Saat hari berdentang mengikuti tapak-tapak kesadaran, ketika ku berhenti sejenak dengan pelan kuputar irama dengan rima di atas sajadah .Flash Back sesaat kelebat bayangan agung dari balik sebuah masjid yang bersahaja .Masjid yang telah banyak membesarkanku dan memetakan wijhat dari kiblat yang tepat .Persambungan yang serasi antara realitas dan wahyu mencoba menjawab tuntas kehancuran kolektif yang berlaklu dalam tiap dimensi hari ini .

Ketika sesampainya disini selalu ada pertanyaan kecil berserakan “Why “ or “ How” ,a lways like that la .disini ruangannya .ruangan yang hanya mampu dimaknai dalam bingkai yang utuh lalu syukur outputnya menyentuh dan merengkuh kegelisahan yang belum terobati .Maka hari itu terkadang berlalu dengan segumpal kebosanan atau rentak dingin malam yang merasuk tulang , seakan menggantikan semilir sapa dan tawa seorang kawan. Ataukah semua kian asing lalu berjalan dengan kepentingan masing-masing .Bukan lagi dengan pandangan siapapun yang kita temui adalah orang-orang yang benar-benar penting melainkan karena ada kepentingan lain terburu-buru mengkontak orang tersebut

Dan untuk itulah sedikit ku berhenti sejenak dari sekian derap rutinitas yang membelenggu dan langkah kaki dari proses yang tak lagi natural . Kecuali kita yang belum memahami rumitnya etape kehidupan yang selalu setia melakukan seleksi terhadap para pengemban amanah kehidupan ini . Pilihan boleh saja tak luput dari alpa dan euphoria –euphoria semalaman merayakan kemenangan atas gejolak syahwat tang selama ini dikungkung oleh berbagai perdebatan hingga akhirnya mereka lebih memilih menjadi manusia berjiwa pragmatis dan memandang sempit dunia mereka , seakan tal lebar dari sekedar dosen dan tugas atau eksistensi angkatan dan kekompakan sesama member angkatan .

Rekontruksi peradaban. Dalam bahasa yang lebih humble adalah sebuah upaya terpadu dari kerangka kerja misi kehidupan misi manusia mengkonsep dirinya sebagai awalan sebelum memulai langkah lebih panjang pada etape keluarga , masyarakat atau bahkan sebuah Negara yang bukan lagi bentuk Negara berasas demokrasi namun yang terjadi adalah kekuasaan di tangan banyak orang buta . Syaikh Yusuf Al Qaradhawi menulis dalam “ Fiqh Auliyat “ bahwa yang menjadi prioritas utama seorang muslim sebelum memperbaiki sebuah sistem yang kompleks , terlebih dahulu adalah pembinaan individu yang menjadi fondasi dasar suatu bangunan yang kokoh .

kalaulah ada sebuah pergerakan islam yang ingin menghendaki sebuah keadaan suatu negara atau masyarakat berubah , secara menyeluruh ,dari jerat-jerat kezhaliman menuju pada beningnya embun keadilan , dari lumpur sistem yang banyak menyengsarakan rakyat banyak menuju kelembutan fikrah islam yang menebarkan kesejahteraan bukan hanya masyarakat pada suatu negara namun mendunia walau musuh-musuh islam yang bertengger dalam barisan makar berbendera Zionist Internasional harus menngepal tangannya penuh kebencian sekaligus geram dengan gelombang besar hawa kebangkitan ummat islam . Akan tetapi kerap kebanyakan harokah islamiyah melupakan elemen terpenting untuk menjaga stabilitas dan efektifitas bergeraknya sebuah pemikiran yang kemudian dialirkan dalam bentuk konsep yang lebih nyata pada pentas panggung peradaban masyarakat dan negara .pentas panggung seni, ekonomi, politik,keamanan, luar negeri ,hukum dll adalah pentas panggung yang menjadi medan pertarungan antara ideology islam pada tataran nyata melawan keangkuhan ideologi temporer lain yang juga sama-sama berjibaku terlebih dahulu menumbuhsuburkan kemiskinan dan malapetaka.

Pada akhirnya semua bermula dari bagaimana kita meletakkan sudut pandang yang tak menyengsarakan kemerdekaan berpikir sebagai bagian dari seribu satu sata cara kolonialiasme era baru ,era yang tak lagi moncong meriam atau granat yang lantang berbicara .Ketika kemerdekaan berfikir dan memndang seakan diletakkan pada posisi yang sama .Seiya dan sekata dengan apa yang dibawa oleh reporter berita dan pemilik saham terbesar sebuah perusahaan televisi dan media massa yang walau terlihat beragam namun kian mengerucut dan memilih satu suara untuk sepakat tidak sepakat .

taruhlah dari atas rentetan tulisan pendek ini agenda ummat yang telah kadung menjadi agenda besar bangsa juga menjelma batu besar dan kerikil-kerikil tajam yang menghadang perjuangan panjang agen asing dan salibis menancapkan kembali kuku runcingnya pada pundak bangsa ini . RUU Anti Pornografi –Pornokaksi , apa kabarnya kalian heh ….?! Mari sejenak kita buka file-file ingatan sejarah bangsa ini ,ketika RUU Sisdiknas mendapatkan perlawanan yang demikian pengecutnya dari segelintir pengkhianat perjuangan kemerdekaan republik Indonesia . atau mau yang lebih menjorok ke dalam dalam hitungan kalender , Piagam Jakarta dimentahkan dengan sempurna oleh hanya seorang maramis yang tragisnya terlanjur diba’ait sebagai salah satu pahlawan Indonesia .

dan pada beberapa momen 2008 ketika Isu massa harus terpecah dari zhalimnya kenaikan harga BBM jadi pembubaran Salah satu ormas islam yang selama ini selalu eksis dan konsisten melawan dimensi kebathilan .maka ucapkanlah selamat pada Mirza Ghulam dan para pengecut yang selalu setia terjaga di depan garis kekufuran .Menghunus kamera dan pena lalu menyorot penuh rekayasa pada televisi ummat dan menulis penuh kedustaan memuja Pluralisme, HAM, Gender ,dan Kesetaraan pria dan wanita .

Demikianlah , persoalannya bukan semata pertarungan yang haq dan bathil namun lebih spesifik berlaku asas dari mana kita memulai memandang dan kepada apa mengikrarkak kemerdekaan berfikir berdasarkan pedoman utuh yang sudah ada dan tersedia di atas meja . Demikianlah, yang berlaku ketika perspektif manusia berbasisi dimensi yang padat dengan materialistik dan telah dijejali oleh deru nafsu sayhwat yang mendominasi lubuk jauh seorang hamba. Maka susdut pandangnya pun tak jauh selain membebek atau dalam liriknya Ahli Fiqir “ Anguk-angguk. Geleng-geleng, runduk-runduk , iyo-iyo ,sayo-sayo ikut sajo “ sepakat untuk tidak sepakat ! .

Kebaikan bagi sebagian dari mereka yang tergolong pada kalangan intelektual berjiwa hedonist ,berakal kapitalist , dan bernafas deru iblis mendominasi tiap rangka.Adalah segala hal baik perbuatan atauapun ucapan yang mampu memelihara kesesatannya agar tetap eksis mengkangkangi bumi lalu menyemai kerusakan demi kerusakan , Tohk selama tidak mengganggu ketentraman hidup mereka dari menjerat darah orang lain melalui riba misalnya. Atau yang paling sederhana dentuman music yang bertalu-talu tak peduli siapa oang dibelakang atau di depannya .

Demikian lah kebaikan telah dirumuskan dan disahkan dalam sekian kompilasi makar jahiliyah terhadap tiap usaha rekonstruksi masyarakat muslim .kerana dari awal startnya pun sudah berbanding terbalik .Ketika kebaikan dan kemaslahatan dirumuskan: segala upaya dan output yang dapat memuaskan kepentingan demi kepentingan sesaat sebesar-besarnya ,terutama sekali bila dapat memuaskan kerongkongan dan lambungnya tujuh temurun. Plus kalau perlu hanya mengeluarkan modal sekecil-kecilnya .yeach sedikit tak jauh berbeza dengan rumus kapitalisme Adam Smith .

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(Surah Ali Imran :14)

Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Surah AlBaqarah:11)

Al Qura’an melukiskan kalangan bertipe seperti ini bak mereka yang tiap saat mengklaim melakukan perbaikan demi perbaikan atau dalam bahasa yang lebih humblenya di antara propaganda dari balik pamphlet,poster, iklan, media massa atau bahkan televisi , hanyalah perbaikan yang ingin dilakukan .Agar Indonesia , klaim mereka, menjadi bagian dari Negara-negara di dunia yang berdaulat dalam suasana kehidupan yang demokratis,memegang teguh asas Hak Azazi Kemanusiaan , menolak atau kalau perlu mengeluarkan undang-undang yang mengatur ketat tentang poligami , dll. Dan dalam ayat yang lain telah ditegaskan hikmah yang Allah berikan dari tiap butir shariah yang ia ciptakan dan berlakukan pada makhluknya bernama manusia ,tiada lain tiada bukan maslahat di sisi Allah lebih besar dari yang mereka pikirkan secara kalkulis, skeptic,sinis dll.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.( Surah AlBaqarah :216)

Maka berhentilah sejenak disini .Sejenak dari kepenatan rutinitas yang terkadang menggerus deru dan hamasah seorang muslim untuk kembali bangkit mencelupkan dirinya dalam sejuknya sendi-sendi ibadah .Shalat yang banyak orang diragukan sebagai sarana mendekatkan pada Allah Azza wa jalla sekaligus dalam momen yang bersamaan sebagai sarana melepas lelahnya diri dan letihnya jiwa dari berbongkah-bongkah rutinitas transaksi perdagangan, akademik dll .

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.( Surah An Nuur :37)

Berhentilah dalam perhelatan kecil di sebuah stasiun kehidupan yang disana tersimpan cadangan ruhani dan tenaga untuk menyambut dan menjawab realitas zaman berikutnya.Ketika realitas yang ada telah membakar seluruh hamasah jiwa-jiwa seorang pejuang kebenaran untuk kian memperkokoh idealismenya.Bila saja Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, atau Bung Tomo, Muhammad Thoha, menyerah dalam berbabgai fasilitas yang telah diberikan Kolonialist beserta antek-anteknya niscaya kita takkan pernah mencium udara kemerdekaan sesegar dan seleluasa ini.Tohk bukankah mereka telah diberikan berbagai fasilitas serba kecukupan untuk bias hidup layak di tengah realitas penjajahan selama tiga setengah abad dan tiga setengah tahun penjajahn jepang atas bumi Indonesia .

Berhenti untuk kemudian kembali datang dan melawan.Dan perkenankanlah pada bumi Indonesia yang disini telah tertumpah darah para pejuang kemerdekaan yang membela tanah airnya bukan semata merebut tanah kelahiran yang menyimpan kekayaan alam yang luarbiasa namun tanah kelahiran Pangeran Diponegoro, Tengku Umar, Cut Nyak Dien, Panglima Polem, Imam Bonjol,hinga Muhammad Natsir ,Agus Salim, atau bahkan Kartosoewiryo . Tanah kelahiran mereka dan tanah milik seluruh kaum muslimin .Antara distorsi dan rekayasa adegan sejarah perlahan sudah tak berlaku lalu mata public pun membelalak pada lembaran –lembaran putih yang menghapus kelamnya jejak distorsi sejarah dan rekayasa manipulatif terhadap kepingan bersejarah yang pernah dimiliki bangsa Indonesia .

Sejenak di antara deru panas pergerakan Islam kembali mengusung tinggi-tinggi panji seruan dan pembebasan atas bumi Indonesia yang luluh lantak bersamaan dengan lantaknya sendi-sendi diktatorisme dan propaganda para secularist yang telah kehilangan gigi untuk membuktikan dengan nyata outputnya.Pilkada Jakarta yang dipecundangi dengan seribu malapetaka mentradisi , mandulnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menyisakan berbagai penyakit social tak kunjung berakhir walau tiap tahun selalu keluar kitab-kitab suci yang dipegang teguh oleh para ekonom ., alasan dangkal penaikan harga minyak yang konon disebabkan kenaikan harga minyak dunia dan upaya pemerintah menghindari pembengkakan APBN , walaupun lagi-lagi publik telah beranjak dewasa dan cerdas mencari jawaban sendiri atas berbagai fenomena di atas. Bukankah Minyak Indonesia pada produksi periode terakhir justru mengalami surplus dan APBN yang menjadi uang rakyat yang harus membiayai bunga atas obligasi perbankan berbasis kapitalisme yang hampir sekarat .

Sesaat berhenti untuk kemudian kembali dalam nafas konsistensi perjuangan dalam bingkai kehidupan yang sunnatullahnya ladang amal sekaligus medan pertempuran abadi para pejuang mukmin sejati melawan serdadu kebathilan yang hari ini menyerbu dengan segudang senjata canggih melalui pelbagai propaganda semu yang akarnya rapuh .Sejenak berhenti dan relax dari kejauhan hingar bingar untuk kemudian kembali dengan idealism yang segar dan akbar tuk segera memproses perubahan besar di negeri bernama Indonesia .