Otokritik Pendidikan ( Ekonomi ) Islam

Tinggalkan Komentar

Tradisi Ilmu Pendidikan juga bisa menjadi tidak manusiawi, jika pendidikan itu berat sebelah,langsung dan mendoktrin. Jika tidak mengajarkan seseorang untuk berfikir mandiri; jika ia hanya memberikan jawaban-jawaban yang siap pakai; jika ia hanya menyiapkan orang yang memenuhi fungsi-fungsi ketimbang memperluas cakrawala dan kebebasan mereka “

Alija Izzetbegovic, mantan Presiden Bosnia, 1985

Pada tahun 2007, Majalah Sharing, sebuah majalah yang mewartakan perkembangan ekonomi,keuangan dan bisnis syariah, menurunkan sebuah headline menarik mengenai tumbuhnya industry syariah yang menuntut perkembangan SDMnya. Sekitar 50 lebih Universitas di seluruh Indonesia baik swasta atau negeri membuka jurusan,konsentrasi, fakultas dan prodi ekonomi islam atau keuangan islam. Sejumlah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam terkemuka seolah menerima berkah dari pesatnya pertumbuhan industry keuangan syariah dan minat yang antusias dari masyarakat untuk mencari solusi sistem ekonomi terbaik saat kapitalisme dan sosialisme tidak lagi banyak berdaya menyelesaikan persoalan ekonomi yang ada saat ini. seperti halnya STEI Tazkia dan STEI SEBI, sejak tahun 2000 menjadi bagian terdepan dari assabiqunal awwalun pengembangan model pendidikan ekonomi islam yang menyerap SDM-SDM kompeten dan purely dididik dengan tools syariah sehingga kental setiap SDM yang menjadi output pendidikan ekonomi islam memiliki kefahaman yang terkombinasi antara konvensional dengan syariah.

Hal ini sebuah momen yang sangat penting. Mengingat selama ini perkembangan industry syariah di Indonesia menjadi sebuah realitas bahwasanya tidak diiringi dengan penyiapan SDM yang memang sudah sepantasnya mengelola perekonomian sesuai aturan syariah. Namun persoalannya ternyata tidak semudah membalikkan telapan tangan dan itu juga yang sejak disadari oleh sejumlah akademisi di Ikatan Ahli Ekonomi Islam bahwa hakikatnya SDM yang harus dipersiapkan oleh institusi pendidikan ekonomi islam bukan institusi yang sekedar pakai.

Di saat yang berbeda, pada tahun 2011 bulan maret lalu, di Banjarmasin dalam event tahunan Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam yaitu Temu Ilmiah Nasional kembali digaungkan sebuah wacana untuk melakukan revitalisasi pendidikan ekonomi islam dan mencoba mengkonstruksi kembali paradigma pendidikan ekonomi Islam baik dari segi epistemologinya atau dari segi ontologinya. Karena seakan menjadi bahasa umum bahwa Ilmu Ekonomi Islam saat ini identik dengan Lembaga Keuangan Islam padahal Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec dalam pelbagai kuliah umumnya menegaskan salah besar kalau kita mereduksi ekonomi islam sama dengan lembaga keuangan islam. Apalagi kalau mereduksi lembaga keuangan islam ekuivalen dengan keuangan Islam atau Islamic Finance. Ditambah kenyataan bahwa saat ini dari segi kurikulum pendidikan ekonomi Islam masih dalam tahap trial dan error dan sosialisasinya hanya melalui tools yang mewah dan tidak membumi bagi masyarakat umum. Seperti penyelenggaran seminar-seminar nasional hiingga diskusi panel dengan bahasa yang mungkin bagi kita terlihat ilmiah namun bagi orang banyak sangat aneh dan asing

Untuk itulah penulis akan memaparkan sejumlah otokritik penulis sebagai mahasiswa ekonomi islam di sebuah sekolah tinggi ekonomi islam akan sejumlah kejanggalan pendidikan ekonomi islam yang dalam prosesnya telah banyak memberikan banyak pelajaran berharga baik sebuah pelajaran yang bersifat kritik ataupun masukan konkrit sehingga diharapkan ke depannya dapat menyempurnakan bangunan ekonomi islam yang masih belum sempurna ini

 

Tujuan Pendidikan Ekonomi Islam

 

Tujuan Pendidikan Ekonomi Islam adalah apa yang dicita-citakan dan tertuang dalam Maqashid Syariah atau tujuan-tujuan syariah. Sebuah tujuan yang melingkupi terjaminnya keamanan dan keselamatan akal, terjamin dan keselamatan jiwa, terjaminnya keamanan dan keselamatan harta, terjaminnya keamanan dan keselamatan keturunan dan juga terjaminnya keselamatan dan keamanan akidah atau agama. Kerusakan sistem ekonomi kapitalis telah merongrong terjaminnya distribusi harta yang hanya dikuasai segelintir orang sementara milyaran orang di seluruh dunia mengemis-ngemis

Mau tidak mau, milyaran penduduk dunia yang sekian lamanya dizalimi oleh gaya berekonomi kapitalis dan jahiliyah mencari model alternative baru yang dapat dijadikan solusi. Dan hari ini semua orang baik praktisi dan akademisi keuangan kapitalis menengok ke Timur. Seolah seperti membenarkan seruan dan keyakinan Muhammad Iqbal, pujangga Negeri Pakistan, “resapilah kembali ajaran-ajaran mengenai keadilan,kebenaran dan keberanian, niscaya kau akan dipanggil kembali memimpin bangsa-bangsa di dunia. Ekonomi Islam diharapkan bagi banyak orang menjadi arah baru model gaya berekonomi yang sesuai fitrah hidup manusia bukan saja umat muslim tetapi umat manusia. Tidak terkecuali peran pendidikan ekonomi islam dalam menyiapkan SDM yang berkualitas yang tidak saja untuk pasar, dalam hal ini industry syariah, tetapi seorang SDM yang mempunyai komitmen dengan akidahnya sebagai seorang muslim. Karena ketika pribadi yan menjadi output pendidikan ekonomi islam mampu berdiri di atas dasar akidahnya, ia mempunyai sebuah filter untuk melakukan islamisasi ilmu ekonomi dari aspek perilaku yang selama ini dalam ilmu ekonomi konvensional bebas nilai.

Aslam Haneef (2005) memaparkan kegagalan yang dicapai oleh sejumlah islamizer, sebuah istilah mereka yang menerapkan islamisasi di dunia perbankan atau dunia ekonomi, yang bermula dari persoalan epistemologis dalam pendidikan. Epistemologi, menurut Aslam Haneef, jarang mendapatkan perhatian yang serius dari dari akademisi ekonomi islam kontemporer seolah-olah hanya sibuk memperlihatkan point-point yang bersifat praktikal dibandingkan dengan philosophical. Hanya memperlihatkan bahwa kebijakan politik untuk menerapkan seperangkan gagasan ekonomi islam dalam bentuk produk hukum seperti undang-undang lebih penting daripada rancang bangun kurikulum ekonomi islam. Lebih lanjut, Aslam Haneef mempersoalkan apa yang kita sebuat ekonomi Islam hari ini lebih ditekankan pada “area ekonomi substantif “ dalam hal ini, keuangan & perbankan, tanpa memberikan penekanan serupa pada masalah-masalah yang snagat fundamental seperti worldiew dan methodology. Dengan kata lain, dalam pandangan Aslam Haneef, Ekonomi Islam hanya mengubah bank konvensional dalam bentuk islami melalui pembersihan bunga dan ditambah aktivitas perbankan yang berbasis mudharabah ( Haneef,2005)

Selain itu dari segi sains, penilaian yang agak miring terhadap ekonomi islam juga datang dari Ziaudin Sardar dalam bukunya The Future of Islam: The Shape of Ideas to Come tahun 1988. Sardar (1988) memberikan kritiknya bahwa Ekonomi Islam yang disebut sebagai agenda pusat islamisasi ekonomi hanyalah model ekonomi tambal sulam. Dan argument mengambil yang baik membuang yang buruk dan mencari relevansinya dalam islam hanya menghasilkan karya tambal sulam yang buruk.

Ala kulli hal, jika kita lihat seksama kritik yang disampaikan sebagai sesame pejuang ekonomi islam secara lebih mendalam dan dewasa, sangat tampak sekali bahwa sebenarnya pekerjaam dalam rumah kita masih banyak. Bukan hanya soal kurikulum tetapi juga kualitas pengajar dan visi yang ingin ditempuh oleh sebuah institusi pendidikan ekonomi islam namun kerangka kerja yang menyambung isi misi dengan realitas yang ada ternyata masih menggunakan bahan-bahan ekonomi mainstream. Bukannya ingin menyalahkan  semua yang datang dari ekonomi barat tetapi kritik dari Aslam Haneef (2005) menjadi relevan dalam aspek syariah pada bahan-bahan pengajaran mata kuliah seperti halnya Akuntansi Syariah, hanya mencangkok dari model akuntansi kapitalis dengan ditambah sedikit ayat-ayat Al Qur’an dan memberikan justifikasi bahwa asumsi-asumsi dalam akuntansi kapitalis juga sesuai dengan akuntansi islam. Akibatnya produk pendidikan akuntansi islam hanya menyempit sekedar pada akuntansi lembaga keuangan syariah hanya disebabkan keterbatasan penerapan tanpa ada usaha untuk memberikan injeksi nilai-nilai syariah pada aspek seperti PSAK Kehutanan.

Selain itu pendidikan akuntansi islam dalam perjalanannnya masih sibuk memperdebatkan antara teori normative dengan teori positif, kalangan normative beragumen dengan menginjeksi nilai-nilai islam pada rancang bangun akuntansi kapitalist akan menghindarkan diri dari pengaruh sekular akuntansi kapitalist dan mendorong peneliti akuntansi untuk melihat lebih jauh secara murni methodology akuntansi kapitalist. Kalangan positivist mengklaim akuntansi tidak hanya sekedar nilai-nilai syariah yang dimasukkan dalam bangunan akuntansi kapitalis namun juga harus mendapatkan aplikasi yang nyata secara kuantitatif dan dapat teruji secara empiris. Kalangan normatif di Indonesia sangat banyak pada awal-awal pengembangan akuntansi islam namun pada perkembangannya kalangan normatif masih mendominasi hingga kini sehingga akuntansi islam hanyalah seperangkat nilai yang diterapkan dalam bangunan akuntansi modern bukan akuntansi syariah sebagai sebuah subdomain yang murni dari sistem ekonomi islam.

 

Hakikatnya perdebatan antara teori normative dan positivis ini hanya memberikan kontribusi yang dikotomis antara dua aspek yang harusnya terintegral dalam bangunan keilmuan. Ilmu dalam islam adalahj salah satu konsep yang penting dan begitu dominan dalam melahirkan bangunan peradaban Islam. Untuk menjawab realitas modern kita perlu memahami “senjata musuh “ yang dikembangkan dalam ilmu ekonomi barat dalam bentuk tools kuantitatif bahwa dengan “senjata musuh” pun Ekonomi Islam terbukti bisa diterapkan dan melihat dampak penerapan ajaran ekonomi islam yang normatif dalam bentuk mulai dari lembaga amil zakat hingga wakaf tunai. Dengan begitu juga tercipta dialog antara Barat dengan dunia Muslim. Namun di sisi lain jangan sampai model-model kuantitatif menjadi dewa dalam pengembangan pendidikan ekonomi islam, seolah-olah kita tengah menggunakan “senjata musuh” namun akhirnya terjebak kalau belum menggunakan kuantitatif maka belum ilmiah !.

 

Terlepas dari dua perdebatan diatas, apa yang diucapkan oleh  almarhum Alija Ali Izzetbegovic, seorang mantan presiden Bosnia Herzegovina, bahwa pendidikan apapun namanya bisa menjadi tidak manusiawi jika berat sebelah,mendoktrin, tidak mengajarkan murid atau mahasiswa untuk berfikir mandiri atau hanya memberikan jawaban-jawaban siap pakai dan hanya menjadikan seorang murid atau mahasiswa sebagai sekrup sebuah sistem ketimbang memperluas cakrawal, patut kita tafakuri kembali sebagai seorang muslim. Apakah pendidikan ekonomi islam yang selama ini berjalan memegang teguh idealism rekonstruksi islamisasi sains atau hanya sekedar menjadi pemasok kebutuhan industry ??itulah pertanyaan yang harus dijawab oleh para pendidik ekonomi islam dimanapun berada !!

Tulisan Presnas FoSSEI

Tinggalkan Komentar

Sesungguhnya dalam  tulisan ini setidaknya hanya sedikit yang punya waktu untuk membacanya, dan lebih sedikit lagi yang rela mendalami isinya. Oleh sebab itu, sampaikan isi tulisan semampu kita kepada rekan saudara kita pejuang ekonomi islam dimanapun kita berada, gaungkanlah visi FoSSEI dengan selayaknya, buatlah mereka mengartikan visi FoSSEI dengan sebenar-benarnya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Apa Kabar para pejuang ekonom Rabbani? Semoga Allah SWT menjaga kita dari setiap godaan hawa nafsu yang terus menggelayuti diri kita, nafsu sendiri merupakan godaan yang terdapat dalam tubuh kita sendiri, ia lebih berbahaya dari pada 60 setan ( al-Ghazali). Setiap masa menuntut perubahan, dan perubahan itu pasti terjadi ia merupakan keniscayaan, sesungguhnya yang tidak berubah itu hanya perubahan itu sendiri. Mari kita terus berhuznudzon pada pergerakan FoSSEI karena memang perubahan kita tergantung dari pemikiran kita sendiri, ia akan mengalami kemerosotan seandainya kita berfikir picik dan berpandangan sempit, begitu juga sebaliknya ia akan mengalami kegemilangan seandainya didalam rongga hati dan pikiran kita terbentuk pemikiran visioner, fundamental, dan religius.

 

Teringat kisah perjuangan yang berat ketika Rasulullah SAW menghadapi perang khandaq, bahkan ujian yang sekarang kita terima tidak bagaikan sepucuk daun dalam hutan belantara yang sangat luas. Karena memang begitulah takdir Allah SWT memberikan contoh kepada mereka yang mau berfikir, Allah SWT punya kuasa menunjukkan mukzizat pada saat itu dan memang Allah SWT telah tunjukkan namun Allah SWT punya skenario terbaik, dan seharusnya kita sebagai umat yang diutus kemudian dapat mengambil hikmah dari indahnya skenario ini untuk diterapkan dalam kehidupan kita, terutama dalam berorganisasi.

Lagi

Di Bawah Kaki Gunung Salak

Tinggalkan Komentar

Di bawah kaki gunung salak,

Bumi rukuk dan pinus bertasbih dalam sunyi

Sunyi memecahkan shubuh, shubuh memalu anak manusia

Bangkit dari lena dan bertafakur

 

Pinus dengan diamnya

Air terjun dengan dinamika orkestranya

Bebatuan dalam senyap tasbihnya

Bumi kami rukuk. Jiwa kami tertunduk syahdu

 

Duh Gusti,kiranya Paduka tidak memasukkan kami dalam golongan kufur

Melihat alam raya ciptaanmu namun mungkir daari tafakur

Abaikan jejak syukur akan hasil bumi yang makmur

Namun selalu bencana dan mushibah membuat terbentur

Dan bertanya “apa salah hamba “

 

Di Bawah Kaki Gunung Salak

Kami mengejar anak langit yang dijatuhkan ke bumi

Pesona berarti seluruh pribumi

Pesona berarti seluruh anak negeri

Tinggal lah kami bernalar “ Fabiayyi alaa i rabbikuma tukadziban “

Indonesia Hari Ini

Tinggalkan Komentar

Semua ini MilikMu, dan pasti kembali padaMu Ya Allah

Tabahkan hati kami menjalani semua, anugrahMu Ya Allah

(Team Nasyid Sohib, Semua MilikMu )

Ada banjir bandang di ujung timur Indonesia, belum rampung korban yang dievakuasi, gempa mengguncang Padang dan kepulauan mentawai. Belum lagi banyak pengungsi dapat memperoleh bantuan, Gunung Merapi yang konon menjadi sumbu kepulauan jawa dan salah satu spirit kebudayaan mistik jawa akhirnya memuntahkan laharnya. Memuntahkan debu nya hingga memutihkan Jogjakarta dan sekitarnya. Tak ketinggalan, klaten dan sekitarnya ikut menampung debu-debu dari gunung merapi itu. Sang abdi dalem Raja Jogja pun yang diamanahkan untuk mengontrol keadaan gunung merapi wafat  bersamaan dengan meletusnya gunung tersebut.

Maka dimulailah spekulasi-spekulasi yang jika ditimbang-timbang tak ada signifikansinya untuk perbaikan bangsa dan kejiwaan rakyat Indonesia. Dari mulai spekulasi munculnya asap berbentuk wayang petruk sebagaimana yang pernah saya baca di Koran harian di Jogja saat kereta yang sedang saya tumpangi  menuju Solo melintas di stasiun lempunyangan, Jogjakarta. Hingga spekulasi akan berakhirnya masa pemerintahan SBY-Boediono.

Saya ingin bertanya pada hati nurani pembaca melihat pelbagai fenomena di atas, apakah demikian dahsyatnya bencana-bencana yang merenggut nyawa ratusan nyawa manusia dengan waktu tempo yang hampir singkat, apa iya masih membuat kita ingin menangis seandainya yang menjadi korban dalam bencana tersebut adalah sanak saudara dan keluarga, atau bahkan sahabat, atau bisa jadi orang tua kita sendiri. Apa iya masih membuat kita ingin teriak sekencang-kencangnya, dan kemudian memohon ampun pada Yang Maha Agung boleh jadi ada dosa besar yang demikian akrab dan kolektif dilakukan oleh bangsa ini. Sehingga bukan tanpa alas an Yang Maha Agung menimpakan cabaran agar kita kembali menyebut NamaNya, ingat kita ini di dunia hanyalah amanah dan sarat perjanjian saat sebelum dilahirkan ke dunia dengan Yang Maha Pecipta: Allah SWT. Sehingga bukan tanpa alas an dan menjadi keputusanNya untuk membersihkan bangsa ini dari penyakit nya dan membuat pemimpin bangsa ini melupakan sejenak kisruh politik mereka dan turun ke bawah mengatur distribusi makanan serta sandang dan papan untuk para pengungsi yang masih enggan pulang ke rumah mereka masing-masing.

Kalau jawabannya iya, Bersyukurlah, bersyukur karena hati kita masih hidup. Otak kita masih terus berputar pada garis edarnya. Dan langkah kaki kita bisa jadi lebih banyak untuk tempat-tempat dan majelis keshalihan sehingga kita pun tergerak langkah kaki ini, seandainya tidak sedang sibuk atau dipenuhi amanah dari kantor, seandainya tidak sedang dipenuhi amanah ortu untuk kuliah, jiwa raga ini melepaskan begitu saja rasa kumednya untuk membantu sesama yang sedang tertimpa musibah.

Seorang Ulama Salaf yang pernah menulis kitab Madarijus Salikin, Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah pernah mengajarkan “Sesungguhnya di dalam hati ada debu-debu,yang tidak bisa dibersihkan kecuali dengan menyerahkan diri kepada Allah. Di dalam hati ada rasa asing, dan tidak bisa hilang kecuali dengan mendekat dalam khalwat bersama Allah, di dalam hati ada sedih, dan tidak lepas kecuali dengan bahagia mengenal Allah. Di dalam hati ada gelisah,dan tidak ada yang menenangkannya kecuali bersama Allah, lari dari takut kepada Allah menuju Allah juga, di dalam hati ada api yang membakar. Tidak bisa dipadamkan kecuali dengan redha atas ketetapanNya, redha atas perintah dan amaranNya, dan tetap sabar menjalaninya. “

Oleh karena itu jika anda yang hari ini turut berduka atas tiap musibah yang melanda bangsa ini, mereka yang saat ini sudah berbalut kafan di bumi wasior, mereka yang hari ini sedang dimakamkan di bumi mentawai dan mereka yang hari ini harus mengungsi atau sanak saudaranya telah menjadi korban akibat letusan gunung merapi, apa iya kita akan terus mengutuk pemerintah yang katanya tidak memberikan sinyal atau penanggulangan musibah sementara manusia tetap manusia, system keamanan yang dibangun sehebat apapun tak ada artinya jika Yang Maha Mempunyai Rencana telah memutuskan untuk kita semua hamba-hambaNya. Bukankah para gelar syuhada tidak serta merta hanya untuk mereka yang gugur di medan perang membela Agama Allah, tetapi juga untuk mereka yang tenggelam atau terhimpit dan dalam keadaan beribadah lalu musibah yang menyebabkan ia meregang nyawa,termasuk mereka yang kematiannya disaksikan (syuhadaa ) oleh Allah,RasulNya, dan para Malaikat.

Bukankah dengan musibah yang sedemikan dahsyat, akhirnya menunjukkan pada kita bahwa ukhuwwah antara sesama muslim itu dekat. Saat rakyat Ghaza ditimpa musibah berupa blokade kota ghaza dan invasi serdadu Zionis yang bertubi-tubi, kita rakyat Indonesia, dengan sukarela turun ke jalan dan menyerahkan apa yang kita punya. Dan pada hari-hari ini mereka, yang hidup atau hanya untuk bertahan hidup dari blokade dan puluhan ribu jiwa telah meregang nyawa disana, mengirimkan ribuan dollar dan paket bantuan makanan serta obatan-obatan untuk para korban bencana di mentawai, lereng gunung merapi, dan wasior. Betapa dekatnya dan ukhuwwah itu bung !!

Bukankah dengan musibah yang sedemikian parahnya akhirnya menunjukkan kekayaan kita yang tak pernah kita ketahui. Saat gunung merapi menyemburkan lahar dan lavanya, berapa ton bebatuan dan pasir yang bisa untuk diolah kembali menjadi bahan bangunan, kalau diolah menjadi bahan bangunan, berapa banyak industry yang kembali tumbuh, kalau industry yang bahan dasarnya atau bahan mentahnya dari bahan bangunan sudah tumbuh, berapa banyak lapangan pekerjaan yang kembali subur, kalau lapangan pekerjaan kembali subur sejauh mana daya beli masyarakat akan kembali naik. Maka kalau daya beli masyarakat kembali membaik, berapa banyak industry lainnya yang kembali bangkit dengan bergairah mengejar pertumbuhan ekonomi dan pemerataannya. Kalau industry pangan,papan dan sandang yang menjadi kebutuhan masyarakat sudah membaik, berapa prosentase sumbangan terhadap growth domestic product akan tumbuh ??. kita sedemikian kaya dan mempunyai kekayaan yang tak pernah coba kita fahami sebagai sebuah bentuk syukur atau sebagai sebuah bentuk tafakur.

Bahwa di saat yang sama, kita, bangsa Indonesia, negeri berpopulasi muslim terbesar di dunia menjadi pangsa pasar yang demikian menggairahkan bagi para produsen asing yang jika dibandingkan dengan negeri tetangga kita hanya sebesar populasi jawa barat. Lalu apanya yang menarik dibandingkan dengan kita bangsa Indonesia ?? kita, dengan musibah ini kembali diuji mengasah kepekaan mata batin untuk bisa bersikap secara arif. Dan tidak lagi mengatakan “dengan system apapun akan gagal !! “ karena bukan begini Allah SWT mengajarkan,

janganlah engkau berputus asa, karena tidaklah berputus asa melainkan orang-orang kafir. “ . lihat, Allah SWT mengidentikkan sifat putus asa dengan dengan orang-orang kafir. Demikian Ia Yang Maha Agung menjelaskannya

Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. “(Al Ankabut :23 )

Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu tempat azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa. “( Al Mu’minun : 77 )

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. “( Huud :9 )

“orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al Maidah : 3 )

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.  ( Surah Al Mumtahanah : 13 )

kekayaan-kekayaan itulah yang selama ini tersimpan dalam kejiwaan bangsa ini. Bangsa yang mampu tumbuh dengan demikian pengalaman melewati tahun-tahun pedih. Melewati masa-asa berat untuk tumbuh bersama melakukan rekonsiliasi sejarah dan menghapus bagian-bagian sejarah yang sebenarnya tak mampu dimaafkan dan mustahil hilang begitu saja dari memori kolektif bangsa ini. Ada memori kelam pembantaian di Bali tahun1965, ada memori buruk jauh sebelum peristiwa mengerikan itu,meledaknya gunung Krakatau, atau belum di masa-masa colonial dan jepang, para jugun lanfu yang tersia-siakan, para mantan romusha yang dipinggirkan di hari tuanya. Di masa orde baru, ada piagam Jakarta,amir biki, komji, yang kesemuanya rahasia umum terorisme yang legal atas nama negara. Atau serentetan musibah lain,tsunami di Aceh, semua orang di seluru dunia mendongkakkan kepala mereka pada asia tenggara, semua orang seperti yang digambarkan Soe Hok Gie, “para politisi di PBB sibuk mengatur bantuan dan pangan untuk negara dunia ketiga “. Kemudian gempa jogja, Majalah Tempo mendokumentasikan  untuk covernya salah satu pojok korban gempa itu dengan bingkai yang unik dan khas “ Ampun Gusti !! “. Belum saat gempa di Padang, Speechless !!.

 

Tetapi apa kita tidak melihat, bangsa ini masih mampu menjalinkan kembali mozaik-mozaiknya walau berulang kali berantakan dan saat disusun ulang, harus kembali koyak. Dan sekarang sedang rindunya mozaik-mozaik itu tersusun kembali dengan rapi. Rekonsiliasi dan integrasi bukan atas nama politik. Dan bukan atas nama musuh politik. Tetapi rekonsiliasi bersama sebagai satu bangsa di atas petaka musibah yang bukan kita mau untuk datang dan mengoyak kembali kepingan-kepingan mozaik itu Bung !!!

Sentul

Desa Cadas Ngampar

3 November 2010/ 26 Hapit 1431 H

 

Public Accountan Law Act ; What For ??

Tinggalkan Komentar

The Public Accountant Law Act : What For ??

Nearly 2010 now, Indonesian accounting world will facing one phase that regulate and state playing a rule in market and economic mapping. They will create a regulate strictly to make it sure market facing 2012 playing safely and all asset in safe condition. They see, too much problem in accounting cause it’s accountant and it’s client. Their client have financial report but they need accountant here tinker with their capability profitable looking in long run of course. Sarbanes Oxley are not enough, for them, added by government with Financial Service Authority Law Act so much make government and parlementary can’t sleep comfortly.

For establishing financial service authority Law Act,   they think compared studied needed here almost. They need to see and learn how korea,japan, and Europe running the rule of market safely. Although they know part of them are failed and can’t help financial shape from the falling down of market and systematically giving domino effect to all economic corners life. No ! said Government, we should doing preventing policies to stop all these turbulence time. Including in accounting world.

In Accounting world, too much case appeared from these collar crime. In beside calculator and financial annual report. Beside management and accountant desk. Public don’t know certainly except interpreted by media, from earning management and collapsed after audited and company got qualified opinion but it’s evidence occurred in law desk. Front of courthouse or after audited more by external auditor. Some Arthur Anderson’s client are victim for this example. Even Arthur Anderson involve in destroying important document which needed by law to disappeared a evidence. The last time for Anderson’s life when he involve playing financial report Enron Company near to millennium age. So one of big five public accountant has lost. Thousand their accountant has lost their job and USA governiment establish Sarbanes Oxley Act.

In Indonesia, we see Public Accountant Law Act inspired by USA and some ex strongest countries in the world how to safe their economic stability. One of them are to prevent and make it sure, all will be ok while world playing it’s new economic mapping. Who will be survive from great recession and so much anxiety and uncertainly after great recession. China, India and Indonesia mention by most people are succed survive from great recession even china has adopt International Financial Report Standart bravely and far on front that their opposite, USA and followed by Europe Countries toward a stability and secure financial world shape.

Public Accountant Law Act concepted by financial ministry headed by Agus Martowardojo as law base for public accountat profession. He think, public accountant must and obligated to submit to higher authority in financial scope mainly here to Financial Ministry. Although before this idea appeared public accountant has affiliated to associate profession like Indonesian Accountant Holding or IASPI The Institute PublIc Accountant. It’s planning also not involved these stakeholder like usually in public hearing. Some section asserted by these stakeholder are have a lot problem and ambiguity or the uncertainty appeared in of section.

In this law act,stated that public accountant obligated paid Rp 200.000.000 in found crime evidence or misstatement occurred and cause company audited by public accountant collapsed. According to IASPI, this section looking unfairly, they stated that reminding again public accountant don’t have authority by state  to giving a service to certainty client. So punishment to public accountant asserted by IASPI are not correct

Some their argue stated, opinion gived by public accountant not absolutely correct  but only giving opinion properly as ethic code agreed by associate profession. Government see public accountant product such as giving opinion absolutely right and wrong.

In one of section of that law act, also talk about foreign public accountat can do and giving an same service as local public accountant whether it’s right or ‘it’s obligation. As we know, this is a part of AFCTA above all WTO and FTA Agreement initiated by market fundamentalist economic thinker and G 20. If we would calculate punctiliously what a benefit and loss when they can giving a service as local public accountant other too much state important secret in warning it’s safe and it’s secure. Too much public accountat personel go away slowly from their profession as public accountant. Especially in Indonesia according IASPI only provide 920 people personell public accountant. Most of them are living in Jadebotabek scope and most of them above 64 % has old age only 11 % among of them less from 40 years. When this section still exist we don’t know whether in big colleges or campus or economic faculty Accounting Departement still opened or not. Student will observe horrified. His future on Financial Ministry  and monitored by government tightly.

However, explaining public accountant  law act wisely should involving  it’s stakeholder.  involving their playing to shape together a better financial stability world. Government as regulator can’t play only with his self see to opposite and hearing their voice including my recommendation if government have a good intention especially against corruption in financial state entity. KPK are not hero they are only  little group fulfilled by concern people to against corruption diseases effectively and concretely in Indonesia without any compromise to corpulent mafia. Only Allah Knows  Everythings …

Sekali Lagi Soal Palestina

Tinggalkan Komentar

filisthine

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari-hari ketika kemanusiaan dirobek. Harga diri sudah dicampakkan. Dan peluru sebagi bahasa dunia yang wajib dikuasai. Jadilah hukum rimba di era jahiliyah kontemporer, siapa yang memiliki senjata nuklir merasa berhak untuk menentukan kemana paying keadilan bergerak. Siapa yang memiliki banyak modal merasa wajib untuk mempertimbangkan kemana barisan umat manusia harus berkiblat. Sepanjang sejarah, selalu ada dagelan yang mempertontonkan bagaimana kebodohan dan ketamakan bisa menjadi lagu kebangsaan ummat manusia sedunia.

Demokrasi, Hak Asasi Manusia,Humanisme, dan pluralism atau serangkaian lagu kebangsaan lainnya. Muslim pun dipaksa untuk mengimaninya dan secara ekstrim segelintir orang dibiayai dengan cangkokan dalil sangat dipaksakan. Tapi lain cerita kalau para tuan-tuan pemberi bea siswa untuk kuliah iman terhadap demokrasi dan hak azazi manusia merobeknya demi kepentingan negeri yang sangat tidal kayak disebut negara.

Begitulah yang terjadi di bumi para anbiya, Palestina. Isolasi dan blokade di Ghaza dan sekarang serangkaian pembangunan tembol tebal, pembangunan pemumiman yahudi illegal atau public belum lupa perampokan dan pembajakan armada Mavi Marmara di lautan Ghaza yang diklaim oleh menteri pertahanan Israel sebagai aksi “mempertahankan diri”. Armada kemanusiaan yang menyalurkan bantuan pangan begitu “elegan’nya di bajak oleh pembajak laut tengah: Zionis Israel ! “

Sekarang seluruh dunia berteriak mengecam kekejian Israel tersebut. Entah apa yang akan terlintas di fikiran saya kalau masih yang berani berkomentar “itu khan salah orang palestina sendiri dan negara-negara arab” pada Invasi ke Ghaza di awal januari 2009, orang-orang seperti melupakan hukum aksi reaksi dan siapa yang sesungguhnya sedang di eksploitasi dan dirampas tanah kelahirannya dari tahun ke tahun. Sehingga sangat berhak untuk menyerang dari mana saja dan kapan pun selama statusnya masih sebagai penjajah. Maka sekarang, selepas penyerbuan ke armada kemanusiaan Mavi Marmara  dan Freedom Flotilla, publik seolah merasa persoalan palestina sudah mulai berangsur pulih hanya dengan dibukanya gerbang rafah untuk penduduk ghaza. Padahal di bulan Ramadhan lalu Zionis Israel tetap kembali melakukan penyerangan roket ke wilayah Ghaza beberapa kali dan konflik antara pejuang Palestina dengan serdadu Zionis masih tetap berlangsung. Pejuang Palestin dengan persenjataan seadanya dan di tengah terik mentari Ramadhan menuai pahala syuhada jika pun syahid dalam konflik tersebut.

Ditambah komentar lain yang sangat sering muncul di kalangan indunisiyun, “mengapa negara-negara arab tak peduli persoalan palestina yang tak jauh dari mereka ?? “ terlepas dari analisis spekulatif permainan politik timur tengah, ada yang lebih penting ketika kita melihat masalah ini dari pada sekedar menunjuk-nunjuk kelsahan yang tak mau membantu negara tetangganya. Hal yang bisa saja menimpa bangsa Indonesia kalau-kalau diserang oleh Amerika Serikat dan terkena Embargo ekonomi lalu Malaysia dan negara –negara Asia Tenggara tak mau membantunya. Kalangan seperti ini seolah sudah meninggalkan kaidah syariah memandang masalah prioritas. Dalam Jihad, ada yang bersifat hukumnya Fardhu Ain dan Fardhu Kifayah. Misalnya Imam Al Ghazali pernah mengkritisi sikap kaun muslim yang lebih mengutamakan ilmu-ilmu agama dibandingkan dengan yang berkaitan langsung dengan perkara dunia. Apakah pantas, Tanya Imam Ghazali, muslim bertanya untuk memenuhi kewajiban dirinya dalam hal puasa di bulan Ramadhan  harus juga bertanya pada dokter  Yahudi dan Kristen ??. ini bukan masalah halal dan haram tetapi kepantasan seorang muslim yang mempunyai urusan dengan agamanya sendiri.sehingga semua orang saling melengkapi hingga kadar kifayah itu tercukupi.

Begitu juga dengan persoalan Palestina yang saat ini memang pantas di jadikan persoalan bersama kemanusiaan. Maka, persoalan Palestina dirangkaikan dengan sikap negara-negara arab tidak lagi relevan dan pas. Siapa yang berani konsisten dengan doktrin Humanisme dalam peradaban barat dan ensiklopedi Zionisme ??. dialog menjadi tak berharga dan kemanusiaan itu sendiri telah dikoyak Israel melalui pelbagai fragmen yahudisasi dan genosida mulai tragedy Dier Yasin.Tragedi Ibrahim Al Khalil, Tragedy Shabra Shatilla, Tragedy Naqba, Tragedi invasi Ghaza dan terakhir pembajakan Armada kemanusiaan freedom Flotilla.

Negara berkembang, ketika angkat bicara dan mulai mengkritisi persoalan palestina, dipaksa  membuka hubungan dialog dengan negari Zionis tetapi yang duduk sebagai dewan keamanan PBB pun tidak bisa berbuat apapun untuk menghentikan agresinya atas tanah Palestina. Persoalan Palestina memang bukan persoalan umat muslim semata , tetapi sungguh keterlaluan juga ada anggota DPR dari fraksi Partai Demokrat yang menyatakan bahwa Palestina bukan persoalan agama. Jadinya hanya semata persoalan politik praktis antara Hammas dengan Fatah atau perebutan lahan.  Mungkin anggota DPR benar-benar tidak tahu sama sekali tentang salah satu plan besar Israel menggusur Masjid Al Aqsha dan menggantinya dengan Haikal Sulaiman. Sejak tahun 2007, fondasi bangunan Masjid Al Aqsha sudah lama digerogoti dengan klaim mencari puing peninggalan purba yang tersisa. Masjid Al Aqsha, yang Allah sebutkan “ Alladzi Baraakna Haulahu Li nuriyahu bi ayatinaa”. Belum ditambah dengan catatan kelam pembakaran Mimbar Shalahuddin Al Ayyubi oleh seorang fundamentalis yahudi, Danis Rohan tanggal 21 agustus 1969. Including kalangan kristian pun mempunyai banyak kenangan bersejarah di beitlehem hingga sebuah majalah protestan “Reformata” pernah menurunkan headline “Apakah  Israel Masih Perlu Kita Anggap Anak Tuhan ? “ pada saat terjadinya serangan ke Ghaza.

Kalangan media pun serempak menjadikan Zionis Israel sebagai common Enemy seluruh umat manusia. Koran Tempo yang ownernya sekularis sejati  menurunkan headline “Amerika Mendua “ dan sebuah kolom berita mengenai babak belurnya serdadu team elit Israel di geladak kapal Mavi Marmara. Republika dengan tegas menurunkan headline “Brutal !!” disertai dengan gambaran ilustrasi penyerbuan Zionis ke kapal Mavi Marmara tetapi terkecuali dengan majalah Time dan media CNN. Yang benar-benar dibuat bungkam semilyar bahasa tak berkutik entah opini mana lagi yang bisa dibalikkan tengan konflik Israel –Palestina. Benar-benar merupakan batu ujian bagi media. Apakah tetap sesuai dengan cara konvensional seperti kredo if it bleads it leads serta sesuai dengan porsi kepemilikan saham media. Atau kembali pada jurnalisme nurani. Ujian bagi media sekelas Time dan Newsweek, di pihak mana mereka berdiri. Walaupn secara normative, media berada di pihak netral namun secara empiris independen murni adakah utopia dan bahkan tidak pernah ada . selain keberpihakan pada kebenaran yang boleh jadi terdapat di salah satu pihak.   Peristiwa kebiadaban Israel membunuh 11 orang relawan pada tragedy Mavi Marmara dan menawan sisanya di penjara Israel juga menjadi ujian bagi media sekelas Time, Fox, CNN,Reuters, meninjau ulang kaidah objektivitas media melihat masalah. Secara konvensional, media dan jurnalis baru dapat dikatakan objektif jika sumber yang dijadikan referensi berita berasal luar pelaku peristiwa atau menyajikan apa adanya sesuai fakta. Namun persoalannya adalah fakta tidak pernah bebas nilai apalagi individunya. Maka slogan di Barat tentang objektivisme ini menjadi bias dan ambigu. Siapa yang lebih didahulukan keberpihakan pada nilai atau jurnalis ??

Maka benar apa yang dinyanyikan oleh mantan Rapper, Thufail Al Ghifari, “Tiada Perang Seteror Perang Terhadap Zionisme “ !!”

Tsiqah Kepada Allah

Tinggalkan Komentar

Ketika kau memilih putus di hadapan tebing terjal.  Kau berkali-kali untuk mendakinya sementara di atas sana sejumlah kawanmu tengah menikmati pemandangan yang menakjubkan dari atas tebing. Kau bukan tanpa usaha. Kau bukan juga tak pernah berdoa dan bekerja keras. Bahkan kau mengeluarkan keringat lebih banyak dari mereka dan malas tak pernah ada dalam kamus hidupmu. Hidupmu selalu memancarkan wajah cerah.menyambut  tersingsingnya sang Fajar.

Di awl-awal perjalanan kau mengatakanpada rekan seperjuanganmu.rekan seperjalananmu.bahwa kita akan gugur dan bangkit bersama dan seandainya ada bahaya di depan,kau mengikhlaskas semua dari tubuhmu menjadi bagian korban bila harus jatuh korban. Kau tak pernah  menghitung-hitung berapa yang kau akan dapat dan berapa yang telah kau tanam. Semoga saja iblis tidak membisikkan ke telingamu bahwa kau sudah termasuk orang yang ikhlas. Bahwa kau sydah termasuk dari kalangan mukhlis  yang mukhlas. Atau seperangkan pujian maut lainnya yang bisa jadi hanya sedetik niat dan perjalananmu berubah total. Banting setir. Putar haluan. Dan sebagainya.

Tetapi kali ini kau mengalaminya sangat berbeda. Tidak jarang kau mengeluh kenapa hanya aku yang menjadi bagian kesusahan dan yang paling sulit dalam mendaki tebing terjal itu. Ditambah kau melihat ke atas tak sebarang pun yang dilemparkan oleh kawanmu yang sudah dengan merdekanyh merekaa melemparkan bantuan k e bawah tempat kau dengan bersusah payah mencari batuan pijakan. Peralatanmu yang seadanya dan  standar tetapi dengan kemauan yang kuat, kau begitu yakin akan segera sampai karena kau telah melakukan banyak latihan keras. Dibandingkan dengan temanmu yang mempunyai perlenhkapan ter up date dan lengkap namun dengan latihan yang hanya sehari menjelang pendakian dan kemauan yang hanya rata-rata.  Saat itulah kau mulai bertanya dan protes. Protes kepada Gusti Allah, seolah-olah Ia tengah menzalimi hamba-hambaNya dan berat sebelah  dalam menimbang amal-amal hambanya.  Bagaimana mungkin Ia lupa pada janji-janjiNya yang telah tertuang paxda Qur’an yang agung dan sabda Kanjeng Nabi SAW yang tak setetes pun dari mulutnya mengandung kedustaan. Inilah ujiannya. Kau mengharap pahala di akhirat atau hanya ingin yang segera dicepatkan di dunia. Apakah selama ini ibadahmu belum lagi mengenalNya.kalau kau memang belum mengenalNya, sangat bisa jadi kau belum mengenal dirimu.

Menghadapi masa-masa terjal itu , kau memilih untuk mundur sejenak.  Kembali ke kemah dan membersihkan debu serta luka yang menempel di pakaianmu. Melihat kembali semua peralatan yang kau gunakan. Dan untuk mencairkan suasana kau memilih untuk merebus sebungkus mie rebus yang kau bawa sebagai bekal. Dan mulai menatap tajam ke tebing terjal yang jaraknya tidak jauh dari rumahmu. Kau lihat disana, seketika rasa nyeri mulai datang dan membiarkanmu mengatakan “seandainya aku mempunyai perlengkapan secanggih mereka” atau malah lebih parah “seandainya Allah berlaku adil terhadapku. “ namun untungnya kau beristighfar. Istighfar pertama kali sepanjang hidupmu, saat ibadah yang lain menjadi roda rutinitas. Menjadi gerak tanpa nyawa dan baru kali ini kau benar-benar beristighfar

Astaghfirullahaladzhim…. Astaghfirullahaladzim …Duh Gusti, Gusti Nu Pinuh Kawasa, mugi dihapunten dosa abdi, sareng ka Gusti abdi, ibadah mung ka Gusti Abdi neda pitulung….” Ucapmu lirih dan benar-benar pasrah sejadi-jadinya atas apa yang baru kau alami. Kau tertunduk pasrah dan sekali lagi membenarkan bingkai ketaqwaan yang mulai pudar ditelan prasangka yang tidak-tidak pada kemampuanmu sendiri dan kepada Allah Rabbul Izzati. Setelah itu kau keluar kemah dan meneropong apa yang sedang dilakukan rekan-rekanmu di atas sana. Di awal kau berfikir, di atas sana rekan-rekanmu sedang merayakan keberhasilan mereka dan menyalakan api unggun. Aah ternyata tidak. Kau melihat di atas sana mereka sedang menyiapkan sesuatu. Seperangkat perlengkapan yang siap dijulurkan ke bawah tebing. Salah seorang dari mereka mengkaitkannnya dan mengikat dengan kuat pada salah satu pohon jati yang akarnya sudah menancap dalam. Seketika kau menatap  langit, dan perut awan seolah seolah sudah siap memuntahkan berbarel-barel air.

Saat itu kau bangkit dan mengemasi perlengkapan serta menggulung kemahmu dengan rapi. Dan mulai berjalan menuju tebing yang terjal lagi sombong melalui semak-semak belukar yang belum pernah kau jumpai. Rupanya kau mengambil jalan lain untuk menuju ke sana  dan langkahmu agak dipercepat, berlomba dengan bayangan gelap di atas langit. Di depan. Ya di depan  tebing yang terjal itu. Kau merunduk dan bersimpuh.  Dua tangan mu perlahan-lahan terangkat seperti hendak berdoa  dan dimulailah zikir kecil yang mengiringi munajat sederhahan di depan tebing tersebut.

Kali itu, kau berdoa diiringi sejjuta penyesalan yang tidak lagi terhitung.  Penyesalan karena kau telah berprasangka buruk pada takdirNya. Penyesalan yang tidak terhitung dengan pengabaian akan hak-hak ukhuwwah teman-temanmu yang lebih dahulu sampai di atas sana. Penyesalan yang berujung pada pada ketakutan akan diterkam hewan buas di tengah hutan belantara tanpa cahaya.sementara langit mulai gelap dan dimulailah munajatmu dirangkaikan dengan sejumlah kesalahan paling besar dalam hidupmu. Kau berkali-kali katakan pada dirimu sendirimu “peralatanmu sederhana tetapi azammu tidak sesederhana peralatanmu !! “ kau ingat dan membuka kembali ingatanmu beberapa tahun silam saat mendaki gunung salak, gunung semeru,dan gunung Memberamo.

Kau juga berangkat bersama teman-temanmu da terkadang sendiri tapi hasilnya dengan seperti ini. Saat kau akhiri pergulatan kecil itu semua, kau tarik uluran tali dari aas dan mengambil alat tajam  untuk mendaki tebing. Dan melangkah vertical  seraya mengikatkan kembali tali safetymu kemudian setahap demi setahap kau mengulangi kembali pendakian yang kau sudah tekadkan kuat di dadamu. Kau sudah tak lagi berfikir apa yang kau akan terima sesudah pendakian ini. Pujiankah atau sindiran dari kawan-kawnmu yang sudah di atas. Kau sudah tak lagi berfikir mau kemana setelah ini. Bisa jadi kali ini adalah penghabisan atau pahala terakhir yang sempat kau tunaikanm kewajibannya di dunia sebelum dirimu menghadap Yang Maha Suci. Perhatianmu saat itu hanya satu, menaklukan “alam”. Alam duniamu dan alam jiwamu. Setelah iotu kau baru mulai menyadari menaklukan alam jiwa jauh lebih rumit urusannya dengan menaklukan alam daripada menaklukan yang ada di sekelilingmu !!.

Hanya saat-saat menegangkan dalam sejarah hidupmu, kau mulai lagi terkenang dengan wajah teduh ayahmu yang telah meninggalkanmu ketika kau masih kelas 2 SMP. Ataukah kau mungkin terhanyutkan dengan melodi sunyi di rumahmu yang asri saat sedang bercengkrama dengan ibunda yang selalu menyayangimu sepenuh hati. Sarat welas asih. Penuh dengan kasih sayang. Ketika itulah di masa yang sangat menegangkan dalam sejarah hidupmu bergelora menjadi jutaan badai yang siap menghempas dan menyingkirkan apapun yang menjadi penghalangnya. Betapa di tengah hutan belantara yang selalu siaga dengan ancaman binatang buas, masih menikmati semangkuk mie, adalah hal yang sangat berharga. Saat tak ada lagi yang membuatmu mampu bertahan sejauh itu, ternyata kau masih mempunyai satu senjata yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain : Tsiqah Kepada Allah !!!

Karena Allah mempunyai banyak cara dalam mendistribusikan rezekinya. Karena Allah mempunyai banyak tentara dalam memperjuangkan kelangsungan langit dan bumi. Jika Ia telah berkehendak :Kun Fa Yakun. Kau telah memilih jalan hidupmu yang saat ini sedang kau hadapi dan biarkan Allah SWT yang mengatur seperti apa jalan hidupmu dan memberikan skenarioNya disamping kau mendekat padaNya agar Ia selalu terlibat dalam usahamu. Seorang ulama dari Saudi, Dr Abdullah Aidh Al Qarny pernah mengatakan “yang merangkak pastilah sampai”

Kau suatu ketika boleh merasa lelah. Kau suatu waktu merasa jenuh dan bosan dan sedih dengan sedikitnya yang mau berjuang bersamamu. Kau boleh berpikir cabaran yang kau hadapi saat ini maha berat. Tetapi kau tidak boleh kalah dari berprasangka  baik itu pada ketetapanNya ataukah kapasitas dirimu. Dan saat yang sama, kau pun tidak boleh merasa surga sudah ada di tanganmu. Karena jika dibandingkan keikhlasan yang kau persembahkan, surga tidak ada apa-apanya dan lagi pula ityu bukan wilayahmu. Wilayah iradah Allah SWT  Yang Maha Menentukan. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang syuhada kebangkitan Islam, Sayyid Quthb, “Saudaraku, kau jangab jenuh berjuang, engkau lemparkan senjata dari kedua pundakmu, siapakah yang akan mengobati luka-luka para korban dan meninggikan kembali panji-panji Jihad ?? “

Desa Cadasngampar

Sentul

Peradaban Di Penghujung Tanduk

Tinggalkan Komentar

Catatan ini lahir ditengah lebatnya hujan dan derasnya musim ujian dan putaran nasyid itambah secangkir gelas di sebuah rumah kost di Bogor. Catatan yang lahir di saat yang sama menatap adanya masa transisi kepmimpinan global dalam segala hal yang akan mulai berubah pasca krisis ekonomi global tahun 2007-2008. Transisi model baru ekonomi politik dunia yang bergerak dari nation state ke region state. Konflik-konflik yang mengancam disintegrasi kebangsaan seolah semakin menguatkan premisnya Kenichi Ohmae,seorang futurolog keturunan jepang dan bermazhab Keynesian, mengenai gambaran dunia di masa depan . di saat yang sama aku membuka-buka kembali bukunya Kieso, Weygandt, “Intermediate Accounting “ dan membaca secara mendalam filosofi serta budaya American Culture Accounting yang dari mulai tahun 90an hingga sebelum terjadinya subprime mortage sampai detik inji sebagai textbook mata kuliah akuntansi keuangan I dan seolah merepresentasikan kebudayaan dan peradaban Barat dalam akuntansi.

Maka, seusai terjadinya resesi yang hingga kini masih berefek pada perekonomian Amerika Serikat, dunia seperti tengah kehilangan satu pos kepemimpinan global dan bandul zaman telah bergerak ke Timur. Saat China dan India tengah menyiapkan dirinya dipanggil untuk Dari tadinya hanya Negara agraris dan berkembang menjadi Negara yang pertumbuhan ekonomi dan laju industry nya bergerak dinamis. China, yang banyak disebut para analisator keuangan sebagai kekuatan baru dan telah siap menggantikan kepemimpinan politik dan ekonomi global dunia yang sudah gagal di tangan Amerika Serikat. Sebelum nya banyak yang percaya uni eropa mempunyai kesempatan untuk mulai menggusur kedigdayaan dollar amerika serikat dengan euro. Tetapi setelah melihat gemparnya krisis keuangan yang melanda Yunani yang berpotensi menenggelamkan perekonomian eropa, maka saat ini, China sedang face to face dengan ekonomi Amerika Serikat yang sudah tergopoh-gopoh dan tersengal-sengal namun masih bisa menyeringai arogan.

Lagi

Pesta Paradoksal Ramadhan

Tinggalkan Komentar

Ramadhan 1431 yang baru saja berlewat dari kita belum seminggu, adalah serangkaian ironi dan pesta paradoksal yang selalu berulang. Serangkaian ironi di antara peta keshalihan dan jejak buram hedonisme berganti baju. Pesta paradoksal , keberkahannya masih dinikmati segelintir penduduk Indonesia berkantong tebal, berotak bebal dan perlindungan hokum yang kebal. Tetapi kita ternyata amat membutuhkan Ramadhan. Adakah di bulan lain kita menyaksikan tekanan inflasi yang demikian hebat yang mengindikasikan bergairahnya pertumbuhan ekonomi bangsa ini selain Ramadhan.Adakah kita saksikan apa yang dijanjikan oleh Kanjeng Rasulullah bahwa di bulan Ramadhan tidak saja magfirah dan rahmat yang obral habis-habisan, juga rezeki bagi tiap manusia, Ramadhanlah titik panasnya. Bagaimana tidak dari mulai para pesolek di atas panggung hingga para pedagang handhphone dan laptop di  glodok dan mangga dua menuai meningkatnya angka penjualan dan banjir demand dari mereka yang kebagian THR di akhir ramadhan di Idul Fitri.

Inilah Ramadhan tempat pahala harus bertarung dengan rayuan-rayuan hawa nafsu melakukan perilaku binatang yang “berani” kalau dilakukan di bulan Ramadhan. Pahala sunnah setingkat amalan fardhu, kata Kanjeng Rasulullah apalagi yang fardhu? “Adh’afan Katsiran “ kata Allah SWT itulah mengapa guru ngaji saya pernah mengatakan “ yang namanya amalan sunnah, anda bila melakukannnya mendapat pahala kalau anda meninggalkannya sia-sia atawa rugi. Begitu juga dengan makruh,kata beliau yang alumnus Madinah dan IIUM, anda bila meninggalkannya berpahala melakukannnya sia-sia, rugi, alamat bangkrut. Dan apa nyang dikatakan beliau memang terbukti di bulan ramadhan. Dalam kacamata Iman, keredhaan Allah SWT , fanuyasiruhu lil yusra, membuat jalan atau usaha apapun yang kita tempuh selama di dunia menjadi mudah. Sebaliknya kalau Allah gak redho, fanuyasiruhu lil usra. Apapun yang kita lalukan selalu sempit dan selalu mendapat masalah yang tak pernah henti.

Dan itulah Ramadhan, saat kita kembali kealam bawah sadar dan menghentak akan ingatan abadi manusia akan sebuah perjanjian dan kesaksian yang pernah dilakukannya dengan Tuhannya sebelum lahir ke dunia. Maka, aneh dan konyol kalau ada yang mengklaim dengan penuh bangganya, bisa bebas dari aturan Tuhan. Sepeerti dalam kamus peradaban Barat, seonggok paham pernah mengaliri peradaban manusia meluncur ke derajat yang paling rendah sejak seorang filosof Jerman telah membunuh “tuhan”. Jika bagi seorang manusia sadar dimana nilai nalurinya, bahwa aka nada selalu rasa bergantung pemecahan masalah hanya melalui sadar spiritual. Maka sama saja sang filosof jerman ini tengah melakukan bunuh diri spiritual, Spritual Suicide.

Itu jua ramadhan. Saat-saat seolah pulang mudik merasa jauh lebih penting daripada I’tikaf memburu keanggunan jiwa di malam-malam kita akan meneteskan air mata berpisah dengan ramadhan. Saat-saat boleh jadi kita sedang bersiap kembali ke :”habitat asal” dengan masing-masing perilaku jahiliyahnya. Tidak ada bedanya menjadi “binatang” di bulan puasa dengan selain bulan puasa.maka tak heran kalau ada seorang artis seolah sedang menjadi “pahlawan” bagi mereka yang harus menahan perilaku amoralnya karena berpapasan dengan Ramadhan. Saat-saat boleh jadi belum lagi menjadikan para mustahik menjadi muzzaki , dalam sehari lebih dari 10 Milliar Rupiah mengalir dari industry haram dan transaksi yang gharar. Maka dalam sebulan saat Idul Fitri tiba lebih dari 300 Milliar telah dituai dari industry bermodal kebinatangan dan transaksi-transaksi dari mulai hot money yang banyak merebak dalam bentuk uang palsu hingga sisa anggaran agenda ramadhan dari mulai buka puasa di mal-mal hingga industry rokok yang kembali berdenyut selepas azan. Dan bukankah setiap tahun seperti ini. Alaisa Kadzalik ??

Imam Punarko Yang Saya Kenal ( Koordinator Presidium Nasional FoSSEI 2010-2012

Tinggalkan Komentar

Saya kali ini menulis teruntuk sahabatku yang kini menjadi orang maha penting di Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam. Seorang sahabat yang kerap membersamai perjalanan panjang melakukan dan mengawal perubahan. Dari Rawamangun hingga dramaga. Dari masjid ukhuwwah islamiyah hingga bundaran HI. Kau telah demikian panjang menyertai perjalanan yang telah kita tempuh bersama dari awal saat pertama kita dipertemukan. Saat aku harus memasuki lorong gelap yang tak pernah kukenal atau saat apa yang selama ini aku lakukan semakin berat. Aku mencoba tak pernah kehilangan pegangan ataupun harapan. Selama masih berada di tengah-tengah manusia –manusia yang beriman. Yang berkumpul dalam rangka ketaatan.yang berhimpun dalam samudera ketaqwaan. Bagaimanapun jua aku harus menuliskan hal ini dan apa yang kutemukan selama membersamai perjalanan seorang sahabat di sepanjang alur sunnatullah yang telah ditetapkan. menjadi seolah kebiasaan di bumi melayu dalam hal menilai orang, yang dicari kebaikannya terlalu rumit namun kalau sudah bicara cacat dan aib seolah semua ada dalam orang tersebut. Tak heran kritik dan masukan kerap disikapi secara tidak proporsional dan penuh tanggapan yang cenderung tidak dewasa. Karena porsi kebaikan dan keburukan ternyata lebih diberatkan pada sisi kelemahan atau cacatnya. Padahal seorang ulama salaf pernah berpesan, “jika engkau mencari saudara tanpa aib-aibnya, nyaris kau takkan pernah memiliki seorang saudara “ untuk itulah catatan-catatan ini perlu aku tulis.

Untuk seorang sahabat yang sedemikian aku hormati, aku hormati segala keikhlasanmu dan kesahajaan yang kau miliki sampai detik ini. Betapa ringannya langkah kaki dan raga menapak jalan yang kita tidak pernah tahu kemana berpenghujung. Aku tak pernah memperlihatkan rasa sakit yang sebenarnya selama ini aku derita. Rasa sakit yang kerap menyerang tiba-tiba dan membuat langkah gerakku terhenti agar kau tak pernah merasa sedang sendiri dan harus menanggung beban sahabatmu yang sedang sakit. Aku tetap tersenyum ketika kalian tertawa dan aku tertawa melihat kebingungan serta kejenakaan kalian.kini kau sudah benar-benar sudah ditempa. Di tempa dalam majelis zikir, diasah dalam majelis fikir .

teruntuk sekali untuk Imam Punarko. Kampus rawamangun ,sekretariat BSO KSEI UNJ  menjadi seepisode pertemuan yang berkah itu lahir dalam tawa canda dan agenda da’wah. Sekarang dunia pun sudah berubah. Semua orang sedang menolehkan kepalanya ke Timur dan mencari-cari akar kebijaksanaan untuk menyelamatkan dunia yang sedang sekarat ini. Hampir seperti yang disarankan Muhammad Iqbal, pujangga negeri Pakistan, “Resapilah kembali nilai-nilai kebajikan,kebenaran dan keadilan. Niscaya kau akan dipanggil memimpin bangsa-bangsa di dunia” maka yang kau dan rekan-rekan presnas hadapi sebenarnya bukan bagaimana menjalankan visi yang telah dicanangkan di munas. Tetapi kau melihat 2030 bukan sembarang tahun. 2030 tantangan dan cabaran menjadi terakumulasi apakah Indonesia, tanah air kita,akan segera tinggal landas atau malah semakin tak berharga nilainya di mata penduduk dunia. Dan mungkin kalau bukan kepadatan jadwal di kantor. Aku telah berangkat ke palembang untuk menyertai dirimu menyambut 2030.

Engkau yang kukenal adalah sejauh aku mengkilas balik perjalanan dan kebersamaan dengan dirimu. Kemanapun langkah kita pernah menjejak. Sentiasa berharmonisasi dengan nuansa zikir tak pernah berhenti berfikir mengeluarkan umat dari jerat kemiskinan dan jerat penindasan dari salah faham mengadopsi ideologi manusia. Membebaskan ummat dari peradaban jahiliyahnya sebagai tatanan hidup manusia yang paling terendah dan aku teringat apa yang dikatakan oleh Ustadz Rahmat Abdullah mengenai esensi dan tujuan da’wah “membebaskan manusia dari perbudakan dan penindasan manusia dari kelas entah untuk entah  siapa kepada hanya Allah SWT manusia layak berkorban”  bersama saudara-saudara kita yang lain di medannnya masing-masing. Saat ini juga aku melihat sudah banyak dari dirimu yang sudah berubah. Lebih serius dan lebih bijak, maka itu menjadi bagian dari konsekuensi tentang amanah yang sangat berat. Dan aku jujur sangat iri kepadamu, karena kau menadapatkan kesempatan untuk melipat gandakan kebaikan demi menjaga maslahah bangunan ini. Karena kau sebagai pemimpin memiliki keutamaan menegakkan hukum yang tidak bisa ditegakkan oleh Qur’an.

Belakangan aku banyak mendengar tanggapan-tanggapan yang menyerukan merubah arah laju kapal ini dengan tanggapan yang begitu bersemangat “membumikan ekonomi islam” dan secara tidak disadari merubah khittah perjuangan fossei sebagai wadah perjuangan mahasiswa yang terlukiskan dalam slogannya merajut ukhuwwah melalui da’wah bernuansa ilmiah. Tapi aku faham itu semua sebagai ghirah mahasiswa yang segera dan sadar harus ada yang dirubah dan berubah. Objek da’wahnya kah atau da’I-da’I nyakah . sistemnya kah atau targetnyakah. Karena ghirah adalah rumus kejiwaan sebagai mahasiswa dan pemuda. Melihat kondisi yang semakin stagnan dan ambigu siapakah yang salah apakah jalan yang kita perjuangkan atau ketidakpandaian kita membaca arah zaman. Sehingga begitu sampai di masa transisi kita benar-benar bingung what we should do ??. sedangkan tanpa ghirah, takbirkanlah empat kali sebagai indikasi kematian hati, kata Buya Hamka. Kematian hati serasa tak punya beban sebagai pemuda. Kematian hati seolah hidup di dunia kumaha aing. Dan seolah tak ada yang perlu dicemaskan dan dikhawatirkan.

Ala kulli hal, selamat jalan dan selamat mengemban tugas maha berat, akhina Imam Punarko, seperti ini saja aku mendokumentasikan kenanganku bersamamu. Di dalamnya ada barakah dan pahala di antara jenak-jenak canda dan riang gembira antara kita. Di antara keletihan menyelesaikan amanah atau mencari-cari tempat magang dan pkl yang kita berdua, ditakdirkan bersamaan mencarinya. Mugi dipasihan ku Gusti Alloh dan memudahkan langkah yang kau dan rekan-rekan presnas lainnya tempuh.

“Sekali kau telah mengambil pedang di tangan dan memegang pena. Janganlah sedih bila kuda jasadmu lumpuh atau diam saja.

Kebajikan lahir dari mata pedang dan ujung pena

Wahai saudaraku,seperti cahaya lahir dari api

Dan api dari pohon narvan menyala “

Muhammad Iqbal, Javid Namah


Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.