Tag

,

intisari sebuah semangat .Mereka akan bersumpah kepadamu dengan nama Allah, ketika kamu
kembali kepada mereka, agar kamu berpaling dari mereka. Maka
berpalinglah dari mereka; karena sesungguhnya jiwa mereka itu kotor
dan tempat mereka adalah neraka Jahanam, sebagai balasan atas apa
yang telah mereka kerjakan
” (At – Taubah : 95)

Jika cinta dan kemunafikan telah berdiri dalam tempat yang sama,
maka garis tipis antara nurani dan syahwat memang akan sulit untuk
terlihat berbeda. Inilah kisah gemuruh pembantaian, penindasan dan
otoritas dari orang – orang yang tidak pernah mengerti objektifitas
dari “untukmu agamamu dan untukku agamaku”(Qs 109) lalu coba
berkelit dari realitas yang sudah jelas di tulis bahwa Tidak ada
paksaan dalam mengikuti agama Islam
(Qs2:256).

Tapi sejak Yahudi lebih memilih untuk lebih percaya kepada sapi emas
daripada mematuhi anjuran sang kekasih Allah Nabi Musa As. Maka
sejak itu pula mahkota sejarah mempunyai definisi baru yang isinya
berakhir dalam ketukan palu dan kesepakatan di rumah – rumah para
pakar retorika `kebebasan, persamaan dan persaudaraan’ yang tak
pernah mampu belajar dari busuknya sejarah yang selalu di tulis
berdasarkan egosentris paling menjijikan dari para gentiles.

Ceritakanlah tentang jeritan tangis dan rasa kehilangan, kehampaan
dan ketakutan dari teror – teror para ksatria `hak asasi dan
demokrasi’, yang menghujani bumi dan tanah leluhur dari para
generasi Syahadatain. Cerita yang tidak ada habisnya dari Ketapel –
ketapel Baitul Maqdis, Iraq, Afghanistan, Khasmir, Chechnya hingga
yang paling up date yaitu api sejarah baru di Beirut Libanon.
Gambaran nyata bahwa dunia sedang kembali kepada budaya bar-bar yang
memicu ulang energi sodom dan gomora dalam duet baru antara Abu
Jahal dan Gengis Khan.

Dan memang benar jika Allah SWT menghendaki, niscaya seluruh batang
hidung alam semesta ini akan dijadikannya dalam satu warna. Tetapi
Allah memang hendak menguji kita
(Qs 5:48). Untuk belajar bahwa
menjadi Islam adalah sebuah sumpah yang setelah itu kamu akan diuji
(Qs 29:2). Karena kita memang tidak sedang dididik untuk menjadi
penonton, tapi kita juga dididik untuk mengambil bagian dalam
pertempuran sepanjang masa ini bahwasanya orang – orang yahudi dan
nasrani tidak akan rela kepada Islam hingga Islam mengikuti ajaran
mereka
(Qs 2 : 120). Begitulah misi semesta ini telah mengajarkan
kita pada sebuah panggilan yang akan mengingatkan kita pada
perbedaan yang takkan pernah bersatu tentang definisi haq dan
bathil, karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu
baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu
tidak baik bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui
(Qs
2:216).

Disinilah semangatnya bertarung antara kepentingan jiwa dan nurani
yang kafir melawan nurani yang memahami hakekat dari misi rahmatan
lil `alamin ini, Semangat Abu Jahal melawan semangat Rasulullah SAW,
Semangat paganisme melawan Kalimat Tauhid. Semua sudah di takdirkan,
tongkat estafet dakwah itu sudah diturunkan. Dan ketika misi 23
tahun itu sudah selesai dan lelaki yang menjadi bagian mutlak dari
kesempurnaan semangat tauhid itu harus kembali ke Penciptanya dan
menitipkan cerita baru bagi sejarah emas ini, tentang kisah para
penerus di masa yang akan datang, tentang kelanjutan misi robbani
ini hingga ke penghujung zaman.

Tapi Iblis memang tidak pernah senang kepada Syariat Allah SWT, ia
selalu ada bersama kita dari depan belakang, hingga kanan dan kiri

(Qs 7 : 17). Meracuni semua aspek dalam kehidupan kita Bisikannya
akan terus menghampiri dan memprovokasi langkah, pemikiran, tingkah
laku kita agar selalu mendustai nikmat Allah SWT (QS 55) hingga
menghancurkan peradaban kita dan mengingkari sumpah yang di hari
kiamat membuat kita menjadi bagian dari para penghianat yang berkata
sesungguhnya pada saat itu kami lalai (Qs7:172) pada kebenaran Islam
ini dan selalu mendengarkannya sambil bermain – main (Qs21:2).
Keterlambatan penyesalan yang membuat semua manusia terkutuk itu
menyesal dan berharap hidup kembali ke dunia menjadi orang muslim
(Qs 15:2)

maka semangat – semangat kita memang seharusnya diimunisasi ulang
bersama identitas Syahadatnya. Agar ia tidak salah untuk digunakan.
Agar poros pergerakan berbaris rapih seperti bangunan yang kokoh (Qs
61:4). Karena Syahadat adalah cermin dasar energi, kepribadian dan
gairah hidup keislaman yang tidak bisa di jelaskan dengan
keterbatasan manusia. Supremasi yang mampu mencangkok ulang
peradaban Anshor, Muhajirin dan Kabilah – kabilah Arab untuk
mengerti bawah fanatisme suku, ras dan golongan hanya akan membawa
umat manusia kepada kemudharatan panjang dan semua itu hanya bisa
disatukan dalam ruh keimanan, lalu selanjutnya keimanan itu akan
menghidupkan semangat peradaban baru. Dalam satu payung yang
mengikat semua dalam aturan yang sudah di gariskan bahwa Tidak ada
tuhan selain Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah
SWT.

Dan Syahadatain memang telah membuktikan sejarahnya, Arab yang tidak
pernah dianggap istimewa dalam peta sejarah dunia kini telah berubah
menjadi cahaya baru yang sejukkan semesta dengan intisari peradaban
yang haluan mata airnya dibangun dari pondasi kalimat Tauhid yang
agung, dan teknis pelaksanaannya dibentuk oleh proses bersama sang
suri teladan Rasulullah SAW. disusun bersama strategi yang mengukir
sejarah dalam sebuah semangat yang penuh hentakan yakin untuk
berkata “wahai pamanku, demi Allah, andaikan mereka meletakkan
matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku
meninggalkan agama ini, hingga Allah memenangkannya atau aku ikut
binasa karenanya, maka aku tidak akan meninggalkan agama ini”.
keteguhan Rasullullah SAW yang kini lebih banyak terlupakan itu
seharusnya mampu mengajarkan kita pada lapisan sejarah tentang
ember bocor dari semua syair kebajikan Abu Thalib yang begitu setia
menemani dan melindungi Rasulullah SAW inipun gagal untuk
menyelesaikan misteri seleksi alam itu, hanya karena semangat
kebaikan beliau tidak terimunisasi dengan baik bersama hakekat
syahadatain yang sesungguhnya.

Mari selamilah misteri semangat ini, pertarungan batin di ruang hati
mereka yang terlanjur terjebak dan tidak mampu keluar seleksi
panjang kehidupan dari sesuatu yang sering di anggap proses
pembelajaran, yang disisi lain justru lebih banyak terlihat
mencampuradukan antara hak dan batil. Salimul Aqidah yang kini telah
tercemari oleh orientasi ghanimah dan thagut – thagut berlabel “kita
jugakan harus menghargai latar belakang seseorang’. Ketakutan atas
setiap friksi dan konfrontasi yang kini sudah tidak mampu melihat
hakekat objektifitas yang sebenarnya.

Atau mungkin memang iblis di zaman ini telah ada dalam berbagai
macam bentuk, bahkan merekapun bersyahadat diatas lidah dan bibir
mereka, dan jika mereka bertemu dengan orang yang benar – benar
beriman dan memperjuangkan syariat Allah SWT mereka akan
berkata “kami telah beriman”, tetapi apabila mereka kembali kepada
para setan – setan (pemimpin – pemimpin) mereka, mereka
berkata “sesungguhnya kami bersama kamu (setan), kami hanya berolok –
olok”
(Qs 2 :14). Biarkanlah filterisasi alam akan meyeleksi
semuanya. hingga kita dapat melihat pesan dari syair Hudaibiyah
dalam sebuah panggilan Baiat Ridhwah ketika Jadd bin Qais menjadi
penerus Abdullah Bin Ubay yang selanjutnya. Kepengecutan yang
menemami kemunafikan lalu melahirkan ekstremis – ekstremis baru,
yang lebih ekstrem dari para pengecut propaganda yang mengkawinkan
kebebasan dan hak asasi pada kacamata humanisme ala Robin Hood, yang
melawan kedzaliman dengan strategi dari api lilin – lilin yang tidak
mengerti janji tentang keabadian cahaya terang yang sebenarnya.

Hingga persis ketika Perjalanan Risalah ini sampai ketitik akhir
kesempurnaannya dan Umar Bin Khatab ra berkata “Sesungguhnya setelah
kesempurnaan itu hanya ada kekurangan”. Ungkapan tulus yang keluar
setelah beliau mendengarkan wahyu Allah SWT yang terakhir dari mulut
Rasulullah SAW “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama
kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah
Kuridhai Islam itu jadi agama kalian”
(Qs 5:3). Begitulah semangat
dan Syahadatain seharusnya bisa menjadi anugerah keseimbangan, yang
porsi naturalisasinya hanya bisa kau petakan dengan iman dan
keikhlasan nurani. Dan orisinalitasnya hanya bisa kita mulai dengan
ruang – ruang yang penuh dengan marifatulloh lalu hidup pada nilai –
nilai Marifatul sang rasul yang sempurna dan disempurnakan itu. Dan
jika semua itu terlihat sekurang ramalan Umar Ra, mungkin itu semua
karena memang kita sendiri telah lalai akan Syahadat kita. Karena
bisa jadi kita memiliki syahadatnya tapi kita tidak mampu membangun
semangat untuk menghidupinya atau kita memang memiliki semangatnya
tapi kita terlalu `pintar’ untuk merenungi harta karun terdahsyat
dari nilai jual tiada taranya dari sebuah semangat hidup yang
dimulai dengan Syahadatain.

Umat ini tidak bisa di kalahkan oleh umat manapun, ia hanya bisa
dikalahkan oleh dirinya sendiri

(As Syahid Sheikh Abdullah Azzam Dari Buku Bergabung Bersama
Kafilah)