Tag

Bahkan Seribu Masjid , sejuta masjid niscaya satu belaka jumlahnya , sebab tujuh samudra gerakan sejarah bergetar dalam satu ukhuwwah islamiyah . ( Emha Ainun Nadjib , Seribu Masjid Satu Jumlahnya )

Tatkala selongsong misi yang ditembakkan jauh hari dalam baying-bayang penekanan represif dan gejolak budaya yang berangkat dari satu konspirasi beranting-ranting dan mengakar telah begitu lama digaungkan jauh sebelum kita kembali mempopulerkan dengan berkali-kali seminar atau bahan hangat satu konferensi internasional.

Kemudian ia hampir tersangkut dan samar lalau asing di pojok wacana sejarah .Sejarah lebih banyak dimaknai kalangan intelektual modern sebagai fosil tua berdebu bersama ribuan daftar nama orang yang sudah mati kemudian dihafal beserta sekian tanggal , bulan dan tahun .Namun sejenak perlahan kita membuka kembali file-file yang terekam rapi di memori kita tentang romantisme elemen-elemen islam yang berangkat dari kesamaan pikiran dan tujuan : Enyahkan Kolonial Belanda !

Masyumi adalah payungnya .Berbagai elemen islam menceburkan dari dalam satu arus pergerakan islam menyatukan barisan melawan colonial belanda dan sekali lagi seperti hendak menegaskan bukan Kebangsaan dan keterikatan etnis yang mengajarkan bangsa ini merebut kemerdekaannya namun ruh itu ialah Islam. Masyumi , strategis memang bak poros yang mempertemukan dua pemikiran dan dua individu yang sama-sama memiliki pengaruh besar di masanya seperti Muhammad Natsir dengan KH Isa Anshari .Dari sana Masyumi kemudian bertransformasi dengan bentuk yang lebih elegan menjadi MIAI pada masa pendudukan jepang .

Maka jenak-jenak keindahan seluruh kalangan ummat islam yang notabene diakui oleh dunia .Negeri yang memiliki populasi penduduk muslim terbesar di dunia setelah Afghanistan .Bahkan setelah melalui penelitian akhir-akhir ini populasi muslim telah mampu melebihi jumlah pemeluk agama katolik dan itu pun telah diakui sendiri oleh Vatikan .

Belum termasuk daftar kekayaan alam yang tersimpan di negeri-negeri berpenduduk mayoritas islam .Yang bila bukan karena kekayaan melimpah ruah di negeri-negeri muslim tersebut tentulah takkan pernah ada cerita konflik minyak dan air termasuk bumi Indonesia .MIAI pada poros perjalanan kiprahnya membentangkan kembali jembatan bagi kaum muslimin .Lembaga-lembaga atau ormas islam saat itu selalu dapat duduk satu meja , merumuskan arah dan kiblat implementasi sebuah core pergerakannumat islam seusai jatuhnya kekhalifahan Islam di Turki 1923.

Bahkan seusai kejatuhan kekhalifahan tersebut , berbagai munasharah dan konferensi digelar untuk bagaimana mengembalikan eksistensi kedaulatan ummat .Tak perlu heran dan pensaran mengapa berturut-turut dalam lintasan sejarah selalu hadir para ulama , cendikiawan ,pemikir, yang natara satu sama lain saling melengkapi asas demi asas gagasan mengumpulkan kembali daun yang terserak .Demikian lah ungkapan indah diberikan oleh Sir Muhammad Iqbal

Ada Muhammad Abduh yang mewariskan tongkat estafet gagasan bersatunya kembali kaum muslimin pada Ahmad Rashid Ridha .Atau ada Hasan Al Banna yang mendirikan pergerakan islam Al Ikhwan Al Muslimun lalu detiknya hingga kini menggaung dan bergelora di seluruh belahan dunia , belum ditambah daftar para pemikir strategis lainnya yang membakar api persatuan kaum muslimin di seluruh belahan dunia seperti Abul A’la Al Maududi di Pakistan , Muhammad Natsir di Indonesia , Sayyid Quthb di bumi Mesir , Nik Aziz Nik Mat di tanah Melayu , dll .

Karnaval jiwa-jiwa . Dalam bahasa M Anis Matta , sebagai anak-anak dari zamannya , sebagai muara-muara dari peradabannya .Mengukir goresan terindah sebagaimana pernik bintang yang menari di langit malam . Bahwa muslim bersatu bukan utopia .Adalah agenda bersama yang bukan lagi sebatas topic utama para mubaligh

Walaupun tak bias dipungkiri , di berbabagi forum diskusi dunia maya tak jarang persinggungan dan perdebatan sengit kerap terjadi antar harokah islam .Baik bila perdebatan tersebut kian menambah hangat kekayaan khazanah pemikiran yang ada .Akan tetapi bagaimana halnya bila dari sana lah perpecahan dan kejanggalan demi kejanggalan yang potensinya berpengaruh pada keberlangsungan dakwah yang telah berjalan .

Tentang Maulid Nabi SAW Hingga kini pun masih hangat ddiperdebatkan atau tentang metode dakwah yang ditempuh oleh masing-masing gerakan dakwah , masihkah berharap melalui demokrasi dengan sistem parlementernya atau lebih baik bergerak ekstra parlemen lalu mengakhirkan revolusi sebagai awal dari perbaikan kesejahteraan sosial sebagaimana yang dikonsep oleh kalangan Hizbut Tahrir .Persoalan lainnya seperti perkara khilafiyah hingga kini dijadikan alas an lain untuk menjatuhkan harokah islam yang lain.

Terlepas dari segala poin-poin perdebatan yang menjerumuskan ummat pada satu kalimat : Cerai berai ! Sementara dekade ini rumah ummat terlanjur terbakar yang justru kita lah penyumbang terbesar bahan bakarnya , penyumbang yang ikhlas mengalirkan solar dan bensinnya bahkan kita turut memodali berapa besar yang dibutuhkan untuk membeli sekarung kayu bakar .Terorisme, Kristenisasi,suburnya aliran sesat,pornografi dan pornoaksi, serta seabrek Pr Ummat lainya

Yang menarik diambil kata sepakat sangat indah kaidah para ulama mengikat perbedaan menajdi rahmat dalam konteks amal jamai .Bahwa mengedepankan keselamatan serta kemaslahatan dakwah jauh lebih berharga dan utama serta penting di bandingkan sebatas pemenuhan kepentingan yang bleh jadi ada benarnya .Disini takkan pernah ada cerita tentang keberkahan yang melimpah pada jamaah dengan prinsip “Raja Dua Pulau” , dan tetap terikat jalinan silaturahim di atas jalan dakwah yang panjang namun tercepat ini walaupun tergores padanya sejumlah kekeliruan dibandingkan dengan sejumlah langkah yang sempurna namun harus dibayar dengan retaknya amal jama’i .

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Surah Ali Imran :103)