Telaga Kautsar

Menjadi Telaga Bagi Ekonomi,Keuangan dan Perbankan Islam

Archive for the ‘Musyawarah Kata’ Category

Kesaksian Enam Puluh Empat Tahun Pembangunan

without comments

Saat kata kita merangkai dunia

Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka

Telah enam puluh empat tahun negara kita merdeka

Telah menua usia bendera merah putih disana

Seharusnya kita lebih belajar lebih dewasa dari anak TK

Saat kata kita harus merangkai wacana

Pada permulaanya hanyalah di atas kalam

Buah pikir yang tersantunkan dan menggeliat

Menggeliat menjadi poros.

Menggelinding ia sentuhkan perubahan

Saat kata kita kembali bicara jujur

Dari ruangan hati ke meja berhiaskan speaker

Dari ruangan hati ke bilik kekuasaan Presiden

Atau malah dari ruangan yang tak mempunyai hati nurani

Yang penting merdeka lebih punya isi

Yang melawan retorika para politisi.

Yang melawan kelaparan bayi-bayi

Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka

Sudah enam puluh tahun kita merdeka

Sudah renta usia negara kita

Dan kata-kata kita masih dijajah dari  berkata jujur.

Kau adalah anak baik-baik

Andai diam saja dan katakan sesuai apa yang dipesan pemilik modal

Andai tetap tersenyum dan katakan sesuai apa yang dipesan pelaku pasar

Kau adalah ulama yang terhormat

Andai selalu merapat pada barisan koalisi kekuasaan Sang Presiden

Andai tak terlalu banyak berfatwa

Fatwamu cukup untuk si miskin dan si pengangguran

Mereka berdosa karena kemalasan mereka dan dapat menjadi beban negara !

Kesaksian dari arah pembangunan menjerit pedih

Sudah enam puluh empat  tahun kita merdeka

Masih jua meronta perih

Sudah renta usia ibukota kita

Masih jua menangis pasrah

Dan kata-kata kita masih dibelenggu dari berkata ikhlas

Lalu siapa yang bisa memberi arti pada tulang-tulang berserakan

Pasca 10 November dan antara krawang dan bekasi ??

Lalu apa artinya kita berteriak gagah-gagahan merdeka !

Untuk Tanah, Air, Minyak, Bumi, dan Api bukan kita yang punya

Menghirup udara pun perlu proyek privatisasi

Kesaksian dari arah pembangunan

Masih berteriak lemas dan marah !

Written by Willy Mardian

Agustus 13, 2009 at 5:04 am

Dari Manusia Untuk Peradaban

without comments

Membaca Sejarah Kita

Adakah bangga dirasa ??

Kala sengat zaman nan garang

Pilukan ujung sembilu yang berang

Seakan hendak melawan tiran

Dari ujung pena

Dari goresan tinta

Dari jilid buku

Manusia bersyahadah pada Peradaban

Tapi ada yang inferior

Menatap Petronas begitu superior

Dari pojok kota yang kotor

Bersambung ke Eropa dan Yunanni

Ternyata Terkerdilkan oleh Syahwat Sendiri

Maka, Membaca takdir kita

Adakah takjub dirasa ??

Kala peta politik telah berubah

Dimensi geografis semakin tak tentu arah

Dan sandi peradaban bersyadahah

Kelancangan manusia sebagai arsiteknya

Itulah Budi pekerti tertinggi

Tak rendahkan manusia barang seujung jari

Tak agungkan Tiran walau sehelai rambutnya kemisik kasturi

Sejumput asa di pancang

Sebongkah dusta dibuang

Musafir ilmu enggan lelah mencari

Propaganda Tiran hantui massa

Tapi ia berfikir pasal cita-cita

Sistem Riba melaratkan bangsa

Tapi ia berceloteh tentang logika keberkahan

Skenario Politik Tiran tololkan bangsa

Malah coretannya berbicara tentang Keadilan dan Kemanusiaan

Maka itulah pelik dan rumitnya

Dan dari kemanusian tuk Peradaban

Bermula dari kemauan

Bogor

Written by Willy Mardian

Juli 16, 2009 at 7:58 am

Ditulis dalam Musyawarah Kata

Ditandai dengan

Menjelang Petang

without comments

Menjelang Petang

Menatah Matahari

Ketika terbangun dengan geliatnya

Dari lelapan mimpi

Cerita seperti dimulai

Semua bergegas

Tanpa permisi

Tanpa basa basi

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Maret 27, 2009 at 1:03 pm

Ditulis dalam Musyawarah Kata

Jawaban Surat Osama buat Aa Gim”

with 7 comments

oleh: Anis Matta

“Saudaraku,

Suratmu sudah kuterima

Aku baik-baik saja di sini

Aku masih minum teh di pagi hari, menikmati sunset di sore hari,

mengendalikan bisnis,

mengontrol jaringan Al Qaidah,

di balik gua-gua Afghanistan,…

Tenanglah Saudaraku di Indonesia,

jadwal kematianku tidak ditulis di Pentagon

atau Gedung Putih.

Saudaraku

Aku menonton aksi-aksi kalian di Indonesia

dari jaringan TV Aljazeera

Aku senang kalian sudah mulai berani bicara

Aku suka kalian sudah bikin Bush marah-marah

Aku gembira kalian sudah bisa bilang “tidak”

Aku bahagia kalian mulai belajar jadi singa

Aku terharu kalian miskin-miskin tapi mau nyumbang

Aku terheran-heran kalian kecil-kecil

tapi mau jihad ke Afghanistan

Aku pikir kalian ini anak-anak ajaib.

Saudaraku

Aku mau buka rahasia sama kamu

Tapi jangan bilang siapa-siapa

Kamu tahu nggak, kenapa orang-orang Taliban sayang kepadaku?

Kata mereka, ternyata karena aku lucu

Bocah-bocah Afghanistan senang padaku

Karena aku bawa mainan

pesawat-pesawat Amerika buat mereka

Para pemulung juga suka padaku

Karena rudal-rudal Amerika itu

bisa jadi besi tua yang laris

Orang-orang Amerika itu terlalu serius

Padahal kita cuma sedang bermain

di halaman surga.

Saudaraku

Kalau nanti Allah memilihku menjadi syahid

Utusanku akan datang menemuimu

Membawa sebuah pundi kecil

Itulah darahku

Siramlah taman jihad di Ambon, di Ternate, dan di Poso

Tapi kalau aku bisa

mengubur keangkuhan Amerika di sini

Aku sendiri yang akan datang ke Indonesia

Kamu tahu apa yang akan aku lakukan

Aku cuma mau, investasi di negerimu”

Written by Willy Mardian

Juli 4, 2008 at 8:26 am

Ditulis dalam Musyawarah Kata

Surat Untuk Osama Bin Laden

without comments

“Surat Untuk Osama Bin Laden”.

oleh: Anis Matta

“Osama

Kamu tidak pernah bilang kepadaku

Kalau kamu mau meledakkan WTC dan Pentagon

Bush juga tidak punya bukti sampai sekarang

Jadi aku memilih untuk percaya pada cinta

Yang terpancar dibalik keteduhan matamu

Pada semangat pembelaan

Yang tersimpan dibalik lebat jenggotmu.

http://telagaalkautsar.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce-207/plugins/wordpress/img/trans.gif

Osama

Kamulah yang mengajar bangsa-bangsa yang bisu

Untuk bisa bicara

Maka semua berteriak

Kamulah yang menanam bibit keberanian

Di ladang jiwa orang-orang pengecut

Maka mereka melawan

Kamulah yang menebar nikmat kemerdekaan

Di relung kalbu orang-orang tertindas

Maka mereka berjuang

Kamulah yang mengobarkan harapan

Di langit hati yang terjajah

Maka mereka berontak.

Osama, Oh, Osama

Osama, Oh, Osama

Mari kita nyanyikan lagu kemenangan

Bersama nurani anak-anak manusia

Yang telah menemukan kehidupannya

Osama, Oh, Osama

Osama, Oh, Osama

Mari kita senandungkan nasyid keabadian

Bersama nurani anak-anak manusia

Yang merindukan taman surga.”

Written by Willy Mardian

Juli 4, 2008 at 8:20 am

Ditulis dalam Musyawarah Kata

BiarKanlah GAZA Berbicara

without comments

 

 

Hanya untuk kecermerlangan mentari di sore hari

Atau nafas terengah-engah mengendarai warna-warni udara

Bermain bersama deru peluru dan aku ingin sekali bersama kalian

Menghirup lepas angin kemerdekaan

Kemerdekaan benar-benar merdeka

Walau seribu decak angkara memenjara

Di Gaza dan masjid-masjidnya

Para orang tua merintih pedih membacakan salam perpisahan

Juga salvo kemenangan

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Maret 26, 2008 at 1:21 pm

Ditulis dalam Musyawarah Kata

Ditandai dengan

Abu Ubaid

without comments

ABU UBAID

Yassin El Cordova

Bunyi gedor pintu di shubuh hari

Berirama dan bertabuhan

Wajah-wajah kusut dan rambut acak-acakkan

Perlahan-lahan keluar pelan tergontai  dari balik kamar

Percik wudhu gemercik nyaring membelah sunyi

Bersama derap suara anak tangga dijejaki

Jasad-jasad berkain sarung serta kemeja 

Hingga semayup lantunan kalam illahi

Membakar selaput malas di kedua bola mataku

Kelebat bayang ranjang kamar dan selimut

Begitu menggoda untuk ditinggalkan Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Februari 27, 2008 at 6:59 am

Ditulis dalam Musyawarah Kata

Terminal Sederhana

without comments

Inilah terminal sederhana

separuh senja membakar dan beruntai

burung-burung bertengger di atas

gedung Ibnu Khaldun

Ini Terminal sederhana

dengan ucapan sama

di tahun lalu berselubung duka

dan atas alasan apa

mulut kita basah bermoga-moga

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Januari 28, 2008 at 1:26 pm

Ditulis dalam Musyawarah Kata

Untuk Sahabat

without comments

dan harus kujawab rentak dingin malam bersama diriku sendiri

tanpa ada cerita

                  atau

                   sejumlah tawa

menyelimuti diamnya diriku di pojok rak buku atau mihrab masjid

tanpa ada tanya

                  atau

                  sejumlah sapa ceria Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Januari 28, 2008 at 1:18 pm

Ditulis dalam Musyawarah Kata