Telaga Kautsar

Menjadi Telaga Bagi Ekonomi,Keuangan dan Perbankan Islam

Archive for the ‘Al Iqthishodi Al Islamiyah’ Category

Rekonstruksi Filsafat Akuntansi Islam, Sebuah Revolusi Paradigma

without comments

Model manusia muslim bermuara pada referensi apa yang menjadi kepatuhan logikanya.Dengan nalar logika ia mampu mengisi ruangan kosong yang merindukan keadilan. Dengan menentukan mana yang haq dan mana yang bathil. Kalau tidak demikian, berarti there’s something right had loss from muslim mind. Walaupun dengan seribu kali lipat argumentasi yang pada dasarnya sudah sangat akut dan rapuh. Pembuktian logika juga mengikuti konsensus atas standar yang disepakati sehingga jika dalam pelaporan ada yang disclaimer atau tidak wajar dapat denganm mudah dideteksi dan dikoreksi. Tapi sayangnya terlalu banyak mereka yang silau dengan manipulasi angka di atas kertas untuk menggambarkan kepentingan pemilik modal adalah hal pertama yang harus diselamatkan dan disejahterakan. Krisis perbankan bulan-bulan ini juga berkutat pada pelitnya bank menurunkan suku bunga agar deposan yang memiliki dana investasi di atas 50 % tetap memberikan loyalitas bagi bank. Walaupun baru hari ini seperti yang dilansir dan menjadi headline utamanya oleh harian Kontan, sekitar 14 bank sepakat untuk menurunkan suku bunga. Dan itu pun hanya 1% dari keseluruhan total suku bunga yang telah ditetapkan oleh bank bagi investasi deposan. Dan sayangnya juga terlalu banyak dengan strategi manipulasi angka di atas kertas yang menyebabkan orang di luar menilai kalau Akuntansi tidak lebih dari :jurnal buku besar, penyesuaian, ayat pembalik, posting,neraca, arus kas masuk dan arus kas keluar. Sekali lagi, hanya sebatas itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

November 22, 2009 at 5:51 am

Diskusi Seputar Perbedaan Antara Ekonomi Islam dengan Kapitalisme di Facebook

without comments

Post #1

1 reply

Mahbubi Ali wroteon April 29, 2009 at 9:22am

Benarkah ekonomi islam hanya menjadi alat kapitalisas?Kapitalisme Religius, demikian Vadillo mengungkapkan..banyak pihak menuding, praktek ber-ekonomi syariah di dunia, termasuk jga d indonesia masih sangat pragmatis dan terlalu profit oriented. Yang pntng sesuai syariah..!Adiwarman menyebutnya dengan istilah, “Formalisasi Syariah Tanpa Jiwa” bagaimana menurut anda??

Report

Post #2

Tatto Sugiopranoto wroteon April 30, 2009 at 6:24am

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Mas Mahbubi. Semoga Allah SWT meridhoi apa yg kita usahakan. Salawat serta salam kita sampaikan buat Muhammad SAW, rasul Allah, yg telah mengajarkan kita semua bagaimana mensyukuri nikmat.

Menurut saya, apa yg disampaikan para akhli ekonomi, pengamat ekonomi islam termasuk Umar Vadillo adalah praktek ekonomi islam saat ini merupakan salinan (foto copy) dari ekonomi kapitalis barat.Pendapat saya didasari atas fenomena saat ini yg diusung oleh praktisi ekonomi islam saat ini adalah instrumen ekonomi yg mengarah ke kepentingan kapitalis. Contoh, bank dan segala instrumen perbankan lebih berpihak untuk kepentingan kapitalis. Produk simpanan diarahkan bagi pemilik modal dengan iming2 lebih menguntungkan, demikian juga dengan produk pembiayaan yg lebih diarahkan pada sektor konsumtif seperti murabahah, ijarah dsb.

Tujuan ekonomi sendiri adalah untuk pemenuhan kebutuhan manusia, mazhab apapun akan mengatakan hal demikian (kecuali Keynes yg selalu bicara capital dalam bentuk materi).

Tujuan utama dari Ekonomi Islam itu sendiri hampir sama dengan apa yang dicetuskan oleh Adam Smith, Karl Marx dll. Yg membedakan adalah bahwa dalam kegiatan EKONOMI ISLAM harus didasari Amar Makruf Nahi Munkar (AMNM). Seperti apa AMNM itu. Al-Qur’an dan Al-Hadist menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti apa kita harus bersikap terhadap modal/harta/keahlian/tenaga, bagaimana tata cara bertransaksi dan melakukan perjanjian.

Perbankan Syariah, Reksadana Syariah, Pasar modal Syariah dan instrumen ekonomi lain, bahkan SUKUK, masih jauh dari tujuan “pemenuhan kebutuhan manusia”. Artinya, sektor produksi yang dapat memberikan nilai tambah dan memberikan kontribusi lapangan kerja pada masyarakat belum tersetuh secara utuh. Semuanya dibuat seolah hanya untuk kebutuhan pemilik modal saya, bukan untuk menggerakkan sektor riil untuk menciptakan produksi dan nilai tambah. Ini menurut pendapat saya yg bukan akhli ekonomi.

Wallahu’alam bishowab

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Report

 

Post #3

Achyat Ahmad wroteon May 3, 2009 at 6:24am

assalamualaikum
sebetulnya saya tidak punya otoritas apapun di bidang ini. di sini, saya hanya menghormati saudara pengundang. menurut saya, dia mengundang saya bukan karena saya bisa memberikan solusi, tapi mungkin untuk membuka kran pendapat-pendapat ‘yang salah’, agar mengalir lebih deras. bukan begitu, bung boby? he he he…

saya melihat, di sekeliling lingkungan saya, terdapat begitu banyak para penjual cireng, cilok, teote, guddu, jemblem, dls-dls, yang bergerak tanpa modal dari bank, termasuk yang berbasis ’syariah’ sekalipun.
saya mengundang para pakar ekonomi untuk tidak sekadar berteori, tapi bagaimana teori-teori itu diramu, kemudian digerakkan di lingkungan saya, atau mungkin juga di lingkungan anda.

di sini, di pasar yang dibuka sendiri ini, mereka akan dapat langsung menerapkan teori-teori ekonomi syariah yang menyelamatkan itu, lalu mungkin kelak akan menjadi besar, dan memiliki suara yang cukup lantang untuk berteriak pada para kapitalis yang berbaju syariah itu…

Report

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 27, 2009 at 3:15 pm

Diskusi Seputar Peran dan Eksistensi Ekonomi Islam di facebook

with 2 comments

Post #1

Andi Faisal wroteon May 23, 2009 at 6:57am

memasuki abad ke 21 alur ekonomi menempuh pengembangan yang cukup signifikan, ekonomi pada abad-abad sebelumnya berada pada level mikro dengan hanya menganalisis kondisi pasar dan harga, namun, sejak keynes dan kawan2 membawah ekonomi dari riil ke moneter, terjadi lompatan yang sangat jauh, namun sayang ekonomi meleompat tanpa memiliki kaki yang kuat, akibatnya, ekonomi pada tahun 30an, mengalami patah kaki, kondisi yang sama terjadi pada tahun 97-98 dan tahun 07-08.
para ekonom pun berpikir, apa yang salah dari kapitalisme.

disisi lain, terjadi perlawanan dari timur terhadap hegemoni ekonomi barat, sebut saja Amartya sen, peraih nobel ekonomi asal india, yang tampil dengan kritikannya.

dan dari pemikir-pemikir islam, konsep ekonomi islam semakin didengungkan,..

nah, babakan sejarah telah dimulai, apakah timur bisa mengalahkan barat??? apakah ekonomi islam bisa jadi solusi??
itu tergantung anda..!!!!

Report

 

Post #2

1 reply

Ariz Mencari Cinta wroteon May 24, 2009 at 6:22am

Timur dan barat adalah dikotomi yang telah usang. siapa yang kapitalis siapa yang sosialis, timur ataukah barat?. tapi pada dasarnya teori ekonomi kapitalis dan sosialis awal kemunculannya juga dari wilayah yang disebut “barat”.
pun pula ekonomi islam, yang dianggap “timur”, karena tinjauan historis, kelahirannya bersamaan dengan agama islam yang muncul dari jazirah arab (dalam peta dunia masuk benua asia yang dianggap “timur”).
perlu diperjelas bahwa ekonomi islam sebagaimana pembawa agama islam (Muhammad S.A.W) adalah rahmatan lil alamin. ekonomi islam adalah solusi universal, tanpa harus dikondisikan sebagai bagian dari “timur atau barat”.

Report

 

Post #3

1 reply

Andi Faisal replied to Ariz’s poston May 27, 2009 at 11:52pm

aduh, apa yang anda maksud dengan islma adalah solusi universal, konsep ekonomi islam hanya lahir karena lemahnya kapitalisme, akan tetapi islam pun tidak punya pondasi teoritis yang kuat

Report

 

Post #4

Mahmal Rizka (Indonesia) wroteon May 28, 2009 at 5:30am

Setau saya dalam islam, spekulasi sangat dilarang. Yang mana spekulasi merupakan salah satu faktor penyebab jatuhnya kapitalisme. Dalam islam objek transaksi harus jelas. Kalau anda menyatakan islam tidak pondasi yang kuat, bukankah yang saya sebutkan di atas merupakan prinsip yang mana jika dilupakan niscaya ekonomi islam pun akan mengalami nasib yang sama dengan kapitalisme. Itu baru salah satu prinsip di samping prinsip-prinsip lainnya. Tugas kita selanjutnya adalah mengembangkan prinsip-prinsip tersebut agar bisa diimpelementasikan pada kondisi sekarang.

Report

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 27, 2009 at 3:03 pm

Pencerahan Strategi Industri Kreatif (berbasis) Reaktif

without comments

Model Kafiyeh jaman Kiwari Merujuk pada gejolak industry perekonomian yang melibatkan pro rakyat pada elemen-elemen tertentu, seperti pada idul Fithri atau semasa bulan Ramadhan yang membuka pintu baru sentral kekuatan ekonomi rakyat. Momen sepanjang Ramadhan dan Idul Fitri juga mencatat pertambahan kualitas kekuatan industry kreatif mulai dari Industri parsel semepat khawatir “gulung tikar “ karena keputusan KPK tentang pelarangan gratifikasi dari bawahan ke atasan bagi para pegawai negeri sipil. Di ramadha pupla tempatnya bagi industry makanan yang membanjir tiap tahun. Di lain sisi, Industri Kreatif ini ada pula yang bersifat reaktif dan mempunyai kedudukan antara positif dan negatif. Seperti produk-produk muslim style pasca ekspansi Zionis ke Ghaza Palestina. Mengundang pelbagai raksi dari public dunia tak terkecuali berimbas ke sentral perdagangan. Seruan boikot yang diserukan oleh Rabithah Alam Al Islamy untuk memboikot tiap produk yang diidentifikasi menyumbang 1 % untuk Israel.Sebutlah produk-produk yang lahir dari implikasi gejolak tadi.

Implikasi dan ouput yang bisa diterima dari imbas ini sangat penting. Ibarat boomerang, pereokonomian bisa menjadi senjata politik ampuh untuk setidaknya menahan invasi yang lebih besar. Juga kadar reaktifitas dari industry “kreatif ini telah membuka kanal baru bagi para konsumen yang nota bene memiliki ghirah keislaman yang kental dan melebar lagi konsumen muslim yang sadar akan identitas keislamannya. Belum dengan adanya Industri kreatif itu sendiri berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan, PDB Industri kreatif telah menyumbang pada PDB nasional sebesar 6,3% atau setara dengan 154 Trilyun terhadap PDB dengan harga yang berlaku.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 14, 2009 at 4:02 am

Progres,Hari Esok

without comments

Sebelumnya aku harus berterima kasih kepada Progres dalam membina tiap generasi angkatan STEI Tazkia dengan ruh pejuang yang rindu membumikan Ekonomi Islam. Kalau dittany, pada siapa pertama kali saya menengal ekonomi Islam seusad aku tercelu dengan nilai-nilai Islam melalui interaksiku dengan Tarbiyah, maka saya akan menjawab:Progres. Aku telah banyak menulis catatan-catatan tentang perkembangan Progres dan pada tulisan ini, aku hanya akan menuliskan sejumlah analisa tentang hal-hal yang menjadi tantangan Progres ke depan sekaligus juga sejumlah Otokritik yang inshaAlah membangun kepekaan kita pada jalan yang telah kita pilih (Catatan Malam Hari Selepas Isya, Bogor )

Semenjak aku menjabat sebagai waka kadiv Luar Negeri progres, semenjak saat itu pula beringsut-ingsut hasrat memandang persoalan KSEI lebih luas dan tak hanya dari satu sudut saja. Bersyukur adalah hikmah yang selalu saya dapatkan. Sementara semangat adalah yang kutebar ke KSEI-KSEI Lain. Karena saya memandag persoalan KSEI lebih komparatif dan komprehensif. Inilah Progres dan dari situ pula banyak pintu terbuka untuk menilai baik dan buruk perkembangan Progres yang dari namanya saja merefleksikan sebuah asa yang dinamis dan sarat nilai-nilai Hayawi.Terlalu banyak kejutan di dalamnya tapi tak sedikit ada masukan yang,InshaAllah berarti untuknya.

Dengan standar rating penilaian yang dibuat oleh stakeholder Ekonomi Syariah manapun, aku berani memprediksi Prores adalah salah satu KSEI di Jadebotabek yang selalu stabil temu Ilmiahnya. Yang selalu bertenaga perkasa para personilnya. Serta selalu kreatif dalam memuncratkan idea-ideanya. Even, hanya ada di Progres, Kajian Ekonomi Islam dalam skup Fiqh Muamalah Klasik selalu mendominasi.Hingga tak perlu heran kerap diadakan debat Ekonomi Islam dalam kerangka muamalat dan tinjauan hukum syariah.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 6, 2009 at 10:12 am

Ekonomi Islam Dan Kebebasan

without comments

Kurva keseimbangan perilaku konsumsi

Kurva keseimbangan perilaku konsumsi

Kebebasan adalah nalar fithrah.. keberadaanya diakui dan diberikan tempat dalam porsi yang sesuai dengan haknya mengelola hajat hidup untuk menambah maksimalitas arti hidupnya sebagai hamba di atas pentas peradaban manusia.yang, bagi Sayyid Muhammad Baqir Shadr, hanya dalam Islam kebebasan bertemu muka dengan konsep Khalifah yang justru membukakan pintu gerbang bagi manusia mengelola alam dan sumber dayanya seluas-luasnya. Tapi beranjak dari sebuah sabda Rasulullah, keberadaanya bagaikan lilin yang panas namun berkali-kali serangga coba untuk menerobos lilin itu dan terbakar. Begitu juga dengan perilaku manusia, In The Name of Freedom, tanpa melihat lagi dampak mafsadat yang ditimbulkan asal memenuhi konsumsi syahwatnya nyaris tak lagi diperlukan usaha untuk menggapainya.

Di era sekuler, salah seorang anggota parlemen Turki dari Partai Keadilan dan Pembangunan, Edibe Sozen, pernah mengusulkan dirancangnya draft undang-undang yang mengatur larangan minuman keras dan alcohol di seantero Turki. Namun memang sebuah Negara sekuler yang konon memegang teguh asas demokrasi, idea perancangan drfat undang-undang itu mendapatkan reaksi keras dari para sekularis di seluruh Turki dan mendapatkan vonis sebagai pilot project rencana mengembalikan Turki sebagai Shariah State. Padahal, Negara tetangganya, sudah telanjur menghalalkan minuman keras dan harus membayar social cost yang sangat besar dalam hal demoralisasi penduduknya. Hatta, di Indonesia, untuk mendapatkan sebuah tabloid bernuansa “panas” hamper tak diperlukan usaha sama sekali. Entah apakah Indonesia nyatanya lebih liberal dan sekuler dari pada Negara yang mengaku embahnya liberal dan sekuluer pun. Tapi biasanya angka di atas statistik selalu berbicara demikian.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 28, 2009 at 10:45 pm

Intelektual Ekonomi Islam dan Pergerakannya

without comments

Hidup yang selalu penuh dengan gerak. Sekalipun banyak pilihan yang membuat kita diuji untuk memilih. Kalau dulu Gie atau Soe Hok Gie pernah menyindir sikap mahasiswa Indonesia dengan ungkapan “di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis” seakan-akan telah terblok dua kubu tipikal manusia. Yang pertama nampak pemuja hedonistis dan euforisme gegap gempita dengan nuansanya politik dan ekonomi yang memburuk. Dan yang kedua, tetap bertahan di tengah gempuran gaya hidup dan hegemoni kkonspirasi pada cita-cita idealnya.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 28, 2009 at 12:57 pm

Laporan Keuangan Bank Syariah Sudah Transparan

without comments

By Republika Newsroom
Kamis, 10 September 2009 pukul 16:21:00 <!–

Iklan 468x60

–>

//

JAKARTA–Direktur Utama Bank Mega Syariah, Beny Witjaksono, menyambut baik pendapat agar bank syariah bisa listing di lantai bursa.

“Itu bagus-bagus saja kalau bisa jadi perusahaan terbuka sehingga bisa lebih terbuka pada publik dan melaporkan performanya,” kata Beny, Kamis (10/9).

Meski demikian, menurut Beny, bukan berarti bank syariah tak transparan. Pasalnya, setiap bulan bank syariah juga memiliki laporan keuangan yang dirilis setiap bulannya.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 12, 2009 at 2:54 pm

Indonesia Telah Keluar dari Resesi ??, Say Thank You to Ekonomi Syariah

without comments

Kemarin, Harian Media Indonesia menurunkan sebuah headline yang cukup menarik. Indonesia diprediksikan dapat segera keluar dari resesi paling awal. Berbeda pada saat krisis keuangan pada tahun 1998-1999 yang bermula dari fluktuasi mata uang baht. Indonesia menjadi korban terparah di Asia Tenggara. Mimpi didaulat sebagai Miracle’s Asia Economic musnah sudah. Dialektika alam maya dan nyata pa dasarnya saling berkaitan. Yang dicontohkan oleh transaksi derivative. Tetapi ketika alam maya yang tidak ditopang bisnis komoditas riil, begitu mengalami guncangan akan cepat merembet dan menyebarkan kepanikan dan puncaknya membongkar kerapuhan system yang diklaim mempunyai fundamental ekonomi makro yang kuat.

Perbankan ketika itu lebih banyak menyalurkan kredit ke korporasi-korporasi besar tanpa perhitungan standar kelayakan kredit. Akibatnya NPL perbankan naik drastis. Sementara untuk sektor UMKM, perbankan hanya menyalurkan kreditnya sebesar 10 % tetapi dengan kebijakan yang ditempuh oleh Bank Indonesia yaitu kebijakan uang ketat dengan menaikkan tingkat suku bunga yang asumsinya berefek pada masuk kembalinya uang yang beredar di pasaran dan merangsang kembalinya para deposan meningkatkan tabungannya di perbankan. Finally, para deposan dimanjakan dengan tingkat suku bunga 67 % and this is what we says as negative spread !

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Agustus 16, 2009 at 3:35 am

Nothing Right On The Left, Nothing Left on The Right

without comments

Oleh :Adiwarman Karim

Kinerja suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangannya. Jumlah aset, kewajiban, dan modal suatu perusahaan digambarkan oleh neraca yang biasanya disajikan sebagai berikut. Sisi aset disajikan di sebelah kiri (left) dan sisi kewajiban serta modal disajikan di sebelah kanan (right

Krisis global yang telah merontokkan bank-bank besar dunia menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana mungkin bank-bank dengan reputasi dan laporan keuangan yang demikian kuat dapat hancur dalam hitungan hari. What’s really going on? Dampak krisis juga mulai menelan korban bank di Indonesia.

Bank, yang beberapa saat lalu dinyatakan hanya kesalahan teknis terlambat menyetor sehingga kalah kliring, ternyata malah harus diambil alih oleh Lembaga Penjamin Simpanan. Rasio Kecukupan Modal yang beberapa saat lalu belasan persen ternyata merosot cepat, jauh di bawah ketentuan minimal yang ditetapkan Bank Indonesia. Fenomena inilah yang disebut ”when there is nothing right on the left, there is nothing left on the right” (ketika tidak ada yang benar di sisi aset, tidak akan ada yang tersisa di sisi modal). Salah satu penyebab utama rapuhnya kualitas aset perbankan adalah investasi yang dilakukan pada instrumen-instrumen derivatif yang sama sekali tidak memiliki kaitan apa pun dengan transaksi sektor riil atau lazim disebut tidak memiliki underlying transaction

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Agustus 14, 2009 at 10:48 am