Tatkala saya masih duduk di bangku kelas 12 SMA jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial , yang selalu saya ingat dari nasihat guru-guru saya khususnya tatkala kami memulai mempelajari Akuntansi yang “resmi “ diberikan setelah melalui penjurusan . Akuntansi sebuah ilmu yang kerap diidentikkan pada sejumlah paradigma yang sempit atau gambaran pembukuan yang rumit dan ‘ njelimet “ apalagi setelah mendapatkan banyak cerita dari kakak-kakak kelas yang juga dari jurusan yang sama kemudian sikap teman-teman bila dulu mulai ada sebuah kecendrungan masuk jurusan IPS malah setelah ada penjurusan mlai bangga dengan sejumlah predikat “wajah rumus” pada mereka yang masuk jurusan IPA . Fiuh ada pesta paradoks yang berulang tercatat sejumlah pesta paradoks akan dikotomisasi Ilmu pengetahuan atau yang lain dalm bentuk tak jauh berbeda paradigma sempit selalu ditebarkan kemudian cukup lah ilmuwan sekuler barat yang berpulang sebagai tempatnya memnta keputusan perusahan muslim di bidang Akunta nsi . Hingga biarlah waktu yang menjawab betapa urgennya PASAR kembali bertemu dan berrsua dengan MASJID , hingga biarlah segelintir gelombang fenomena mendebur dan memukul dada kaum muslimin mempertemukan keduanya pada jalinan yang romantis dan harmonis , seperti sedia kala misi Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq yang gilang gemilang menciptakan kestabilan perekonomian Madinah , misi yang kini kelabu dan nampak bak utopia , bila Masjid yang hidup maka otomatis pasar kan tumbuh dengan subur namun bila pasar yang hidup masjid akan redup .

Sayangnya sejak kejatuhan Daulah Khilafah Islamiyah di Turki pada tahun 1924 karena lebih banyak diakibatkan keterpurukan moral pejabat khalifah dan desakan seorang Mustafa Kemal Atturk ke konsep negeri sekuler , misi tersebut kian meredup dan hanya lelaki tua nan renta pulang dan pergi ked an dari masjid .tentunya ada pertanyaan dalam dada teman-teman bukankah tatkala kita mengambil jurusan Akuntansi Syariah sudah pasti kita akan mempelajri seluk-beluk akuntansi Syariah tersebut ? saudaraku, garis-garis yang kini membedakan mana si pemuda yang tahu dan telah mengembara ke berbagai kitab seta majelis ahli ilmu adakah jaminan untuknya segera beranjak menuju “mau” atau mereka yang “mau” namun karena hanya di bekali dengan semangat yang bergejolak untuk segera mengobarkan obor-obor Ekonomi Syariah tanpa bekal di perjalanan panjang yang cukup , garis-garis yang telah menyeleksi dengan bijak dan perhatian tanpa bermaksud untuk mengesampingkan apalagi mencoret hanya saja disini level-level pahala utuk mereka yang berjuang akan sangat bertolak belakang untuk sang pemuda berbekal ilmu tanpa amal dengan san pemuda lain beramal tanpa ilmu hingga ia dikembalikan pada rumusan agung yang selalu berjalan identik dengan nilai-nilai islam yang tawazun dan moderat .

Akuntansi Syariah: Milik Umat Islam

Kembali pada topic yang saya angkat di awal , belum banyak yang tahu siapa sesosok Luca Pacioli yang disebut-sebut sebagai Bapak Akuntansi Modern , atau akan lebih banyak lagi yang belum tahu kesenjangan jarak waktu dan history yang terbentang jauh antara jaman “ jahiliyyah “ yang dialami dunia barat (1494 M) seorang Luca Pacioly berdasarkan nasab , seorang pendeta Kristen , pada tahun 1494 M dia menerbitkan sebuah buku yang berjudul “ Summa De Arithmetica , Geometry, proportion” berdasarkan catatan peneliti pada tahun 1963 M adanya sebuah rekomendasi-rekomendasi yang jauh lbih valid bahkan disusun lebih valid dan menjadi dasar pencatatan selanjutnya oleh Pacioli tahun 1363 M yakni Abdullah Al Mazindaani dalam kitabnya “ Risalah Al Falakiyah kitab As Siqayat “ dengan kata liana apa yang dilakukan oleh Pacioli hanyalah berperan sebagai penukil , pencatat , terhadap apa yang beredar saat itu .

Ada banyak hal yang membetot perhatian mata saya saat mempelajari sebuah buku yang di susun oleh Prof . Dr.Umar Abdullah Zaid salah satu pada Bab Kedua yang masih berkutat tentang sejarah akuntansi islam yang kemudian di manipulasi oleh para intelektual barat karena begitu penting diluruskan apa yang selama ini dijadikan banyak acuan para intelektual seluruh dunia akan tradisi plagiatisme keilmuan yang malah terlihat seperti telah begitu biasa maka semuanya mengantarkan kesimpulan logika yang bertentangan dengan fakta sejarah yang telah ada . seperti yang dicatat oleh Prof .Dr.Umar Abdullah Bin Zaid pada halaman 31 mengatakan “ Mungkin dapat dikatakan bahwa saat itu Eropa hidup pada masa kegelapan ,kaum muslimin telah menggunakan akuntansi dan ikut andil , dalam mengembangkannya .sementara itu , peradaban islam dalam sebuah fase yang subur dan berkembang pesat di dunia dengan syariat islam sebagai fondasinya dan berhasil mengintegrasikan antara tuntunan spiritual dan material

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Surah Al Qashashas : 77

Jejak –Jejak kegemilangan akuntansi islam

Disinilah gunanya sebuah pemurnian yang dikembalikan dengan jujur , saat plagiatisme menjelma budaya lumrah , atau saat telah tertutup mata dunia dengan segenap keangkuhannya pada karya gemilang yang pernah direntas oleh putra –putri islam terbaik sepanjang masa. Antara jejak-jejak ingatan kolektif masyarakat terkaburkan oleh sikap yang memang disengaja menghilangkan selenyap-lenyapnya dari muka bumi kegemilangan yang pernah direntas bersama kepingan-kepingan bagai puzzle ,kepingan-kepingan yang disusun oleh tangan-tangan insan berdedikasi dan keimanan yang bukan lahir dari lubuk formalitas dan retorika lidah menggulirkan wacana , ia hanyalah satu jejak dari berribu-ribu jejak lainnya mengisyaratkan keteladanan kemudian diwariskan olehnya keteladanan tersebut untuk generasi berikutnya .

jejak kegemilangan yang memang sengaja dikaburkan melalui sederet kisah pemusnahan manuskrip berharga sepertti yang pernah dilakukan oleh pasukan barbar terhadap kekhalifahan terakhir Dinasti Abbasiyah sampai-sampai seorang ulama sejarawan yang masyhur pernah mencatat tentang sungai di sepanjang Baghdad menjelma hitam karena lautan tinta dari buku-buku yang dihanyutkan ke sungai tersebut , atau seperti yang pernah dilakukan seorang Kardinal di era penjajahan kolonial Belanda memusnahkan secara sistematis manuskrip berharga ulama-ulama Nusantara , dan maka terkenanglah terkenang lah ucapan Bung Karno dalam bukunya ” Di Bawah Panji Revolusi ” , bahwasanya ulama-ulama yang dimilik bangsa Indonesia paling paham masalah tajwid dan tarikh islam yang itu pun tak sanggup diuji originalitasnya lewat science modern kemudian ucapan beliau pun diluruskan oleh A.Hassan salah seorang ulama luar biasa yang pernah dimiliki Bangsa Indonesia

Seperti yang pernah dipaparkan oleh saya pada paragraph sebelumnya , jauh seorang pendeta Kristen pada tahun 1494 M yang bernama Lucas Pacioli dalam jangka perbedaan waktu Selama 131 tahun di depan karya yang diterbitkan oleh Lucas Pacioli serta memuat pembukuan dua belas kolom atau kolom tunggal , pada tahun 1363 M yakni Abdullah bin Muhammad Al Mazindarani telah merentas dan disempurnakan olehnya untuk selanjutnya dapat diaplikasikan dalam system Akuntansi yang tengah popular saat itu tahun 765 H/1363 M

· Akuntansi Bangunan

· Akuntasi Pertanian

· Akuntansi Pergudangan

· Akuntansi Pemuatan Uang

· Akuntasi Pemeliharaan Binatang

Bahkan di antara yang sangat unik dalam pencatatan pembukuan pada masa tersebut dan juga merupakan pembeda antara Akuntansi yang murni syariah dengan konvensional adalah sebgai berikut

· Sebelum menyiapkan laporan atau dimuat di buku-buku Akuntansi harus dimulai dengan Basmallah . Hal inilah yang juga disebutkn oleh Lucas Pacioli 131 tahun kemudian (Johnson ,1963,hal.28)

· Laporan keuangan dibuat berdasarkan fakta buku Akuntansi yang digunakan , di antara laporan keuangan yang pernah dibuat di Negara islam yang terkenal adalah Al-Khitamah dan Al-Khitamatul Jami’ah . Al Khitamah merupakan sebuah laporan keuangan tiap akhr bulan dan juga memuat pemasukan serta pengeluaran sesuai kelompok jenisnya sedangkan Al-Khitamatul Jami’ah laporan keuangan yang ditujukan untuk orang yang lebih tinggi derajatnya untuk kemudian diberi persetujuan laporan keuangan yang persetujuanya diberi nama Al Muwafaqah namun apabila ia tak disetujui maka ia dinamakan Muhasabah karena adanya perbedaan pada data-data yang dimuat dalam laporan keuangan

· Ketika melakukan transaksi jual beli , tanda terima diberikan kepada pembeli atau disebut juga dengan Thiraz sedangkan copiannya atau salinan disebut sebagai syahid yang kemudian disimpan oleh Akuntan untuk kemudian dipertanggungjawabkan dan disetujui oleh pimpinan kantor, menteri,atau sulthan dan apabila transaksi perdagangan terjadi di luar kota salinan syahid tersebut dikirim ke ibukota wilayah islam untuk kemudian diberikan persetujuan oleh Sultan dan disimpan sebagai dasar pembukuan dasar kantor pusat

Demikian sekelumit proses pembukuan yang telah lebih dahulu berlaku jauh sebelum Lucas Pacioli dan segenap peneliti barat mendeklarasikan penemuan mereka terhadap system pembukuan dua belas kolom yang ternyata telah dirintis oleh para intelektual islam di masa-I masa kecermelangan dunia islam yang meliput cordova , Baghdad, hingga jazirah pulau-pulau Nusantara tatkala Dark Ages menyelimuti daratan eropa dan Barbarisme menjadi corak budaya yang mendominasi peradaban Barat seusai jatuhnya imperium Romawi dan Yunani oleh serangan bangsa Gothik dan vandal .tapak-tapak gemilangnya khazanah peradaban islam hari dan dekade ini segolongan intelektual muda islam yang peduli akan kembalinya kebangkitan ummat islam dan hidupnya syariah Allah membumi serta solusi nyata untuk pelbagai masalah keuangan dan perekonomian Indonesia kerana bermula dari petunjuk yang tak pernah lapuk dan untaian mutiara Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang tak pernah leka biar dicabar oleh pergantian zaman atau isyarat akan Akuntansi terinspirasikan oleh ayat ini dan nomornya yang seimbang sebagaimana keseimbangan sisi debet dan sisi kredit ?

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “