ABU UBAID

Yassin El Cordova

Bunyi gedor pintu di shubuh hari

Berirama dan bertabuhan

Wajah-wajah kusut dan rambut acak-acakkan

Perlahan-lahan keluar pelan tergontai  dari balik kamar

Percik wudhu gemercik nyaring membelah sunyi

Bersama derap suara anak tangga dijejaki

Jasad-jasad berkain sarung serta kemeja 

Hingga semayup lantunan kalam illahi

Membakar selaput malas di kedua bola mataku

Kelebat bayang ranjang kamar dan selimut

Begitu menggoda untuk ditinggalkan

Fiqh Sunnah dan tahfiz Qura’an

Menu utama seusai Al Ma’tsurat

Seorang Ustadz alumni Al Azhar dikelilingi

Santri-santrinya

Uraikan keindahan ajaran Nabi menyelusup ke relung nurani fitri

Tak lapuk jua ditelan cabaran peradaban

Tak leka jua dimangsa tikaman pemikiran

Karena Al Haq

Tetap lah tegak

Walau telah menghitam warna angin dan air

Karena Ahlul Haq

Selalu bergerak

Walau telah asing sebagaimana ia mula

Berdetak dan berdenyut

Lalu kembali terasing hingga jauh terpelanting

Dari tiap jengkal perputaran uang dan suhu politik

Dari tiap jarak uang panas dan pertikaian petinggi Negara

Menjelang Kuliah

Pukul delapan pagi hari

Tergesa-gesa berburu kamar mandi

Lalu berlari

Menyantap santapan pagi

Tatkala absen menjelma setan

Lalu pulang dengan setumpuk tugas

Minggu depan dikumpulkan

Dan kamar –kamar berganti rupa

Berganti wajah

Tatkala kuliah telah berpindah dari kamar ke kamar

Menjelang ujian

Bersiap payung sebelum hujan

Bersiap payah sebelum menangis sendirian

  

Atau

Biarkan tembok-tembok bercat putih dan white board serta LCD

Bercerita sejenak

Tentang ghirah calon ekonom bergolak

Lalu pemikiran dan waktu beradu detak

Dalam sekian debat dan sejumlah slide presentasi

Sesekali acungan tangan bermunculan

Maka sang dosen pun terkadang kewalahan

Hingga harus diakhirkan

Sementara wajah-wajah sumringah

Dari balik pintu kelas

Berhamburan

Walau

Terlalu pedih dan hampa

Terlalu sayang dan sungguh disesalkan

Parade pemikiran jiwa-jiwa ini

Sunyi oleh suara deru pergerakan

Dan tinggallah ia berbalut selimut serta bantal

Sukses menggantikan pena dan buku-buku

Sukses menggantikan suara lantang orasi dan rapat-rapat

Lalu cukup berpuas

Oleh satu atau dua event

Setelah itu senyap sesenyap malam  

Dihentak dingin merasuk tulang

Selain rintihan keras kertas-kertas urung

Menjelma proposal

  

Namun

Disini jemari-jemari mengepal dengan keras

Lalu sesekali tak mampu membendungnya

Membanjiri kertas demi kertas

Membasahi sajadah demi sajadah

Memadati blog demi blog

Memanasi diskusi demi diskusi

Tentang Kampus Tercinta

Tentang Karnaval Jiwa-jiwa

Urung temukan

Jasadnya

Darahnya

Buminya

Namun Disini Asa bergumpal

Tuntaskan Perubahan