Perjalanan  Dan inilah seruan pendek teruntuk mereka yang masih jua berbalut selimut seusai jamaah shalat shubuh , 24 jam waktu yang melimpah telah membedakan jiwa-jiwa pemenang yang berkarnaval dengan kawalan malaikat atau jiwa-jiwa tertuntuk lesu serta gemertak gigi disertai umpatan-umpatan penyesalan berulang yang berkonvoi ria dengan nyanyian terburuk bala tentara Iblis , 24 jam waktu yang melimpah telah membedakan seorang Al Muhandis asy Syahid Yahya Ayyash , Wafa Idris, Hasan Al Banna , Sayyid Quthb , Muhammad ad Durra , Mustafa As Siba’I, dengan penjagal tanah Balkan yang mati mengenaskan di ujung pistol miliknya sendiri , dengan sederet penguasa lalim kelas kakap mengakhiri hidup bersama ketakutan menjelang maut dan kutukan berantai tujuh turunan dari seantero penjuru alam , 24 jama waktu yang terbuka lebar telah memapu membedaka seorang ketua yayasan Tazkia Cendikia yakni Muhammad Syafi’I Antonio , atau pengaggas dimensi ESQ yakni Ary Ginanjar Agustian , dan sejumlah enterprenuer dunia semisal Donald Trumph , Robert Kiyosaki dengan penjual martabak di sepanjang jalan jambatan merah misalnya dan perhatikanlah hakikat ini berjalan beriringan tanpa sandiwara tanpa retorika penghias lisan sebuah produktifitas antara kedua belah mata pena kerja, dengan kasur empuk serta selimut , antara kedua belah lengan bercucuran keringat dan bola mata yang terkadang tak mampu memejamkankannya barang sejenak kerana ia yakin tiada istirahat sebelum menapakkan langkah kakinya di surga “La Rohata Illa Bil Jannah “  serta yakin tiada dapat ia berbaring pulas kecuali pengampunan atas dosa-dosa kecil telah menyelubunginya bersama doa-doa para malaikat yang selalu mendoakan dan mengatakan “dialah hamba yang dicintai Allah “ . Dengarkanlah wahai kawan inilah seruan singkat dari seorang pemuda di antara kalian kepada seluruh pemuda yang mencintai bangsa dan negaranya, kepada seluruh pemuda –pemudi yang mencintai serta merindui kebangkitan islam di tanah air yang mereka mencintainya , kepada seluruh pemuda islam yang berjibaku dengan pena dan tinta lalu bermandi peluh dalam keringat dan sejuknya basuhan air wudhu lima kali sehari ,dan kepada pemuda islam yang belum mampu jua membelalakan kedua bola matanya akan hakikat beradu dengan sampul-sampul serta kemasan sebuah bangunan fenomena yang datang dihembus media lalu lenyap seiring datangnya gelombang fenomena lain.

Ternyata persoalannya begitu simpel namun tak semudah membolak-balikkan telapak tangan ia mendaki dan menanjak dengan berbagai tikungan curam setia menghadang akan tetapi ujiannya justru berkelebat tatkala telah mendirikan kemah untuk beristirahat .Pertimbangan berkecamuk melanjutkan perjalanan atau tidak , dan ia sungguh miri[p yang digambarkan oleh surah Al Fathir akan tiga golongan di tengah perjalanan yang pertama lebih memilih berhenti sebelum berperang yang lain beristirahat di tengah perjalanan kerana dianggap cukup dan yang terakhir baginya tujuan akhir yang tercapai adalah puncak dari kebahagiaan yang mengutuhkan dan melengkapi derita mendaki serta menuruni namun ia sukses total menutupnya dengan tercapainya yang ia tuju .Pada kalangan kedua sepetrti yang telah dideskripsikan akan ada godaan yang berkelindan lalu menyelinap “enough…enough bro..ini sudah lebih dari cukup” sementara ia biarkan gagasan cemerlang sedari dini melayang tanpa lagi sempat berbayang apalagi memantulkan cahayanya sekejap seusai ia tuntaskan perjalanan di tengah-tengah kelokan tajam dengan sejumlah batu besar berbongkah-bongkah seakan siap menggelinding dan menerpa tubuhnya .kalau dulu kala ia begitu bersemangat dengan ghirah meledak-ledak mengkaji ekonomi islam atau studi tentang islam , tak puas baginya satu majelis yang diadakan di musholla dekat rumahnya bila belum merangkak lebih jauh dan lebih jauh sehingga pada malam-malam terakhir selesai pulang kajian ,kontemplasinya dirinya adalah pertarungan kecil antara nurani dan bisikan sepintas manusiawi untuk keluar segera dari segala kebosanan dan penderitaan lalu bergegas nimati hari-hari yang hangat di dalam rumah seraya menonton televisi atau dengarkan alunan lembut dari Mp3 playlistnya .maka kini 180 derajat telah berputar balik menjadi pengkhianat bengis terarogan sekalipun masa lalunya yang dulu begitu lekat dan akrab dengan pelbagai amalan shalih serta aktivitas –aktivitas yang bermanfaat untuk keummatan , masa lalunya yang dulu begiu dekat dengan lantai masjid dan sajadah plus sepertiga malam yang kuyup dengan tangisan sunyi serta mata yang masih membasah menantikan shalat shubuh berjamaah di masjid , masa lalunya yang dulu begitu lekat dengan bayangan bangga kedua orang tuanya yang mulai keriput dan kian kurus serta belum juga ditambah dengan penyakit-penyakit akut menjangkiti mereka ,tatkala menatap anaknya lulus suma cum laude di sebuah perguruan tinggi dengan IPK yang gemilang ..hari ini hanya sekeping tersisa , hanya sekecil pasir berserakkan bahkan disesali sedemikian rupa lalu bila tidak demikian ia kembali hanya mencukupkan dengan yang dirasa cukup baginya bersama bekal yang seadanya lalu bergegas mencari lereng segera berkemah , mencari kayu bakar, dan mulai merebus apa yang bisa menghangatkan badan kemudian turun gunung kembali pengapnya ibukota tanpa berpikir ada samudra di atas langit telah menanti bila kau lanjutkan perjalanan

 Pada kalangan ketiga , sudah cukup lengkap baginya atau ia tak lagi mampu membendung segenap tangis dan tawa namun terkadang ia belum mampu jua mendongakkan kepala menantang langit yang menjulang gagah ,sementara bagi orang lain berpikir, mereka lebih dari sekedar itu semua dan yach belum pantas rasanya mendapatkan sejuta gelaran berlapis tanda tangan dari seorang presiden , atau bertumpuk-tumpuk karangan bunga dari sekian pejabat negara dan belum lah pantas untuknya sekedar lencana demi lencana dari sekian kabinet ke kabinet lain atau namanya yang mulai sibuk berlari-lari kecil memenuhi ruang artikel serta kolom harian ibukota bersanding dengan tulisan padat para pakar displin berbagai keilmuan, praktisi yang terampil dan kompeten dalam masalahnya , pengamat yang rajin mengamati serta menganalisis berbagai fenomena perekonomian atau situasi politik yang menghangat .karena kehidupan yang bernilaikan ibadah dan hanya satu tujuan mencari Ridha Allah rasanya terlalu rendah dan sayang bila berbuat yang orang lain pun bisa mengerjakannya justru keridhaaan Allah SWT Yang Maha Indah lagi Maha Memberikan Anugrah membuatnya terus termotivasi melakukan secara sempurna serta selagi mampu ia mengerjakan dan selagi mampu nyawa ini berterus terang sebagai ungkapan syukur atas nikmat tak terhingga , dan terperi lalu menutupnya bersama jejak kesabaran bukankah seorang mukmin bila mendapat musibah ia bersabar lalu mendapat pahala atas kesabaranya dan bila serta merta dilimpahi anugrah ia bersyukur di tengah segala keterbatasan dan kondisi yang serba sulit namun masih ada saja jalan kemudahan terbuka lapang untuknya juga mendapat pahala

….

Menjadi sempurna dan sesempurna mungkin bisa saja dianggap hampir mustahil , hampir mustahilnya tokoh novel sekelas seorang “Fahri” seorang mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studinya di negerinya para Azhari hidup secara nyata dan riil di tengah-tengah masyarakat kita . Hingga terkenanglah ungkapan seorang sastrawan Indonesia yang kerap menulis di majalah “Horison” yakni Jamal .D. Rahman “ justru kesempurnaannya itu lah yang menjadi kelemahan utama novel Ayat-Ayat Cinta “ membaca ini saya begitu terhenyak ada gerangan apa seorang sastrawan Indonesia yang selama ini selalu mendukung bangkitnya nilai-nilai Islami di jagat sastra malah berkata yang sebaliknya dari yang saya perkirakan …ah ternyata jawabannya ada dalam bukunya Akh Salim Fillah “ Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim” awal mula sang penulis novel yakni Kang Abik meminta pendapatnya pak Jamal D Rahman untuk terhadap novelnya tersebut , akan tetapi Akh Salim Fillah sempat ikut mengomentari demikian “ justru kesempurnaan tokoh “Fahri” itulah yang menjadi kelemahan utamanya “ dan langsung saja Jamal D. Rahman mengamini “ benar itu memang benar “ maka Kang Abik pun dengan santai menjawab “ akhi…… di Indonesia memang jarang ..namun di Mesir banyak akhi…….” Serta merta Akh Salim Fillah bercerita dalam buku yang ditulisnya di sekitar tahun 2003 bahwa ia begitu malu tatkala mendengar jawaban tersebut dari sang pengarang novel Ayat-ayat Cinta .

Namun kesempurnaan bukan hak milik para malaikat bukan pula monopoli orang-orang hebat yang namanya hingga akhir kisah hidupnya selalu direkam dan diabadikan oleh sejarah dan namanya terpampang di tiap ujung jalan atau menandai suatu kawasan yang dikenal ramai oleh masyarakat ,Sudirman misalnya sampai sekarang orang di luar Jakarta pun mengetahui kawasan yang terletak di antara gedung-gedung  pusat bisnis dan transaksi saham , atau kawasan tak pernah absen dari macet di kala Maghrib hingga Isya dan pernah penulis rasakan bagaimana rasanya berbuka puasa di atas bis yang berjalan merayap .Kesempurnaan adalah jarak yang mendekatkan diri dengan Yang Maha Sempurna kemudian Ia adalah tujuan dari segala perjalanan maka ironis rasanya bila ada kehilangan orientasi dalam perjalanan atau menyerah di tengah-tengah perjalanan sedang ganjaran berlipat ganda tengah menanti agung saat kita mampu menapakkan kaki di gerbang SurgaNya yang tersimpan berbagai kenikmatan , kenikmatan yang tak pernah dikecap oleh lidah dan tak pernah disentuh oleh raga semasa hidup di dunia .

Habis kikis
Segera cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu (Amir Hamzah , PadaMu Jua )

“Asshadiq tsumma atthariq “ demikian pesan seorang Imam yakni Imam Al Ghazali , sebuah pesan yang indah namun erat kaitannya dengan esensi seorang sahabat yang mulai dianggap penting bila ada kepentingan pribadi , yang ada mulai memperindah kata-katanya bila terkait dengan kepentingan yang hanya memberikan keuntungan bagi dirinya sendiri , seorang sahabat yang mulai orang memaknai sebagai kawannya di saat pesta dan hura-hura lalu menemani seluruh jalanan maksiat tanpa nasihat dan teguran yang erat dengan kasih sayang dan lenyaplah ukhuwwah oleh terpaan mata yang menatap benci dan mulut yang menyimpan prahara , perbedaan pendapaat di kalangan pemuda islam lebih banyak nampak sebagai pergulatan mentahbiskan diri sendiri sebagai yang paling benar dibandingkan aroma tawadhu yang semestinya terefleksikan dalam sekian pendapat “ sejauh pemahaman gue …..” bila kecewa telah melanda apakah yang diharap selain malapetaka sesama saudara ? apakah yang diharap dengan sekian kedengkian mantap kesuksesan saudaranya selain bencana ? That’s Why  sahabat adalah aseet terbesar dalam kehidupan ini barui pandangan umum secara naluri dan fitrah manusia sebagai makhluk sosial namun bagi orang beriaman ia adalah penyangga yang menopang segala kedukaan dan luka atau kecewa selama perjalanan panjang kita tempuhi  , ia adalah pengingat yang mengingatkan kita akan taubat dan kembali kepada Allah SWT tatakala kita mulai dibelenggu oleh Ghaflah atau kelalaian , tatkala kita mulai dibius oleh jerat-jerat kemaksiatan atau ia mampu mengingatkan kita pada masalah ibadah baik wajib maupun sunnah demikian agung sabda dari Baginda Nabi Shalallahu alaihi wassalam “ Barang siapa meringankan beban kesusahan seorang mukmin di dunia , maka Allah akan meringankan beban kesusahan di hari kiamat Dan barangsiapa memudahkan orang yang kesusahan , maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di Akhirat .Barangsiapa menutupi aib seorang muslim , maka Allah akan menutupinya di akhirat .Dan Allah selalu menolong hambaNya selama hamba itu selalu menolong saudaranya (HR Muslim )

 ”dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman) Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.”  Surah Al Anfal :63

 Saudaramu hidup laksana sejarah berjalan beriringan mengikuti langkahmu tanpa bahasa yang dapat menyapa bercucur air mata jika bersua jika bumi menghimpitnya hanya hatimu tempat mengadu (nasyid ”Da’wah”)

  Pada akhirnya jua , perjalanan panjang akan berakhir entah saat tubuh ini baru saja hendak merayakan kemenangan akbar seusai selesainya masa kuliah atau dalam rentang masa yang tak cukup panjang bersama seorang kawan yang selalu setia menunjuki jalan dan sejumlah harapan terbentang lebar menghiasi idealisme dan gagasan , juga menyelinap di belantara kerinduan akan ummat kembali bangkit dan membebaskan belenggu penjajahan konspirasi internasinal, sehingga Islam kembali tampil sebagai sumber solusi yang membumi dari segala problem kemanusiaan dan kemaslahatan ummat manusia . dan inilah perjalanan panjang yang akan membuktikan eksistensi serta jati diri sebagai seorang hamba yang melangkah mendekati YangMaha Sempurna namun ia seorang manusia yang telah design sebagai khalifah fil ardh yang tidak hanya memiliki nama dan seonggok daging lalu berjalan tanpa meninggalkan jejak serta bekas apapun

“Cuma kaki yang akan berbuat lebih jauh dari biasanya ,tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya , mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya , leher yang akan lebih sering melihat ke atas ,lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja ……., dan hati yan akn bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang akan selalu berdoa …………………………………….” (Donny Dirgantoro , 5cm )