“Dalam pandangan saya , Israel sebagai negara Yahudi membawa bahaya tidak saja bagi dirinya sendiri dan bagi warganya, tapi juga bagi semua bangsa dan negara lain baik di Timur Tengah maupun di luarnya “

(Dr Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion:1992. dalam Adian Husaini “Wajah Peradaban Barat” )

Ghaza. Apa yang bisa kita perbuat untuknya? Dari perputaran sejarah entah berapa mayat syuhada yang kembali bergelimpangan dengan ledakan bom curah dan terbakar bom fosfor. Maka kini semakin memberikan goresan-goresan kental dengan warna merah darah, debu,kobaran api, dan jerit tangis para wanita dan anak-anak tak berdosa.

Tesisnya Irwan , seorang sahabat saya dari Unpad Jatinangor, semakin jelas terbaca dan malah jelas bahwa barangsiapa yang memahami persoalan ekonomi maka ia akan memahami peta perpolitikan dan barangsiapa yang menguasai perekonomian maka akan dengan mudah menguasai catur kekuasaan dan politik dunia. Penguasa negara-negara arab yang bertetangga dengan Palestina seperti Mesir, Saudi Arabia, Yordania, Syria, Libanon, semakin rapat terbungkam seiring dengan tingkat eskalasi penyerangan udara Israel ke Ghaza dan seragang darat yang kini telah memasuki hari ke 16 dengan jumlah syuhada telah mencapai 1000 orang dan sementara itu adzan shubuh tetap berkumandang di Ghaza kala deru pertempuran yang dahsyat antara balatentara Zionis Israel dengan Mujahidin Hammas.


Di saat yang sama ketika di awal penyerangan Israel ke Ghaza telah mendorong harga minyak dunia kembali naik dan ketika harga minyak dunia kembali naik ternyata juga ada plan yang telah disiapkan dengan rapi oleh para kolabotor zionis di Knesset untuk menekan Hammas dengan tanpa bantuan maupun sokongan dari negara-negara Arab. secara ekonomis dan politis kita bisa membacanya dari jawaban mengapa harga minyak dunia seketika meroket di saat yang sama ketika pemerintah Indonesia masih bimbang dengan menurunkan harga minyak dunia, Otomatis Negara-negara arab yang menjadi penghasil minyak mulai berkonsentrasi untuk menghindari kerugian yang terjadi akibat minimnya ekspor mereka ke negara-negara pengimpor minyak dan terfokus dalam menambah jumlah pasokan cadangan minyak dalam negeri agar dapat meredakan kenaikan harga minyak dunia.

Belajar dari perang Libanon di tahun 2006 antara Israel dengan milisi Hizbullah kemarin, ada banyak hal yang bisa kita ungkapkan di atas segalanya bahwa saat Israel tengah berbangga diri dengan puncak kelihaiannya menguasai senat Amerika Serikat sehingga tak satu pun Presiden Amerika Serikat dapat terpilih tanpa restu dari lobi-lobi yahudi dan afiliasi Israel but realitanya seusai konflik terjadi Hizbullah tetap dapat eksis bahkan menertawakan kegagalan invasi Israel ke kawasan Lebanon selatan. Maka agaknya Israel kali ini tak ingin terjatuh ke dalam lubang yang sama dalam menghadapi perang udara dan invasi melalui darat bahkan bagaimanapun caranya Israel berani menempuhnya tanpa terkecuali menggunakan bom fosfor yang terlarang sesuai kesepakatan internasional.

Sejarah memang selalu berulang. Memang benar bahkan kerap berulang secara periodik dan memberikan pelajaran bagi ummat manusia akan akibat yang timbul ketika melakukakn mafsadah di muka bumi setelah Allah mengislahkannya, melakukan kekacauan setelah Allah SWT menganugrahkan alam raya untuk dikelola dan bukan kembali ditetapkan dalam system yang menyesakkan kehidupan manusia. Dalam case konflik di Ghaza ini yang bermain bukan lagi perang statemen semata antara Negara arab namun tak bisa melakukan apapun untuk mereka atau bom-bom curah yang berkejaran membumihanguskan manusia dan seluruh hartanya. Ia ibarat gunung es yang akhirnya harus meledak dari sekian panjang rantai plan demi plan dan dalam ensiklopedia kita, mengenalnya sebagai teori konspirasi

Dulu akhina Irwan pernah cerita tentang mengenai akar panjang konspirasi yang bermula dari kegemarannya dari mendengar music RATM dan akhirnya berkenalan dengan gerakan Zapatista, sebuah kelompok perlawanan di Amerika Latin hingga mengantarkanny pada Islam yang dalam bahasanya akh irwan bahwa Islam sebagai Teologi Pembebasan atas perbudakan atas sesama dan dunia. Maka akhirnya kita tetap tak bisa berpaling dari sejumlah kepentingan baik itu politik maupun ekonomi atau bahkan klaim sejarah sekalipun atas permasalah yang kini menimpa teman-teman kita di Palestina.

Ghaza menampung penduduk kurang lebih 1.5 Juta penduduk. Dengan isolasi Israel atas kota tersebut dan embargo ekoomi yang diberlakukan menyebabkan sepanjang ramadhan hingga Aidil Adha kemarin Ghaza mengalami kesengsaraaan dan kelaparan ditambah ketiadaan pangan dan obat. lalu hari-hari bocah Palestina lebih banyak diisi dengan tilawah Qura’an dan menghafalnya tanpa ada sempat bermain-main seperti kebanyakak anak-anak lainnya di penjuru dunia.

Tapi belakangan invasi Israel atas Ghaza memiliki alasan yang sarat kepentingan ekonominya tersendiri antara lain Ghaza dikenal sebagai cadangan gas alam di Timur Tengah dan sejak tahun 2000 , Palestina masih memiliki cadangan gas alam sebesar 60 % sementara Israel hanya memiliki 40 % nya saja dan sejak mundurnya Israel dari jalur Ghaza membuat posisi kekayaan alam bangsa Palestina ini semakin menguat dan dapat menjadi boomerang waktu-waktu walaupun Israel telah berjanji untuk tak membeli gas alam dari Palestina sejak tahun 2001 .

Akhirnya semua makin menguatkan kita dan bagi siapa saja yang merindukan kebenaran dan perdamaian dunia ada “invisible hands” lain yang mengaduk-ngaduk peta perpolitikan dunia dan jalur perdagangan dan transaksi ekonomi internasional yang sarat dengan sejumlah kepentingan lalu dari kepentingan itulah kita bisa memahami mengapa Amerika Serikat membombardir Iraq atas nama penggulingan Saddam Husein dan menyelamatkan rakyat Iraq . kita bisa memahami mengapa Amerika Serikat lagi –lagi bersikeras untuk tetap menyerang Iran walaupun Iran tetap menjelaskan bahwa proyek nuklirnya hanya untuk perdamaian dunia dan sikaP Pemerintah Indonesia yang ambigu dan dilematis dalam menghadapi persoalan tersebut.

Mengapa Harus Palestina ?

Tapi ternyata masih ada juga yang belum bumbata alias buka mata buka telinga dan sekedar berfikir demikian apatisnya bahwa Palestina hari ini tak lebih dari sekedar persoalan perang antara bangsa Palestina dan Israel kemudian satu-satunya jalan ya diplomasi seperti yang sering dipromosikan mereka yang mengasong pemikiran usang dan basi punya untuk selalu anggok-anggok geleng-geleng pada wajah, identitas, budaya dan peraban barat.

Alih-alih melakukan pembaharuan yang ada dan semakin nyaring terdengar adalah pekikan usang dan mengajak kembali ke masa silam saat barat masih ada dalam Dark Ages. Tapi itulah yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh para kolabotor Zionisme, menghandle cara berpikir dan mengatur paradigma para intelektual agar tunduk pada standart logika yang telah mereka tetapkan. Dengan membenamkan isu Palestina hanya sebatas perang politik saja sudah cukup membuat masyarakat menganggap sekedar angin lalu atau maksimal memperkenankan secara halus atas pembantaian besar-besaran atas ummat manusia dalam skala yang sangat massif dengan tujuan melindungi warga negaranya yang diserang terlebih dahulu dan wajar ! itulah logika yang ditetapkan.

Atau dalam bentuk lain distorsi sejarah , seperti yang saya hadapi saat diskusi dengan teman saya di Friendster, hakikatnya Israelnya yang memiliki hak kuasa atas “ tanah yang dijanjikan “ . Terkecuali untuk Bible yang mengalami banyak revisi berat di sana- sini hingga mudah untuk mencari dalil pembenaran atas klaim penganut Zionisme melancarkan kebarbarannnya tanpa batas bahkan seorang yahudi yang tinggal di eropa menyebutnya, para penganut Zionisme , sebagai bukan makhluk . Kalau bukan makhluk lalu apa ? dan tanah yang dijanjikan itu pun akhirnya menjadi mitos yang belakangan semakin gencar juga dipropagandakan oleh pengasong paham pluralisme dan liberalism di media seperti di acara Todays Dialogue di Metro TV.

Adapun klaim bahwa Israel lebih berhak atas tanah Palestina dibandingkan dengan bangsa Arab karena sejatinya sesuai dengan filosofi Zionisme, “Sebuah Negeri Tanpa penduduk untuk Sejumlah Kabilah tanpa Negeri “ pun semakin nampak tak ubahnya isapan jempol belaka . Karena faktanya jua sebelum israel memasuki tanah Palestina dan menggusur pemukiman arab atas restu deklarasi Balfour , warga arab Palestina baik itu muslim maupun kristian telah ada sama-sama berdiri secara damai dan rukun membangun ketentraman dan kehidupan eksistensi atas Palestina.

Palestina juga dikenal sebagai negara pengekspor jeruk dan gandum terbesar yang disusul kemudian oleh Spanyol dan Amerika Serikat bukan yang disebut-sebut selama ini dalam buku pintar bahwa Israel adalah bangsa jenius yang telah mengubah gurun pasir menjadi ladang yang subur. Dr Roger Geraudy dalam bukunya yang berjudul Zionis :Sebuah Gerakan Keagamaan & Politik mencatat bahwa jauh sebelum imigran yahudi berdatangan ke bumi para anbiya tersebut, Palestina merupakan lahan yang sangat subur dan para arab badui terbiasa untuk melakukan ekspor sebanyak 30.000 ton gandum setiap tahunnya; dan daerah yang dimiliki oleh orang-orang Arab jumlahnya berkali lipat di antara tahun 1921 dan 1942 sedangkan hasil perkebunan jeruk mereka sampai tujuh kali lipat di antara tahun 1922 dan 1947 ; sedangkan hasil perkebunan sayur mayur mereka pada tahun 1938 adalah sebanyak sepuluh kali lipat dari apa yang mereka panen pada tahun 1922 (Geraudy :1985 ) .

Adapun mengenai jumlah penduduk yang telah ada dan mendirkan peradaban mereka dengan makmur walau masih berada dalam penjajahan Inggris menurut sensus yang dilakukan oleh orang-orang inggris pada tahun 1922 , totalnya mencapai 757.000 orang penduduk dan rinciannya bangsa Arab berjulah 663.000 jiwa yang kemudian kembali lagi terbagi dengan kaum muslim sebanyak 590.000 orang penduduk dan kaum Kristen sebanyak 73.000 penduduk dan sisanya hanya Yahudi yang berjumlah 8.300 oraqng maka kesimpulannya mayoritas ketika itu bangsa Arab masih yang punya rumah dan mayoritas pemilik tanah di Palestina dan sampai pada tahun 1948, bangsa Arab Palestina masih memiliki tanah 66% dari kepemilikan tanah di Palestina untuk kemudian melonjak drastic menjadi hanya memiliki 12 % saja pada tahun 1970 yang disebabkan pelbagai jalan baik itu agressi, pembantaian, perampasan,pengusiran, ataupun penggusuran serdadu Israel atas warga Arab dan pemukiman-pemukimannya.

Adalah benar bahwa Allah memberikan kenikmatan yang banyak dan kelebihan pada bangsa yahudi ini but dalam ayat lain di Ali Imran Allah Ta’ala menegaskan bahwa Ummat Islam adalah khairu ummah yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar.

Yang lain, ketidak pedulian itu lagi-lagi dibangun di atas dasar pemahaman yang salah kaprah dan mengambil dalil dari Qur’an tanpa mengindahkan konteksnya dan keseluruhan ayat. Adalah benar Allah SWT memerintahkan bangsa Yahudi untuk memasuki tanah Palestina setelah selamat dari kejaran Fir’aun but yang ada perintah untuk memasuki Tanah Palestina itu malah disambut dengan kata-kata yang bernada merendahkan dan melecehkan Nabi Musa as dan Allah Ta’ala maka sejak itu lah Allah mengharamkan mereka masuk untuk Tanah Palestina dan dibiarkan menjadi bulan-bulanan bangsa-bangsa asing semisal Babylonia yang menhancurkan kerajaan Yahuda dan membawa seluruh penduduknya untuk menjadi budak, lalu dikuasai oleh bangsa Yunani dan sejak itu lah kita doktrin-doktrin teologi Yunani masuk dalam paham keyahudian dan dari situ pula kita mengenal Helenisasi, dan terakhir dijajah kembali oleh Romawi dan gubernur romawi kala itu ,Titus, memerintahkan pembantaian puluhan ribu orang yahudi untuk memadamkan pemberontakan bangsa Yahudi atas kerajaan Romawi hingga mengakibatkan bangsa Yahudi terdiaspora ke penjuru negara

Sampai akhirnya kedatangan Islam, sifat degil dan pengacaunya orang Yahudi belum sembuh juga, maka puncaknya adalah diusirnya Bani Nadhir dan Quraizhah dari Madinah disebabkan pengkhianatan mereka pada saat perang khandak lalu kalahnya mereka dalam perang khaibar.Hingga akhirnya kita bisa menyaksikan klimaks yang menarik mata kita untuk terus menelusuri sejarah bahwa di Era Islam pun bangsa Yahudi pernah mengalami masa-masa kejayaan yaitu ketika Shalahuddin Al Ayyubbi membebaskan Al Quds/ jerusalem dari okupasi pasukan salib dan memperkenankan pasukan salib untuk meninggalkan tanah Al Quds dengan tenang serta mengizinkan bangsa Yahudi hidup bersama kaum muslimin di Jerusalem. Dan juga ketika Islam menguasai daratan Spanyol di masa kekhalifahan Ummayah II tepatnya yang didirikan oleh khalifah Abdurahman Ad Dakhil yang juga dijuluki “Saqar Quraisy” Seorang sejarawan yahudi yang bernama Max Dimont pun mengakui bahwa hanya pada saat Islam berkuasa lah mereka , bangsa yahudi, mengalami kejayaan dan bahkan dapat kerja sama dengan penganut agama lainnya dari Islam dan kristen.

What We Can Do For Them ??

Lalu untuk mewujudkan kepedulian itu sendiri walau saat ini kita sangat berjauhan dengan konflik berada bukan berarti hukum fardhu kifayah itu sendiri telah mendorong kita untuk tidak berbuat apapun untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Ghaza dan Palestina pada umumnya. Malah Dr Yusuf Qardhawi telah lama memfatwakan hukum fardhu ain untuk jihad membantu Palestina yang tentunya tidak semata-semata harus terjun ke medan di sana. Akan tetapi kita mampu memberikan tekanan yang secara ekonomi mampu membuat penyerangan dan penyerbuan Israel dan pasokan support berupa donasi dari Amerika Serikat dapat tercekal dan terhenti atau maksimal membuat mereka patah arang dan berpikir seribu satu kali ketika memutuskan penyerangan pada kaum muslimin di Palestina.

Boikot kah ? Bisa jadi. Sebab walaupun belakangan banyak yang mulai mengatakan bahwa sebenarnya boikot merupakan sarana yang tidak efektif kenyataannya dapat menjatuhkan kemampuan produksi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang mendonasikan sebagaian labanya untuk memasok Israel secara jangka panjang dan mulai terasa dampaknya secara makroekonomi. Lalu bagaimana bila ternyata yang mendapatkan efek kerugian berupa pengangguran missal pekerja lokal yang harus berhenti bekerja akibat perusahaannya tempat bekerja memberhentikan produksi akibat aksi boikot yang dilancarkan ? pertanyaan ini sama dengan sebuah pertanyaan ketika fatwa MUI mengenai haramnya rokok mulai mencuat. Bukankah pada kasus yang sama saat Fatwa MUI tentang Haramnya Bunga Bank dengan dasar qiyas kepada Riba juga tak menyebabkan bank-bank konvensional tutup dan pailit malah kepailitan bank-bank konvensional itu lebih diakibatkan keringnya likuiditas dan tingkat bunga yang sangat tinggi sehingga berlembar-lembar saham tak lagi mempunyai nilai di IHSG.

Demikian pula pada kasus boikot untuk perusahaan-perusahaan yang kebanyakan merupakan corporate multinasional yang memiliki tingkat likuiditas tinggi dan cukup untuk dua tahun logikanya sedemikian mudahkan pailit gara-gara aksi boikot yang dilancarkkanya pun baru sporadis belum serempak? Efektifnya aksi boikot yang dilancarkan di negara-negara petrodollar secara empiris memberikan dampak yang sangat signifikan pada penurunan keuntungan penjualan sebesar 40 % dan adapun sanggahan Israel bahwa aksi boikot akan merugikan diri sendiri karena logika “ loe yang butuh loe juga yang menderita “ harus terpatahkan sebab kenyataannya perekonomian Israel sangat bergantung pada bantuan keuangan yang diberikan Pemerintah Amerika Serikat dan corporate-corporate raksasanya yang juga rajin menyisihkan sebagian dari labanya untuk Israel. Program bantuan keuangan di tahun 2002 diberikan George W Bush sebesar US$ 2,04 Milyar berikut penghasilan dari pajak yang dikeluarkan oleh tiap warga Amerika Serikat.

Kembali ke teori yang diajukan sahabat saya itu, Itulah mengapa seorang ekonom Indonesia dalam komentarnya pada bukunya Joseph Stighlitz, ekonom Amerika , bahwa serangan dan strategi ekonomi decade ini lebih dahsyat dibandingkan dengan pemikiran politik sekalipun. Dampak dan penyusunan misinya semakin jelas terbaca ummat Islam pun harus membangun kemandirian ekonomi ummat dengan dasar pemikiran yang corenya adalah mengedepankan maslahah yang sejalan dengan kehendak Allah dan RasulNya sebab tak ada maslahah yang hakiki tanpa petunjuk dan kehendak Allah Ta’ala . Lalu Visi dari ekonomi ummat adalah Rahmatan Lil Alamin, profitabilitas dan gain yang menggiurkan dari sistem ekonomi Islam bukan hanya untuk individu kaum muslim saja but tak tertutup untuk para chinesse yang membuka rekening di bank Muamalat misalnya atau para ekonom eropa yang mulai beralih pada sistem keuangan alternative pada dewasa ini.

Atau mari kita telaah ulang dengan apa yang pernah dilakukan oleh Hizbullah pada perang melawan agresi Israel ke Lebanon pada tahun 2006. Nyatanya Isarel harus mundur dan keluar dari Lebanon dengan keadaan yang sangat memalukan dan dinyatakan sendiri oleh menteri pertahanan Israel itu sendiri bahwa Israel telah kalah melawan milisi Hizbullah walau Beirut telah tercabil-cabik dan porak-poranda akibat gempuran yang dilancarkan oleh Israel. Salah satu rahasia dasar fundamental yang telah dengan baik dipersiapkan oleh milisi Hizbullah adalah membangun Jihad Al Binaa atau membangun kemampuan perekonomian yang kokoh sebelum melancarkan serangan terbuka pada invasi Israel atas Lebanon selatan. Infrastruktur strategis dan pelbagai fasilitas penting dan juga taktis atau vital yang sempat tak luput dari serangan udara militer dan porak-poranda dapat segera tercover dengan dana segar yang dikucurkan oleh milisi Hizbullah untuk membangun dan menata serta membenahi kembali kehidupan ekonomi masyarakat Lebanon yang multi agama dan etnis. Seraya merayakan dengan suka cita kemenangan milisi Hizbullah dan kekalahan telak agresi serdadu-serdadu Israel.

Semoga tak ada lagi ketidakpedulian dengan kedok ilmiah dan intelektual atau intelektualitas kita saja yang selama ini masih berparadigma western hingga nilai-nilai secular begitu mudah menjadi standar logika yang dipaksakan ke orang lain walau mengakui adanya pluralitas. Ketika Mahasiswa semakin terkungkung dalam menara gading dan terkurung dalam diskusi-diskusi serta hanya ujian lalu selesai. Kalau semua orang berfikir demikian bahwa Palestina tak lain hanyalah persoalan antara perang dan perebutan kepentingan antara Palestina dengan Israel takbisa dibayangkan kalau semua manusia akhirnya hidup untuk masing-masing dan mengedepankan semangat individualistis dan nyatanya bukan semata persoalan perebutan kepentingan dan mencari simpati dunia , nyatanya di sana juga ada Masjid Al Aqsha yang Allah sebutkan dalam Al Qur’an sebagai tempat Mi’ranya Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha dan Allah berkahi sekelilingnya. Masjid Al Aqsha juga sebagai kiblat pertama ummat Islam dan tempat bersejarah dimana mimbar Salahudin Al Ayyubi pernah ada di sana sebelum dibakar oleh teroris Irgun Yahudi pada tahun 1969 .

Maka itu semua artinya bahwa permasalahan yang hari ini terus menyesakkan dada di bumi para anbiya tersebut merupakan akar permasalahan ummat Islam dan juga akar dari krisis kemanusiaan yang tak hanya berdampak bagi ummat Islam maupun satu bangsa saja melainkan seluruh ummat manusia di manapun mereka berada selama masih mempunyai hati nurani.Maka benar juga yang pernah dikatakan seorang ilmuwan Yahudi , Dr Israel Shahak, eksistensi Zionisme Israel tak hanya berdampak negative pada dirinya sendiri melainkan juga sekitarnya akan memberikan dampak yang luar biasa parah pada negara-negara sekitarnya.

Dari sini bisa dipahami karena dari awal cita-cita Theodore Herzl, pencetus ide Zionisme, adalah mendirikan negara Yahudi yang terbentang dari sungai Nil hingga Eufrat dan Tigris atau dengan kata lain juga mencakup Mesir,Lebanon,Syria,Yordania,Iraq, dan termasuk sebagian Turki. Dan pengalaman sejarah membuktikan hal itu , bagaimana negara-negara tetangga seputar Palestina dipaksa untuk mengakui eksistensi Israel yang sebenarnya illegal dan hadir atas desakan lobi yahudi dan tindakan kekerasan. Yordania pernah bermasalah dengan Israel terkait krisis air dan terlibat dalam perang enam hari beserta sejumlah negara Arab. Mesir juga pernah terlibat dalam perang enam hari dan Yom Kippur, Lebanon pun demikian ditambah Syria dan lain –lain.

Maka merupakan hal yang tidak wajar kiranya, diantara kita masih juga untuk menyerukan semangat individualism dan asal beda atau masih berpikir sekedar permasalahan politik dan perebutan kepentingan yang diselami dengan bahasa intelektual dan retorika ilmiah atas nasib bangsa Palestina.Betul ada banyak permasalahn yang menimpa dalam negeri akan tetapi apakah mereka yang menyerukan untuk tak perlu repot memberikan dukungan pada rakyat Palestina sudah memberikan yang terbaik untuk para korban gempa di Manokwari atau mampu meringankan dan memberikan cara antisipasi tradisi banjir ibukota ? ?

Malah yang terbukti berada di garis terdepan pertolongan pelbagai musibah di tanah air selama ini mereka juga yang vocal dan terus istiqamah dalam memberikan dukungan moril maupun materil dan kerap mengadakan event-event akbar penggalangan dan bahkan perlu mengirim tenaga medis untuk meringankan beban penderitaan warga Ghaza dan rakyat Palestina pada umumnya.