<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Telaga Kautsar</title>
	<atom:link href="http://telagaalkautsar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com</link>
	<description>Menjadi Telaga Bagi Ekonomi,Keuangan dan Perbankan Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Jan 2012 04:08:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='telagaalkautsar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Telaga Kautsar</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://telagaalkautsar.wordpress.com/osd.xml" title="Telaga Kautsar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://telagaalkautsar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Islamis</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2012/01/24/islamis/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2012/01/24/islamis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 01:06:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Akuntansi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Entah kapan lahirnya istilah Islamist. Sebab umat muslim sendiri dari mulai yang puritan hingga bebas tidak pernah mengklaim diri sebagai Islamist atau menggunakan ungkapan islamist sebagai penamaan diri mereka. Islamist baru bisa ditelusuri lahirnya istilah tersebut tidak lain dari dunia jurnalistik Barat memandang permasalahan dunia islam dalam posisi dialog dengan Barat. Berawal dari perjalanan keagamaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=816&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2012/01/turki-lady.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-822" title="pendukung AKP di Turki " src="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2012/01/turki-lady.jpg?w=645" alt=""   /></a>Entah kapan lahirnya istilah Islamist. Sebab umat muslim sendiri dari mulai yang puritan hingga bebas tidak pernah mengklaim diri sebagai Islamist atau menggunakan ungkapan islamist sebagai penamaan diri mereka. Islamist baru bisa ditelusuri lahirnya istilah tersebut tidak lain dari dunia jurnalistik Barat memandang permasalahan dunia islam dalam posisi dialog dengan Barat. Berawal dari perjalanan keagamaan mereka, sebuah ajaran yang dianut oleh sekelompok orang pasti dilekatkan dengan nama pendirinya. Tidak terkecuali bagi agama Islam, Mohammadanism, ajaran yang dibuat oleh Muhammad. Demikian definisi islam dari perspektif Barat. Ungkapan Islamis kemudian menjadi istilah yang khas di ruang tamu media Barat hingga ruang pemikiran serta kajian ketimuran yang berfokus membahas tidak hanya soal ajaran Islam untuk didamaikan dengan perspektif sekuler tetapi juga permasalahan dunia islam yang kelak di bagi dua antara kalangan modernis dengan Islamist.<br />
Modernis identik dengan reformasi tatanan masyarakat dan sosial dunia muslim. Modernis similar dengan membawa warna Barat ke ruang tamu dunia Islam, hingga menurut Tamim Ansary, seorang sejarawan dunia islam kontemporer, menuliskan bahwa akhirnya ide-ide yang dibawa kalangan modernis dari mulai Sayyid Ahmad Khan di India, Amir Kabir di Iran, Mustafa Kamal dan Abdullah Cevdet di Turki hingga Fazlur Rahman  di Amerika Serikat, memiliki kesamaan agenda bahkan tidak dapat dipungkiri bagian dari grand scenario pemerintahan bertembok besi yang notabene kental dengan karakter represivitas dan militeristik nya. Dan itulah yang menjelaskan kepada umat manusia saat ini mengapa Partai Ba’aath begitu mengakar di Timur Tengah, saat Saddam Husein dan rezimnya ambruk ternyata tak serta merta membawa partai yang didirikan oleh seorang aktivis nasionalis Kristen Arab ini ambruk malah saat sedang bergolak dunia Arab pada tahun 2010-2011, Syria, menjadi satu-satunya negeri di dunia Arab yang tetap tenang. Tenang dalam diamnya menyibakkan ketakutan.</p>
<p><span id="more-816"></span><br />
Tetapi masalahnya sekarang, benarkah revolusi Arab Spring sebagai satu-satu nya faktor apa yang disebut oleh Tamim Ansary (2010) sebagai arus balik narasi sejarah dunia islam ? ternyata tidak. Dalam analisis nya Tamim Ansary (2010)  tonggak pemicu terjadinya arus balik narasi sejarah dunia islam itu justru terjadi ketika ide kolektif kebangsaan sedang membakar seluruh urat nadi negara-negara Eropa. Bangsa Germania dengan Jerman nya, Bangsa Celtic dengan Perancisnya, bangsa Hispanik dengan Spanyolnya, dan Romawi dengan Italia nya. Tinggal bangsa Yahudi yang terus terapung-apung dipeta dunia mencari tempat untuk berteduh. Gerakan nasionalisme Yahudi yang kelak lebih dikenal dengan Zionisme nya merangsek dunia Muslim yang sudah dengan begitu “ahlan wa sahlan “ di wilayah kesultanan Usmani, datang bukan kembali untuk mencari perlindungan bahkan mengklaim, Palestina adalah tanah yang dijanjikan bagi bangsa Yahudi terutama penganut Zionisme.  Dari sinilah awan hitam dan gelap menggantung pekat di langit modernisme.<br />
Faktor utama yang tak boleh disingkirkan dari berubahnya narasi sejarah dunia islam ternyata globalisasi secara empiris bukan hanya soal budaya tetapi juga menyangkut liberalisasi sektor keuangan dan perbankan. Sebagaimana yang kita saksikan hari-hari ini aksi embargo Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap Iran tidak lebih mencerminkan harapan kembali pulihnya perekonomian Amerika Serikat dan sembuhnya masalah hutang merembet di negara-negara Eropa kembali pada permasalahan kekuatan demand dan supply. Dan tidak bisa dinafikkan pulih atau tidaknya perekonomian Amerika Serikat dan Uni Eropa sangat bergantung pada minyak bumi dan secara empiris sebagian besar minyak bumi dunia terletak du bawah bumi umat muslim. Kekuatan minyak nyaris sebagai senjata aji pamungkas dunia muslim sebagai sebuah “The Last Weapon “ nyaris juga tidak pernah digunakan. Dan tercatat dalam sejarah negara di dunia islam yang begitu tajam tidak pernah membuat Barat tidur dengan nyenyak hanyalah Iran setelah terjadinya Revolusi Islam.<br />
Revolusi Islam memang membawa Iran pada percaturan dunia Internasional tidak pernah menguntungkan tetapi malah membuat Blessing in Disguise, semakin ditekan, semakin membuat kreatif memproduksi, mendistribusikan dan mengkonsumsi produk yang dibuat dari keringat pekerja bangsa nya sendiri. Di sisi lain, kalangan modernis baik itu yang di India, Mesir, hingga Pakistan terbungkam seribu bahasa dan tertunduk lemah mengetahui ramalannya Georges Soros, Joseph Stiglitz, hingga Nouriel Roubini semakin kuat bahwa badai keuangan akan terus menerpa Amerika Serikat dan Eropa bukan hanya saat ambruknya Lehman Brother tetapi juga dalam hangka waktu hingga dua hingga tiga tahun. George Soros dalam bukunya yang berjudul “Open Society, Reforming Global Capitalism “ tahun 2007 menuliskan dengan penuh dramatis, “mungkin saja sistem kapitalisme global tidak akan bertahan dalam ujian sekarang. Mendung badai telah menggantung di horizon politik, sekalipun dampak awal krisis bertujuan memperkuat demokrasi “ . sehingga semakin membuktikan di atas kertas dan secara empiris bahwa ide-ide modernisme yang diusung kalangan sekuler liberal tidak dapat bertahan lagi dalam jangka panjang. Krisis keuangan eropa dan amerika telah menguras banyak dana untuk membiayai agenda-agenda besar yang ditanam terpatri di kalangan modernis. Semakin eropa sakit parah, kesempatan untuk mempromosikan model negara kesejahteraan, sosialisme religius hingga feminisime dan semakin kecil.<br />
Islamist Welcome<br />
Saat badai sedang menghempas perahu yang ditumpangi kalangan modernis di samudera krisis keuangan yang mengganas, saya teringat dengan sebuah tulisan yang dibuat oleh dosen saya saat saya masih kuliah. Kata beliau, tidak dapat dipungkiri juga bangkitnya kalangan muslim terdidik yang mempunyai daya beli lebih baik dan intelektual yang tajam serta keislaman yang terpelihara telah membawa dunia internasional pada posisi penuh tawar menawar. Mereka menjual produk yang selama ini dipersepsikan di Barat sebagai produk penuh kekerasan dan radikalisme tetapi yang mereka jual apa yang Barat juga jual di pasar yang bernama kapitalime global. Mereka datang banyak sebagai investor, Bankir, Entreprenuers, hingga Politisi dan akhirnya membuat dunia internasional seperti yang digambarkan Vali Nasr (2009) dalam bukunya “Forces of Fortune: The Rise of The New Muslim Middle Class and What it Will Mean for Our World “ ditambah fakta yang mengejutkan peta demokrasi yang sedang digelar oleh para pengambil kebijakan di Amerika Serikat dan Eropa, pergerakan islam yang lahirnya dibidani oleh Hasan Al Banna,  Al Ikhwanul Muslimun, meraup suara lebih dari 40%, pergerakan islam di Tunisia dengan An Nahdah yang dulu Syaikh Mahfudz Nahnah dan Abdul Rasyid Al Ghanaousi berhasil menuai perolehan suara sebanyak 41 %, dan pergerakan islam di Maroko Hizb Adalah wa at Tanmiya  turut meramaikan warna peta demokrasi yang di gelar Barat dengan perolehan suara sebanyak 27% . dan tentunya yang paling mengejutkan siapapun ketika kalangan salafy memasuki ranah demokrasi pertama kali nya dalam sejarah, mereka mampu memperoleh suara yang signifikat dari semua total pemilih pasca revolusi Maydan Tahrir.</p>
<p>Belum ketika bicara tentang Turki,, saat negara pewaris khilafah islamiyah itu berada di kalangan modernis, posisi ekonomi Turki nyaris tak ubahnya saat menjadi posisi pesakitan di tengah kepungan bangsa asing, kapitulasi, defisit neraca perdagangan bebas dan sebagainya, maka ekonomi Turki di tangan kalangan modernis nyaris tak pernah dilihat oleh dunia internasional sebagai another new emerging markets, saat Erdoga, Abdullah Ghul dan Ahmad Daud Oglu membawa bendera Partai Keadilan Pembangunan ke ruangan publik masyarakat Turki, dampakny bukan hanya perubahan peta politik tetapi juga restrukturisasi kekuatan ekonomi rumah tangga Turki. Dalam jangka waktu beberapa tahun kemudian, Majalah Time pun menobatkan Erdogan sebagai Person of The Year seraya menyebutkan bahwa Erdogan merupakan teladan bagi Arab Spring, prestasinya semakin menguatkan “tesis “ tulisan dosen saya di atas. The Islamist Are Welcome, maka kini kita pun  dibuat tersenyum-senyum dengan ungkapan yang kembali diberikan oleh media Barat tentang dunia Islam. Islamist tak bisa ditinggalkan dari kajian diskusi para pengambil kebijakan sekalipun masih di baying-bayangi ketakutan Islamphobia, tetapi masalahnya Islamist terlanjur menjadi “sesuatu banget gitu “ bagi perekonomian Eropa dan Amerika Serikat. Mengapa ? sebab satu-satu nya cara penting saat ini yang perlu diambil oleh  Eropa adalah mendorong ekspor keluar ke negara-negara di emerging markets yang secara GDP mengindikasikan mempunyai daya beli per individu yang lebih baik. Saat ekspor keluar daratan Eropa membaik, neraca perdagangan pun akan surplus, selanjutnya menjadi sumber pendapatan lain bagi negara-negara Eropa untuk menyembuhkan hutang nya. The Islamist are Welcome and The Show Must  Go On for Europe</p>
<p>28 Sapar 1433 H<br />
Jakarta, ditemani senandung dari Maher Zain, Always Be There</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/816/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=816&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2012/01/24/islamis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2012/01/turki-lady.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pendukung AKP di Turki </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Spirit Yang Hilang Dari  Sebuah Forum</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/19/mencari-arti-dari-sebuah-forum/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/19/mencari-arti-dari-sebuah-forum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 01:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[“Orang yang tak menciptakan perubahan dalam dirinya, karena keputusasaan, akan kehilangan hari-hari yang mendatanginya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik “ Syaikh Alaa Shadiq Melihat situasi terkini yang sedang terjadi di FoSSEI, baik melalui milist atau facebook, saya jadi teringat pada apa yang akan saya tulis berikut ini. terhenyak  dan bangun dari kumpulan ingatan bahwa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=808&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/12/1-48.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-809" title="Wallpaper 1280x800" src="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/12/1-48.jpg?w=300&#038;h=187" alt="" width="300" height="187" /></a>“Orang yang tak menciptakan perubahan dalam dirinya, karena keputusasaan, akan kehilangan hari-hari yang mendatanginya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik “ Syaikh Alaa Shadiq</strong><br />
Melihat situasi terkini yang sedang terjadi di FoSSEI, baik melalui milist atau facebook, saya jadi teringat pada apa yang akan saya tulis berikut ini. terhenyak  dan bangun dari kumpulan ingatan bahwa kita hanyalah atau awal mula nya forum.  Forum, wadah silaturahim dan mengumpulkan kekuatan penggerak ekonomi islam dari pelbagai pojok nusantara yang akhirnya bak senandung Muhammad Iqbal, Pujangga Anak Benua, <em>walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal, himpunlah daun-daun yang berhamburan ini. hidupkan lagi ajaran saling mencintai. Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu</em>. Dan untuk menghimpun daun-daun berserak itu dibutuhkan sebuah sapu besar bernama Ukhuwwah.   Tapi masalahnya dalam agama kita hanya mengenal Ukhuwwah yang dilandasi keimanan dengan yang dilandasi keturunan. Yang pertama disebut Ukhuwwah Diniyah dan yang kedua disebut sebagai Ukhuwwah Basyariah. Anis Matta menulis dalam bukunya yang best seller di pasaran,  Hanya kerendahan hati yang membuat semua orang mampu bekerja sama, tetapi hanya iman dan keyakinan pada risalah Ilahi yang dapat membantu setiap orang memiliki kerendahan hati yang memadai.  Sebagaimana yang diungkapkan jua oleh Dr Aidh Al Qarnee di twitternya, Hubungan manusia dengan Allah tidak akan terputus tetapi hubungan manusia dengan yang lainnya selalu bisa terputus. Berarti sapu besar yang mengumpulkan daun-daun terserak di jalanan ini harus diikat dengan ikatan iman. Dan para pendahulu kita telah melakukannnya. Pertemuan awal di Universitas Diponegoro yang bersambung dan saling terikat hingga Kongres KSEI tidak menjadi sia-sia sebagamana kumpul-kumpul agenda mahasiswa lainnya.</p>
<p>Sebagaimana halnya sebuah bangsa, negara dan rakyat. Konsekuensi atas pilihan masing-masing elemen tadi membawa implikasi signifikan tercipta nya serangkaian kekuatan yang senantiasa tercatat dalam sejarah dalam bab kontribusi. Karena ada kolektifitas ide yang dirangkai sebuah komunitas besar.besar anggota nya. Massif massa nya. Dan jelas tujuannnya. Sang pendahulu boleh datang dan pergi. Anggota oleh silih berganti memasuki rumah besar ini. tetapi sekali lagi yang menentukan bukan pencapaian demi pencapaian atas nama progresivitas atau atas nama efisiensi karena bab kontribusi masih akan terus bersambung pada pencapaian akhir saat para pahlawan menemukan momentumnya. Itu juga yang diajarkan oleh sejarah peradaban dunia islam pada kita,</p>
<p><span id="more-808"></span></p>
<p>Al Ikhwanul Muslimun boleh dibelenggu selama puluhan tahun. Ratusan anggotanya dipenjara, kaum wanita nya dipersempit dengan gerakan feminism yang sempat menggejala di Mesir, aktivisnya dicap Islamist oleh media Barat. Bahkan ideology yang diusung oleh Ikhwanul Muslimun disamakan dengan gerakan Taliban di Afghanistan, tokohnya tidak hanya dibunuh tetapi sekaligus dicemarkan sebagai pembawa ide radikal ke dunia islam.atau lihatlah Gerakan An Nahdah di Tunisia, gejala sekularisasi di Tunisia sejak awal kemerdekaan nya dan sosok Habib Bourghiba yang mengkampanyekan kehidupan masyarakat Tunisia yang modernis dan mengikuti arus zaman telah memaksa ribuan wanita Tunisia memutihkan warna rambutnya agar diperbolehkan berjilbab. Turki, yang hari ini menjelma salah satu kekuatan ekonomi dari emerging markets, memulai ceritanya dari bab yang sama. Seorang ulama shalih bernama Badiuzzaman Said Nursi membina dan melatih murid-muridnya dengan tarbiyah ruhiyah di tengah represifitas pemerintah Turki awal republik yang notabene sekuler. Bukunya, Risalah An Nuur, mengalir ke tangan penduduk turki melalui tulisan tangan secara sembunyi-sembunyi. Hingga lahirnya seorang Erdogan muda,  sejarah mencatatnya sebagai pemuda shalih  dan taat yang pernah melantunkan puisi “ Masjid adalah Barakku, Al Qur’aan adalah kitabku dan Islam adalah Bayonetku. “ benihnya sudah tertanam dan buahnya sudah bisa dinikmati oleh masyarakat Turki saat ini. bandul waktu pun bergerak. Rupanya gerakan massif rakyat Timur Tengah yang disebut oleh media Barat sebagai Arab Spring tidak hanya bicara soal ambruknya kekuasaan para raja Arab tetapi juga bicara cerita lain mengenai sejuknya politik Islam. tidak tanggung-tanggung Time Magazine pun ikut memuji sejuknya Politik Islam dalam mengubah persepsi demokrasi di dunia Islam. dengan bahasa lugas dan gamblang, Time menjelaskan, Politik Islam yang diusung oleh kaum “islamist” ini jauh lebih kongkret dan merealisasikan janji-janjinya dibandingkan kalangan sekuler yang berlindung di balik rezim otoriter.<br />
Belajar dari pengalaman sejarah. Sebuah organisasi atau forum apapun hanya akan berhasil setelah melewati masa-masa tribulasi yang telah Allah tetapkan sebagai seleksi antara yang benar-benar beriman dengan yang munafik. Antara yang mengorbankan harta dan jiwa nya atau yang hanya memanfaatkan nama besar kampus atau modal almamater. Ya, setelah bab kontribusi kita kemudian memasuki bab ujian dan seleksi. Seleksi yang sebagaimana telah Allah tetapkan juga atas umat-umat terdahulu karena yang sedang kita hadapi bukan hanya soal sistem kapitalisme ataukah sosialisme tetapi jiwa. Dalam ungkapan Sayyid Quthb, disanalah tempat menjadi medan tempat berlaga nya jiwa-jiwa. Lalu secara sempurna Baginda Nabi SAW menyebutkan ruh-ruh akan saling berkumpul kepada yang saling seragam dan sejiwa.  Itulah makna nya Allah memberikan ujian untuk memisahkan mana yang beriman dengan yang munafik. Akhirnya akan terjadi clustering dalam sebuah organisasi,forum,pergerakan, atau komunitas manapun. Antara yang mengisi nya dengan bahasa kontribusi dengan yang menggerogoti. Antara yang menumbuh kembangkanya dengan kalimat ikhlas dengan yang sibuk mencari afiliasi dan jaringan.</p>
<p>Lalu kita kembali bicara hanya soal forum. Forum yang semakin membesar dan berlipat anggota nya. Dalam kebisingan dan hiruk pikuk, semuanya berharap sang qiyadah mampu memberikan kelayakan rumah untuk bisa dengan leluasa benar-benar menjadi forum. Masalahnya, bukan feel yang bicara benar tetapi masalah niat yang senantiasa diperbaharui. Bukan zaman atau ruang yang harus diganti atau diperluas, tetapi masih tersisakah kesediaan dalam hati-hati manusianya melihat forum dengan dada seluas samudera. Dan ketika itu baru bisa terjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana dalam forum mana yang lebih wajar terjadi, membiasakan diri mendengar atau sibuk dengan pertanyaan merebut ruang bicara. Mana yang biasa terjadi di sebuah forum sehat, mengedepankan kehormatan atau penghormatan. Mana yang yang biasa terjadi dalam sebuah forum ulama, tradisi murid dengan guru atau sesama jago debat ?? kenyataanya kita lebih banyak memerankan diri sebagai pembicara dan sehebat-hebat seorang pembicara belum tentu sekapasitas pendengar pembicaraannya. Empirisnya juga, kita lebih banyak mengejar penghormatan dibandingkan kehormatan, kalau semua orang mengangkat hormatnya pada diri kita sedangkan diri kita menyimpan tumpukan aib tetaplah tak bermakna apa-apa sekalipun semua orang berkumpul memberikan endorsement padahal diri kita hanyalah sampah maka tetaplah sampah. Sekalipun dengan modal hanya title entah itu pengamat, seniorisme, mantan mpf, mantan cocoda, mantan presnas, dan seterusnya. Maka benarlah ungkapan sebagaian ahli hikmah “kun kitaban mufidan bila unwanan wa la kun unwanan bila kitaban. Jadilah kitab yang berisi dan bermanfaat walau tanpa judulnya jangan menjadi sebuah judul tanpa isi dan manfaatnya. Sekalipun berjudul dan ada judul lebih baik dan mudah dicari. Tetapi zaman yang sarat dengan paradoks selalu ada kesempatan memilih.tanpa pilihan yang ideal setidaknya masih ada pilihan mendekati ideal.</p>
<p>Selanjutnya, forum yang membesar ini turut diriuh rendahkan oleh manusia-manusia pecinta debat. Serentetan topik debat selalu tersedia  mulai dari masalah kefosseian hingga masalah ekonomi syariah yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi, bukan soal forum ilmiah atau tidak. Bertumpuk karya ulama salaf hingga kontemporer yang membahasnya. Jika belum biasakan diri untuk menghidupkan tradisi ilmiah yang tidak memvonis sebuah masalah yang baru dipelajari atau memandang masalah dari jauh bak seorang pengamat. Akhirnya kita terbiasa menilai masalah yang banyak dan komplek dari perspektif yang sedikit dan sempit. Munculah salah satu bencana ilmu di era yang serba praktis dan terhubung dengan internet. Opini berkelindan dengan fiksi yang dipaksakan menjadi fakta. Atau asumsi klasik yang terbukti gagal malah berkembang hingga tingkat worldview. Dalam situasi seperti ini, dengan mudah lahir asumsi simplicity,  bukannya  ilmiah malah semakin aspal (asli palsunya ) korbannya adalah penuntut ilmu itu sendiri yang harus memakai worldview yang salah.</p>
<p>Dan yang terakhir, dalam sebuah forum membutuhkan feedback. Kalau seorang pembicara dalam sebuah forum misalnya, saat sedang presentasi kemudian terjadi kegaduhan sesama peserta. Sang pembicara semakin kehilangan energy untuk menyelesaikan presentasinya, kegaduhan semakin parah maka berarti yang telah hilang kemampuan membaca sinyal umpan balik. Demikian pula dalam sebuah forum silaturahim studi ekonomi islam, yang dibutuhkan oleh sang pemimpin adalah kemampuan membaca pergerakan zaman dan penanda sosial dalam kabilah-kabilah yang sedang ia pimpin. Mereka menanti respon cepat dan gesit dari sang pemimpin. Bukan sibuk mengupdate status facebook sebagai pencitraan atas kegaduhan dan berisiknya kabilah yang ia pimpin. Atau malah sibuk meminta tentara nya memperbaiki amal ibadahnya seakan menutup mata dari masalah yang sedang terjadi. Bukan tanpa sebab, saya sendiri pernah menyaksikan hal ini di realitas sosial bangsa kita, ceritanya, seorang warga di tangerang selatan mengeluhkan kemacetan yang luar biasa di salah satu daerah Tangerang Selatan yang masuk dalam provinsi Banten.  Melalui twitter, sang wakil gubernur yang baru saja terpilih kembali hanya berkomentar “ yang sabar yah, saya lagi otw ke bandara neeh “ twitter memang membuat rakyat dengan pejabatnya, tapi apakah seperti ini jawaban yang layak diberikan ???</p>
<p>Kalau demikian sudah terjadi di sebuah forum bernama forum silaturahim studi ekonomi islam berarti yang kita hadapi adalah krisis komunikasi yang akut. Dampaknya rakyat Indonesia semakin apatis di tengah para pemimpin bangsa nya yang autis )</p>
<p>Jakarta</p>
<p>22 Muharam 1433 H</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/808/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=808&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/19/mencari-arti-dari-sebuah-forum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/12/1-48.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Wallpaper 1280x800</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ka&#8217;bah</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/12/kabah/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/12/kabah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 01:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Musyawarah Kata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=801</guid>
		<description><![CDATA[Ka’bah Bergegas kami dalam deru rindu Saat gelombang nafas berteriak pilu membubuh sendu Ka’bah Di ujung mata, kaki kami tergelosor mencari bumi Dari ubun hingga telapak hanya membacakan tasbih tak berujung Bergegas kami dalam deru rindu Mata menjalang menyasar ampunan agar segera diberangkatkan Dijamu dan dilayani oleh yang menjaga Al Haramain. Yang Maha Agung telah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=801&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ka’bah</p>
<p>Bergegas kami dalam deru rindu<br />
Saat gelombang nafas berteriak pilu membubuh sendu<br />
Ka’bah<br />
Di ujung mata, kaki kami tergelosor mencari bumi<br />
Dari ubun hingga telapak hanya membacakan tasbih tak berujung</p>
<p>Bergegas kami dalam deru rindu<br />
Mata menjalang menyasar ampunan agar segera diberangkatkan<br />
Dijamu dan dilayani oleh yang menjaga Al Haramain.<br />
Yang Maha Agung telah menitahkan, hamba –hamba yang dicintai berkenan mengecup bumiNya<br />
Bernama Makkah dan Madinah</p>
<p>Bergegas kami dalam deru rindu<br />
Keanggunan malam dalam pupujian hanya tertumpu padamu semata.<br />
Petilasan dhuha sepanjang senyuman mentari hanya tersisa bayanganmu saja.<br />
Kantong rezeki bagi dhuafa, pun tertitipkan namamu jua.<br />
Yang Maha Agung telah menitahkan, hamba-hamba yang dicintai berkenan mencium batu hitam<br />
Bernama Hajar Aswad.</p>
<p>Ka’bah<br />
Masih setia menanti, sesetia Rasulullah menunggu umatnya di telaga bening bernama Al Kautsar.<br />
Ka’bah, jenak-jenak bersahaja dan sederhana yang menyimpulkan pujian hanya milik Yang Maha Besar<br />
Totalitas doa terhimpun diseantero masjid haram, menghujam ke ufuk jiwa manusia paling dasar.<br />
Ka’bah<br />
Mengajarkan kemuliaan takkan diraih dengan kekayaan yang kasar<br />
Sebab akhirnya yang dipanggil hanya jiwa mereka yang seluas samudera sabar<br />
Sebenggol demi sebenggol<br />
Sekeping demi sekeping<br />
Serupiah demi serupiah<br />
bagi manusia , itu semua soal maru’ah<br />
Tetapi Tuhan hanya berfirman : Inna Akramakum Indallahi Atqakum.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/801/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=801&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/12/kabah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bandung dan Kemiskinannya</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/08/bandung-dan-kemiskinannya/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/08/bandung-dan-kemiskinannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 16:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Akuntansi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=791</guid>
		<description><![CDATA[Bandung dengan segala kegemerlapannya, Bandung dengan menyimpan sejuta cerita tentang tumbuh pesatnya industry jasa di bumi Jawa Barat tanpa dipungkiri telah banyak mendorong terserapnya tenaga kerja yang berimbas pada pelipatan pendapatan asli daerah kota Bandung lebih besar dari seluruh kota besar yang ada di provinsi Jawa Barat.  Sejumlah kawasan penting bagi anak muda pun ikut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=791&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormalCxSpFirst" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"><a href="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/12/611273975768_1957906_n1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-799" title="611273975768_1957906_n" src="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/12/611273975768_1957906_n1.jpg?w=253&#038;h=300" alt="" width="253" height="300" /></a>Bandung dengan segala kegemerlapannya, Bandung dengan menyimpan sejuta cerita tentang tumbuh pesatnya industry jasa di bumi Jawa Barat tanpa dipungkiri telah banyak mendorong terserapnya tenaga kerja yang berimbas pada pelipatan pendapatan asli daerah kota Bandung lebih besar dari seluruh kota besar yang ada di provinsi Jawa Barat.  Sejumlah kawasan penting bagi anak muda pun ikut menyumbang pada Pendapatan Domestik Regional Bruto seperti Dago Pakar, Setia Budi, Cihampelas, hingga kawasan yang kental nuansa religius nya seperti Geger Kalong Girang. Tercatat dalam PDRB yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bahwa pendapatan domestik regional bruto pada tahun 2007  berdasarkan harga berlaku untuk kota Bandung sebesar Rp 50.552.180 terbesar pertama di kota di Jawa Barat yang kemudian diikuti oleh Kota Bekasi sebesar Rp 25. 419.184, atau sebesar 10,30 % sementara itu jika merujuk pendapatan asli daerah kota Bandung, dalam data yang dikeluarkan resmi oleh pemprov Jawa Barat pada tahun 2010 tercatat sebesar Rp 313.356.408. dengan dua indikator tadi kita bisa membedakan makna dari keduanya. PDRB jelas mempunyai cakupan ekonomi yang lebih luas dengan pos-pos yang menjadi sumber pemasukan yang menggerakan roda perekonomian daerah. Sementara PAD, berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah hanya menjelaskan kepada kita sumber pemasukan regional yang bersumber dari pajak mulai dari pajak provinsi hingga pajak reklame. Melihat pesatnya pertumbuhan industry jasa dan komersil di Kota Bandung maka memang wajar jika PDRB berbanding lurus dengan meningkatnya PAD</span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">                                                                                         </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Tapi permasalahannya, apakah PDRB juga mencakup pemerataan kesejahteraan dan memberikan model yang sesuai tentang kelayakan hidup warga kota Bandung. Sebagaimana teori ekonomi mengenai pertumbuhan, merupakan sebuah debat klasik dalam ilmu ekonomi antara pertumbuhan dan pembangunan ekonomi bahkan pertumbuhan dengan pemerataan. Namun seolah telah menjadi konsensus para ekonom bahwa GDP memiliki problem dengan distribusi kekayaan dalam sebuah negara sehingga tidak bisa dijadikan satu-satu nya indikator kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Jika menggunakan perspektif konvensional, ukuran atau indikator itu bisa menggunakan apa saja sebagaimana dalam teori ekonominya Keynessian, bahwa besarnya output nasional merupakan gambaran awal tentang seberapa efisien sumber daya dalam perekonomian, besarnya output nasional merupakan gambaran awal tentang produktivitas dan tingkat kemakmuran rakyat dalam sebuah negara, maka, hasilnya secara konkret bisa kita perjelas bahwa seolah-olah teori ekonomi Barat ingin mengatakan semakin banyak anak muda hingga pekerja kantoran yang memegang gadget update bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi itu sedang membaik karena daya beli sudah meningkat. Nah demikian juga dengan konteks ekonomi regional, semakin banyak mobil berplat B masuk kota Bandung dapat dipastikan telah terjadi transfer modal dan distribusi kekayaan dari pusat ke regional secara massiv dan mendorong tumbuhnya home dan creative industry di Kota Bandung. Itu jika menggunakan tools ekonomi konvensional melihat permasalahan ekonomi regional. </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">                                                                                  </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Namun ternyata secara realitas dan empiris yang terjadi tidak hanya transfer modal dan kekayaan saja yang membuat Bandung pada tahun-tahun ini sedemikian gemerlap dan menjadi one of main destination tidak hanya pelancing domestik tetapi juga pelancong internasional seperti dari Malaysia yang banyak menjadikan Bandung sebagai tujuan wisata kedua setelah New York. Yang terjadi juga soal permasalahan akut mulai dari kemiskinan, anak jalanan, kesenjangan sosial hingga tingkat kualitas hidup warga Bandung. Tercatat sejumlah indikator penting yang akan menjelaskan kepada kita bahwa besaran volume industry jasa dan komersil yang tercatat dalam PDRB belum banyak menjelaskapan apa-apa tentang penyakit yang menjadi ekses atau inherent dari permasalahan ekonomi regional. </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">                                                                                 </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Berdasarkan Jawa Barat Dalam Data 2010, jumlah penduduk miskin di kota Bandung dan prosentasenya sebesar 106,8 jiwa atau sebesar 4,42 % kemudian jumlah anak jalanan di kota Bandung tercatat sebanyak 1.879, kemudian di sisi lingkunga, pesatnya pertumbuhan kota Bandung sebagai sebuah pusat industri jasa dan komersil ternyata juga membawa ekses yang tak kalah ironis dan menyakitkan yaitu timbunan sampah. Per hari terdapat sebesar  2.539.342 liter sampah menumpuk di sejumlah pojok kota Bandung belum ditambah timbunan sampah yang sudah diangkat ke TPA dan timbunan sampah kota. Efek lainnya, seorang blogger pernah menulis sebuah artikel yang menyindir salah arahnya pembangunan kota Bandung, alih-alih pemerintah kota Bandung membuka gerbang pariwisata lebar-lebar baik yang berasal dari domestik atau mancanegara tetapi melupakan hak-hak warga kota Bandung itu sendiri untuk bisa menikmati dengan leluasa kotanya. Akhirnya setiap akhir pekan walau hanya untuk menikmati taman kota atau ke lembang, warga Bandung harus menghadapi kemacetan luar biasa di sejumlah pojok kota Bandung. Tak pelak sang blogger memberi judul pada tulisannya “Bandung Punya Siapa ?? “ </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Perspektif Ekonomi Pembangunan </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Dalam teori ekonomi pembangunan, ada yang disebut sebagai Teori Dependensia, sebuah teori yang menjelaskan kepada kita bagaimana proses ketergantungan permanen yang selama ini dihadapi oleh negara-negara berkembang tidak lain diakibatkan kehadiiran pusat industry dan pompa kekayaan yang berpusat di negara-negara maju. Keberadaan negara-negara maju itu akan selalu menghegemoni dan menekan dari sisi ekonomi, politik dan militer. Menurut Andre Gunder Frank, ekonom sosialis Amerika Serikat dalam (Damanhuri, 2010)  Teori Dependensia menjelaskan bahwa asimetri hubungan ketergantungan yang sifatnya asimetris ditunjukkan oleh hubungan antara pihak-pihak yang tidak seimbang, hal ini, masih menurut teori dependensia, karena pembangunan-pembangunan daerah pinggiran, tergantung pada pembangunan metropolis, pada poin ini kita bisa memahami bahwa transfer kekayaan dan modal yang begitu besar dari Jakarta sebagai pusat ibukota Indonesia ke Bandung sebagai ibukota Bandung menyebabkan ketergantungan pembangunan ekonomi regional terhadap Jakarta sehingga imbasnya tidak pelak menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial terutama bagi warga Bandung yang ingin merasakan Bandung seperti tempo doeloe yang sejuk dan tenang. Bukan Bandung yang padat dan semakin menambah daftar permasalahan sosial yang lahir akibat salah arahnya perencanaan pembangunan kota Bandung. </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Teori dependensia juga melahirkan konsekuensi lain, secara ekonomi, bagi kalangan fundamentalis pasar, teori dependensia merupakan reaksi dari pertumbuhan ekonomi. Semakin besar tingkat pendapatan domestik maka akan menambah pendapatan pemilik produksi yang akhirnya memperbaiki daya beli dan membuat pasar kelas menengah semakin bergairah. Namun seperti yang saya ungkapkan di atas,  lebih banyak lagi indikator yang tidak secara dangkal dalam mendefinisikan kesejahteraan masyarakat. Sebab, pada akhirnya, indikator kue kesejahteraan bisa menggunakan variable manapun tetapi apakah itu semua sudah representatif ? atau dalam memberikan jawaban terhadap persoalan kemiskinan akhirnya menjadikan sebagai faktor nasib atau efek dari perilaku masa lalu bukan imbas dari sistem yang melembaga dalam logika ekonomi modern dan menjadi industri bawah tanah yang beromzet jutaan rupiah dalam sebulan ? </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">Kalau jawaban nya adalah normatif sebagai faktor nasib atau efek dari perilaku masa lalu berarti benar ungkapan Tibor Scitovsky “ Kemiskinan di tengah-tengah orang kaya yang tak berbahagia tidak lain adalah symptom dari kerusakan yang mendalam “ . sebagaimana, Kota Bandung yang anggun dengan sejarah dan romantisme nya harus mengalami trade off plesiran pekanan  dengan terkikisnya nilai-nilai budaya sunda yang kental dengan moralitas dan religiusitas warga Bandung. Klasik tetapi tetap menyakitkan. </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;"> </span></p>
<p class="MsoNormalCxSpMiddle" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:normal;"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman',serif;">12 Muharaam 1433 H </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/791/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/791/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/791/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=791&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/12/08/bandung-dan-kemiskinannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/12/611273975768_1957906_n1.jpg?w=253" medium="image">
			<media:title type="html">611273975768_1957906_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Arah Ekonomi Global</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/23/membaca-arah-ekonomi-global/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/23/membaca-arah-ekonomi-global/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 13:31:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa Ekonomi dan Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[sampai saat ini, dunia belum bisa tenang dari ketakutan terbesar dengan adanya dua krisis yang dilalui oleh Eropa dan Amerika Serikat.ditambah krisis yang sedang terjadi di Amerika Serikat diwarnai gejolak rakyat yang mulai sadar bahwa selama ini dunia hanya dikangkangi oleh 1% para pelaku pasar di Wall Street yang sama sekali tak ada hubungannya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=782&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sampai saat ini, dunia belum bisa tenang dari ketakutan terbesar dengan adanya dua krisis yang dilalui oleh Eropa dan Amerika Serikat.ditambah krisis yang sedang terjadi di Amerika Serikat diwarnai gejolak rakyat yang mulai sadar bahwa selama ini dunia hanya dikangkangi oleh 1% para pelaku pasar di Wall Street yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Main Street. maka gerakan rakyat ini pun lahir dengan slogan yang kontras &#8220;we are 99 percent &#8220;. mereka mengaku banyak belajar dan terinspirasi dari gerakan rakyat yang baru saha bergelora di Timur Tengah yang oleh akademisi dan jurnalis Barat disebut sebagai gerakan Arab Spring.dan seolah mengaminkan ramalannya Nouriel Roubini pada saat krisis ekonomi global tahun 2007, bahwa resesi akan terus berlanjut hingga dua tahun lagi, gerakan yang menamai diri sebagai Occupy Wall Street dan gejola defisit hutang di darat Eropa semakin membenarkan ramalan dari ekonom dari New York University tersebut.</p>
<p>dan berikut ini adalah sebuah analisa dari seorang pelaku pesar, seorang CEO, dan seorang Muslim <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ,dengan perspektifnya sebagai seorang pelaku pasar dan juga seorang muslim memberikan bobot analisa yang lebih padat dan hampir mengenai akar permasalahan yang dihadapi oleh ekonomi Barat saat ini. selamat menikmati <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p><span id="more-782"></span></p>
<p>The anatomy of global economic uncertainty<strong></strong></p>
<p><strong>Newport Beach, California -</strong> The sense of uncertainty prevailing in the West is palpable, and rightly so. People are worried about their futures, with a record number now fearing that their children may end up worse off than them. Unfortunately, things will become even more unsettling in the months ahead.</p>
<p>The United States is having difficulties returning its economy to the path of high growth and vigorous job creation. Thousands of people have taken to the streets of US cities, and thousands of others in Europe, to demand a fairer system. In the eurozone, financial crises have forced out two governments, replacing elected representatives with appointed technocrats charged with restoring order. Concern about the institutional integrity of the eurozone &#8211; key to the architecture of modern Europe &#8211; continues to mount.</p>
<p>This uncertainty extends beyond countries and regions. Those looking around the next corner also worry about the stability of an international economic order in which the difficulties faced by the system&#8217;s Western core are gradually eroding global public goods.</p>
<p>It is no coincidence that all of this is happening simultaneously. Each development, and certainly their occurrence in tandem, points to the historic paradigm changes shaping today&#8217;s global economy &#8211; and to the anxiety that comes with the loss of once-dependable anchors, be they economic and financial or social and political.</p>
<p>Restoring these anchors will take time. There is no game plan as of now, and historic precedents are only partly illuminating. Yet two things seem clear: Different countries are opting, either by choice or necessity, for different outcomes, and the global system as a whole faces challenges in reconciling them.</p>
<p>Some changes will be evolutionary, taking many years to manifest themselves; others will be sudden and more disruptive. Yet, as complex as all of this sounds &#8211; and, by definition, paradigm changes are complicated affairs that, fortunately, seldom occur &#8211; a simple analytical framework may help shed light on what to look for, what to expect and where, and how best to adapt.</p>
<p>The framework relies on an often-used analytical shortcut: identifying a limited set of explanatory variables in what statisticians call &#8220;a reduced-form equation&#8221;. The objective is not to account for everything, but rather to pinpoint a small number of variables that can explain key factors, albeit neither perfectly nor fully.</p>
<p>Using this approach, it is possible to argue that the future of many Western economies, and that of the global economy, will be shaped by their ability to navigate four inter-related financial, economic, social, and political dynamics.</p>
<p>The first relates to balance sheets. Many Western economies must deal with the nasty legacy of years of excessive borrowing and leveraging; those, like Germany, that do not have this problem are linked to neighbours that do. Faced with this reality, different countries will opt for different de-leveraging options. Indeed, differentiation is already evident.</p>
<p>Some, like Greece, face such a parlous situation that it is difficult to imagine any outcome other than a traumatic default and further economic turmoil; and Greece is unlikely to be the only Western economy forced to restructure its debt. Others, like the United Kingdom, have moved quickly to take firmer control of their destiny, though their austerity drives will inevitably involve considerable sacrifices.</p>
<p>A third group, led by the US, has not yet made an explicit de-leveraging choice. Having more time, they are using the less visible, and much more gradual, path of &#8220;financial repression&#8221;, under which interest rates are forced down so that creditors, including those on modest fixed incomes, subsidise debtors.</p>
<p>De-leveraging is closely linked to the second variable &#8211; namely, economic growth. Simply put, the stronger a country&#8217;s ability to generate additional national income, the greater its ability to meet debt obligations while maintaining and enhancing citizens&#8217; standards of living.</p>
<p>Many countries, including Italy and Spain, must overcome structural barriers to competitiveness, growth, and job creation through multi-year reforms of labour markets, pensions, housing, and economic governance. Some, like the US, can combine structural reforms with short-term demand stimulus. A few, led by Germany, are reaping the benefits of years of steadfast (and underappreciated) reforms.</p>
<p>But growth, while necessary, is insufficient by itself, given today&#8217;s high unemployment and the extent to which income and wealth inequalities have increased. Hence the third dynamic: the West is being challenged to deliver not just growth, but &#8220;inclusive growth&#8221;, which, most critically, involves greater &#8220;social justice&#8221;.</p>
<p>Indeed, there is a deep sense that capitalism in the West has become unfair. Certain players, led by big banks, extracted huge profits during the boom, and avoided the deep losses that they deserved during the bust. Citizens no longer accept the argument that this unfortunate outcome reflects the banks&#8217; special economic role. And why should they, given that record bailouts have not revived growth and employment?</p>
<p>Calls for a fairer system will not go away. If anything, they will spread and grow louder. The West has no choice but to strike a better balance &#8211; between capital and labour, between current and future generations, and between the financial sector and the real economy.</p>
<p>This leads to the final variable, the role of politicians and policymakers. It has become fashionable in both the US and Europe to point to a debilitating &#8220;lack of leadership&#8221;, which underscores the extent to which an inherently complex paradigm change is straining traditional mindsets, processes and governance systems.</p>
<p>Unlike emerging economies, Western countries are not well-equipped to deal with structural and secular changes &#8211; and understandably so. After all, their histories &#8211; and certainly during what was mislabeled as the &#8220;Great Moderation&#8221; between 1980 and 2008 &#8211; have been predominantly cyclical. The longer they fail to adjust, the greater the risks.</p>
<p>Those on the receiving end of these four dynamics &#8211; the vast majority of us &#8211; need not be paralysed by uncertainty and anxiety. Instead, we can use this simple framework to monitor developments, learn from them, and adapt. Yes, there will still be volatility, unusual strains, and historically odd outcomes. But, remember, a global paradigm shift implies a significant change in opportunities, and not just risks.</p>
<p><em><strong>Mohamed A. El-Erian is CEO and co-CIO of PIMCO, and author of </strong></em><strong>When Markets Collide.</strong></p>
<p><strong><em>The views expressed in this article are the author&#8217;s own and do not necessarily represent Al Jazeera&#8217;s editorial policy.</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/782/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/782/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/782/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=782&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/23/membaca-arah-ekonomi-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sudah Sampai Dimana kah FoSSEI Kita ?</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/22/sudah-sampai-dimana-kah-fossei-kita/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/22/sudah-sampai-dimana-kah-fossei-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 13:14:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=777</guid>
		<description><![CDATA[Bulan November sudah melangkahkan kaki nya ke pekarangan rumah kita. Pun demikian ada yang baru saja meninggalkan rumah besar ini dan ada yang baru mengemas koper-koper kontribusi nya ke loby rumah ini. ah, tiba-tiba saya teringat dengan tulisan teman tentang bangunan yang harus dipertahankan. Sebuah essay dari seorang sahabat saya yang menggunakan bashirah langit dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=777&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/eod1copy.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-780" title="eod1copy" src="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/eod1copy.jpg?w=645" alt="perjalanan"   /></a>Bulan November sudah melangkahkan kaki nya ke pekarangan rumah kita. Pun demikian ada yang baru saja meninggalkan rumah besar ini dan ada yang baru mengemas koper-koper kontribusi nya ke loby rumah ini. ah, tiba-tiba saya teringat dengan tulisan teman tentang bangunan yang harus dipertahankan. Sebuah essay dari seorang sahabat saya yang menggunakan bashirah langit dalam menganalisa kegalauan sejumlah kader akan nasib hari esok rumah perjuangannya. Dalam konteks yang pas, tulisan sahabat saya itu juga mengalir sebagai sebuah perspektif ketika menganalisa. Jadinya kita akan berbicara pada dua hal. Satu point mengenai bangunan rumah kita dan yang lain dengan keadaan rumah kita saat ini sudah berapa banyak perjalanan yang kita tempuh beserta masukan yang diterima oleh rumah ini sebagai outcome.</p>
<p>Dan jujur saja walau sudah beberapa minggu saya meninggalkan rumah ini karena masa studi saya sudah selesai, tetapi entah kenapa selalu terpikirkan di benak saya, seperti apa rumah yang baru saya tinggalkan ini dalam jangka waktu 5 tahun ke depan ? belum ditambah pertanyaan sederhana sudah sampai dimana perjalanan dan perjuangan ini. aku semakin ragu untuk menjawab nya sendiri dalam kondisi rumah kita saat ini. tapi asa yang masih tersisa sebagai hamba Allah yang beriman membuatnya untuk menatap ke langit biru yang megah seakan pertanyaan tadi sudaj terjawab dengan sendirinya yakni : harapan yang masih dan selalu ada. Maka catatan yang bisa jadi merupaka catatan terakhir saya tentang rumah kita bersama ini, akan menuliskan sejumlah poin yang harus kita perhatikan terutama pemegang kebijakan yang bahasa politis nya “amanah “ <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Manifesto Rapimnas</p>
<p>Pada rapimnas fossei kemarin, kita telah menyimak sejumlah poin-poin kesimpulan dan kesepakatan antara presidium nasional dengan koordinator regional yang intinya kedua nya sepakat untuk melakukan revitalisasi perangkat-perangkat perjuangan fossei untuk da’wah ekonomi islam yang lebih baik. Pada rapimnas tahun lalu, juga mencakup pembenahan perangkat-perangkat perjuangan fossei bahkan dalam dokumen rapimnas tahun lalu yang saya miliki menyimpulkan pembenahan internal secara kolektif di sejumlah aspek. Ada yang harus dibenahi di sektor media dan ada pula yang harus dikaji ulang di sektor jalur komunikasi dari tingkat KSEI-Komsat-Regional-Depnas-Presnas. Sebab, bukan rahasia lagi, regional merasa lebih nyaman untuk mengadukan masalah internal di wilayahnya secara langsung kepada presnas. Akibatya Depnas yang tadinya di bentuk untuk memperbantukan Presnas dalam menjalankan fungsi dan perangkat perjuangan. Mati nya Depnas bukan saja disebabkan salah arahnya jalur komunikasi yang terjadi tetapi berkembang sebuah peraturan tidak tertulis bahwa depnas baru akan bergerak setelah Presnas bergerak. Depnas tidak lahir sebagai lembaga di bawah presnas yang kreatif menjalankan fungsi serta perangkat perjuangan dan dari pengalaman sejumlah depnas pada masa fossei sebelumnya, kematian depnas juga disebabkan faktor lain yang sangat vital yaitu komunikasi yang tidak solid.</p>
<p>Asumsinya para staff di depnas tersusun dari orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai visi depnas. Oleh karena itu diambilah para staff dari pelbagai pojok nusantara yang dipertimbangkan memiliki keahlian untuk memperbantukan depnas. Sayangnya, asumsi ini akhirnya overvalued, karena luasnya wilayah Indonesia dan perbedaan waktu membuat komunikasi para staff di depnas dengan presnas terhambat. Sejumlah program depnas pun benar-benar mati gaya, mungkin yang di luar akan melihat hal ini sebagai pemborosan dan ineffisensi tetapi pengalaman saya setahun di depnas RPE secara empiris memang membuktikan masalah utama bukan pada jumlah depnas atau kematian depnas atau depnas yang dianggap tidak signifikan dalam revitalisasi fossei tetapi jalur komunikasi di tingkat regional yang harus diubah atau dirombak paradigma nya.</p>
<p>Kembali kepada pertanyaan di atas, memasuki usia fossei yang ke-11 tahun ini perhatian utama kita bukan hanya implementasi dari manifesto rapimnas tetapi juga kedisplinan para koordinator regional dalam melihat masalah ke-fossei-an. Kurikulum fossei yang disusun oleh depnas RPE juga sudah rampung tinggal pengawasan dan eksekusi dari kurikulum tersebut membutuhkan banyak kerja sama antara depnas rpe dengan regional. Jakarta 25 Raya Agung 1432 H B</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/777/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/777/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/777/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=777&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/22/sudah-sampai-dimana-kah-fossei-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/eod1copy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">eod1copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Akhir Kuliah</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/19/catatan-akhir-kuliah/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/19/catatan-akhir-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Nov 2011 16:22:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikrah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[“pengetahuan bersemayam dalam pikiran. Tempat cinta ialah hati yang sadar jaga. Selama pengetahuan tak sedikit juga mengandung cinta adalah itu hanya permainan sulap si samiri. Pengetahuan tanpa roh kudus hanyalah penyihiran. Tanpa wahyu orang bijak pun takkan menemukan jalan. Ia mati dipukul angan-angan nya sendiri, tanpa wahyu, hidup ini hanya derita rana yang membawa mati.&#8221; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=768&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/langkah-imil2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-773" title="langkah " src="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/langkah-imil2.jpg?w=300&#038;h=291" alt="next stage" width="300" height="291" /></a>“<strong><em>pengetahuan bersemayam dalam pikiran. Tempat cinta ialah hati yang sadar jaga. Selama pengetahuan tak sedikit juga mengandung cinta adalah itu hanya permainan sulap si samiri. Pengetahuan tanpa roh kudus hanyalah penyihiran. Tanpa wahyu orang bijak pun takkan menemukan jalan. Ia mati dipukul angan-angan nya sendiri, tanpa wahyu, hidup ini hanya derita rana yang membawa mati.&#8221; Muhammad Iqbal, Javid Namah</em></strong></p>
<p>Semuanya segera dan sudah akan berakhir, dunia kampus, dunia mahasiswa, dunia akademik, sudah usai dan lega rasanya dapat menyelesaikan perjalanan panjang kuliah selama 4 tahun di bumi kota hujan sebagai mahasiswa. Rasanya lebih dari setahun jika aku hitung aku mengerjakan skripsiku. Bahkan dua bulan terakhir aku bertempur dengan banyak metode penelitian dan buku-buku econometric. Beruntung aku mempunyai dosen pembimbing yang sekaliber Pak Achmad Djazuli SE MM background beliau yang konvensional dan mempunyai ghirah yang tinggi dengan ekonomi syariah membuatku kembali bersemangat mengerjakan skripsi. Dan dengan banyak bimbingan dari beliau bab 4 &amp; 5 yang banyak menimbulkan masalah, malah aku banyak mendapatkan banyak ilmu yang lebih dari sekedar kuliah 3 sks dan tujuh semester. Ilmu yang tak pernah aku dapatkan di kelas, atau ilmu yang tak pernah diberikan oleh dosen di prodi akuntansi yang notabene lebih mengajarkan mahasiswa untuk taat terhadap textbook. Dan itu semua sudah berakhir. dari mulai coret2an dari dosen metolit yang tdk hobi membaca buku hingga dosen audit yang berorientasi sekuler. Akan tetapi selalu ada saja sahabat-sahabatku yang senantiasa menguatkan, maka memang itu cerita para sahabat sejati. Sahabat yang boleh datang dan pergi namun keberadaannnya meneguhkan jiwa saat sedang lemah, memapah saat sedang jatuh. hingga mengusap air mata saat sedang tertimpa musibah.</p>
<p>Amanahku di fossei pun sudah usai seiring usainya rapimnas sebulan yang lalu, dan pada hari ini, baru saja prosesi wisuda diselenggarakan. Sebuah akhir yang indah bagi yang merasakan kerja keras dan dedikasi yang luhur pada dunia mahasiswa. Aku hanya tersenyum melihat sebuah rangkaian panjang dan tak pernah bisa ditebak setiap kelokan alurnya. Tidak selamanya semanis dalam novel-novelnya kang habiburahman el shirazy tetapi juga tidak identik dengan jalan cerita kebanyakan mereka yang digolongkan sebagai mahasiswa berprestasi.</p>
<p>Saat rapimnas kemarin, Ustadz Ali Sakti banyak memberikan taujihnya tentang takdir. Kata beliau, dalam hidup ini tidak ada yang perlu disesali, para pemain kehidupan memperoleh kesempatan 24 jam sebuah episode yang harus ia mainkan sebagaimana telah diatur oleh Yang Maha Mengatur dan menambah bagaimana semakin manis peranan yang kita mainkan dengan muraqabah dengan Yang Maha Mengatur. Karena konsep takdir bagi seorang muslim bukan soal beriman pada qadha dan qadar tetapi juga meletakkan keredhaan atas tiap ketentuan yang Ia telah tetapkan dan gariskan. Demikian juga Dr AIdh Al Qarni baik saat menulis bukunya yang paling fenomenal “La Tahzan “ atau melalui pelbagai twitternya selalu mengatakan redha atas apa yang telah Allah berikan akan menimbulkan kekayaan jiwa dan redha atas takdir yang telah Ia tuliskan akan menimbulkan kebahagiaan jiwa “ soal kemudian bagaimana sebuah takdir kita mainkan maka kembali nya pada seberapa dekat kita dengan yang telah memberi peran terbaik dalam tiap kehidupan. Memang tidak selalu di atas tetapi di bawah tidak selalu buruk. Karena, kata Allah SWT, boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu sangat buruk bagimu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu sangat baik bagimu. Finally there is no regret. Persoalannya kembali seberapa dekat kita dengan Allah, agar Allah selalu membersamai dalam setiap kerja-kerja dan amal-amal keshalihan yang kita lakukan baik saat sebagai mahasiswa atau saat jadi kalangan professional. Dan saat itulah tidak ada amal yang sia-sia, setiap jengkal peluh nya, setiap cucur letihnya dhitung oleh Allah SWT sebagai pahala yang agung.</p>
<p>Maka benar lah kekata Baginda Nabi SAW “ sesungguhnya setiap muslim itu selalu beruntung, jika memperoleh keberuntungan ia bersyukur maka karunia baginya, jika ia mendapat musibah jika bersabar maka pahala bagi nya “</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/768/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/768/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/768/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=768&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/19/catatan-akhir-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/langkah-imil2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">langkah </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali, Dialektika Emas</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/07/kembali-dialektika-emas/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/07/kembali-dialektika-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 17:15:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Akuntansi Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=764</guid>
		<description><![CDATA[Sampai saat ini dialektika soal emas hampir tidak pernah usai. Dari zamannya Adam Smith dengan Theory of Moral Sentiment dan The Wealth Nations nya memulai sentuhan pertama pada dunia ekonomi hingga bangkitnya mazhab Keyness saat resesi ekonomi dunia tahun 2007. Adam Smith mengungkapkan mekanisme pasar bebas dengan sejumlah asumsi yang ia telah tetapkan sendiri. Perilaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=764&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/gold_121.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-765" title="gold_121" src="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/gold_121.jpg?w=300&#038;h=239" alt="" width="300" height="239" /></a>Sampai saat ini dialektika soal emas hampir tidak pernah usai. Dari zamannya Adam Smith dengan Theory of Moral Sentiment dan The Wealth Nations nya memulai sentuhan pertama pada dunia ekonomi hingga bangkitnya mazhab Keyness saat resesi ekonomi dunia tahun 2007. Adam Smith mengungkapkan mekanisme pasar bebas dengan sejumlah asumsi yang ia telah tetapkan sendiri. Perilaku pelaku ekonomi yang bermoral hingga standart emas. Dengan standar emas yang diterapkan pada bangunan manajemen moneter, menurut asumsi Adam Smith, regulasi pemerintah sama sekali tidak diperlukan. sebab, yang diperlukan oleh pemerintah adalah memproduksi emas, emas yang semakin banyak diproduksi, akan membuat money supply di pasar barang beredar lebih luas, semakin banyak uang yang ditopang dengan emas beredar di pasar, harga emas akan menjadi murah secara otomatis harga kebutuhan di pasar pun lebih rendah.</p>
<p>Namun perlu digaris bawahi, teori Adam Smith tadi tidak selamanya manjur di lapangan sekalipun saat dibandingkan dengan eksperimen ekonomi dunia islam ketika emas sebagai bahan instrinsik dari mata uang dinar dan dirham. Regulasi dan lembaga hisbah yang bertugas mengawasi transaksi ekonomi baik secara mikro ataupun makro tetap ada. dengan amat bertumbuh kembang serta pesatnya pertumbuhan pusat-pusat bisnis dan perekonomian sepanjang era Ummayah dan Abbasiyah. S.M Ghanzafar(2008) mencatat di era Abbasiyah, ada sebuah kerajaan bisnis yang namanya sangat terkenal di dunia Islam terutama di Baghdad yaitu keluarga Karimi yang jika dihitung-hitung nilai kekayaan dan nilai seluruh assetnya mencapai 1juta dinnar. Kerajaan Bisnis ini hampir telah menjelajah seluruh kawasan Barat Tengah, meminjam istilah Tamim Ansary (2010)terutama Kairo, Aleksandria, hingga Jeddah. Kemudian jalur Laut yang terbentang dari Andalusia hingga China pun sudah pernah disinggahi kerajaan bisnis yang turun temurun ini. maka tentunya jika kita melihat gambaran transaksi mikro yang besaran volume nya sangat besar seperti contoh di atas, tentu regulasi yang melindungi pelanggan dari tindak buruk perilaku pelaku ekonomi atau terjaminnya transaksi satu caravan dagang dengan yang lain dalam hal importir atau eksportir, regulasi sang Khalifah selalu ada.</p>
<p><span id="more-764"></span></p>
<p>Kembali kepada pembahasan mengenai dialektika emas, pergolakan ekonomi eropa dan amerika yang merupakan imbas dari pengambilan kebijakan besar-besaran melalui kebijakan fiskal pada saat resesi amerika tahun 2007, telah melahirkan kembali dialektika standar emas sebagai sebuah solusi alternatif menyelamatkan warga dunia dari masa depan yang tidak menentu. Dalam tulisan saya yang sebelumnya mengenai spekulasi emas, bagaimanapun juga ketika emas berhenti hanya sebagai instrument investasi, dan selama manusia tidak ada yang pernah sempurna maka emas pun rawan bahkan termasuk komoditas yang tak lepas dari aksi spekulasi. Potensi emas untuk memenuhi fungsi-fungsi uang baik dalam perspektif ekonomi Barat atau Ekonomi Islam tidak terpenuhi di tangan spekulan emas. Emas hanya memenuhi fungsi berjaga-jaga dan spekulasi bagi mazhabnya JM Keyness dan fungsi uang sebagai stock concept bagi mazhabnya Alfred Marshall.</p>
<p>Dalam kaca mata ekonomi makro, emas pun sangat dipercaya ampuh mengembalikan defisit perdagangan. Asumsikan saat ini negara kita menggunakan monetary gold standart, dalam perdagangan bebas dengan china kita mengalami defisit.  defisit dalam pengertian impor dari china lebih besar daripada ekspor kita. Bank sentral Indonesia dalam hal ini Bank Indonesia akan mengirimkan emas sejumlah defisit yang kita alami denga china. Ketika cadangan emas menurun,persediaan uang di pasar juga berkurang sehingga barang-barang lebih murah dan barang ekspor kita pun lebih murah sehingga dorongan impor bisa dikurangi. Akhirnya ekspor kita naik dan kembalinya ke surplus neraca perdagangan dengan China, tetapi itu semua belum melibatkan faktor politik global dan komitmen pengambil kebijakan dalam negeri. Dibandingkan dengan berbasiskan fiat money standart dalam perdagangan bebas serta globalisasi ini perang mata uang hampir tidak terhindarkan setelah kebijakan proteksionisme masing-masing negara dikurangi. Semakin mata uang sebuah negara terdepresiasi dengan mata uang lain. maka produk dan barangnya di pasar internasional bisa lebih murah dan kompetitif.</p>
<p>Terakhir, yang harus menjadi catatan. Asumsi ekonomi makro tadi belum bicara soal infrastruktur,belum membahas soal hukum syariah, dan terakhir justru soal nama. Namun bagi banyak orang soal nama inilah yang menjadi masalah penting. Ada kalangan yang keukeuh mata uang islam= dinar dan ada lagi yang menyamakan dinar= rupiah/dollar. mungkin yang kedua terjebak dalam formalitas bentuk tanpa melihat substansi nya. Seolah-olah ingin menyederhanakan masalah tapi effeknya di luar hitungan penyederhanaan. Begitu juga dengan kalangan pertama. Merasa perlu untuk mengeluarkan fatwa haram mata uang kertas padahal Rabithah Alam Islamy sudah mengeluarkan fatwa bolehnya mata uang kertas digunakan dalam transaksi dan ditunaikan zakatnya. Ala kulli hal, teringat dengan tweetnya ustadz Abduh, salah seorang dosen di STEI Tazkia, menggunakan dinar hanya soal preferensi ekonomi, tidak perlu kafir-kafiran ;-D</p>
<p>Jakarta 10 Raya Agung 1432 H</p>
<p>sambil ditemani segelas susu coklat dan nasyid-nasyid Izzatulislam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/764/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/764/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/764/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=764&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/11/07/kembali-dialektika-emas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/11/gold_121.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gold_121</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Emas Oh Emas</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/10/10/emas-oh-emas/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/10/10/emas-oh-emas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 08:33:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Akuntansi Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[sebuah tulisan dan pemaparan sederhana namun runtut serta sistematis dari sahabat saya, brother bimo ali guntoro, yang pernah melayangkan pandanganya mengenai anggaran kinerja beberapa waktu lalu di blog ini. mari kita simak pemikiran beliau yang dalam dalam pemaparan yang santai ini Ramai sekarang investasi emas, gadai emas, sampai istilah berkebun emas. Emas kembali menjadi primadona [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=760&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebuah tulisan dan pemaparan sederhana namun runtut serta sistematis dari sahabat saya, brother bimo ali guntoro, yang pernah melayangkan pandanganya mengenai anggaran kinerja beberapa waktu lalu di blog ini. mari kita simak pemikiran beliau yang dalam dalam pemaparan yang santai ini <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ramai sekarang investasi emas, gadai emas, sampai istilah berkebun emas. Emas kembali menjadi primadona investasi dalam pilihan <em>hedging</em> meredam inflasi. Seperti kita tau emas merupakan logam mulia yang nilai nominalnya trus naik karena inflasi, sehingga dapat kita pahami nilai intrinsik dari emas ini tetap. Harga nya terus naik <em>(long term</em>) karena pelemahan mata uang (inflasi). Wah jelas ini salah satu intrumen yang baik sekali untuk me-<em>hedging</em> harta kita dari rayap inflasi.</p>
<p>Banyak dari kita menyatukan antara penjaga nilai dan investasi. Padahal ada karakteristik yang berbeda pada 2 sikap ini. Menjaga nilai, merupakan bentuk mengconvert aktifa agar tidak habis di telan waktu tanpa harapan yang berlebihan di masa yang akan datang. Namun invetasi adalah perencanaan dan perhitungan sedemikian rupa untuk membuat harta saat ini menjadi lebih bernilai dimasa depan (return oriented).</p>
<p>Menjaga nilai banyak kita temui pada orang tua kita antara lain dengan menyimpan emas dan dipakai dikemudian hari, mereka berfikir beli saat ini mumpung masih mampu, mumpung belum pensiun, untuk tabungan sekolah anak. Begitu kira-kira. Lalu yang lebih <em>property oriented</em> membeli tanah, mereka beli tanah, di biarkan begitu saja, dengan pemikiran nanti harganya naik senidiri, untuk anak saat kawin nanti. Yahhh kira begitulah pemikiran orang tua kita.</p>
<p>Bagaimana dengan investasi? Investasi dibedakan karena tujuannya dia lebih agresif dari sekedar menjaga nilai, investasi sudah pasti mejaga nilai. diperhitungkan dengan baik, dan diharapkan memberikan keuntungan yang proporsional seiring dengan resiko yang ditanggung. Baik di sector <em>riil asset</em> ataupun <em>finance asset.</em></p>
<p>Lalu sampailah kita pada rumusan masalah dimanakah letak emas sebagi instrument, penjaga nilai atau investasi? Apakah bisa untu keduanya? Penulis beropini, ya bisa keduanya, emas merupakan instrument penjaga nilai dan bagian dari diversivikasi investasi. Untuk investasi emas haruslah bagian dari diversivikasi. Mengapa? Akan terjawab pada paragraph selanjutnya (keep reading :p)</p>
<p>Untuk menjaga nilai emas tidak diragukan kemampuan dan tentu sifatnya harus <em>long term</em> atau jangka panjang karena untuk jangka pendek emas harganya berfluktuasi sesuai <em>supply demand</em> dan harga emas dunia. Jadi tidak menarik untuk spekulan jangka pendek yang <em>short term gain oriented</em>. Bagaimana untuk investasi? Emas tidak masalah untuk investasi tapi haruslah bagian dari diversivikasi, seperti kata Markowitz <em>don’t put your eggs into one basket</em>, investasi apapun sebaiknya di sebar dalam beberapa instrument yang memiliki karakteristik berbeda. Sehingga dalam kasus ini apabila emas dijadikan <em>single fighter</em> atau dominan sekali dalam investasi kita, justru akan menjadi kontra produktif dan menjadikan harta tidak produktif. Padahal seperti yang kita tahu penimbunan bukanlah hal yang dibolehkan dalam perekonomian maupun islam.</p>
<p>Kita tahu emas menjadi mahal bukan karena nilai intrinsiknya naik tapi karena nilai uang yang turun, contoh: kambing dari zaman dahulu sekitar 1 dinar, sampai sekarang 1 kambing sekitar 1 dinar juga (4,25 gram emas). Maka penyimpanan emas berlebihan tidaklah memberikan multiplayer efek bagi kegiatan ekonomi, padahal kegiatan ekonomi lah yang membuat harta menjadi berputar. Pada emas tidak ada <em>cash flow</em>, hanya <em>spread</em> saat kita beli dan jual. Sehingga apabila kita menjadikan emas <em>the one of investation</em> tak ubahnya kita menimbun harta, dan menunggu harga tinggi lalu dijual, tidak ada kegiatan ekonomi yang terjadi, tidak ada maslahat untuk masyarakat/umat. Hal inilah yang perlu dipikirkan.</p>
<p>Emas is oke-able selama itu bagian dari diversifikasi investasi kita. J</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bimo ali guntoro</p>
<p>Staff Departemen Nasional Riset dan Pengembangan Ekonomi Islam FoSSEI</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/760/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/760/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/760/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=760&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/10/10/emas-oh-emas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Marginal</title>
		<link>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/10/02/marginal/</link>
		<comments>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/10/02/marginal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 03:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Willy Mardian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekonomi dan Akuntansi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikrah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://telagaalkautsar.wordpress.com/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sebuah perjalanan pulang dari sidang skripsi seminggu yang lalu, saya sempatkan diri di cawang untuk menyantap seporsi sate padang dan saat sedang menunggu sate padang pesanan saya, tak sengaja saya mendengar celotehan sejumlah pedagang stasiun yang sedang mengobrol, “ ni juga Alhamdulillah dah masih bisa jualan, bangku aje kemaren kucing-kucingan “ celoteh seorang pedagang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=756&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/10/071273475454_9321903_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-757" title="071273475454_9321903_n" src="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/10/071273475454_9321903_n.jpg?w=300&#038;h=241" alt="kaum marginal" width="300" height="241" /></a>Dalam sebuah perjalanan pulang dari sidang skripsi seminggu yang lalu, saya sempatkan diri di cawang untuk menyantap seporsi sate padang dan saat sedang menunggu sate padang pesanan saya, tak sengaja saya mendengar celotehan sejumlah pedagang stasiun yang sedang mengobrol, <em>“ ni juga Alhamdulillah dah masih bisa jualan, bangku aje kemaren kucing-kucingan “</em> celoteh seorang pedagang minyak wangi dan buku-buku agama, <em>“ iye, untungnye juge kita bunyi nye bukan meong-meong “</em> sahut seorang ibu paruh baya yang juga berprofesi sebagai seorang pedagang di sebelahnya  yang disambut tawa ala kadarnya dari sekeliling</p>
<p>tiba-tiba saya memasang telinga baik-baik tentang apa yang sebenarnya baru terjadi di stasiun cawang ini, “<em>mang tadi ade ape bang, koq kayaknye heboh bener</em> “  tanya saya memberanikan diri kepada salah seorang pedagang yang sedang mengobrol tadi, <em>“ eni, dalam rangka hut PT KAI, biase dah yang dianggep kurang ngenakin pemandangannye di sekitar stasiun diharap minggir dulu, padahal kite aje ni hari untung nye belon balik modal eh udeh “ditertibin” dulu</em> “, saya pun manggut-manggut membayangkan betapa kerasnya kehidupan para pelaku sektor riil ini, kemudian sang pedagang minyak wangi ini melanjutkan ceritanya, <em>“ saye udeh 11 taon dagang disini, yah kalo soal untung mah bisa 15 juta an perbulan tapi ntu juga masih kotornya bang, Alhamdulillah dah bisa kebeli rumah permanen, gak ngontrak lagi, tetangga kiri kanan juga pada heran, yang lain rumahnya 350 jutaan, nah keluarga saye mah malah dapetnye 100 jutaan, “</em> <em>subhanallah”</em> celetukku, “<em>kalo boleh aye tau rahasia nya apaan bang”</em> tanya saya agak mengejar “ <em>yah kalo saye mah ngebiasain diri bangun malem, shalat tahajud, bersosialisasi atau bermasyarakat, nah yang terakhir sedekah</em> “ setelah itu sang pedagang banyak bercerita tentang pelbagai sisi lain perusahaan kereta api Indonesia, dari mulai kerap mengusir pedagang kecil hingga tidak transparannya keuntungan  PT KAI dan terakhir ia memberikan bocoran kepadaku tentang rencana pengurangan armada kereta api dengan tujuan penambahan profit PT KAI, hingga ia bercerita dan memberikan opini yang berbeda tentang pemberian gelar raja Saudi oleh rektor UI, untungnya saya bukan mahasiswa UI hehehe</p>
<p><span id="more-756"></span></p>
<p>Bertemu dengan segelintir pedagang tadi, saya jadi teringat dengan kisah kaum marginal di negeri ini, seorang teman saya dalam sebuah perjalanan pernah mengatakan, “<em>will mereka ini, walaupun terpinggirkan tetapi mereka merupakan mayoritas dari negeri ini” </em>dan saya sepakat dengan ungkapan sahabat saya tadi bahwa mereka merupakan kaum mayoritas di negeri ini, tetapi dengan terpinggirkan mereka,  yang unik menjadi salah satu indikator fundamental ekonomi Indonesia yang salah satu nya adalah tinggi nya tingkat konsumsi domestik. Di saat yang sama, topik majalah tarbawi kemarin menegaskan sejumlah hal. Bahwa kerap kita menilai transfer kekayaan di antara orang-orang super kaya negara ini sangat terasa rumit dan ilmiah tapi kita menyederhanakan transfer kekayaan di antara kaum marginal ini, ya, mereka memang sangat sederhana kalau tak mau disebut polos, tetapi ada ketegasan keyakinan di dalamnya kepada Yang Maha Memberi Rizki, ada ketergantungan yang sangat kuat bahwa tidak ada yang mampu mencegah atau menghambat kalau Allah Yang Maha Membuka pintu-pintu rezeki sudah memutuskan rezeki baginya.</p>
<p>imagine, kalau semua pelaku sektor rill seperti yang saya ceritakan di atas,  ketika produktifitas menghasilkan barang konsumsi disertai dengan rasa tawakal dan bergantung pada Yang Menjamin Rezeki, tohk soal bicara rezeki disini tidak serta merta disertai hitung-hitungan profitabilitas dan break event point, atau malah hitung-hitungan akuntansi biaya produksi dengan pendapatan, karena ternyata tidak semua pedagang kecil memanfaatkan instrument yang bagi kita wajib dipelajari saat memulai usaha, karena sekali lagi, begitu kuat dan tulus kebergantungan mereka pada Dzat Yang Maha Membuka Rezeki betapapun terbatasnya kemampuan mereka dalam menjaring penghasilan dan menghidupi keluarga mereka. Hitung-hitungan kita sangat identik dengan ketamakan dan ambisi yang tak pernah habis, tetapi bagi mereka rezeki adalah soal kecukupan dan memang kebahagiaan diri manusia pada akhirnya berbicara soal cukup sedangkan kelebihan senantiasa dipertimbangkan sebagai rahmat dan bonus dari Allah.</p>
<p>Jujur, saya bukan orang yang mendikotomisasikan antara teori ekonomi islam normatif dan positif sebagaimana yang pernah saya terima saat kuliah teori akuntansi, karena ekonomi islam tidak bisa tidak sebagai sebuah sistem yang kuat dan dapat diterima semua orang fitrahnya menjadikan petunjuk Allah dan nasihat sang Baginda Nabi SAW sebagai pertimbangan nilai-nilai kebenaran dan keburukan dalam perilaku pelaku ekonomi islam dan memang fitrahnya bagaimana petunjuk Allah dan nasihat Baginda Nabi SAW membumi dan bahkan menjadi variable-variable independen atau variable dependen dalam penelitian kuantitatif ekonomi islam. maka memang kita bisa melihat disini ada perbedaan khas mana yang disebut sebagai rezeki dan mana yang disebut keuntungan, Ibnu Khaldun dalam Mukadimmah nya menyebutkan bahwa rezeki ialah jika manfaat dari produksi kembali dan ia dapat menikmati hasilnya, sedangkan yang dimaksud dengan laba adalah jumlah nilai yang tumbuh dan berkembang. Dari keduanya kita menemukan persamaan : tumbuh berkembang dan manfaat yang kembali kepada pemilik faktor produksi. Lalu bayangkanlah apa yang akan terjadi di dunia penelitian kita seandainya nilai-nilai ekonomi islam yang melekat pada pelaku sektor riil dijadikan variable independen atau bahkan salah satu indikator yang menentukan tingkat GDP sebuah bangsa, dengan amat optimis posisi dialog ekonomi islam tak lagi berada di kawasan  periphery seperti saat ini.</p>
<p>Ekonomi Islam tampil sebagai sebuah kekuatan dan bahkan soko guru perekonomian nasional dalam mengawal bangsa ini mencapai mimpi-mimpi dan takdirnya. Dan mimpi-mimpi serta takdir itu ternyata bermula dari kalangan marginal, para aktivis da’wah yang berjibaku mengedukasi umat dan membiasakan diri bertransaksi yang halal serta mencukupkan harta nya agar kelebihan rezeki tidak menjebaknya pada sikap  ghaflah atau lalai, para dosen dan akademisi yang tawadhu, yang tidak menjadikan seberapa banyak karya yang ia buat sebagai patokan seberapa banyak ilmu nya, atau sama sekali bagi nya tidak terpikirkan seberapa banyak membantai mahasiswa saat sidang sebagai indikator kecerdasan dirinya mencari kesalahan-kesalahan dala karya mahasiswa, pada pelaku sektor riil, entrepreneur yang cerdas mengelola rezeki untuk bermanfaat bagi sesama dan menjadikan orang-orang sekitarnya mampu menjaga izzah dari meminta dan mengemis bahkan mampu membuka lapangan pekerjaan lebih banyak, agar manfaatnya tetap tumbuh dan kembali. Para pengambil kebijakan di tataran eksekutif dan legislatif, mengeluarkan regulasi bukan saja pertimbangan politis dan citra di depan media, tetapi juga membuka ruangan maslahah bagi publik Indonesia selebar-lebarnya, marginal yang menjadi mainstream, bukan akhirnya mainstream yang dimarginalkan, mungkin itu juga mimpi mereka, doa mereka di sebalik peluh keringat saat menata barang dagangan atau saat sedang dikejar satpol pp, bagi Allah, ada doa yang cepat diijabah satu doa orang yang berbuka dan salah satu nya lagi doa orang yang sedang dizalimi. Kalau memang benar doa mereka doa penuh kebaikan, tidak ada yang mustahil dan sejarah mencatat bahwa ekonomi negeri ini selamat dari dua krisis global 2011 dari tangan-tangan dan jiwa-jiwa yang dimarginalkan dari pengambilan keputusan negeri ini.</p>
<p>3 Dzulqaidah 1432 H</p>
<p>23 : 54 waktu Darmaga</p>
<p>While listening song of Haddad Alwi, The Way of Love</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/telagaalkautsar.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/telagaalkautsar.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/telagaalkautsar.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/telagaalkautsar.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/telagaalkautsar.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/telagaalkautsar.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/telagaalkautsar.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/telagaalkautsar.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/telagaalkautsar.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/telagaalkautsar.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/telagaalkautsar.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/telagaalkautsar.wordpress.com/756/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/telagaalkautsar.wordpress.com/756/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/telagaalkautsar.wordpress.com/756/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=telagaalkautsar.wordpress.com&amp;blog=2535335&amp;post=756&amp;subd=telagaalkautsar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://telagaalkautsar.wordpress.com/2011/10/02/marginal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5777ec8fd5dbdd24be163668e38c3a1a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elcordova</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://telagaalkautsar.files.wordpress.com/2011/10/071273475454_9321903_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">071273475454_9321903_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
