Tag

,

Fren berikut ini sebuah tulisan yang disusun oleh salah seorang sahabat saya di Matrikulasi , sejatinya ada banyak fenomena yang berlaku dalam suat asrama namun kesemua tesebut bila di telaah secara mendalam maka garis merahnya adalah bagaimana Matrikukasi itu sendiri sebagai jawaban atas segala kenyataan dan solusi yang menjawab dengan eksplisit secara sederhana tanpa banyak argumen dan teori atau tantangan yang tengah menanti di hadapan sekeluarnya kita , para Mahasiswa tahun pertama , adalah ujian yang sesungguhnya tersulit namun sekaligus termudah .Tersulit karena boleh jadi ia bukan lagi berbentuk ujian dengan sebuah ruangan segi empat dengan berjejer kursi kemudian seorang pengawas yang mengawas dengan mata penuh selidik . Termudah karena boleh jadi jawabannya tak memerlukan banyak rumus dan setumpuk diktat kuliah , mudahj karena setiap hari kita masih mampu membuka buku petunjuk yang telah ada di depan mata sejak 14 abad yang lalu , dialah Al Qura’an. dan jejak-jejak kesucian penuh teladan , dialah Sunnah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam . yang kita diperintahkah kuat erat menggigitnya agar tak tersesat di jalan yang lurus beserta sunnah Khulafarasyidin . inilah serangkain hikmah terindah yang cuba dirangkai oleh penulisnya tentang Matrikulasi dan kedewasaan menempa kemampuan serta jati diri .

“Ada apa dengan Matrikulasi????”

( sebuah Muhasabah akan keberadaannya, mampukah matrikulasi memvawa mahsiswa menuju hidup lenih baik )

Detik terus berdetak, menit tak berhenti untuk menguntit, jam silih bergantian mengancam, hari meniti diiringi terbit dan terbenamnya mentari, dan Bulan Seakan menawan membawa pesan. Tak terasa sudah 6 Bulan, 180 Hari, 4320 Jam, 25920 Menit, dan entah berapa juta Detik telah menemani perjuangan kita di STEI Tazkia ini, yang jelas Matriculation program adalah Menu yang paling ideal karena disuguhkan pertama dalam skenario pencarian jati diri kita selama 4 tahun ke depan insyaalloh. Mengulas singkat Matrikulasi, mampukah dari awal sampai sekarang keberadaannya memberikan warna yang cerah untuk bekal hidup setelahnya atau malah dijadikan sebuah alasan elakan saat kehancuran nanti akan datang. Ini yang akan coba penulis bagi kepada segenap insan matrikulasi, sejauh mana keberadaannya mampu memberikan elastisitas yang positif untuk hidup dan mampukah keberadaannya menggiring kita untuk hidup lebih baik.

Manusia ( kita ) merupakan makhluk yang paling sempurna yang penah ada dan eksistensinya masih bertahan dari 1000 abad yang lalu sampai sekarang. Fakta ini yang penulis rasa sebagai penguat dari ayat Allah dalam surat At-tin ayat 4, yaitu;

لقد خلقلنا الا نسن فى احسن تقويم ( التين ع )

( Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang smpurna”). Q.S. At-tiin : 4

Sempurna bermakna luas yang esensi dan asumsinya kadang masih belum terjawab. maksudnya bila memang dikategorikan sempurna tapi mengapa masih terdapat nilai-nilai ketidaksempurnaan yang dengan arogannya mengeksploitasi makna sempuna tersebut. Yang pada akhirnya eksistensi manusia mampu digramatikalkan dan dimatematiskan.

Berbicara matematis, ternyata alur atau daur manusia mampu di matematiskan menurut kebiasaan yang manusia jalani itu sendiri. Coba kita hitung waktu yang dimiliki manusia, Setiap manusia mempunyai waktu 24 jam untuk diisi dengan berbagai kebiasaan yang manusia inginkan. Dari 24 jam itu, manusia memiliki 1440 menit yang nyatanya mengisi ranah jam itu, begitupun menit terisi dengan 86.400 detik. Lantas hari tak pernah bisa lari dari perputaran bulan, genapkan bahwa manusia memiliki 12 bulan dalam 1 tahun, dan dibulatkan memiliki 365 hari dalam 1 tahun itu pula. Prilaku manusia harus diakui bahwa substansinya bersifat abstrak, diferensiasinya masih menjadi tembok yang sangat tebal untuk mampu ditembus dalam arti mengetahui kebiasaan yang disini bermakna prilaku yang manusia lakukan itu sendiri. Berbicara kebiasaan, hal ini yang akan kita coba matematiskan dengan perputaran waktu yang manusia miliki.

Perputaran waktu tersebut akan terhenti dengan adanya kematian, kita coba matematiskan kembali jatah hidup manusia adalah 60 tahun. Apabila benar jatah manusia hidup 60 tahun dan manusia membutuhkan 8 jam sehari untuk kebiasaan tidurnya, maka dalam jatah 60 tahun tersebut manusia mempergunakan 20 tahun hidupnya hanya untuk tidur. Mungkin ini suatu kewajaran, tapi lantas menjadi sebuah pertanyaan adalah apa yang mampu manusia hasilkan dalam waktu 60 tahun tersebut??. Apa manusia hanya mampu menghabiskan 1/3 hidupnya untuk tidur dengan tanpa menghasilkan karya atau prestasi apapun, maka muncul sebuah kritikan tajam tentang esensi dari sebuah kehidupan.

Kehidupan senantiasa menyuguhkan dua pilihan yang senantiasa kontradiktf. Ketika ada siang pasti ada malam, ada putih hitam menjelma, ada besar kecil, ada laki-laki tercipta perempuan, baik dan buruk, jawaban iya dan tidak, begitupun manusia senantiasa dilingkupi feeling afraid (rasa takut), tapi selalu terhibur oleh adanya hope (harapan). Ketakutan seakan-akan menjadi hambatan yang muncul dalam menjalani kehidupan, manusia enggan dan urung berani untuk hidup karena selalu terbelenggu oleh adanya ketakutan. Tapi dibalik adanya ketakutan, harapan selalu muncul menghibur dan merangsang manusia untuk berani keluar dari ketakutan dan segera mewujudkan harapan itu dalam sebuah kenyataan hidup.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa manusia dituntut untuk mampu survive (bertahan) menjalani hiruk pikuk kejamnya dunia. Kehidupan dunia yang sampai saat ini masih menguasai pikiran manusia untuk selalu mencintainya. Kehidupan duniapun seringkali mengreduksi kehidupan akhirat sedikit demi sedikit dan akhirnya membuat manusia senantiasa buta akan kehidupan akhirat, cenderung lupa bahkan acuh akan kehidupan setelahnya itu. Kenikmatan yang disuguhkan dunia menuntut manusia untuk berpikir keras cara memilih mana yang baik dan mana yang buruk, tapi esensi ini seakan tak mampu dicerna oleh manusia karena manusia kerap kali tak kuasa untuk tepat dan sebuah pilihannya.

Masalah yang ada dalam kehidupan manusia tergantung kepada setiap pribadi manusia itu sendiri, karena sekali lagi bahwa kehidupan adalah suatu yang abstrak yang abstraksinya tak mampu dikongkritkan. Metode yang salah pula jikalau dengan tanpa pemikiran yang dalam, kita berani bilang kehidupan manusia itu sama. Akan tetapi hal itu dapat dilihat dari sejauh mana peran manusia untuk memberikan sebuah makna akan kehidupan, bukan justru sebaliknya apa makna kehidupan untuk manusia.

Keberadaan penjara suci ( matikulasi ) ini, secara dalam sungguh mampu menjawab problematika yang telah penulis paparkan di atas. kita yang dengan sombongnya mengaku manusia ( makhluk tuhan yang paling sempurna ) tidak pernah sadar atau tidak pernah ingin menyadadari hakikat keberadaanya dalam hidup kita. Eksistensi matrikulasi sering dijadikan kambing hitam kekacauan, kekerdilan, kebodohan, kehinaan, keterasingan, dan berbagai unsure negative yang menjelma dalam diri kita. Sehingga dengan polosnya kita menjawab, ” semua gara-gara matrikulasi, coba kalau kita telah keluar dari matrikulasi, dan celotehan-celotehan lain yang pada hakikatnya seperti membuang tumpukan uang ke tong sampah lain . Penulis menganggap bahwa sebenarnya ada berbagai hal dan satu hal yang mendasar yang belum kita fahami sejauh ini, ada jawaban yang tersembunyi yang secara diam-diam mampu menjawab polemic kehidupan manusia biasanya darinya.

Maka apa diantara pesan-pesan atau kandungan yang belum tersirat tersurat tersebut, diantaranya adalah ;

1) Matrikulasi mampu menjawab keraguan kita akan hidup. Perasaan ragu akan hidup karena dengan dalih tidak memiliki modal ( Capability and Ability ) mampu dileburkan jadi pemaknaan yang pengertiannnya beralih menjadi makna Peyorasi ( sempit ), jelasnya matrikulasi mampu menyadarkan kita bahwa setiap kita memiliki kemampuan sendiri-sendiri yang mampu dibuktikan dengan sejauh mana kita pandai memaksimalkan kemampuan ( potensi ) yang tertanam dalam diri.

2) Matrikulasi berani menyuguhkan hidangan yang menggiurkan dengan dibumbui waktu untuk kita menanam harapan dan membuang ketakutan. Fakta yang menjadi argumen dasar adalah kehidupan bersama yang bersifat multikultural membuat kita tak pernah menginginkan stagnasi yang ada dalam jiwa membeku seperti batu, kita selalu ingin berubah dan berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, dan inikah yang sering diazamkan saat pembacaan almatsurat dan asmaulhusnanya.

3) Matrikulasi merangsang kita untuk tidak terlalu pilih kasih akan satu kehidupan. Kehidupan dunia yang senantiasa dimanjakan oleh kebanyakan manusia, dan begitupun oleh kita secara perlahan-lahan dipaksa untuk diseimbangkan dengan puasa kamis dan linangan air mata saat tahajud bersama, atau saat kedigdayaan kita untuk serakah dikalahkan oleh rasa tenggang rasa antar sesama. Semua mampu dihilangkan sedikit demi sedikit.

4) Dan matrikulasi mampu menjawab dan membuktikan bahwa kita memilh idiom “apa makna kita untuk hidup, bukan sebaliknya apa makna hidup untuk kita.” Semua bisa terukir dengan betapa pandainya matrikulasi memberikan waktu yang seakan meninabobokan kita untuk selalu sibuk dengan kegiatan dan sempit dari kemaksiatan ( amieN )

Di setengah perjuangannya (matrikulasi) meyakinkan akan hakikat terdalam tersebut, mampukah kita sabar sebentar lagi untuk berusaha mengiyakannya, dalam arti kita tidak diam ( bergerak ) dan sama-sama memberikan pengaruh yang saling terintegritas diantaranya. Wahai sahabatku, masih ada 4 bulan 120 hari 2880 menit dan entah berapa ratus ribu detik lagi kesempatan kita untuk merealisasikan apa yang coba penulis tadaburi diatas, jangan sampai di sisa-sisa akhir keberadaannya di habiskan dengan kegiatan yang sia-sia tanpa ada makna dan maksud untuk memberikan yang terbaik baginya. Jadikan masa sekarang dan yang akan datang menjadi benar adanya, segeralah untuk bertekad bahwa sisa-sisa masa matrikulasi ini akan senantiasa dilukis dengan cerita-cerita yang mengabadikan keberdaaan matrikulasi sebagai saksi sejarah hidup calon ekonom-ekonom islam yang akan datang. Ingat bahwa Our History lebih bermakna dari Our Story, Selamat menikmati!!!!!