Itulah Jiwa Sistem Ekonomi Islam dan ringkasan kaidah-kaidahnya, yang saya utarakan dengan seringkas-ringkasnya.Setiap kaidah itu memerlukan perincian yang dapat ditulis dalam berjilid-jilid buku.Apabila kita mau menjadikannya sebagai pedoman dan berjalan di atas cahayanya, niscaya kita dapatkan padanya banyak kebaikan. (Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan)

Sulit. Demikianlah kiranya jika kita hendak memisahkan sosok seperti Hasan Al Banna dari peta perjalanan kebangkitan Islam di paruh awal abad 20. Namanya dan sosoknya demikian unik untuk kembali dibedah.Seiring dengan semakin maraknya aroma kebangkitan yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam itu kian menjalar dan bergelora di pelosok bumi Islam. Ketika Majmuatur Rasailnya dan risalah pergerakannya terbit sebagai jawaban atas banyaknya permintaan yang masuk pada beliau agar membukukan seluruh visi dan gagasannya akan kebangkitan Islam dan dari mana harus dimulai. Maka tak bisa dipungkiri gagasannya ternyata tak hanya mencakup idea-idea politik semata namun juga seruan reformasi ekonomi umat dengan berpijak pada nilai-nilai islam. Lalu system ekonomi itu mampu memberdayakan potensi spiritual masyarakat dan kekuatan sosialnya. Mampu membangun keseimbangan antara produksi dan eksplorasi, antara investasi dan penyimpan. Serta antara ekspor dan impor.

Sekilas Hasan Al Banna

Doi, yang memiliki nama lengkap Hasan bin Ahmad bin Abdurahman Al Banna ini, lahir di sebuah kawasan dekat kota Kairo yaitu Mahmudiyya pada tahun 1906. Di usianya yang ke 12, Hasan Al Banna berhasil menghafal Al Qura’an berkat sentuhan didikan ayahnya, Syaikh Ahmad Al Banna. Dan juga kejeniusan dalam membagi waktu antara belajar di sekolah dan membantu ayahnya meraparasi jam dari siang hari hingga sore hari. Di usianya yang ke 16, Hasan Al Banna telah menjadi mahasiswa di Darul Ulum dan selepas kuliah, beliau ditunjuk untuk menjadi seorang guru SD di Ismailiyah. Dalam memoarnya, Hasan Al Banna juga memaparkan pengalamannya selain sebagai seorang guru sd di se buah madrasah di Ismailiyah juga beliau merintis perjalanan da’wahnya yang justru dimulai di kedai-kedai kopi di Kairo. Beliau banyak mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk mulai menyampaikan kembali risalah islam di kedai-kedai kopi dengan cara dan teknik yang sangat unik. Dari sana aktivitas Hasan Al Banna mulai merambah ke pelbagai mushalla.

Sepakat dengan yang dipaparkan oleh Anis Matta dalam sebuah ulasannya mengenai Hasan Al Banna yang bahkan disebut olehnya sebagai “ Pemegang Saham Kebangkitan Islam”, Karena pemetaan jalan perubahan itu telah ia mulai susun dengan rapi lalu menyempurnakannya pada umur ke-22 dengan berdirinya Ikhwanul Muslimun.Ya, hingga digambarkan oleh Muhammad Iqbal, Intuisi dan fikrahnya telah menyatukan kembali masyarakat muslim mesir bak ikatan sapu lidi yang mengumpulkan kembali daun-daun yang berserakan. Hatta, dari kematiannya di ujung berondongan peluru para penembak misterius pada umurnya yang ke-40 tak membuat sistem kaderisasi ummat berhenti malah hampir dapat dipastikan pemikirannya dijadikan referensi perubahan transisi masyarakat muslim di penjuru dunia tak terkecuali di Indonesia dan Asia Tenggara.

Doktrin reformasi Ekonomi Ummat

Tapi kecenderungan yang kerap kita miliki dalam membaca sejarah adalah tak pernah utuh. Lebih nyaman bagi kita untuk dapat menamatkan rangkaian sejarah dan segera tergesa menutup halaman terakhir dari sejarah yang tak pernah selesai itu pada kesimpulan yang keram memvonis. Maka, Hasan Al Banna pun tak luput ketika merancang pemetaan arah kebangkitan umat dari hal yang substantif dan sangat essensial dari Al Islam itu sendiri sebagai way of life. Ada sekitar sepuluh doktrin reformasi ekonomi umat yang dalam tulisan ini akan disingkat menjadi lima saja.

Salah satunya, Hasan Al Banna menekankan pada produktivitas kerja dan kestabilan perekonomian sektor riil ditopang dari produktivitas kerja itu sendiri. Hal ini juga selaras dengan perintah dari Allah dan RasulNya. “Dan katakanlah , “Bekerjalah kalian maka Allah dan RasulNya , dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata (At Taubah:105)

Prinsip kedua, beliau juga menekankan akan kemampuan ummat islam untuk mengeksplorasi lebih dalam harta kekayaan/ sumber daya alam yang selama ini ini masih belum tergali atau sudah tereksplorasi namun tak memberikan manfaat yang bagi Negara karena porsi privatisasi yang sedemikian berlebihan dan menjadi lumbung emas bagi corporate multinasional. Seketika negeri ini pun menjadi anak ayam yang mati kelaparan di lumbung padi dan yang parah telah mengakibatkan berlarut-larutnya krisis multidimensi sosial dan disintegrasi bangsa (kasus Aceh dan Papua )

Prinsip yang ketiga, adalah mendekatkan antara berbagai kelas ekonomi untuk memberantas kekayaan yang keji dan kemiskinan yang sengsara. Dalam prinsipnya yang yang ini, Hasan Al Banna mengkritik sejumlah perilaku dalam pasar yang dilandasi oleh semangat opportunisme dari segelintir orang dengan mengorbankan maslahah yang seharusnya bisa dicapai oleh masyarakat luas. Dalam Khazanah Ekonomi Islam, kita mengenal perilaku seperti tadlis, ihtikar,talqi jalab, alhadir lil ibad hingga gharar bahkan riba berperan nyata dan memaksimalkan kehadirannya sebagai akar dari sejumlah krisis keuangan dunia. Even, ambrolnya mata uang asia ketika para penulis barat meramalkan dengan gemilang kebangkitan Asia, yang ada sekumpulan fakta yang mengerikan akan semakin tak berartinya perekonomian Asia hatta China dan India sekalipun.

Prinsip keempat: Menegaskan tanggung jawab Negara dalam memelihara system ini. Sebagai agama yang pertengahan, Islam tidak mutlak mengkritik intervensi Negara maupun membiarkannya begitu saja tanpa intervensi. Bahkan Hasan Al Banna juga pernah menegaskan bahwa Negara adalah jantungnya pemerintahan. Kalau pemerintahnya korup maka korupnya menyebar ke tiap lini masyarakat dan apabila sehat atau bersih maka bersih pula tiap lini kehidupan masyarakat. Bagaimanapun tetap diperlukan regulasi dari pemerintah untuk menjamin tercapainya kesejahteraan dan terlindungnya nilai-nilai social dari kompetisi

Dan tentang prinsip kelima, Hasan Al Banna melarang adanya penggunaaan harta secara berlebihan atau israf. Dalam Majmuah Rasailnya, beliau menuliskan bahwa Islam melarang setiap pemimpin menyalahgunakan wewenang dan jabatan, melaknat penyuap. yang disuap dan orang yang jadi saksi penyuapan. Serta Hasan Al Banna juga mengkritik perilaku korupsi yang kenyatannya sebagai indikator utama kejatuhan kekhalifahan daulah Usmani. Karena pejabat Negara telah begitu berlebihan dalam memberdayakan harta Negara yang seharusnya didistribusikan secara adil kepada kalangan yang berhak. Sehingga terkenanglah doa Luthfi Pasha, seorang intelektual Usmani, “Bagi pejabat Negara ..Korupsi adalah penyakit tanpa obat penyembuh ..Berhati-hatilah..Ya Allah! Selamatkanlah Kami darinya !” Hingga salah satu landasan dan alas an dari berdirinya Ikhwanul Muslimun oleh Hasan Al Banna pada umur ke-22 adalah menyelamatkan moralitas dan akidah masyarakat muslim dari gelombang liberalisme pasca runtuhnya Khilafah Usmani.

Langkah-Langkah Reformasi Ekonomi Ummat

Tak cukup sampai disitu, Hasan Al Banna juga memuat sejumlah langkah yang seharusnya diambil oleh para penggiat dan khususnya stakeholder usaha reformasi ekonomi ummat itu sendiri. Seperti memandirikan mata uang bersama. Hasan Al Banna memandang dalam Majmuatur Rasailnya sangat penting kiranya akan mata uang yang mampu menjadi mata uang tunggal dalam hubungan perdagangan Internasional khususnya antar Negara-negara berpenduduk muslim.

Ya. Mata uang menyiratkan eratnya ikatan silaturahim dan ukhuwwah selain upaya mengenyahkan praktik ketidakadilan dan kezaliman yang selama ini kerap terjadi dalam perdagangan pasar bebas. Selain itu, Hasan Al Banna juga menyerukan melakukan nasionalisasi perusahaan kembali sebagai antitesa atas privatisasi besar-besaranyang selama ini diperkenankan terjadi. Tentunya yang dimaksud oleh beliau bukan praktik nasionalisme ala Negara-negara sosialis seperti Venezuela dan Kuba. Nasionalisasi diberlakukan secara tidak professional dan serampangan. Namun seperti yang dijelaskan oleh beliau dalam Majmuatur Rasailnya, membersihkan masyarakat luas dari tangan-tangan asing dan yang paling vital, menyangkut kebutuhan hidup masyarakat luas.

Selain itu semua, yang paling vital dalam reformasi ekonomi Ummat adalah memerangi dan mengharamkan riba. Juga menyerukan menghancurkan berbagai system yang dibangun di atasnya. Sekilas Nampak seperti gagasan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam Nizhamul Iqtishod mengenai revolusi ekonomi yang merombak total system kapitalisme saat ini dan menggantikannya dengan system ekonomi Islam. Namun membaca dan menelaah keseluruhan karya beliau, Hasan Al Banna, sulit rasanya untuk segera mengambil kesimpulan bahwa itulah secara literal yang dikehendaki. Namun, Hasan Al Banna ternyata memberikan contoh dari yang paling sederhana yaitu menghapuskan bunga atau interest dalam pelbagai proyek ekonomi secara khusus. Masih ada sejumlah langkah dan taktik yang digagas oleh Hasan Al Banna dan dijadikan referensi bagi para penggiat dan stakeholder ekonomi Ummat dalam rangka pembenahan . Kesemuanya mengacu pada dukungan reformasi di sektor Riil serta produktifitas kerja masyarakat.

By :Willy Mardian , Mahasiswa Akuntansi Islam STEI Tazkia