Film Supersize Me yang berhasil mendapatkan penghargaan di Festival Film Sundance 2004 dan juga berhasil menggondol penghargaan kategori sutradara terbaik di Festival Edinburg 2004, setidaknya telah membuka kembali lembaran file ingatan kita akan satu dekade yang sarat dengan gelembung fenomena panjang dan membayar dengan mahal hari-hari panjang dalam dekade itu dengan sejumlah eksploitasi negara-negara berkembang. Kemudian para sosiolog serta ekonom dunia hampir telah sepakat belakangan ini sebagai sebuah grand design peradaban penduduk dunia pada satu wajah, satu bendera,satu brand,dan satu kekuatan tunggal.

Baik itu berasal dari para sosiolog maupun ekonom dunia. Hal ini sebagai angin yang positif maupun pesimis dalam penyikapannya hampir menjadi kesepakatan akan sederet konsekuensi dan implikasi yang mengarah pada analisa awal sosiolog dan ekonom dalam mengidentifikasikan gejala ini dan kelak kita lebih akrab memangggilnya dalam kamus peradaban kita sebagai Globalisasi.

Standar ganda ?

Dipercayai oleh para pemeluknya yang memiliki andil besar dalam penandatanganan GATT (Generate Agreement on Tariff and Trade ) yang dimulai di Uruguai dan berkahir dengan penandatangan di Maroko ini, bahwa globalisasi dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi dunia hingga mengentaskan kemiskinnan dan mengentaskan pengangguran serta memberikan fasilitas kenyamanan berupa kemudahan mengakses kesehatan dan kemajuan teknologi untuk mempercepat proses perdagangan antar negara yang tak dapat dicapai dalam skala biasa oleh negara-negara berkembang atawa bahasa realistisnya “Negara-negara Dunia Ketiga yang Terbelakang”.

Maka, Redho gak redho Globalisasi sudah nyata dan bukan lagi pada tahap isu apalagi wacana seperti tesis yang diajukan oleh kalangan tradisionalis dalam kajian sosiologi kontemporer dan kenyataanya still show must go on serta memaksa para intelektual ekonomi hingga para menteri keuangan di negara-negara miskin, menurut Joseph Stiglitz, untuk “berpindah agama” jika perlu mendapatkan bantuan dan dana segar dari Bank Dunia dan IMF yang dipercaya memiliki resep ampuh untuk mencegah depresiasi dan berulang-ulangnya krisis keuangan dunia.

Yeah as we know kenyataanya dalam pangsa liberalisasi perdagangan setelah ditandatanginya GATT di Marakesh tersebut, akhirnya menjelma bumerang, Kebijakan politik dumping di luar negeri dalam perdagangan ekspor – Impor semakin dibatasi dengan sejumlah kuota dan persyaratan yang rumit dari negara-negara maju bagi negara-negara pengekspor mereka dari negara-negara berkembang seperti halnya yang menimpa Indonesia dan sejumlah negara-negara Amerika latin dan Asia tenggara. Di sisi lain, Indonesia menjadi ladang subur politik dumping negara-negara pengimpor seperti Australia, Jepang, dan Uni Eropa serta diberlakukannya batasan terhadap kebijakan Proteksionisme yang menjadi konsekuensi dari penandatangan GATT tersebut, setidaknya telah membuat industri dalam negeri seperti otomotif semakin tersisih dari persaingan dan yang paling parah tak diminati oleh orang Indonesia itu sendiri. Although, Pemerintah sudah begitu rajin untuk menggalakan himbauan mencintai produk dalam negeri sendiri tapi masyarakat jelas lebih cerdas memilih pasar yang tidak professional dan tidak memiliki advantage yang kompetitif siap-siap harus angkat kaki digantikan oleh produk-produk impor yang lebih kompetitif dan memberikan banyak kemudahan.

Atau dalam sektor lain, bagaimana produk udang Indonesia mengalami penolakan di Uni Eropa hanya dengan alasan produk tersebut sudah mengandung zat antibiotika. Di kawasan Amerika Latin pun mengalami hal yang sama, Sejumlah penolakan atas ekspor ikan tuna dari negara-negara di regional tersebut oleh negara-negara sasaran ekspor.

Korea dan Jepang yang begitu bersemangat mengimpor produknya ke negara-negara berkembang menjelma hipokrit ketika menyatakan baru bisa membuka pasar ekspor berasnya pada 2010.Amerika Serikat yang juga akhirnya tak jauh berbeda dengan negara-negara Industri Kapitalisnya mengenakan standar ganda dalam perdagangan pasar bebas. Seperti mensyaratkan verifikasi dari US Government dengan Turtle Excluider Devise (TED) dengan alasan melindungi populasi penyu.

Global Village ?

Di bidang yang lain seperti yang ditayangkan dalam film Supersize Me dengan sutradara Morgan Spurlock, setidaknya telah membuka mata kita dengan fenomena yang menurut para sosiolog sudah ada grand designnya tersendiri yang dirancang demi kemudahan akses dan ekspansi lebih luas oleh Barat ke negara-negara dunia ketiga.

Dalam Film Dokumenter yang langsung diperankan oleh oleh Morgan Spurlock itu diperlihatkan bagaimana sang sutradara melakukan penelitian seberapa jauh dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh Junk Food seperti Mc Donald dengan memakan berbagai variasi produk McD selama 30 hari lamanya dan baru terasa “something wrong” ketika menginjak hari ke-8 mulai adanya gejala addicted dan disusul gejala lainnya seperti naiknya berat badan dua kali lipat, penurunan gairah, kenaikan kadar gula dan kolesterol, tekanan darah di atas normal dll.

Namun McD baru satu di antara produk globalisasi budaya lainnya yang telah menggiring warga dunia untuk tunduk pada satu budaya.wajah,brand,warna, hingga sistem politik dan kalau perlu agama. Mulai dari sepatu Adidas hingga Starbucks. Dari hingar bingar di belantara kota-kota besar menjalar hingga ke kampung-kampung di pinggiran derap ibukota.

Ada lagi sebuah film pendek yang pernah saya saksikan jauh lebih kasar dan vulgar. Bagaimana globalisasi telah menyulap negara-negara berkembang atau bahasa realistisnya “Negara-Negara Dunia Ketiga” serta terbelakang sebagai surga bagi corporate-corporate multinasional. Menghisap keringat sumber daya alam dan manusia Indonesia untuk memaksimalkan laba dan memotong seringkas mungkin beban-beban dengan menekan biaya yang muncul dengan mencari lokasi industri yang paling murah dan Indonesia lah surga nan menawan tersebut.

Tatanan Dunia Jilid II ?

However, tesisnya Globalisasi sebagai dinamika perdagangan pasar bebas dunia yang bila tak saja dipandang dari segi globalisasi ekonomi dalam wujud liberalisasi perdagangan maupun sosiologi, menghadapi antitesa yang muncul dari semangat mengembalikan pasar bebas yang lebih beradab dan berkeadilan. Ketidakaadilan dan ketimpangan social budaya hadir meruyak tatanan sistem penduduk dunia yang dulu dipercaya oleh penganutnya sebagai New World Order telah membuat tesis kemakmuran dan kesejahteraan melalui globalisasi terpatahkan.

Dan memang fitrahnya, Keadilan sebagai ukuran berapa lama kehidupan suatu bangsa dapat bertahan hidup dan kesejahtaraan yang dapat dapat lahir dari Yang Menciptakan Dunia dan seisinya. Bijaknya dalam menyikapi globalisasi dunia dalam realiatas yang kini kita harus hadapi baik sebagai peluang maupun tantangan, tinggal memutar balik paradigma ilmu ekonomi dari wajahnya yang “sadis” hingga wajahnya kembali menemukan fitrahnya yang telah terputus.

Fitrahnya bertauhid dan mengembalikan paradigma scarcity pada cita rasa yang elegan atau dalam bahasanya Pak Ali Sakti dalam acara Diklat Ekonomi Islam Di Universitas Pancasila, How to maximizing what you have to contribute to others.Bukan bagaimana memaksimalkan just what you have today seperti dalam paradigmanya Kapitalisme dengan pelbagai wajah kembarnya. Karena hakikatnya semua yang kita miliki hanyalah amanah untuk dikelola dan digali potensinya untuk kemakmuran bumi dan seisinya , persis seperti pasal 33 Undang-undang dasar negara kita,dan akan kembali pada Yang Maha Menciptakannya dari tiada dan akan kembali dipertanggung jawabkan semua yang kita miliki.

Secara substantif, seperti sebuah judul buku Ekonomi Islam yang belakangan ini baru terbit Ekonomi Islam Substantif . Kebijakan-kebijakan Pemerintah atau yang banyak disusulkan oleh para ekonom dalam hal Ekonomi Global dan reaksi masyarakat dunia atas serbuan globalisasi menunjukkan pada kita selama ini sejatinya semua mengerucut menuju sistem perekonomian dan wajah budaya yang sesuai dengan fitrah individu manusia itu sendiri.

Kalau dekade ini para pemuja liberalisme dan para pemeluk serta pembela globalisasi semakin bersemangat berteriak lantang atas nama kemakmuran dan kesejahteraan maka apa namanya kalau bukan menafikkan fitrah ? Dan terlalu banyak naluri manusia yang dibelenggu dalam paradigma rasionalitas hingga akhirnya dimunculkan kembali mulai dari merumuskan ulang konsep ekonomi kerakyatan meski lebih banyak berkesan politis hingga penurunan suku bunga bank Indonesia dan  seluruh bank sentral dunia besar-besaran seolah-olah telah melabrak pakem konvensional yang selama ini dianut.

Kalau semua telah mulai mengerucut pada kebijakan yang substantifnya bersentuhan dengan fitrah manusia maka Ekonomi Syariah bukan bermakna merombak total dari awal namun upaya pencerdasan manusia-manusia baru Indonesia agar membedakan mana yang layak dimodifikasi semula dan mana yang lebih pantas dibuang ke tong sampah sejarah. Tatanan dunia jilid dua bukan pula berarti politik isolasi. di kutub pertengahan kita berdiri menuju Negeri Indonesia barakah yang bukan utopia tinggal selangkah dan Tatanan dunia pun lebih manis dan sejahtera ! (Yassin El Cordova)

Biodata singkat : Yassin El Cordova nama pena salah seorang Staff ahli Departemen Luar Negeri KSEI Progres Tazkia. Doi juga diamanahkan sebagai Kadiv Sumber Daya Insani FoSSEI Jadebotabek dan pimpinan redaksi Air Post LDK Al Iqthishod