Buku bukan satu-satunya media yang padat dan berharga menyampaikan sebuah gagasan. Dan malah yang jauh lebih terbukti efektif pada gejala-gejala globalisasi dan secara mendunia dapat segera ditangkap dan diakses oleh milyaran penduduk dunia dengan kecanggihan teknologinya. Bukan menafikan siapa yang banyak memerankan perkembangan teknologi. Tapi, semakin nampak mana yang patut diambil dan mana yang lebih layak dilempar ke tong sampah. Dan sudut pandangnya pun tinggal memilih menjadi penonton yang selalu setia bersikap “spectators “ atau bersedia mengambil jalan “panas “ dalam sudut pandang yang obyektif dan memiliki landasan kuat.
Kalau ada yang telat menyaksikan film-film Box Office yang telah mengundang decak kagum ribuan penonton dan berkali-kali diobrolin di pelbagai blog dan situs internet mungkin salah satunya adalah saya sendiri. Especially film-film keluaran 2005 seperti Film Gie yang keluar sebagai film terbaik, actor terbaik, dan sinematografi terbaik.
Film ini diangkat dari buku harian seorang aktifis mahasiswa eksponen 65 an. Saya sendiri sudah pernah membaca dengan jelas gagasan yang ditawarkan oleh Soe Hok Gie, sosok aktivis mahasiswa tadi, dalam bukunya yang diterbitkan oleh LP3ES berjudul “ Catatan Sang Demonstran “. Berdarah Chinesse dan kuliah di Universitas Indonesia Fakultas Sastra jurusan sejarah. Memang saya sudah beberapa kali malah menonton film tersebut.
Seru dan memberikan makna lain yang harusnya tidak boleh dilupakan dalam demam euforia hedonitas. Tentang arti dari mencintai Tanah Air. Ada banyak orang selepas menonton film ini segera berburu buku “Catatan Seorang Demontran “ hingga berani menghargai sampai ratusan ribu rupiah ! atau berburu ke pasar-pasar bukend (Buku sekend ) di kawasan Kwitang (sekarang dah almarhum ), Bursa Buku Palasari di Bandung, dan Taman Topi di Bogor. Mungkin almarhum Soe Hok Gie nya sama sekali tidak menyangka bahwa sebuah buku harianya akan dibaca oleh banyak orang, bahkan diangkat menjadi sebuah film yang disutradarai oleh Riri Riza.






Wilujeng Sumping