Tag

,

A short article by Yassin El Cordova

catetan

Menulis …bukan karena terdesak kebutuhan ekonomi atau mencari popularitas yang memuja famous sang penulis namun menulis dalam pandangan seorang ulama seperti Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah ibarat menangkap seekor binatang buruan sedangkan ilmu adalah binatang buruan itu sendiri , dalam menulis ada banyak hal mencerahkan tatkala kita tengah ,atau telah menyelesaikan tulisan . itulah mengapa seorang praktisi perbukuan indonesia ,Pak Hernowo memiliki sebuah rubrik yang ia kelola dalam suatu website penerbit buku nasional dan ia memberi nama rubriknya tersebut dengan ” plong’”
Melalui menulis akan ada selalu gagasan baru ” muncrat” yang belum tentu kita menjumpainya secara lisan melalu mimbar-mimbar atau forum-forum diskusi dan pelbagai seminar .Walau betapapun seorang penulis yang memilih jalan hidupnya menyadari aral rintangannya secara psikis dan fisik juga cabaran ( tantangan) terberat seorang penulis di dunia kerja

Saya teringat akan secarik artikel pendek yang dimuat di salah satu majalah . seorang penyair besar negeri ini yakni Putu Wijaya yang telah banyak menghasilkan tidak kurang dari 30 novel , 40 naskah drama ,seribuan cerpen dan pelbagai kraya sastra lainnya seperti naskah drama pernah mengatakan ” menulis adalah memberi ” dimana sebuah kegiatan menulis idealnya adalah mengahsilkan sesuatu dari tulisan kita dan bermanfaat dalam peran serta perubahan jiwa yang akan bermanfaat tidak saja untuk individu namun mampu menyebar ke pelosok masyarakat atau mbak Helvi Tiana Rossa yang alhamdulillah saya pribadi pernah bertemu dengannya dalam sebuah event book fair pernah mengatakan sekaligus memotivasi kepada segenap penulis pemula maupun mereka yang sama sekali belum jua beranjak menulis ” Seorang penulis yang baik adalah penulis yang mampu memberikan pencerahan bagi pembacanya ” . saat ada banyak penulis pemula mulai mengeluhkan , bagaimana mampu mencerahkan pemikiran orang lain atau pembaca melalui tulisan sedang kalimat sebaris paragraf saja sulitnya luar biasa ?? atau keluhan lain dari para kritikus sastra mengenai fenomena penulis-penulis pemula yang cenderung mengejar deadline dengan penerbit atau cerpen-cerpennya terlalu banyak terbengkalai kerana dirasa sesuai lagi dengan selra pasar
All big thing always begin from small thing ,demikianlah kata-kata seorang sahabatku dalam sebuah diskusi kelas bahasa inggris suatu ketika, bagaimana pun jua yang terbaik selalu beramal dengan porsi yang tak terlalu besar dan sesuai dengan porsi kemampuan kita asal continue dan ia muncul bersama tekad membaja dalam jiwa dengan dilandasai kerendahan nurani memandang dunia hari ini kita berpijak di atasnya tak lain hanyalah sebuah terminal sementara, pergantian tahun baginya merupakan lembaran demi lembaran produktifitas menulis dan menulis apa pun yang ia mampu tulis kemudian ia mengevaluasinya perlahan bila ia mampu menulis lebih baik dari hari kemarin, maka ia bersyukur karena ia mampu menyempurnakan sebagian nikmat yang Allah SWT berikan padanya, namun jika ia tak mampu memenuhi targetnya bukan berarti dunia dilanda musibah badai Catherine, anggap saja sekedar ”exercise” bahwa hari ini adalah elemen sederhana dari sepanjang jalan tapak selembar atau berjilid-jilid karya besar yang akan mewangikan namanya walau jasadnya lapuk terkubur dalam tanah

Kerana menulis juga mampu menjernihkan pikiran dalam otak kita. Yang tadinya penuh padat dengan lalu lintas ilmu pengetahuan baik didapat saat kuliah atau pelbagai seminar-semnar yang harganya bisa sampe langit .bila tidak demikian maka iapun tinggal menguap ke langit-langit kelupaan dan tinggal menyesal saat menjelaskan sesuatu hal atau masalah yang dulu pernah dipelajarinya ,yang seharunya kita mampu menjelaskan dengan sangat gamblang dengan enteng mulit kita berujar ” gue udah lupa tuh ” .Bersama menulis ,goresan-goresan pena di atas berlembar-lembar kertas diiringi berlhalaman-halaman buku –buku referensi akan menjelma kawan yang amat sangat menyenangkan dan seusai kita sam[pai pada tangan kita memberi titik noktah hitam dari seluruh paragraf yang pernah kita susun ,hanya setengah kepuassan kita reguk dengan segenap rasa syukur . mengapa cuma setengah …?, memang benar oleh karena itu proses editing menanti dengan setia berlemba-lembar karya kita ,dalam sepanjang proses editing ada banyak hal yang dicermati dan diseleksi dengan ketat mulai dari penggunaan bahasa Indonesia beserta dengan kaidah-kaidahnya hingga tata letak tulisan atau jenis font apa yang pantas apakah telah layak dinikmati atau belum

Kemudia takpatut ditinggalkan dari sekian keagungan menulis dalah meniru atau meneledani jejak warisan ulama-ulama islam .Mereka ,para ulama dengan penuh dedikasi tingi dan semangat bashirah yang bersih menjadikan pena sebagai jalan dakwah yang tak putus oleh pergantian zaman , yang tak redup oleh terbatasnya usia bahkan mereka mampu hidup lebih panjang dan mengkekal sekekal sekian karya-karyanya diterima oleh Allah Ta’ala sekekal kontribusinya untyuk dunia ilmu pengetahuan hingga kini tetap menyala menantang arus zaman , menghidupkan nur yang redup dan membangkitkan pemuad yang terlelap .Telah tercatat hingga kini di tiap toko-toko buku maupun perpustakaan , karya mereka selalu ada dalam setiap katalog oleh penerbit-penerbit buku islam , baik dalam bentuk yang aseli (berbahasa arab) ataupu terjemahanya . telah melengkapi kebutuhan ruhiyah tiap muslim. Syaikhul islam Ibnu Taimiyah , Hujjatul islam Imam Ghazali, Ibnu Athaillah as Sakandari, murid dari Ibnu Taymiyah yakni Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah , Imam Abu Yusuf dengan kitab Al Kharajnya yang mengatur bagaimana sistem perekonomian dalam islam dan sebuah daulah khilafah terutama mengenai pajak, dan jejak-jejak kebaikan tersebut berulang mencoret warna sejarah bersama keagungan cinta yang tershibgah oleh pahala mengalir mengairi ladang kemenangan ummat di abad 21 . mulai dari Sayikh Badiuzzaman Said An Nursi ,Hasan Al Banna yang telah tulisan-tulisannya telah banyak memberikan nafas baru dalam pembaharuan ummat terutama di kalangan pemuda islam , Syaikh Abdul Halim Abu Syuqqah dengan kitabnya yang beredar di indonesia berjudul ”Kebebasan Wanita ” berhasil mematahkan pemikiran orientalis like Qasim Amin mengenai islam dan hak-hak wanita serta peranannya kemudian Sayyid Quthb bersama dengan bebragai buku-buku baik yang ia tulis semasa pergerakan hingga ia mendekam dalam penjara perang mesir. Tafsir Fi Zhilalil Qura’an Ma’alim Fi Thariq atau milestone dalam versi bahasa inggrisnya. Itu pun belum termasuk beberapa ulama islam yang masih mampu kita menjumpainya melalui media cetak taupun media elektronik seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi , entah sudah ke berapa karya nya hingga kini seperti ”Halal dan Haram ” , ”ibadah dalam islam ” ,Al Qura’an menyuruh kita sabar ” ,” Fatwa-Fatwa Kontemporer ” , ” Fiqh Prioritas”, ”Fiqh Maqashid Syariah ” dll seperti halnya dikemukakan penulis indonesia baru satu buku ,yang itu pun belum tamat pula dibaca . Sudah keluar bukunya yang lain .

Saudaraku ,..Tidak adakah ghirah dalam diri kita hari ini untuk meneladani jejak mereka ? Haruskah setiap saat sepanjang waktu yang kita miliki dihabiskan hanya untuk menonton televisi ?yg kini bukan rahasia umum ada banyaknya stasiun televisi notabene sahamnya telah dimiliki leh para pengusaha yang berafiliasi ke freemansonry dan zionisme . amka tak usah heran kalau ada banyak stasiun televisi lebih mementingkan urusan pasar dan hedonisme belaka daripada menjadi bagian dalam usaha pencerahan dan sarana ediukasi yang tepat kepada pencerahan norma-norma sosial yang kini ia kian buram dan standar yang diteta[pkan opehnya adalah merupakan sebuah standar ganda . sungguh saudaraku bila pena telah kering , pena untuk menulis telah musnah dimamah bumi dengarkanlah syair Arab ini sejenak

Ketika saya menulis saya yakin
Bahwa tanganku akan binasa sedang tulisanku kekal
Dan saya tahu bahwa Alloh pasti akan menanyaiku
Aduhai, apakah nanti jawabnya

Atau Az Zamakhsyari dalam kitab tafsir Al Kasyafnya mengatakan

”Malam-malamku untuk merajut ilmu yang bisa di petik
Menjauhi wanita elok dan harumnya leher
Aku mandar mandir untuk menyelesaikan masalah sulit
Lebih mengoda dan manis dari berkepit betis nan panjang
Bunyi penaku yang menari di atas kertas-kertas
Lebih manis dari pada berada di belain wanita dan kekasih
Bagiku lebih indah melemparkan pasir keatas kertas
Daripada gadis-gadis yang menabuh dentum rebana
Hai orang yang berusaha mencapai kedudukan ku lewat angannya
Sungguh jauh jarak antara orang yang diam dan yang lainya naik
Apakah aku yang tidak tidur selama dua purnama dan engkau
Tidur nyenyak setelah itu engkau ingin menyamai derajatku ”

ada banyak pertanyaan yang datang melalui kesempatan perbincangan santai dengan penulis , semua menyangkut akan bagaimana, apa, kapan, dimana seorang penulis mulai mengikrarkan dirinya sebagai penulis , kalau ditanya kapan jawaban yang paling simple adalah sejak anda mengenal tulis menulis yakni dari jenjang pendidikan paling rendah sebenarnya kita telah menejejaki tulis menulis mulai dari sd hingga anda selesai studi dari universitas .Namun yang menjadi pertanyaannya adalah sejauh manakah efektifitas kegiatan menulis mampu merubah diri pribadi yang paling lekat merasakan manfaatnya menulis ke arah perubahan lebih baik hingga mengubah orang lain .hingga teks tidak berhenti selaku pembungkus gorengan atau alas makanan yang selepas itu entah dibawa angin ke mana , mungkin ada yang bertanya akan tetapi saya sudah mencoba berkali-kali menulis paragraf yang dibuat selalu tak runut ? memang salah satu kaidah bahasa Indonesia dalam menilai bagus atau tidaknya mutu sebuah tulisan adalah korelasi antar paragraf yang tidak melenceng dari topik atau dengan kalimat lain antar alinea atau paragraf saling mendukung dan terikat kuat antara satu dengan yang lain akan tetapi permasalahan mendasar bagi penulis pemula adalah terletak pada emosi yang kurang terkendali saat menulis atau ketakutan mendominasi sepanjang menulis , ketakutan tulisannya tidak dimuat , ketakutan kommentar negatif dari para pembaca , atau malah ketakutan yang paling parah : takut tidak paham denga tulisannya sendiri .

Ternyata faktor psikologis dan niat seorang penulis sangat berarti , karena ia melandasi tiap pergerakan langkah membebaskan diri melalui menulis , mengawali tiap goerasn pena memberikan kontribusi untuk negara dan dunia , dunia islam khususnya melalui menulis termasuk mengawali memulai bisnis melalu menulis .Alhamdulillah selama saya menulis , demikian lancar saya alirkan ke atas kertas apa-apa yang mengendap di dalam kepala atau pun apa-apan yang membuat sebuah hari terasa sangat menyengat dan penat karena bertumpuknya ide-ide atau gagasan , yang bioa ditinjau ulang seperti yang saya katakan pada paragraf-paragraf sebelumnya tidak selamanya dapat mudah mengalir melalu lisan atau ada beberapa moment yang sangat pas diabadikan dalam bentuk tulisan karena selain gambar , bahasa dengan sangat fleksibelnya mengemas moment berharga sepanjang sejarah kehidupan manusia terdokumentasikan begitu eklusive dengan gaya yang mampu menarik pembaca hingga ke titik akhir tulisan dan ditambah kekuatannya memperpanjang usia sang penulis lebih panjang dari usia biologisnya .

Kesimpulan

Finally atau akhir kesimpulan, menulis merupakan sebuah kegiatan yang selalu dicintai oleh setiap ahli ilmu yang beriman ,lebih dari sekedar mengisi waktu senggang ataupun sebatas melekat pada hobi menulis selalu bermanfaat lahir batin baik kesehatan psikologi atau fisik walaupun seperti yang dikatakan seorang pengarang dari barat ” Writing is lonely proffesion ” menulis merupakan sebuah kegiatan yang tidak terekspos oleh media cetak maupun elektronik seperti halnya profesi lain , oleh karena itu saya mencoba menekankan akan pentingnya , berharganya esensi dari seikat niat dan ikrar yang menjadi azzam bagi para penulis hendak ke jalan mana ia menulis