Membaca Arah Ekonomi Global

1 Komentar

sampai saat ini, dunia belum bisa tenang dari ketakutan terbesar dengan adanya dua krisis yang dilalui oleh Eropa dan Amerika Serikat.ditambah krisis yang sedang terjadi di Amerika Serikat diwarnai gejolak rakyat yang mulai sadar bahwa selama ini dunia hanya dikangkangi oleh 1% para pelaku pasar di Wall Street yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Main Street. maka gerakan rakyat ini pun lahir dengan slogan yang kontras “we are 99 percent “. mereka mengaku banyak belajar dan terinspirasi dari gerakan rakyat yang baru saha bergelora di Timur Tengah yang oleh akademisi dan jurnalis Barat disebut sebagai gerakan Arab Spring.dan seolah mengaminkan ramalannya Nouriel Roubini pada saat krisis ekonomi global tahun 2007, bahwa resesi akan terus berlanjut hingga dua tahun lagi, gerakan yang menamai diri sebagai Occupy Wall Street dan gejola defisit hutang di darat Eropa semakin membenarkan ramalan dari ekonom dari New York University tersebut.

dan berikut ini adalah sebuah analisa dari seorang pelaku pesar, seorang CEO, dan seorang Muslim :) ,dengan perspektifnya sebagai seorang pelaku pasar dan juga seorang muslim memberikan bobot analisa yang lebih padat dan hampir mengenai akar permasalahan yang dihadapi oleh ekonomi Barat saat ini. selamat menikmati :) )

Lagi

Krisis Eropa Menuju Sakaratul Maut

Tinggalkan Komentar

Duo Krisis Dunia, sedang menuju ajalnya, dan tidak bisa tidak saat ini dunia membutuhkan sebuah kepemimpinan yang baru, kepemimpinan yang menjadikan peradaban umat manusia lebih bersahabat dan berkeadilan. sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Sayyid Quthb dalam  Ma’alim Fi Thariq nya, bahwa peradaban barat telah hampir selesai, dan umat manusia membutuhkan sebuah kepemimpinan baru yang membawa hakikat dan harkat manusia dari alam jahiliyah ke alam akidah

Europe, through the looking glass

http://www.economist.com/blogs/freeexchange/2011/09/europes-europe-crisis-0?fsrc=scn/tw/te/bl/europethroughthelookingglass

 

MANY people have been linking to this Spiegel piece, on how the Germans are preparing for the possibility of a Greek default. It’s a remarkable read. Consider:

The rest of Europe is losing patience with Athens. And after 18 months of crisis in the country, there is still no improvement in sight. Key economic figures are worsening, and there are growing doubts over whether the Greek government truly understands how serious the situation is.

If this is the way most Germans view the situation in Greece, Europe really is doomed. Greece has not shied away from austerity. There is perhaps more to be cut, but the Greek government already faces regular civil discontent over the wrenching budget moves it’s adopted over the past year. Meanwhile, the Greek economy shrank 7.3% in the year to the second quarter. Its banks are being bled dry in a slow-motion run on the country’s financial system. Trust me, if there’s anyone in Europe who understands how serious the situation is, it’s the Greeks.

The Germans, on the other hand, seem to be in complete denial. German leaders are pushing for more, rather than less, austerity, despite the damage severe cuts are inflicting on the economy. They’re not too fond of greater fiscal integration, which would relieve pressure on the struggling periphery, nor are they interested in broader ECB bond purchases or an appropriately loose monetary policy. The Germans are keen on nagging southern Europe to boost its competitiveness, but they don’t seem anxious to give up their persistent trade surplus. Having placed Greece in an impossible economic situation, the Germans are now ready to give up on the Greek economy entirely:

Schäuble hopes to allay their fears. He argues that Greece, unlike the other crisis-hit countries, is a hopeless case. Or, as Greek Minister for Regional Development and Competitiveness Michalis Chrysohoidis told the Berlin newspaper Tagesspiegel: “The Greek economy is dying.”

He has a point. More and more companies are filing for bankruptcy, and Greece’s austerity program is already hopelessly behind schedule, in terms of both the sale of government property and the agreed reforms. “It’s like dealing with children that constantly have to be told to clean up their rooms,” complained one member of the delegation. The troika members from Europe were particularly incensed, while the IMF representatives were more tolerant. Nevertheless, everyone is irritated over the lack of progress.

Yes, it is irritating, isn’t it?

I’ve already mused that maybe the euro crisis is primarily about negotiation over the distribution of the costs of saving the currency area, or that maybe it’s about figuring out which euro zone membership club is consistent with the political will to keep itself together. There’s still another possibility, however. Maybe core economies have convinced themselves that Greece’s economy has fundamental weaknesses that are dooming rescue efforts and undermining confidence, such that if the euro zone ejects Greece all problems will be fixed. That would be a dangerous mistake to make; A Greek departure would have serious ramifications across the euro zone, and it would not solve the inherent weakness of the currency area. The situation would almost certainly deteriorate, unless a Greek departure were combined with a major initiative to shore up the rest of the euro zone itself, which obviously wouldn’t be forthcoming in a Europe convinced that the big problem is Greece.

I’ve been a little uncomfortable with the idea that a Greek departure would represent a “Lehman moment”, but that it might be, in the sense that euro powers could remain blind to their actual predicament until markets rattle them into awareness.

Quantitative Easing Hingga Ekonomi Ala Ramadhan

Tinggalkan Komentar

kebijakan moneter The FedSuch speculation is a zero-sum game. Someone must lose. If Quantitative Easing is
to help U.S. banks earn their way out of negative equity, by definition their gains must be at
the expense of foreigners. This is what makes QE II is a form of financial aggression. Michael Hudson,Levy Economic Institute, 2010

Saat ini dunia sedang menghadapi sebuah tragedy yang rumit. Rumit karena besaran volume ekonomi sebesar perekonomian negara Amerika Serikat telah ikut membuat semua penghujung dunia yang terbelit dengan jaringan keuangan global was-was. Tidak terkecuali di Indonesia, sejak resesi ekonomi Amerika Serikat tahun 2007-2008 menerpa, kekhawatiran itu tetap ada. Khawatir hotmoney yang hanya parkir di lantai bursa dalam hitungan detik bisa saja terjadi outflow dan membuat panik sebagian besar investor lokal. Dampaknya memang ada, kurs rupiah menguat, dan membuat para investor sadar dari mimpi nya sektor keuangan tetaplah sektor keuangan dan pasar yang beternak uang bukanlah pasar dalam artian sebenarnya. Bukan pasar yang menyangga kekuatan negara memfungsikan tujuan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kalau dulu Alan Greenspan pernah membuat sebuah buku berjudul “The Age of Turbulance” yang di dalamnya pada bagian akhir, Greenspan memberikan sebuah ramalan tentang masa depan ekonomi Amerika Serikat maka kalangan ekonom heterodox, telah lama menganggap optimisnya pemerintahan Obama menyelesaikan hutang-hutang nya dan mengurangi tingkat pengangguran sebagai sebuah ilusi belaka. Sebagaimana yang banyak diungkapkan ekonom heterodox di jurnal-jurnalnya seperti Erturk (2010) kerusakan dan kekisruhan jaringan keuangan global mencapai puncaknya sejak adanya era liberalisasi dan era deregulasi keuangan global dan indikasi bahwa resesi ekonomi dunia sudah dimlai sejak adanya krisis keuangan Asia yang memporakporandakan Asia Tenggara kemudian pada tahun 2001 tentang ledakan dan ambruknya perusahaan dot com di Amerika Serikat dan tahun 2007-2008 ledakan pasar rumah atau subprime mortage, dan terakhir ramalan dari Nouriel Rouhbini seorang analisis dari IMF bahwa resesi ekonomi amerika serikat sangat besar kemungkinannya bergulir hingga dua tahun berikutnya dari tahun 2007.

Kerumitan resesi ekonomi Amerika ini ikut ditingkahi dengan gejala hutang negara-negara Eropa yang kian parah dan terlanjur mendapatkan peringkat junk bond dari beberapa lembaga pemeringkat kredit internasional. Sebutlah Jerman memiliki hutang sebesar US$ 2,079 M, Italia US$ 1,897, Portugal 160,47 M, Perancis anggarannnya defisit minus 10,40 persen, Yunani, negara pertama di Eropa yang memicu krisis hutang seamtero Eropa hingga Agustus 2011 memiliki hutang sebesar US$ 329 M, jadilah peta dunia tahun 2011 diwarnai The Twin Recession yang bukan lagi berdampak sistemik tetapi semakin memperjelas blok ekonomi dunia saat ini. kubu G7 yang direpresentasikan Amerika dan Eropa dengan tingkat defisit antara minus 9,20 persen hingga minus 10,40 persen dan kubu BRIC, yang diwarnai negara-negara Emerging Markets dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menggairahkan hingga 7% seperti Brazil, India, China, Turki.

Lagi

Commuter Line, Efisiensi, dan Keadilan Pelayanan Publik

Tinggalkan Komentar

Terhitung mulai tanggal 2 Juli, PT KAI Commuter Jadebotabek secara resmi  menghapus layanan kereta pakuan AC yang akan diganti dengan layanan kereta commuter line dengan berhenti di semua stasiun sepanjang jalur Jakarta-Bogor, Jakarta-Bekasi, Tanah Abang-Bogor, Bekasi-Manggarai. Tiket pun naik dari Rp 5.500 menjadi Rp 9000 untuk commuter line dan berhenti di semua stasiun.

Di sisi lain, saat banyak penumpang kereta ekonomi ac dan pakuan yang kecewa dengan kebijakan PT KAI ini, kita tidak juga bisa mengabaikan realitas, dari 248 unit armada kereta api hanya dapat ditampung dengan kekuatan pasokan listrik 86 megawat dari kebutuhan aslinya yang mencapai 150 Megawatt. Belum ditambah memperhatikan anggaran operasional PT KAI, sejak tahun 2000 PT KAI tidak memperoleh bantuan pemerintah berupa IMO karena PT KAI wajib membayar TAC kepada pemerintah karena sudah menggunakan infrastruktur negara seperti jalan rel dan sinyal.

itu juga sebabnya, PT KAI melakukan penghapusan armada kereta pakuan express dan menaikkan harga tiket sebagai langkah efisiensi atas penganggaran operasional yang terlalu berat sebelah walau tanpa dipungkiri juga fakta hampir tiap petang para pengguna kereta menjejali dua jenis armada ini walau betapapun mahal harganya sebaliknya tidak jarang kereta ekonomi yang disubdisi untuk mereka yang tidak mampu kosong. Sebagaimana dalam pengambilan keputusan akuntansi manajemen jika ada tiga jenis produk yang tidak menguntungkan dan membebani anggaran itulah yang akan off untuk maksimalisasi dua produk lainnya.

Tetapi persoalannya ternyata belum selesai dengan langkah efisiensi ini. kenaikan tiket kereta commuter line disikapi secara tidak professional oleh PT KAI sendiri dari segi pelayanan. Kita hitung saja betapa sejak tiba di stasiun, calon penumpang kereta listrik disuguhi pemandangan yang tidak enak untuk sebuah stasiun besar semisal Stasiun Jakarta Kota dan Stasiun Bogor bahkan ada seorang pernah menulis di surat pembaca Koran Republika betapa tidak manusiawinya stasiun Bogor, selain sampah bertebaran hingga jarak antara  jalur kereta api dengan pintu masuk kereta sangat tinggi. Belum ditambah pelayanan di loket kereta listrik yang lebih sering konsumen diperlakukan sebagai “orang yang membutuhkan “ dan bersedia membayar berapa saja asal sampai ditujuan tidak peduli jam berapa keberangkatannya. Kecewa pun tinggal kecewa, pasrah tinggal pasrah dengan semua kebijakan yang dari awal tidak memperhatikan rasa empati penumpang.

Apa yang disebut langkah efisien tidak hanya soal kompensasi antara cost dengan benefit saja yang seimbang atau dalam bahasa agama kita, Al Ghanam Bil Ghurmi , tetapi juga bagaimana dengan input yang proporsional bisa menghasilkan output yang maksimal dan outcome yang memuaskan. Karena itulah kita masih ingat value for money dalam penganggaran lembaga pemerintahan. Dan meskipun PT KAI merupakan salah satu BUMN di negeri ini aspek akuntabilitas dan transparansi serta penunaian kewajiban sosial dalam bentuk CSR harusnya menjadi perhatian lain bagi PT KAI daripada sekedar berusaha bagaimana bisa profit lebih dari break event point.

PT KAI Commuter Jadebotabek sayangnya hanya mengambil aspek efisensi dengan mengorbankan aspek lainnya yang tidak bisa dilepaskan sebagai bagian pelayanan publik. Dengan mengambil langkah efisiensi itu pun secara faktual PT KAI Commuter Jadebotabek belum mencapai laba yang ditargetkan namun masih harus menanggung beban pemeliharaan dan perawatan yang mencapai Rp 17 Trilyun yang sudah berjalan dari mulai tahun 2000 hingga 2011.

Efisiensi memang belum tentu adil, itulah mengapa dalam Ekonomi Islam kajian tentang efisiensi sesungguhnya tidak pernah ada karena konsep dasarnya bukan low cost dengan max output atau alokasi anggaran yang minim  dengan pendapatan yang sebesar-besarnya. Namun dengan keadilan eksistensi maslahah bagi  ketiga pihak yaitu pemerintah, pengguna layanan kereta, dan PT KAI tetap berjalan dan tetap mencapai laba yang diinginkan tanpa harus menzalimi salah satu pihak. Maka yang paling mendekati eksistensi output yang maksimal hanya bisa dihasilkan dari kinerja yang optimal dengan memaksimalkan semua potensi dan memperhatikan  the theory of moral profit . untuk BUMN seperti PT KAI adalah transparansi laporan keuangan tahunan PT KAI kepada publik, Kepedulian sosial dalam bentuk CSR PT KAI, penataan ulang birokrasi di PT KAI Commuter Jadebotabek, revitalisasi tempat publik seperti Mushalla dan tempat menunggu kereta kepada keadaan yang pantas, dsb.

Ala Kulli Hal, sebenarnya kalau mau bekerja keras sedikit, PT KAI tetap bisa meningkatkan pelayanan publik  sebagai salah satu transportasi massal dan mempunyai kekuatan untuk mengurangi kemacetan di Ibukota sambil tetap melebihi break event point dengan alternative lain tanpa banyak mengandalkan anggaran dari pemerintah. belajar dari negara tetangga, disamping Negara telah sadar benar fungsi dan kewajibannya untuk memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, sumber pendanaan untuk memaksimalkan operasional transportasi massal juga di engineering dari sukuk dengan akad istishna beda dengan kita disini yang hanya mengandalkan kereta hibah dari Jepang.

Indonesia sangat berpotensi membangun dan mengelola infrastruktur nya dengan sukuk intifa sebuah hybrid akad antara dua akad yaitu sukuk dengan wakaf.   apalagi mengelola transportasi massal seperti Bus Way dan kereta commuter line yang seharusnya tidak perlu menabrakan istilah pelayanan publik dengan bisnis komersil karena pelayanan publik memang sudah jadi kewajiban bagi negara dan bisnis komersil hanyalah perangkat agar pelayanan publik optimal dari segi profit dan tetap bisa going concern sebagai sebuah entitas.

Dramaga, Bogor

10 Rewah 1432 H, 23:43

Sambil mendengarkan murataal Qura’an surah Al Baqarah by syaikh Ali Bashfar

Krisis Keuangan Asia, Suku Bunga dan Hiruk Pikuk Perbankan Nasional 2011

Tinggalkan Komentar

bunga Maka, membersihkan diri dari dosa, bertawakal kepada Allah dan kembali pada perlindunganNya adalah termasuk modal kemenangan, bukan sesuatu yang terpisah dari medan Membuang jauh-jauh sistem ribawi dan mengadopsi kerja sama termasuk bekal kemenangan, karena masyarakat kerja sama lebih dekat kepada kemenangan dibandingkan masyarakat ribawi

Sayyid Quthb

Di sebuah pojok jalan kawasan Harmoni menjelang Maghrib, sebuah plang depan  Gedung Tua peninggalan jaman kolonial,   memperlihatkan seonggok iklan yang agak vulgar menurut saya. Mungkin dalihnya untuk memenuhi pertempuran pasar dan untuk memberikan loyalitas konsumen terhadap layanan perbankannya. Kurang lebih iklan yang dipampang salah satu  sudut jalan Harmoni  itu berbunyi “Deposito di Bank X, bunganya berbunga-bunga  !”. sejujurnya saya ingin tergelak ketika pertama kali melihat plang iklan bank swasta yang saya temukan di salah satu sudut ibuota tersebut.bagaimana tidak ,  bank-bank swasta dengan amat mudahnya memberikan pelbagai layanan bagi nasabah sebagai gimmick yang di luar rasionalitas kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia.

Seperti halnya layanan hadiah dan pelbagai bonus yang amat megahnya menghiasi televisi dan setiap sudut pemasaran produk perbankan nasional hari ini. tanpa disadari, pelbagai pemberian bonus dan hadiah yang gila-gilan itu telah membuat cost of fund yang tinggi dan sulit menurunkan suku bunga, jika suku bunga turun pun akan tetap menjadi posisi dilematis bagi bank –bank swasta karena ditakutkan nasabah-nasabah yang memiliki rekening gendut berpindah ke bank yang menawarkan bunga yang lebih menggiurkan.

Jadilah perbankan nasional negeri ini sedang berpesta sekaligus terlilit oleh suku bunga yang mencekik bagi para pemohon pembiayaan untuk sektor riil dan sekaligus memanjakan pemilik rekening gendut yang jumlah nya tak lebih dari keseluruhan dana pihak ketiga perbankan nasional.  menurut data Lembaga Penjamin Simpanan ( Maret 2011 ) yang menunjukkan jumlah simpanan di bank mencapai Rp 2.381,98 Trilyun   sedangkan penduduk miskin khusus untuk wilayah ibukota DKI Jakarta yang menjadi target utama semua pemasaran produk-produk perbankan nasional, sekitar 312,8 ribu orang menurut situs resmi pemprov DKI Jakarta. Sedangkan dalam skala nasional menurut laporan badan pusat statistik bahwa jumlah penduduk miskin dengan batasan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan pada tahun 2010 mencapai 31,02 juta atau sekitar 13,33 % .

Lagi

Sebuah Essay mengenai Kapitalisme dari Umair Haque

Tinggalkan Komentar

sebuah analisis yang menarik, tetapi memang begitulah kapitalisme dengan pelbagai wujudnya, menyakitkan tetapi masih digunaka oleh banyak orang, tidak ramah dengan lingkungan tetapi bisa meruba formatnya dalam bentuk CSR dan mampu meningkatkan kinerja perusahaan, selalu menimbulkan masalah baru dalam bentuk resesi dan perbaikan siklus ekonomi yang disertai pengangguran. selama belum lahir peradaban alternatif bagi warga dunia, kapitalisme akan terus”bermuhasabah “

The Capitalist’s Paradox

Consider a curious set of observations:

  • What’s standing in the way of democracy might just be politics — parties, Congress, lobbyists, the whole glad-handing, schmoozeful K-street shebang, which seems to exist mostly to subvert the will of human people, and replace it with the wishes of corporate “people.” The best investment a company can make? Try lobbying: its returns can exceed 20,000 percent.
  • What’s standing in the way of capitalism might just be yesterday’s capitalists — trying at every turn to stifle competition, squelch information, earn an unfair advantage, and extract value from people, nature, and the future, instead of creating authentic, thick, shared value for them.
  • What’s standing in the way of jobs might just be, in part, unions — too often inflexible, rigid defenders of zero-sum thinking, hierarchy, and seniority, agitating for more, instead of working towards better.
  • What’s standing in the way of higher quality education just might be schools — whose top-heavy, militaristic management prevents dedicated, talented teachers from evoking the best in their students.
  • What’s standing in the way of better health care just might be HMOs — whose overweening concern with profit means that Americans pay the most among developed nations for health care, but have seen the smallest gains in life expectancy (among other measures that matter).
  • What’s standing in the way of finance might just be banks — who, not content with blowing up the economy, getting bailed out to the hilt, and poisoning prosperity, are back to paying themselves mega-bonuses for doing all the above, instead of allocating resources productively.
  • What’s standing in the way of service might just be the dismal, depressing set of practices known as “customer service” — which we all know is about anything but serving, and a lot more about ensuring the GiantEvilCorp you’ve made the unfortunate mistake of dealing with can batt away your question, complaint, or problem with a disempowered drone reading from a script on the other end of the phone who’s just as miserable and annoyed as you.

I could keep going and point out the same baffling “fist, meet head” dynamics at work in every nook and cranny of the economy, but I’ll stop there. Now, you probably don’t agree with all my bullet points. But I’d suggest that even if you were to scratch your head and agree with a handful of them, it might be a tiny hint at a bigger truth. Economists talk of “barriers” — and here’s my hypothesis: the greatest barriers to prosperity might just yesterday’s lumbering institutions.

What stands in the way of the future, most often, is the past. It’s yesterday’s sluggish institutions. Yet, instead of reimagining and rebooting those institutions, we keep reviving and resurrecting them — zombielike — hoping that by bringing them back from the dead, we can keep the status quo humming along for just a little while longer, that we can eke out the last meager, shriveled morsels of returns from seeds laid down during the industrial age.

If the greatest barriers to prosperity aren’t government deficits, bailed-out bankers, ineffectual civil servants, a recession every seven years or so, corporations who shrug their shoulders and keep on practicing the dismal lessons of business as usual, investors who turn their back on authentic investment in lieu of mere speculation — if all those and more are merely incidental second-order effects of a deeper cause, and that deeper cause is the institutions that keep on producing all the above as predictably, consistently, and relentlessly as it rains in London… well, then, it’s time to dream bigger.

Here’s what I mean. Lately, whenever I step into a boardroom, it’s as though I’ve been transported right back to 2005. The discussions and debates are largely the same. But it’s not the same world as it was yesterday. It’s a world where the essence of prosperity is faltering. It’s a world where yesterday’s tired industrial age assumptions and practices have been thoroughly challenged, and found wanting — and yet they live on, like weeds, in every nook and cranny of our institutions. It’s time to root them out.

So here’s my question: Does what you’re doing have a point — one that matters to people, society, nature, and the future?

Beancounters, listen up. To paraphrase Shakespeare, I come not to praise you, but to bury you. I don’t care about your “strategy,” “business model,” “campaign,” “product,” or “deliverables” (sorry). All that stuff is focused on outputs. What matters to people, in contrast, are outcomes: did this bring a tiny slice of health, wealth, joy, inspiration, connection, intellect, imagination, organization, education, elevation into my life, that lasted, multiplied, and mattered to me — or was its final result merely to make me just a bit fatter, wearier, unhealthier, disconnected, dumber, duller?

What I care about is whether you can change the world, radically for the better — whether you can attain deep significance, and matter in human terms. Why? Because the world needs, wants, is crying out for changing — and if you can’t change the world, a rival who can is going to make your latest, greater so-called blockbuster look mediocre, the people formerly known as customers are going to tune you out, communities are probably going to self-organize against you, and, when all is said and done, you’re probably going to end up at the mercy of hurf-durfing “investors” whose idea of “long-term” is speed-dating on steroids.

So in three words or less, what’s the point of what you do, the products you make, the services you offer? What’s the lasting human outcome? Is it a significant outcome — positive, tangible, perhaps life-changing? Or is it trivial? You are a cause — what is your enduring set of effects in the real world?

To illustrate, go back to my bullet points: democracy, education, healthcare, finance. Those are just a few of the outcomes that yesterday’s institutions are struggling mightily to deliver, and just can’t seem to. Witness, for example, US life expectancy sliding for the bottom 90 percent, right after their median income has stagnated, their net worth has blown up, their jobs have been sliced, diced, and “outsourced,” their public services slashed, and their once thriving democracy reduced to choosing helplessly between a set of bad options every few years.

In a world where yesterday’s institutions can’t deliver the goods — literally, the basic stuff of economic welfare — there’s nothing more valuable than being able to do so: it just might be, as I’ve been arguing, the bedrock of 21st century advantage. Sometimes, to step into tomorrow, you’ve got to let go of the past. It’s never easy. But it might just be necessary.

So perhaps, if you’re one of the people formerly known as the masters of the universe, you should be quaking a little bit in your tasseled loafers. Perhaps it’s time to ask: “Is the final, real-world outcome of all the hard work the very talented people in our organization do a positive, lasting outcome — or does it tend to backfire? Do our outcomes say: “We’re creating a radically better future, in human terms — because yesterday’s best isn’t good enough”? Or do they say: “Here you go. Want fries with that McFuture?”

If it’s the latter, grab your crash helmet, practice your defensive crouch, and prepare to be overthrown.

Sekali Lagi, Soal Fraud !!

Tinggalkan Komentar

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Global Economic Survey pada tahun 2005 mengenai jumlah kasus yang muncul di dunia keuangan akibat kasus Fraud  ada sejumlah poin yang sangat layak untuk perhatikan oleh para akuntan manajemen ataupun praktisi dunia perbankan pertama, fraud merupakan ancaman yang masih dan akan terus berkembang. Pada tahun 2005, saat survey yang diselenggaran, Indonesia menduduki peringkat kedua dalam terjadinya fraud setelah Australia. Kemudian kesimpulan lai dari survey yang diselenggarakan dengan melibatkan interview lebih dari 3.500 eksekutif senior dari 34 negara menyebutkan bahwa sebanyak 44  % responden menyatakan bahwa pelaku fraud adlah pegawai yang direkrut oleh perusahaan

Pada hari-hari ini, dunia perbankan kembali dipanaskan dengan sebuah kasus yang membuat semua orang terhenyak. Seorang pegawai senior dis ebuah bank swasta dengan sukses menggelapkan dana nasabah Citibank sebesar 17 M.  pegawai bank swasta ini telah bekerja di Citibank selama 15 tahun dengan pengalaman di sejumlah posisi dari mulai Account Officer hingga senior relation manager. Sebelumnya juga pernah kecolongan seorang pegawai bank mutiara menggelapkan uang nasabah, fraud memang identik dengan perbankan walau tak semua fraud selalu ada dalam dunia perbankan. Seperti studi yang ditunjukkan oleh Xerandy & Hendrawan (2006) mengenai masalah-masal;ah fraud yang terjadi dalam dunia telekomunikasi yang bisa dibagi dua, yang pertama Subscription Fraud dan Technical Fraud.

Lagi

Ketidakadilan

Tinggalkan Komentar

sebuah analisis sederhana  dari dosen pembimbing saya

Luas ruangan kerja anggota dewan di gedung barunya nanti 7×5 m2, hampir setara dengan rumah tipe 36. Untuk mendapatkan rumah seluas itu, rakyat yang merupakan pimpinan dari wakil rakyat harus mengikuti program KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dengan jangka waktu 10-15th. Cicilan yang harus dibayarkan oleh rakyat setiap bulannya bahkan melebihi 30% gajinya.

Dengan biaya lebih dari 1 triliun, gedung baru tersebut akan dibangun yang dananya juga berasal dari rakyat melalui mekanisme pemungutan pajak. Apa yang terjadi sebenarnya di Negeri ini?? rakyat membuatkan ruangan yang sangat nyaman dan luas bahkan fasilitasnya setingkat hotel berbintang 5 kepada wakilnya, sedangkan rakyat sendiri megap – megap untuk mendapatkan hunian yang layak.

Jika saat ini wakil rakyat tidak mau mengikuti suara rakyat sebagai atasannya untuk tidak melanjutkan pembangunan gedung baru tersebut, maka wakil rakyat telah tuli dan membangkang terhadap atasannya. Jika saja kejadian ini terjadi didalam suatu perusahaan maka pasti akan diterbitkan Surat Peringatan 1 (SP1), SP2, dan SP3 sampai dengan pemecatan kepada karyawan yang membangkang kepada atasannya. Namun mungkinkah langkah ini bisa dilakukan untuk wakil rakyat? Jawabannya sudah dapat ditebak tidak akan bisa dilaksanakan, karena wakil rakyat hanya mau mendengar suara rakyat ketika mereka kampanye.

Tidak banyak yang bisa rakyat lakukan atas ketidakadilan ini, rakyat hanya bisa berandai – andai bagaimana kalau ruangan kerja tersebut yang akan ditempati oleh wakil rakyat juga harus melalui program KPR (Kredit Penggunaan Ruangan). Wakil rakyat yang menempati ruangan harus dipotong gajinya setiap bulan untuk mencicil sampai lunas dengan tingkat nisbah ataupun bunga pasar yang berlaku.

Andai – andai tersebut juga tidak mungkin dilaksanakan. Akhirnya rakyat hanya bisa menuntut hal yang paling mendasar agar wakil rakyat dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi kemakmuran rakyat dari gedung barunya tersebut. Selain itu rakyat juga memohon kepada wakil rakyat agar ruangan barunya jangan dikotori lagi oleh aktivitas – aktivitas negatif seperti membuka emai/situs porno.

Asia sukuk draw Gulf funds as crisis worsens

Tinggalkan Komentar

berita menarik dari Islamicfinance.de dampak krisis politik di Libya telah memaksa perusahaan-perusahaan di Timur Tengah dan Malaysia  menerbitkan sukuk untuk menghimpun dana lebih banyak. memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan :-)

The political conflict that has spread to Bahrain, Libya, Yemen and Morocco will make it more expensive for companies to issue Islamic bonds in the region and in Malaysia. The Asian nation is attractive to borrowers because of its lower yields.
But spreading unrest across the Middle East may be encouraging Shariah-compliant investors to increase purchases of Asian assets and will spur sales of Islamic bonds.

 

Harap-Harap Cemas

Tinggalkan Komentar

Semua harap-harap cemas. Apa yang sedang berlaku bak bola salju di Timur Tengah tidak ikut merembet ke negaranya. Bahkan kalau perlu tidak ikut menggoyangkan roda pemerintahan seberapa pun tuanya roda itu telah bergulir. Semua harap-harap cemas, berharap masih ada kasih sayang Tuhan terhampar di bumi para anbiya akan perubahan dan taraf kehidupan kea rah yang lebih baik. Bebas dari genggaman tangan besi sang Tiran yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Kecemasan itu menjadi-jadi setelah melihat perilaku brutal Muammar Khadaffi melakukan provokasi untuk membantai rakyatnya sendiri. Muammar Khadaffi yang selama ini dipuji-puji oleh sebagian ormas islam dan majalah islam di Indonesia sebagai Kekuatan Baru Dunia Islam atau juga disebut sebagai Singa Afrika.

 

Semua Harap-Harap Cemas, apa yang menimpa Bahrain tidak segera menganggu  industry keuangan syariah yang sejak tahun 2007 menikmati berkah dari kolapsnya lembaga keuangan di Amerika Serikat dan menyebarnya cap junk terhadap surat utang negara Yunani,Spanyol,dan Portugal. Sejak tahun 2007-2010, Lembaga Keuangan Islam di Timur Tengah terutama di Kuwait dan Bahrain tampil sangat atraktif dalam mengambil kesempatan melimpahnya surplus industry minyak. Tidak terkecuali di Dubai, keadaan surplus dari industry minyak tersebut ternyata disikapi dengan semangat hedonitas, sebutlah Buruj Al Arab, Pulau Kurma, dan sebagainya yang dibalas oleh skenario Allah oleh kegagalan bayar Sukuk Nakheel, sebuah subsidiary Dubai World, dan diketahui sebab kegagalannya adalah selain adanya off balancing sheet juga manipulasi akad jual beli. Yang seharusnya dalam akad jual beli memiliki apa yang disebut sebagai ma’qud alaih atau objek jual beli yang ada, Nakheel hanya menyediakan asset yang belum lagi jadi atau sempurna. Mirip dengan transaksi muzabanah yang dilarang oleh Baginda Rasulullah, menjual buah yang masih berada di pohonnya.

Lagi

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.