Telaga Kautsar

Menjadi Telaga Bagi Ekonomi,Keuangan dan Perbankan Islam

Archive for the ‘Tafakur’ Category

Harga Mati Pembebasan dan Kemerdekaan Palestina

without comments

Harga Pembebasan Negeri Anbiya

Written by Willy Mardian

November 28, 2009 at 5:10 am

Ditulis dalam Tafakur

Diskusi Seputar Perbedaan Antara Ekonomi Islam dengan Kapitalisme di Facebook

without comments

Post #1

1 reply

Mahbubi Ali wroteon April 29, 2009 at 9:22am

Benarkah ekonomi islam hanya menjadi alat kapitalisas?Kapitalisme Religius, demikian Vadillo mengungkapkan..banyak pihak menuding, praktek ber-ekonomi syariah di dunia, termasuk jga d indonesia masih sangat pragmatis dan terlalu profit oriented. Yang pntng sesuai syariah..!Adiwarman menyebutnya dengan istilah, “Formalisasi Syariah Tanpa Jiwa” bagaimana menurut anda??

Report

Post #2

Tatto Sugiopranoto wroteon April 30, 2009 at 6:24am

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Mas Mahbubi. Semoga Allah SWT meridhoi apa yg kita usahakan. Salawat serta salam kita sampaikan buat Muhammad SAW, rasul Allah, yg telah mengajarkan kita semua bagaimana mensyukuri nikmat.

Menurut saya, apa yg disampaikan para akhli ekonomi, pengamat ekonomi islam termasuk Umar Vadillo adalah praktek ekonomi islam saat ini merupakan salinan (foto copy) dari ekonomi kapitalis barat.Pendapat saya didasari atas fenomena saat ini yg diusung oleh praktisi ekonomi islam saat ini adalah instrumen ekonomi yg mengarah ke kepentingan kapitalis. Contoh, bank dan segala instrumen perbankan lebih berpihak untuk kepentingan kapitalis. Produk simpanan diarahkan bagi pemilik modal dengan iming2 lebih menguntungkan, demikian juga dengan produk pembiayaan yg lebih diarahkan pada sektor konsumtif seperti murabahah, ijarah dsb.

Tujuan ekonomi sendiri adalah untuk pemenuhan kebutuhan manusia, mazhab apapun akan mengatakan hal demikian (kecuali Keynes yg selalu bicara capital dalam bentuk materi).

Tujuan utama dari Ekonomi Islam itu sendiri hampir sama dengan apa yang dicetuskan oleh Adam Smith, Karl Marx dll. Yg membedakan adalah bahwa dalam kegiatan EKONOMI ISLAM harus didasari Amar Makruf Nahi Munkar (AMNM). Seperti apa AMNM itu. Al-Qur’an dan Al-Hadist menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti apa kita harus bersikap terhadap modal/harta/keahlian/tenaga, bagaimana tata cara bertransaksi dan melakukan perjanjian.

Perbankan Syariah, Reksadana Syariah, Pasar modal Syariah dan instrumen ekonomi lain, bahkan SUKUK, masih jauh dari tujuan “pemenuhan kebutuhan manusia”. Artinya, sektor produksi yang dapat memberikan nilai tambah dan memberikan kontribusi lapangan kerja pada masyarakat belum tersetuh secara utuh. Semuanya dibuat seolah hanya untuk kebutuhan pemilik modal saya, bukan untuk menggerakkan sektor riil untuk menciptakan produksi dan nilai tambah. Ini menurut pendapat saya yg bukan akhli ekonomi.

Wallahu’alam bishowab

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Report

 

Post #3

Achyat Ahmad wroteon May 3, 2009 at 6:24am

assalamualaikum
sebetulnya saya tidak punya otoritas apapun di bidang ini. di sini, saya hanya menghormati saudara pengundang. menurut saya, dia mengundang saya bukan karena saya bisa memberikan solusi, tapi mungkin untuk membuka kran pendapat-pendapat ‘yang salah’, agar mengalir lebih deras. bukan begitu, bung boby? he he he…

saya melihat, di sekeliling lingkungan saya, terdapat begitu banyak para penjual cireng, cilok, teote, guddu, jemblem, dls-dls, yang bergerak tanpa modal dari bank, termasuk yang berbasis ’syariah’ sekalipun.
saya mengundang para pakar ekonomi untuk tidak sekadar berteori, tapi bagaimana teori-teori itu diramu, kemudian digerakkan di lingkungan saya, atau mungkin juga di lingkungan anda.

di sini, di pasar yang dibuka sendiri ini, mereka akan dapat langsung menerapkan teori-teori ekonomi syariah yang menyelamatkan itu, lalu mungkin kelak akan menjadi besar, dan memiliki suara yang cukup lantang untuk berteriak pada para kapitalis yang berbaju syariah itu…

Report

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 27, 2009 at 3:15 pm

Diskusi Seputar Peran dan Eksistensi Ekonomi Islam di facebook

with 2 comments

Post #1

Andi Faisal wroteon May 23, 2009 at 6:57am

memasuki abad ke 21 alur ekonomi menempuh pengembangan yang cukup signifikan, ekonomi pada abad-abad sebelumnya berada pada level mikro dengan hanya menganalisis kondisi pasar dan harga, namun, sejak keynes dan kawan2 membawah ekonomi dari riil ke moneter, terjadi lompatan yang sangat jauh, namun sayang ekonomi meleompat tanpa memiliki kaki yang kuat, akibatnya, ekonomi pada tahun 30an, mengalami patah kaki, kondisi yang sama terjadi pada tahun 97-98 dan tahun 07-08.
para ekonom pun berpikir, apa yang salah dari kapitalisme.

disisi lain, terjadi perlawanan dari timur terhadap hegemoni ekonomi barat, sebut saja Amartya sen, peraih nobel ekonomi asal india, yang tampil dengan kritikannya.

dan dari pemikir-pemikir islam, konsep ekonomi islam semakin didengungkan,..

nah, babakan sejarah telah dimulai, apakah timur bisa mengalahkan barat??? apakah ekonomi islam bisa jadi solusi??
itu tergantung anda..!!!!

Report

 

Post #2

1 reply

Ariz Mencari Cinta wroteon May 24, 2009 at 6:22am

Timur dan barat adalah dikotomi yang telah usang. siapa yang kapitalis siapa yang sosialis, timur ataukah barat?. tapi pada dasarnya teori ekonomi kapitalis dan sosialis awal kemunculannya juga dari wilayah yang disebut “barat”.
pun pula ekonomi islam, yang dianggap “timur”, karena tinjauan historis, kelahirannya bersamaan dengan agama islam yang muncul dari jazirah arab (dalam peta dunia masuk benua asia yang dianggap “timur”).
perlu diperjelas bahwa ekonomi islam sebagaimana pembawa agama islam (Muhammad S.A.W) adalah rahmatan lil alamin. ekonomi islam adalah solusi universal, tanpa harus dikondisikan sebagai bagian dari “timur atau barat”.

Report

 

Post #3

1 reply

Andi Faisal replied to Ariz’s poston May 27, 2009 at 11:52pm

aduh, apa yang anda maksud dengan islma adalah solusi universal, konsep ekonomi islam hanya lahir karena lemahnya kapitalisme, akan tetapi islam pun tidak punya pondasi teoritis yang kuat

Report

 

Post #4

Mahmal Rizka (Indonesia) wroteon May 28, 2009 at 5:30am

Setau saya dalam islam, spekulasi sangat dilarang. Yang mana spekulasi merupakan salah satu faktor penyebab jatuhnya kapitalisme. Dalam islam objek transaksi harus jelas. Kalau anda menyatakan islam tidak pondasi yang kuat, bukankah yang saya sebutkan di atas merupakan prinsip yang mana jika dilupakan niscaya ekonomi islam pun akan mengalami nasib yang sama dengan kapitalisme. Itu baru salah satu prinsip di samping prinsip-prinsip lainnya. Tugas kita selanjutnya adalah mengembangkan prinsip-prinsip tersebut agar bisa diimpelementasikan pada kondisi sekarang.

Report

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 27, 2009 at 3:03 pm

No More Simplicity

without comments

 

Salah satu poin penting kritik yang sangat fundamental terhadap asumsi bebas nilai adalah simplikasi masalah dan efek yang ditimbulkan secara makro ekonomi dan jangkuan luas secara holistik. Asumsi Bebas nilai mengasumsikan dalam sains hanya ada kekosongan nilai yang tergantung siapa bisa menguasai dan memberikan warna pada sains tersebut. Itulah mengapa kala dihadapkan pada gagasan Islamisasi Pengetahuan ataua Aslama Al Ma’rifah, sejumlah cendikiawan menolak mentah-mentah gagasan tersebut dengan asumsi segala sains yang telah dan patut kita telaah pada dasarnya tergantung di tangan siapa menjadi bermanfaat. Secara moderat, Ziaddin Sardar pun menilai kalaulah Sains itu bebas nilai,seperti yang ditunjukkan ilmu-ilmu eksakta, maka pendekatan kepadanya yang membuat kita menjadi lebih sekuler.

Merujuk pada bahasan Dr Muhammad Syafii Antonio di seputar gagasan mengapa perlunya kita menyediakan SDM yang kapabel untuk memasuki ranah Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah ternyata dunia telah terbagi menjadi dua. Yang pertama, kata beliau, mereka yang terbiasa dengan tradisi Turats di pondok pesantren  dan menguasai pelbagai tools ilmu-ilmu keislaman seperti bahasa Arab,Fiqh, kitab kuning dan lain-lain. Di saat yang sama, kata beliau, para bankir menguasai manajemen keuangan,Akuntansi Finansial,Statistik, Manajemen Operasional, Akuntansi Biaya namun minim pengetahuan di bidang Islam. Otomastis hal-hal seperti inilah yang menyebabkan terjadinya misunderstanding dan asumsi bebas nilai itu senantiasa muncul. Tanpa mengetahui terlebih dahulu  akar epistomologi dan sejarah yang melatarbelakangi keilmuan itu muncul efeknya adalah penyederhanaan persoalan makro menjadi semata moral hazard dan error human saja. Padahal dalam Islam, tiga pilar yang menopanginya yaitu akidfah, syariah, dan akhlak membentuk sistem sekaligus para pelakunya. Syariah itu sendiri tak semata-mata berputar pada Fiqh saja tetapi juga seluruh ruang lingkup gerak individu yang terjalin dengan akidah dan akhlak itulah Syariah.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 27, 2009 at 7:19 am

Ditulis dalam Fikrah, Tafakur

Oktober, Momennya Kebangkitan Pergerakan Mahasiwa Muslim Indonesia ??

without comments

Entah momennya tepat atau sengaja grand designnya, bulan oktober ini terjadi dua perhelatan akbar yang dimunculkan kembali oleh pergerakan mahasiswa. Saat aku berada di Semarang, aku baru sadar kalau hari ahad yang lalu itu 5000  mahasiwa muslim Indonesia dari Lembaga Da’wah Kampus senusantara berkumpul di Gelora Bung Karno dalam rangkaian Kongres Mahasiswa Muslim Indonesia yang terselanggara oleh BADAN Lembaga Da’wah Kampus. Kongres akbar yang akhirnya terselanggara di Luar Basket Hall Gelora Bung Karno juga bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olah Raga. Inilah kongres Akbar yang menggebrak dunia mahasiswa bangun dari tidurnya yang lelap dalam nuansa apatisme dan hedonism.

Di saat yang sama Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam bekerja sama dengan KSEI UNDIP selaku tuan rumah dan Rohis Fakultas Ekonomi Universitas Undip menggelar event SEHATI, Shariah Economics Activity, juga RAPIMNAS FoSSEI yang bertajuk Revitalisasi FoSSEI Untuk masyarakat Indonesia yang Madani pada tgl 15-17 Oktober 2009. Event SEHATI dihadiri banyak delegasi mahasiswa muslim dari pelbagai kelompok Studi Ekonomi Islam seIndonesia dan sedikitnya ditambah juga dengan Rohis sert SKI dari pelBAGAI Fakultas Ekonomi Senusantara. Aku benar-benar tersentak. Realitas telah berubah. Yang tadinya cenderung apais kini kian berghirah. Yang tadinya hedonis, kini kian menjadi spritualias.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 22, 2009 at 4:03 am

Pencerahan Strategi Industri Kreatif (berbasis) Reaktif

without comments

Model Kafiyeh jaman Kiwari Merujuk pada gejolak industry perekonomian yang melibatkan pro rakyat pada elemen-elemen tertentu, seperti pada idul Fithri atau semasa bulan Ramadhan yang membuka pintu baru sentral kekuatan ekonomi rakyat. Momen sepanjang Ramadhan dan Idul Fitri juga mencatat pertambahan kualitas kekuatan industry kreatif mulai dari Industri parsel semepat khawatir “gulung tikar “ karena keputusan KPK tentang pelarangan gratifikasi dari bawahan ke atasan bagi para pegawai negeri sipil. Di ramadha pupla tempatnya bagi industry makanan yang membanjir tiap tahun. Di lain sisi, Industri Kreatif ini ada pula yang bersifat reaktif dan mempunyai kedudukan antara positif dan negatif. Seperti produk-produk muslim style pasca ekspansi Zionis ke Ghaza Palestina. Mengundang pelbagai raksi dari public dunia tak terkecuali berimbas ke sentral perdagangan. Seruan boikot yang diserukan oleh Rabithah Alam Al Islamy untuk memboikot tiap produk yang diidentifikasi menyumbang 1 % untuk Israel.Sebutlah produk-produk yang lahir dari implikasi gejolak tadi.

Implikasi dan ouput yang bisa diterima dari imbas ini sangat penting. Ibarat boomerang, pereokonomian bisa menjadi senjata politik ampuh untuk setidaknya menahan invasi yang lebih besar. Juga kadar reaktifitas dari industry “kreatif ini telah membuka kanal baru bagi para konsumen yang nota bene memiliki ghirah keislaman yang kental dan melebar lagi konsumen muslim yang sadar akan identitas keislamannya. Belum dengan adanya Industri kreatif itu sendiri berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan, PDB Industri kreatif telah menyumbang pada PDB nasional sebesar 6,3% atau setara dengan 154 Trilyun terhadap PDB dengan harga yang berlaku.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 14, 2009 at 4:02 am

Ekonomi Islam Dan Kebebasan

without comments

Kurva keseimbangan perilaku konsumsi

Kurva keseimbangan perilaku konsumsi

Kebebasan adalah nalar fithrah.. keberadaanya diakui dan diberikan tempat dalam porsi yang sesuai dengan haknya mengelola hajat hidup untuk menambah maksimalitas arti hidupnya sebagai hamba di atas pentas peradaban manusia.yang, bagi Sayyid Muhammad Baqir Shadr, hanya dalam Islam kebebasan bertemu muka dengan konsep Khalifah yang justru membukakan pintu gerbang bagi manusia mengelola alam dan sumber dayanya seluas-luasnya. Tapi beranjak dari sebuah sabda Rasulullah, keberadaanya bagaikan lilin yang panas namun berkali-kali serangga coba untuk menerobos lilin itu dan terbakar. Begitu juga dengan perilaku manusia, In The Name of Freedom, tanpa melihat lagi dampak mafsadat yang ditimbulkan asal memenuhi konsumsi syahwatnya nyaris tak lagi diperlukan usaha untuk menggapainya.

Di era sekuler, salah seorang anggota parlemen Turki dari Partai Keadilan dan Pembangunan, Edibe Sozen, pernah mengusulkan dirancangnya draft undang-undang yang mengatur larangan minuman keras dan alcohol di seantero Turki. Namun memang sebuah Negara sekuler yang konon memegang teguh asas demokrasi, idea perancangan drfat undang-undang itu mendapatkan reaksi keras dari para sekularis di seluruh Turki dan mendapatkan vonis sebagai pilot project rencana mengembalikan Turki sebagai Shariah State. Padahal, Negara tetangganya, sudah telanjur menghalalkan minuman keras dan harus membayar social cost yang sangat besar dalam hal demoralisasi penduduknya. Hatta, di Indonesia, untuk mendapatkan sebuah tabloid bernuansa “panas” hamper tak diperlukan usaha sama sekali. Entah apakah Indonesia nyatanya lebih liberal dan sekuler dari pada Negara yang mengaku embahnya liberal dan sekuluer pun. Tapi biasanya angka di atas statistik selalu berbicara demikian.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 28, 2009 at 10:45 pm

Intelektual Ekonomi Islam dan Pergerakannya

without comments

Hidup yang selalu penuh dengan gerak. Sekalipun banyak pilihan yang membuat kita diuji untuk memilih. Kalau dulu Gie atau Soe Hok Gie pernah menyindir sikap mahasiswa Indonesia dengan ungkapan “di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis” seakan-akan telah terblok dua kubu tipikal manusia. Yang pertama nampak pemuja hedonistis dan euforisme gegap gempita dengan nuansanya politik dan ekonomi yang memburuk. Dan yang kedua, tetap bertahan di tengah gempuran gaya hidup dan hegemoni kkonspirasi pada cita-cita idealnya.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 28, 2009 at 12:57 pm

Zona Nyaman Vs Idealisme

with 2 comments

“’Ah kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini, dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat , bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan Amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti . Kalau tak ingat , bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat itu semua, shalat zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalkan kipas dan mendengarkan lagu El Hub El Haqiqi dan untaian shalawatnya Emad Arabiy dari Syiria itu tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan atau satu minggu d dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan MashaAllah alangkah segarnya “

( Habiburahman El Shirazy , Ayat-Ayat Cinta )

Rangkaian tulisan panjang tadi diambil dari salah satu karya sastra Islam terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia . Bahkan pernah diangkat ke layer lebar serta di saat yang sama novel tersebut telah banyak diterjemahkan ke pelabagai bahasa dunia dari mulai Malaysia hingga Jerman. Tetapi membaca rangkaian cuplikan dari karyanya Ustadz Habiburahman El Shirazy, satu poin penting terikat dengan apa yang banyak disebut oleh para aktivis da’wah sebagai “Zona Nyaman”. Bagi para Aktivis Da’wah Kampus hingga para businessman papan atas sangat risau dengan tiap kekayaan yang menumpuk di depositonya maupun emergency savingnya. Karena, bagi mereka, itulah zona nyaman, yang malah-malah mengantarkan mereka pada zona stagnan dan bahkan meluncur sama sekali.

Akhina Riza Rizky Pratama, CEO KSEI Lisensi UIN Jakarta, pernah menulis di facebooknya apa yang menjadi alsan mahasiswa UIN memilih bergerak di tengah-tengah opini kampusnya sebagai sarang penyakit liberalisme. Comfort Zone dipahami sebagai suatu sikon yang sekilas telah banyak memberikan banyak keleluasaan dan kecukupan materi hingga bagi mereka yang jeli akan tegas banyak “mengkritisi” dengan cara sibuk sendiri dan menenggelamkan diri ke pelbagai kepanitiaan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi mahasiswa matrikulasi sebelum memasuki semester awal yang juga bnayak dirasakan oleh mahasiswa lainnnya. Mencari kegiatan serasa menjadi PR terbesar yang harus digarap oleh Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi di setiap musyawarah atawa syuraa. Dari mulai Menerbitkan MARGIN (Matrikulasi Magazine) hingga Pekan Peduli Ekonomi Syariah sebagai jurus pamungkasnya mengekssistensikan nama mahasiswa sebagai pelopor perubahan. Maka, selepasnya dari Matrikulasi, kami serempak mencari pelbagai kegiatan dari mulai nyebur di Progres hingga membuat UKM baru. Atau Akhina Johanh Rio Pamungkas, temen kapmi di FIB UI juga pernah cerita di blognya kala pertama kali melihat fenomena “orang-orang kiri “ terlihat lebih eksis di kampusnya dibandingkan dengan para aktivis da’wah kampus yang katanya sudah Futuh dan banyaknya anak mushalla yang masuk ke kursi senat.

Membaca riwayat dan atsar para ulama terdahulu, Comfort Zone menjadi periode atau poin yang sangat menakutkan. Hingga Imam Ahmad yang telah berkali-kali mengalami penyiksaan leh rezim Al watsiq Billah dari Dinasti Abbasiyah “Tiada Kata Istirahat hingga kakiku menapak di SurgaNya “ atau Imam Zamakhsyari yang bersenandung puitis  “jari-jemari di atas kertas dan buku-buku lebih kusukai dari pada pahanya para wanita ana alunan rebana “  dan nyatanya itu pulak yang menjadi  jawabannya  kala seorang ulama salaf berdoa “ ya Allah, tabahkanlah agar aku mampu bersabar di saat Kau berikan aku kelapangan “ .

Semoga itu jua yang ternyata menjadi semangat teman-temanku di usianya yang belia hanya terpikir satu kalimat “Just Do The Best “ bagai para pejuang, istirahat itu justru ketika mampu  melepaskan diri dari satu kekangan ke kekangan yang lain sampai sempurna misi yang ia jalankan

Antitesanya adalah perubahan dan keluar dari zona nyaman harus siap dengan konsekuensinya karena ia kembali mendudukan keteguhan idealisme. Nah, bicara idealisme berate bicara kriterie ketegasan moral yang mengawal keberlangsungannya sbeuah misi. Dengan tegas, kita ummat muslim, kriteria ketegasan moral itu berangkat dari wahyu Allah SWT daan sunnah Muhammad Rasulullah. Sebab baru dengan demikian diterimanya sebuah amal. Tapi Idealisme juga perlu berdialog dengan wajah zaman dan keterbatasan ruang.  Mendobrak zona nyaman dengan model tahun 1965 an jelas tak lagi relevan. Tidak selamanya Pemerintah adalah Tiran atawa Thagut yang harus digulingkan atau bahkan secara gegabah mencap mereka yang berhukum di bawah Pemerintahan yang sah secara yuridis dan aspek maslahah luas,dengan anggapan Thagut, mencapnya sebagai ashobiyah dan sebagainya. Karena di situasi dan massa yang telah banyak bergerak menuju titik penentuan sejarah akan ada banyak kerugian yasng harus rela dibayar mahal oelh ummat. Serta haruskah memperpanjang daftar kekalahan dengan logika Negara di saat yang sama kita adalah populasi muslim terbesar di dunia.?? Padahal logika Negara juga dibangun atas usmbangan dan kontribusi konsensus ummat. Ibarat babak belur di kandang dan gawang sendiri.

Para sahabat Rasulullah SAW, hingga para aktivis da’wah juga manusia. Ada ruangan manusiawi di sejumlah episode kepahlawanannya. Umar Ibn Khattab sangat manja di depan istrinya, tapi lain cerita, kala ia mendengar ada seorang non muslim yang terpaksa menajdi pengemis karena jizayah yang dirasa memberatkan kebutuhan ekonomi serta ditambah usia lanjut. Umar pun memegang tangan sang pengemis non muslim ini  dan membawanya  ke Baitul Maal kemudian membebaskan Jizyah serta memberikan sedekah yang diambil dari Baitul Maal tersebut. Di era kiwari, salah seoarang ikhwah bercerita dalam sebuah program daurah Al Qura’an. Tentang masa mudanya dilewati penuh dengan perjuangan keras dan habis di masa sulit. Sampai suatu ketika ia meminta izin kepada ibunya untuk berangkat demontrasi. Sampai tiga kali ia meminta izin namun barulah izin keempat mendapatkan izin. Yang mengharukan, sang ibu tidak membiarkan dirinya tangan kosong. Dibuatkanlah sebotol susu hangat untuk sang anak yang akan berangkat demonstrasi. Maka melinanglah air mata mengalir dari seorang ikhwah kita ini karena Cinta yang selalu dialirkan oleh ibundanya meski sempat sampai tiga kali menolak perizinan untuk bias ikut serta demonstrasi.

Disini. Di ruangan pertarungan untuk keluar totalitas dari zona nyaman punya seninya sendiri. Mereka yang mengaku idealis jangan sampai di pecundangi oleh berlimpahnya informasi yang tak juga menambah intelektualitas bertambah dewasa. Mereka yang mengaku paling idealis, jangan sampai atas nama idealisme telah ikut menyumbang orang lain menjadi apatis karena egonya lebih banyak muncul seolah-lah dunia miliknya sendiri. Tapi mereka yang mengaku moderat, yang ada semakin dalam terperosok dengan zaman yang ada. Pragmatis. Ungkapan –ungkapan seperti “ buat apa lagi aktif di pergerakan mahasiswa, keadaan tak juga semakin berubah “ kian nyaring terdengar senyaring teriakan apatisme sebagian masyarakat yang seolah-olah sudah bias memastikan besok matahari takkan terbit dari timur lagi. Mereka lupa kalau agama ini adalah agama ‘proses” bukan hasil. Surah Al Anfal, yang konon menjadi “nyanyian perang”  bagi para mujahidin Palestina, diturunkan menjelang surah At Taubah lebih banyak berbicara, apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana mengarunginya, dan apa yang kita peroleh kelak dari Allah SWT bahkan dijanjikan dengan SurgaNya setelah bertransaksi dengan jiwa dan harta para mukminin.

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).( Surah Al Anfal :60 )

Tentang hubungan keterikatan hati para mukmin disentuh pula oleh Al Qura’an

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)622. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( Surah Al Anfal :63)

dan jual beli yang abadi

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( At Taubah :111)

Sejarah yang unik dan kerap membuat pembacanya terhenyak pernah mengajari kita. Di Masa Bani Ummayah, ummat ini pernah mengalami menyiksa tapi justru begitu dikenang sejarah. Adalah sang Penasihat Khalifah, Raja’ bin Haiwah dengan konspirasi keshalihannya memunculkan Umar Ibn Abdul Aziz di tengah-tengah dominasi keturunan keluarga Abdul Malik

Ala Kulli Hal, keluar dari zona nyaman dengan segenap perubahan memang menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi tetap bertahan dalam status quo, melanggengkan rezim kebathilan dan memperpanjang usia tua dalam asuhan sang rezim. Entah lah itu kita sebut realitas bobrok atau sistematika jahiliyah !!

Bandung, Syawal 1430 H

Written by Willy Mardian

September 28, 2009 at 12:01 pm

Nafs

without comments

Oleh : Hamid Fahmy Zarkasy

Manusia bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu.

Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi nafs mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.

Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb.  Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal).  Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb atau nafs manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam al-Qur’an:
Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 12, 2009 at 3:01 pm

Ditulis dalam Fikrah, Tafakur