dan itu pun terkunci rapat. Alasan di atas tadi yang membuat sejumlah ulama kontemporer tergerak dan mengerakkan keshalihan dan keluasan keilmuannya untuk tak bosan-bosan menyeru ummat untuk tidak boring dalam hal membaca buku .

Sejumlah provinsi seperti Papua yang konon terdapat sebuah kerajaan Islam lalu tenggelam terkena badai tsunami dan yang tersisa hanyalah sebuah Mushaf Qura’an berusia sangat tua yang dahulu sempat hilang atau raib. Di Sumatera Barat, ada seorang kakek yang masih rajin menulis ulang naskah-naskah Turats seperi Imam Maulana Amin Al Khatib hingga wafatnya beliau pada umur ke 83, Beliau telah menulis ulang naskah-naskah Turats sebanyak 22 karya .

Dalam ranah global di dunia Islam mungkin hingga saat ini nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah selalu ada dalam pelbagai katalog perbukuaan. Khususnya para penikmat dan pengkaji pemikiran ekonomi Islam dengan Al Hisbah dan Majmu Fatawanya. Dua kitab tadi dikutip mentah-mentah oleh seorang Adam Smith. Nama muridnya Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah kian mengekal  dan mengharum dibalik untaian pena menggoreskan kecemerlangan pemikiran dan jernihnya pikiran membuat Fawaidul Adzakar, Madarij Salikin, Minhajul Qashidin dan lain-lain semangat generasi muda islam mengkajinya dalam pengajian -pengajian manajemen Qalbu dan memang dari pena yang ia coretkan dan kombinasi antara kebeningan pikiran, kejernihan ruhiyah , dan ketajaman mata pena menghasilkan sebuah karya yang fantastis diakui dalam pergerakan sejarah dunia dan pemikiran modern .

Atau biarkan kita berkontemplasi sejenak bahwa Ummat Islam, seperti yang pernah ditegaskan oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, seandainya tanpa campur tangan dan tribulasi dari Barat sekalipun hanya memerlukan waktu 20 tahun untuk membangun identitas strukturalnya dan menegaskan pada khalayak dunia pandangan hidupnya yang berpijak pada sumbernya yang orisinil. Berkontemplasi lalu bersyukur kemudian setelah itu kita ambil langkah untuk bergerak secara aktif bahwa Islam sebagai sebuah Dinul Qayyim merupakan  Diin yang komprehensif serta integral dengan pelbagai aspek muamalah dan ilmu pengetahuan. Maka implementasi yang paling kokoh bahwa Abu Ubaid Ibn Al Qasim dengan kitab Al Amwalnya dijadikan referensi utama para sarjana Barat .

Masih dalam skala global dan koletifitas masyarakat,  berapa banyak orang yang mengatasnamakan kebebasan dan hak Azazi Manusia serta selalu menampilkan di tiap rangkaian opini dan esay media massa nasional “Semestinya kita bias lebih giat lagi belajar pada Negara-negara industri maju yang telah menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.” Tatkala Modernisasi seusai pasca berakhirnya kolonialisme secara De Facto maupun de Yure di Negara-negara Asia –Afrika setelah sebuah momen bersejarah bagi bangsa-bangsa di dunia yang merindukan perdamian melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung,  ditandai dengan sekularisasi sebagai pra syarat menuju sebuah negara demokrastis yang menjanjikan kesejahteraan dipropagandakan oleh segolongan orang mengaku berjubah intelektual dan membajak Hak Azazi Manusia pada pemaksaan Qura’an tunduk di bawah dengus nafsu dan keterbatasan akal dan pemaksaan doktrin rigid relativisme nilai dengan cekokan referensi tanpa Iman dan berbasis pada pemikiran lapuk materialisme. Justru berbalik 180 derajat alam pemikiran sekularisme yang berbasis pada referensi bercorak materaliastik telah menimbulkan keparahan sosial dan kesehatan yang sangat parah .

Kalau dahulu Barat terkungkung dalam asupan dan injeksi dogma Gereja yang mengklaim sebagai perwakilan “Tangan Tuhan “ di muka bumi atau mengikut sindiran di dunia ospek “Pasal satu : senior selalu benar , Jika Tidak Lihat Pasal Satu “ maka kini Barat kembali “terkungkung dan terpenjara, terpasung “  Semenjak digaungkan Abad Reneisance atau abadnya kelahiran kembali. Semenjak Marthin Luther King mendeklarasikan 95 pernyataan yang ditempel di depan pintu gereja dan memberontak pada otoritatif Gereja dan salah satunya yang dikritik keras adalah konsep pengampunan dosa atau indulgences. Kalau Pendeta atau Kardinal dapat memberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan seseorang maka siapakah yang dapat mengampuni dosa pendeta ? Begitu kira keberatan Marthin Luther King menyikapi alam kekuasaan Gereja terhadap tiap lini kehidupan manusia. Dan semenjak itulah gambarannya berputar dari satu titik yang paling tajam dan kasar ke arah titik yang lebih panas dan kejam .

Gambarannya  sederhana, Umer Chapra salah seorang pemikir perekonomian Islam kontemporer menjelaskan dalam Islam and Economic Challenge gambaran terpasungnya manusia dalam gaya hidup “Kumaha Aing “ ala Barat telah menyisakan kezaliman paling parah dan penyiksaan atas kehendak bebas tiap individu untuk merdeka dalam berfikir, beranalisa, dan bertindak. Gambarannya tidak bisa tidak diarahkan pada satu gaya hidup yang dipropagandakan oleh Barat dari masa ke masa hingga belakangan ini American Government merasa terancam stasiun siaran televisi milik milisi Islam Hizbullah bebas mengudara di langit Indonesia. Alih-alih, menurut Umer Chapra, memberikan kebebasan tiap individu manusia untuk melakukan produksi, mendistribusikan, dan berkonsumsi yang ada terciptalah keterbelangguan kolektif masyarakat di bawah bendera globalisasi  dengan semangat homogenitas Amerika Serikat. Singkatnya belum mendunia kalau belum pernah nyobain coca cola , atau belum pernah make celana Levis atawa Polo. Dan belum afdholu kalau berbuka puasa tidak di sebuah Resto American Food  dengan melupakan sementara beban –beban utang yang melilit Negara dan penghasilan yang lebih banyak dihabiskan dalam melunasi hutang serta membiayai pejabat plesiran ke luar negeri.

Apa Kabar buku-buku kita ? Sudah berapa banyak lembar yang kita baca, sudah berapa banyak halaman yang kita contreng atau garisi untuk dijadikan penanda catatan ? Sudah berapa hari dan minggu yang kita habiskan untuk menelaah dan menganalisa masalah dalam rujukan yang kita gunakan ? dan berapa bulan yang kita jadwalkan dengan aktivitas harakah maupun amal islami tanpa pernah meluipakan untuk mereguk kenikmatan keilmuan para ulama yang tergoreskan rapi dalam bab-bab kitab mereka ? Apa Kabar dunia referensi kita ? Referensi para punggawa. pujangga dan tiap pejuang Da’wah. Sebagai rujukan utama membangun kekuatan penngetahuan dan ilmu lalu dilekatkan dengan pemahaman yang shahih dan lurus hingga mampu membuka bola mata tidak lagi dengan kerancuan syahwat dan amarah ?. Karena buku sebagai guru yang tak jemu walaupun kita sangat boring dengannya dan kerana ia, kalau  meminjam ungkapan Abu Hasan Al Nadwi, kata adalah sepotong hati. Maka buku yang terhimpun dari beribu-ribu bahkan berjuta kata adalah cinderajiwa .

Dunia Referensi dan kajian kitab para ulama bak warisan berharga tak ternilai dengan berbongkah-bongkah emas yang ditambang dengan kerja keras sekalipun. Sangat janggal dan bingung bagi orang yang terkagum-kagum dengan worldview Peradaban Barat .Memuji setinggi langit pada Voltaire, Immanuel Kant, JJ Rouseu, atau bahkan Harvey Cox, John Hick ,saling menyambung antara generasi ke generasi lain yang bergerak dari lubang penuh kegelapan menuju goa kematian .