Tag

“Peradaban akan bangkit ketika manusia didominasi ilmu ilahiyah dan nilai-nilai mulia .Peradaban akan stagnan , ketika manusia terlalu penuh dipenuhi oleh pikiran materialistik dan benda-benda peradaban akan hancur dan lumat ketika manusia di dalamnya terlalu dijejali oleh nafsu serakah “( Malik Ben Nabi )

Ternyata paradoks itu kian memang  selalu hadir dan kian mengental dalam wajah dunia pendidikan Indonesia dekade ini. Tatkala seorang guru besar UIN melegalkan praktik homoseksual atau ketika kian berulang di tiap tahun menjelang ujian akhir nasional .Bererakn kliping-kliping berita sarat berita duka, yeah berita duka yang setia memburamkan langit dunia pendidikan .Tentang jerit tangis siswa-siswi SMA dan SMK akan patokan nilai akhir yang lebih tinggi dan jumlah mata pelajarn yang diujikan lebih banyak dan otomatis jumlah jam pelajaran di sekolah pun ditambah .Wajah lainnya carut marut semarak dengan serangkaian tragedi bunuh diri seorang siswi smu hingga demonstrasi para guru yang tak rela lagi disematkan julukan pahlawan tanpa tanda jasa .

Begitu pesat persaingan dan standarisasi yang telah diberlakukan dengan di dunia pendidikan tiap Negara tetangga tentu telah diperhitungkan. Bahkan alangkah wajar apabila negeri ini mencanangkan persiapan sebaik mungkin bahkan kalau perlu menambah standarisasi agar mampu bertarung secara kompetitif dalam hal pengembangan dan pertumbuhan kualitas pendidikan Indonesia. Khususnya membangun mental manusia Indonesia berbasis kolaborasi antara disiplin ilmu berbasis wahyu dengan keimanan yang menggerakkan dari tataran tahu dan mengetahui menuju ranah mau dan faham

Tragis berulang dan melanjutkan pesta paradosknya hingga tingkat bangku kuliah . Mahasiswa, sebuah fase secara akademik yang masa studinya di bangku kuliah dimanfaatkan untuk mengasah dan menempa diri dan telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam menganalisis serta merumuskan kembali masalah-masalah yang berada di sekitarnya. Memiliki peranan sangat besar sebagai agen perubahan yang setia dengan ideliasmenya walaupun jauh  dirasa  realitas di depan mata . Ia memilki juga hamasah yang kuat untuk melanjutkan dan mengawal proses panjang perubahan tersebut sesuai dengan koridornya .

Dalam hal ini saya masih teringat saat saya berjalan-jalan di dunia maya . Tatkala saya tengah menemukan sebuah tulisan yang ditulis oleh seorang mahasiswa IPB di salah satu blog dengan tajuk “ Pangan ,IPK, dan Mahasiswa .” sebuah artikel yang membedah sekaligus mengkritisi krisis pangan dan kemalangan petani Indonesia yang hidupnya tak mampu tumbuh dengan sejahtera di bawah sektor pertanian malah harus ada cerita Indonesia telah kekurangan pangan .

Namun yang menarik perhatian saya dalam tulisan tersebut adalah adanya paradigma yang harus diubah dari study oriented yang semata-mata mendapatkan IPK setinggi-tingginya . Bila masih mengaku bahwa mahasiswa adalah bagian atau pengambil peranan penting sebagai  The Agents Of Change maka mulai ada yang keliru dan paradigma ini pun seperti yang dikatakan seorang ustadz di STEI Tazkia adalah sebuah paradigma yang keberadannya dalam benak banyak mahasiswa harus dihapus dan enyah jauh-jauh karena peran hakikatnya nilai atau IPK bukan merupakan tolak ukur atau pun tujuan sebab peran mahasiswa serta eksistensi pergerakan intelektual dan spritualnya bertujuan membumikan ilmu itu sendiri di tengah-tengah masyarakat .

Tatkala biaya kuliah makin tinggi namun disisi lain tuntutan melaksanakan perubahan dan pembenahan pada tingkat sosial atau bahkan pemerintahan selalu dan kian dinanti . Karena ia adalah amanat moral yang dititipkan oleh masyarakat Indonesia pada pundak pemuda Indonesia . Inilah realitanya dan ini pula zamannya maka dimanakah engkau para intelektual bermata basah saat tergetar membayangkan api neraka menjilat-jilat dirinya ? dimanakah engkau yang sanggup menjawab dan mengubah realitas ke arah lebih ideal . Karena sejarah adalah telaga kontemplasi manusia yang memicu motivasi untuk berubah dan mengebah asa serta harapan mulia menjadi segenggam implementasi dan realita . Dan sejarah esensinya selalu berulang serta realitas itu sendiri harus rela berganti dengan keadaan konkrityang lebih baik .

 

Akhirul kalam , sejatinya ilmu mampu mengantarkan siapa saja yang mereguknya pada kemahakuasaan Allah SWT Yang Maha Tak Terbatas . dan persoalan antara jalan yang membentang dari ilmu pengetahuan menuju kebahagiaan kerap mengalami deviasi dari ilmu pengetahuan menuju hanya mencari sebatas IPK harusnya ia dikembalikan ke niat awal yang cenderung produktif menjadi Indeks Partisipatif dan Kontributif . InshaAllah…………….