hujanAda masa yang berlalu lalang mendekorasi tiap lilin kehidupan manusia, masa-masa seorang pemuda dengan sederet kisah cintanya . atau masa seorang mahasiswa bersama segenap cita-cita yang membumbung tinggi , mengalahkan keterbatasan dirinya . Atau ada masa yang melintas terminal-terminal kehidupan di hari ini yang dijalani bersama selembar perisai ketabahan yang menantang tajam bertubi—tubi ujian menghadang di tengah perjalanan panjang atau setumpuk masalah yang dihadapi penuh senyuman yang menyiratkan kerendahan hati dan keluasan ilmu pengetahuan seakan dirinya bak samudra dalam yang baru saja setetes cuka menetes ke dalamnya. Masa-masa sulit dan setelah itu separuh nafas yang mengalirkan kebajikan dan dan berkeping-keping kenikmatan bukan berarti selesai dan sepenggal kehidupan yang tadinya berjalan penuh ujian dan berbarel-barel peluh keringat disini telah hilang doa di sepertiga malam yang teduh , disini telah lenyap tangisan kecil disela-sela kerapatan shaf shalat berganti dengan waktu-waktu kosong tanpa arti dan kering dari makna ukhrawi . Padahal disinilah ujian terberat seorang mukmin sesungguhnya ! seorang ulama besar yang pernah dimilliki bangsa Indonesia pernah mengatakan berapa banyak ikhwah yang sanggup hidup dalam derita namun tak sanggup melihat kehidupan orang lain penuh kelapangan , atau dalam bahasa yang lain berapa banyak saudara kita sanggup berjalan kaki dari Bogor menuju puncak namun tak sanggup bila sudah banyak kesempatan berupa mobil mewah dan fasilitas lain untuk dikontribusikan di jalan dakwah . Inilah realita yang sejatinya ia hadir namun banyak orang hanya sanggup memandang sekilas saja ,sekilas pandangan mata insan yang dhaif , sekilas pandangan persepsi maya akan hakikat rill nilai-nilai material . realita telah menguji di antara belahan kesusahan dan kebahagiaan. maka sanggupkah kita berdiri di sepertiga malam yang teduh depan mihrab seraya tersedu-sedu saat dunia telah berada dalam genggaman ? masih sanggupkah kita melafalkan Al Matsurat saat suatu masa nanti jabatan CEO sebuah Lembaga Keuangan telah kita raih ? atau yang sederhana sesederhana ujian tengah semester , malam-malam sebelum hari H dilewati di depan meja belajar hingga tengah malam begitu selesai dengan nilai memuaskan , lenyaplah semua hamparan ilmu dari buku oleh gelak tawa di saat penghuni asrama lain telah tertidur lelap . Karena Ujian tak sekedar berarti sebuah ruangan dengan berbaris-baris meja yang telah diatur dengan para peserta duduk manis mengerjakan soal sekitar dua lembar dan seorang pengawas yang berdiri mondar-mandir dan terkadang duduk di belakang mengawasi peserta , karena ujian tak berhenti hanya peluh keringat dan masa-masa sulit namun entah lulus kah ia dalam ujian yang diselenggarakan oleh sekolah kehidupan yang pendaftarannya dimulai ketika ia beranjak dewasa berakhir tatkala tubuh telah diturnkan dalam liang lahat . Namun ujian yang bila di telaah secara mendalam seperti yang pernah diungkapkan oleh sahabat saya bagaikan seonggok tanah liat yang ditempa oleh seorang ahli pandai tembikar kemudian dibakar dalam tungku perapian lalu diukir dengan ukiran sedetail-detailnya atau dalam bahasa yang lebih melegakan seberapa besar kedalaman iman dan keluhuran pengetahuan seseorang mengarungi kehidupan sebesar itu pula ujian datang menyapa bagai selebat air hujan dengan bergulung-gulung topan menerpa atau berkilat-kilat menggelegar petir menyapa . Ujian juga demikian jujur kalau nurani mampu bicara selantang seseorang aktivis mahasiswa berbicara akan keadilan dan Hak Azazi Manusia bahwa Ujian merupakan cara Allah melimpahkan rahmat dan cintaNya kepada hamba-hamba Allah yang dikehendakinNya sentiasa berjalan di atas nilai kebaikan “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan kepadanya , niscaya ia pandaikan dalam agama “ (Al Hadits) Dan seorang pejuang mukmin juga sanggup mengartikan sejauh mana dirinya mampu menghadapi ujian adalah tergantung seluas apakah dan sedalam mana jiwa dan ilmunya . bagaikan samudra yang dalam dan luas dan keluhuran ilmunya menerjemahkan dengan baik falsafah padi yang kian merunduk bila berisi .Sekeping tajam air cuka yang tertets ke dalamnya sama sekali hampir tak berarti dan tak lekas membuat ia menyurukan layar kembali ke pantai . Karena ia paham bahwa ujian demi ujian berlalu lalang di hadapnnya adalah bagian komitmennya menghamba pada Allah SWT . Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Surah At Taubah :16) Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. ( Al Ankabut : 3) Kegagalannya di UTS meski telah berusaha sekeras mungkin bahkan ikut mengorbankan sedikit waktu istirahatnya adalah setitik cobaan dari cobaan yang sebenarnya. Cobaan yang tak membuat ia blingsatan dengan segera dan berprasangka buruk pada keadilanNya dari cobaan yang sebenarnya dan prasangkanya pada Keadilan Allah Ta’ala bukan kerana Ia bakhil atau menyembunyikan perbendaharaanNya pada hambaNya namun dengan demikian Ia ingin agar hamba-hambaNya datang dengan merendahkan diri dan miskin di hadapanNya Yang Maha Kaya Dari sana ia mencoba berdiri kemudian menampik sejumlah ide untuk memintas jalan menuju cara yang tak diridhoi olehNya karena pada tataran terberat ini nurani dan bisikan manusiawi lah yang beradu argumen untuk mampu keluar sebagai juara sejati . kegagalannya hari ini bukan berarti kiamat kubro pada detik dan menit yang sama malah bak sebuah catatan kecil yang selalu ia tatap untuk perjalanan panjang ke depan, perjalanan panjang terbentang luas dan menantang hanya individu-individu bernaluri pahlawan mampu mengarungi dengan gagah . Yang ia perlukan hanyalah segenggam kesabaran dan sebilah keimanan . segenggam kesabaran yang mencuba melawan arus melakukan kontinuitas amal kesalehan . bukankah kehidupan separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah kesabaran yang memoles relung-relung retak dalam perjalanan insane serasa tak berarti sama sekali ketika ia mampu menaburkan segenggam kesabaran untuk bongkahan hati dan emosi yang berkeping-keping tertimpa musibah di saat yang sama ia masih mampu menghela nafas penuh kesyukuran akan nikmat masih diberi kesempatan terselamatkan dari maut dan masih diberi kesempatan memperbaiki diri . Sebilah keimanan yang mampu membangkitkan kekuatan terpendam dan melenyapkan ketakutan seorang manusia , sebilah keimanan yang bangkitkan hasrat serta gairah para pejuang mukmin tatkala menyaksikan kondisi bangsanya dalam cengkraman ketidakberdayaan atau segala kondisi terbatas . ”setelah itu , kata seorang penulis buku La Tahzan , tunggulah jalan keluar niscaya tali yang meregang kuat akan segera terputus . Malam yang kelam akan tersibak terang dengan datangnya shubuh lalu harapan kembali terukir semula . ”