Archive for the ‘Fikrah’ Category
No More Simplicity
Salah satu poin penting kritik yang sangat fundamental terhadap asumsi bebas nilai adalah simplikasi masalah dan efek yang ditimbulkan secara makro ekonomi dan jangkuan luas secara holistik. Asumsi Bebas nilai mengasumsikan dalam sains hanya ada kekosongan nilai yang tergantung siapa bisa menguasai dan memberikan warna pada sains tersebut. Itulah mengapa kala dihadapkan pada gagasan Islamisasi Pengetahuan ataua Aslama Al Ma’rifah, sejumlah cendikiawan menolak mentah-mentah gagasan tersebut dengan asumsi segala sains yang telah dan patut kita telaah pada dasarnya tergantung di tangan siapa menjadi bermanfaat. Secara moderat, Ziaddin Sardar pun menilai kalaulah Sains itu bebas nilai,seperti yang ditunjukkan ilmu-ilmu eksakta, maka pendekatan kepadanya yang membuat kita menjadi lebih sekuler.
Merujuk pada bahasan Dr Muhammad Syafii Antonio di seputar gagasan mengapa perlunya kita menyediakan SDM yang kapabel untuk memasuki ranah Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah ternyata dunia telah terbagi menjadi dua. Yang pertama, kata beliau, mereka yang terbiasa dengan tradisi Turats di pondok pesantren dan menguasai pelbagai tools ilmu-ilmu keislaman seperti bahasa Arab,Fiqh, kitab kuning dan lain-lain. Di saat yang sama, kata beliau, para bankir menguasai manajemen keuangan,Akuntansi Finansial,Statistik, Manajemen Operasional, Akuntansi Biaya namun minim pengetahuan di bidang Islam. Otomastis hal-hal seperti inilah yang menyebabkan terjadinya misunderstanding dan asumsi bebas nilai itu senantiasa muncul. Tanpa mengetahui terlebih dahulu akar epistomologi dan sejarah yang melatarbelakangi keilmuan itu muncul efeknya adalah penyederhanaan persoalan makro menjadi semata moral hazard dan error human saja. Padahal dalam Islam, tiga pilar yang menopanginya yaitu akidfah, syariah, dan akhlak membentuk sistem sekaligus para pelakunya. Syariah itu sendiri tak semata-mata berputar pada Fiqh saja tetapi juga seluruh ruang lingkup gerak individu yang terjalin dengan akidah dan akhlak itulah Syariah.
Zona Nyaman Vs Idealisme
“’Ah kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini, dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat , bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan Amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti . Kalau tak ingat , bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat itu semua, shalat zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalkan kipas dan mendengarkan lagu El Hub El Haqiqi dan untaian shalawatnya Emad Arabiy dari Syiria itu tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan atau satu minggu d dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan MashaAllah alangkah segarnya “
( Habiburahman El Shirazy , Ayat-Ayat Cinta )
Rangkaian tulisan panjang tadi diambil dari salah satu karya sastra Islam terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia . Bahkan pernah diangkat ke layer lebar serta di saat yang sama novel tersebut telah banyak diterjemahkan ke pelabagai bahasa dunia dari mulai Malaysia hingga Jerman. Tetapi membaca rangkaian cuplikan dari karyanya Ustadz Habiburahman El Shirazy, satu poin penting terikat dengan apa yang banyak disebut oleh para aktivis da’wah sebagai “Zona Nyaman”. Bagi para Aktivis Da’wah Kampus hingga para businessman papan atas sangat risau dengan tiap kekayaan yang menumpuk di depositonya maupun emergency savingnya. Karena, bagi mereka, itulah zona nyaman, yang malah-malah mengantarkan mereka pada zona stagnan dan bahkan meluncur sama sekali.
Akhina Riza Rizky Pratama, CEO KSEI Lisensi UIN Jakarta, pernah menulis di facebooknya apa yang menjadi alsan mahasiswa UIN memilih bergerak di tengah-tengah opini kampusnya sebagai sarang penyakit liberalisme. Comfort Zone dipahami sebagai suatu sikon yang sekilas telah banyak memberikan banyak keleluasaan dan kecukupan materi hingga bagi mereka yang jeli akan tegas banyak “mengkritisi” dengan cara sibuk sendiri dan menenggelamkan diri ke pelbagai kepanitiaan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi mahasiswa matrikulasi sebelum memasuki semester awal yang juga bnayak dirasakan oleh mahasiswa lainnnya. Mencari kegiatan serasa menjadi PR terbesar yang harus digarap oleh Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi di setiap musyawarah atawa syuraa. Dari mulai Menerbitkan MARGIN (Matrikulasi Magazine) hingga Pekan Peduli Ekonomi Syariah sebagai jurus pamungkasnya mengekssistensikan nama mahasiswa sebagai pelopor perubahan. Maka, selepasnya dari Matrikulasi, kami serempak mencari pelbagai kegiatan dari mulai nyebur di Progres hingga membuat UKM baru. Atau Akhina Johanh Rio Pamungkas, temen kapmi di FIB UI juga pernah cerita di blognya kala pertama kali melihat fenomena “orang-orang kiri “ terlihat lebih eksis di kampusnya dibandingkan dengan para aktivis da’wah kampus yang katanya sudah Futuh dan banyaknya anak mushalla yang masuk ke kursi senat.
Membaca riwayat dan atsar para ulama terdahulu, Comfort Zone menjadi periode atau poin yang sangat menakutkan. Hingga Imam Ahmad yang telah berkali-kali mengalami penyiksaan leh rezim Al watsiq Billah dari Dinasti Abbasiyah “Tiada Kata Istirahat hingga kakiku menapak di SurgaNya “ atau Imam Zamakhsyari yang bersenandung puitis “jari-jemari di atas kertas dan buku-buku lebih kusukai dari pada pahanya para wanita ana alunan rebana “ dan nyatanya itu pulak yang menjadi jawabannya kala seorang ulama salaf berdoa “ ya Allah, tabahkanlah agar aku mampu bersabar di saat Kau berikan aku kelapangan “ .
Semoga itu jua yang ternyata menjadi semangat teman-temanku di usianya yang belia hanya terpikir satu kalimat “Just Do The Best “ bagai para pejuang, istirahat itu justru ketika mampu melepaskan diri dari satu kekangan ke kekangan yang lain sampai sempurna misi yang ia jalankan
Antitesanya adalah perubahan dan keluar dari zona nyaman harus siap dengan konsekuensinya karena ia kembali mendudukan keteguhan idealisme. Nah, bicara idealisme berate bicara kriterie ketegasan moral yang mengawal keberlangsungannya sbeuah misi. Dengan tegas, kita ummat muslim, kriteria ketegasan moral itu berangkat dari wahyu Allah SWT daan sunnah Muhammad Rasulullah. Sebab baru dengan demikian diterimanya sebuah amal. Tapi Idealisme juga perlu berdialog dengan wajah zaman dan keterbatasan ruang. Mendobrak zona nyaman dengan model tahun 1965 an jelas tak lagi relevan. Tidak selamanya Pemerintah adalah Tiran atawa Thagut yang harus digulingkan atau bahkan secara gegabah mencap mereka yang berhukum di bawah Pemerintahan yang sah secara yuridis dan aspek maslahah luas,dengan anggapan Thagut, mencapnya sebagai ashobiyah dan sebagainya. Karena di situasi dan massa yang telah banyak bergerak menuju titik penentuan sejarah akan ada banyak kerugian yasng harus rela dibayar mahal oelh ummat. Serta haruskah memperpanjang daftar kekalahan dengan logika Negara di saat yang sama kita adalah populasi muslim terbesar di dunia.?? Padahal logika Negara juga dibangun atas usmbangan dan kontribusi konsensus ummat. Ibarat babak belur di kandang dan gawang sendiri.
Para sahabat Rasulullah SAW, hingga para aktivis da’wah juga manusia. Ada ruangan manusiawi di sejumlah episode kepahlawanannya. Umar Ibn Khattab sangat manja di depan istrinya, tapi lain cerita, kala ia mendengar ada seorang non muslim yang terpaksa menajdi pengemis karena jizayah yang dirasa memberatkan kebutuhan ekonomi serta ditambah usia lanjut. Umar pun memegang tangan sang pengemis non muslim ini dan membawanya ke Baitul Maal kemudian membebaskan Jizyah serta memberikan sedekah yang diambil dari Baitul Maal tersebut. Di era kiwari, salah seoarang ikhwah bercerita dalam sebuah program daurah Al Qura’an. Tentang masa mudanya dilewati penuh dengan perjuangan keras dan habis di masa sulit. Sampai suatu ketika ia meminta izin kepada ibunya untuk berangkat demontrasi. Sampai tiga kali ia meminta izin namun barulah izin keempat mendapatkan izin. Yang mengharukan, sang ibu tidak membiarkan dirinya tangan kosong. Dibuatkanlah sebotol susu hangat untuk sang anak yang akan berangkat demonstrasi. Maka melinanglah air mata mengalir dari seorang ikhwah kita ini karena Cinta yang selalu dialirkan oleh ibundanya meski sempat sampai tiga kali menolak perizinan untuk bias ikut serta demonstrasi.
Disini. Di ruangan pertarungan untuk keluar totalitas dari zona nyaman punya seninya sendiri. Mereka yang mengaku idealis jangan sampai di pecundangi oleh berlimpahnya informasi yang tak juga menambah intelektualitas bertambah dewasa. Mereka yang mengaku paling idealis, jangan sampai atas nama idealisme telah ikut menyumbang orang lain menjadi apatis karena egonya lebih banyak muncul seolah-lah dunia miliknya sendiri. Tapi mereka yang mengaku moderat, yang ada semakin dalam terperosok dengan zaman yang ada. Pragmatis. Ungkapan –ungkapan seperti “ buat apa lagi aktif di pergerakan mahasiswa, keadaan tak juga semakin berubah “ kian nyaring terdengar senyaring teriakan apatisme sebagian masyarakat yang seolah-olah sudah bias memastikan besok matahari takkan terbit dari timur lagi. Mereka lupa kalau agama ini adalah agama ‘proses” bukan hasil. Surah Al Anfal, yang konon menjadi “nyanyian perang” bagi para mujahidin Palestina, diturunkan menjelang surah At Taubah lebih banyak berbicara, apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana mengarunginya, dan apa yang kita peroleh kelak dari Allah SWT bahkan dijanjikan dengan SurgaNya setelah bertransaksi dengan jiwa dan harta para mukminin.
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).( Surah Al Anfal :60 )
Tentang hubungan keterikatan hati para mukmin disentuh pula oleh Al Qura’an
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)622. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( Surah Al Anfal :63)
dan jual beli yang abadi
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( At Taubah :111)
Sejarah yang unik dan kerap membuat pembacanya terhenyak pernah mengajari kita. Di Masa Bani Ummayah, ummat ini pernah mengalami menyiksa tapi justru begitu dikenang sejarah. Adalah sang Penasihat Khalifah, Raja’ bin Haiwah dengan konspirasi keshalihannya memunculkan Umar Ibn Abdul Aziz di tengah-tengah dominasi keturunan keluarga Abdul Malik
Ala Kulli Hal, keluar dari zona nyaman dengan segenap perubahan memang menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi tetap bertahan dalam status quo, melanggengkan rezim kebathilan dan memperpanjang usia tua dalam asuhan sang rezim. Entah lah itu kita sebut realitas bobrok atau sistematika jahiliyah !!
Bandung, Syawal 1430 H
Nafs
Oleh : Hamid Fahmy Zarkasy
Manusia bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu.
Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi nafs mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.
Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb. Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb atau nafs manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam al-Qur’an:
Baca entri selengkapnya »
Email Dari Seorang Sahabat
Diawali dengan sebuah pertanyaan.. ..
Saudaraku, kalau saja ada yang bertanya, siapakah orang yang paling berbahagia hidupnya di dunia ini?
Insya ALLAH, orang dimaksud tidak lain adalah orang2 yang beriman.
Saudaraku, meskipun seolah-olah, mungkn saja terlihat dari luar, orang2 yang beriman begitu berjuang dengan gigihnya. Mungkin juga, cobaan, entah itu cobaan yang berupa nikmat atau ujian, datang silih berganti. Tanggung jawab amanah yang demikian besar. Pengorbanan. Dan sebagainya.. ..Sebenarnya, tidak menjadi sebuah masalah bagi mereka yang beriman.
Film Merah Putih, Kemerdekaan RI, Dan Ummat Islam

Film Merah Putih
merah putih, hormaat grakkk!
buat semua bangsa lain tersentak
kibarkan sang saka dengan serentak
harumkan nama ibu pertiwi serempak
di bawah langit biru berkibar tertiup angin
bangga jadi orang indonesia ku semakin
terpacu tuk memajukan bangsa
tunjukkan kita kuat kita bukan mangsa
berbeda suku, beda golongan dan agama
bhinneka tunggal ika kami yang pertama
bahu membahu bimbing saling membimbing
berat sama dipikul ringan sama dijinjing
ini nusantara kita satu darah
satu nusa bangsa bahasa dan satu arah
takkan kulupakan selama lamanya
bangsaku, INDONESIA NAMANYA!
( Saykoji, Merah Putih )
Tak lama, aku sudah menonton film Merah Putih. Sangat menggelora dan menggedorkan kembali ghirah cinta pada bumi persada ini. Momennya pun sangat tepat . Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Cerita dalam Film Merah Putih ini mengambil setting Indonesia dalam agresi Belanda di daerah Jawa Tengah, Pasca menyerahnya Jepang serta diproklamasikannya kemerdekaan Republik ini. Dalam sebuh video yang beredar di Youtube, aku juga pernah menyaksikan orasi Bung Tomo kala membakar semangat penduduk Surabaya menyambut kedatangan balatentara Sekutu dan NICA. yang membuat aku bergetar, adalah fakta sejarah para pejuang di negeri ini menyambut mereka dengan pertempuran yang seru disertai takbir.
Tengah-tengah
Dalam setiap diskursus peradaban dan pemikiran akan selalu mencuat kalangan –kalangan yang satu sama lain bersebrangan baik itu secara kontras atau setidaknya mempunyai titik singgung yang mencerminkan substansi dari sebuah kalangan lain pada ajaran,mazhab,pemikiran yang dianutnya.
Mudahnya, sebelum robohnya tembok Berlin, Dunia hanya terbagi dua blok.Amerika Serikat dengan sekutunya yang baik secara politik membentuk kubu liberal atau ekonomi dengan gaya kapitalisme klasiknya Vis A Vis dengan Unisovyet yang hasil interpretasi Lenin atas Das Kapital ke format Negara yang baik secara politik membentuk kubu komunisme atau Ekonomi dengan gaya sosialisme utopianya. Tetapi sejarah juga mencatat, kalau perang dunia I & II tidak sedang memberikan kemenangan kepada siapa-siapa, yang ada kekalahan sudah mutlak dialamatkan pada negeri-negeri dunia ketiga di sepanjang setengah penduduk dunia di Asia dan benua hitam Afrika.
Di Antara Dua Belah Batu Karang
Di antara dua belah batu karang adalah sebuah judul pidato yang sangat monumental dari Bung Hatta. Pidato yang disampaikan kurang lebih berisi penegasan sikap negara Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaanya dari penjajah kolonial Belanda dalam hal kemandirian bangsa di tengah percaturan dagang dunia.
Bung Hatta menegaskan keberpihakannya pada prinsip dan sikap yang berdikari serta berdaulat di tengah dua belah batu karang yang dilukiskan sebagai sistem Ekonomi berbasis Free Fight Liberalism dan sosialisme. Ke depanny, prinsip dan sikpa itulah yang kemudian diperjuangkan oleh para Ekonom UGM seperti Prof Mubyarto dan sekarang diwariskan pada “penerus” generasi “Ekonomi Konstitusi”. Maka tersebutlah nama-nama seperti Iman Sugema, Umar Juoro, Faisal Basri, Ichsanuddin Noorsy, Revrisond Baswir hingga Hendri Saparini dan Aviliani.
Pilpres: Menyalakan Lilin Bersama Raja’ Ibn Haiwah
“Assalamu’alaikum, wahai Raja!”
-Sa’d ibn Waqqash, ketika membai’at Mu’awiyah ibn Abi Sufyan-
Al Imam Ibnul Atsir dalam Al Kamil fit Tarikh 3/405 merekam adegan pembai’atan Mu’awiyah oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash ini. Awalnya Mu’awiyah marah. “Apa salahnya Anda memanggilku Amirul Mukminin?”, katanya. “Demi Allah”, kata Sa’d, “Aku tidak suka memperoleh apa yang kau dapat dengan cara yang kau gunakan!”
Ya, wajar bagi Sa’d mengatakan demikian. Beberapa hari sebelumnya, sang keponakan, Hasyim ibn ‘Utbah ibn Abi Waqqash menghadapnya disertai perwakilan berbagai kabilah. “Demi Allah wahai Paman”, kata Hasyim, “Ada seratus ribu pedang terhunus yang berpendapat bahwa engkaulah yang paling berhak memegang kepemimpinan kaum muslimin!” Sang keponakan mungkin benar. Dari kesepuluh sahabat Rasulullah yang beliau jamin ke surga, tinggal Sa’d ibn Abi Waqqash yang kini masih hidup.
Refleksi Perjalanan Ekonomi Islam Di Indonesia: Antara Kapitalisasi Ekonomi Islam & Islamisasi Ekonomi Kapitalis

Islamic Banking
Judul ini saya angkat dari sebuah event seminar yang diselenggarakan oleh KSEI Progres STEI Tazkia. Dan banyak catatan kenyataanya di seputar perjalanan pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia yang telah berjalan 20 tahun lamanya. Maka ia semacam muhasabah yang kita tempelkan atas perjuangan kita selama ini membumikan Ekonomi Islam di bumi persada yang memiliki jejak khasnya jauh sebelum hari ini menjadi euphoria.
Euforia selepas Krisis Keuangan Dunia yang meledak hingga membail out semua perusahaan Swasta yang di kemudian hari public lebih akrab mengenalnya sebagai pemanjaan terhadap para eksekutif perusahaan swasta Amerika Serikat. Dan saat yang sama kita menemui Ekonomi Syariah begitu banyak mendapatkan tempatan dan simpati dari para intelektual ekonomi dunia hingga para investor yang lebih memilih safety dan aman dengan berinvest di deposito berbasis skim mudharabah hingga gold dinnar. Tapi kalau mau dilihat dari kacamata kritis, Ada ketimpangan yang sangat jelas. Antara permintaan Industri Perbankan Syariah yang walau baru mencapai 2,3 % pangsa pasarnya namun telah berlari demikian kencang yang ditandai dengan pertambahan baru unit usaha syariah dan bank umum syariah yang mlai diancang-ancang akan dibuka akhir desember 2009 ini. Seperti BCA yang akan segera ancang-ancang membuka unit usaha syariah akhir desember ini belum ditambah di ranah politik, Ekonomi Syariah tak dilewatkan sebagai bagian dari agenda visi dan misi nya membangun dan membenahi pembangunan perekonomian Indonesiaseperti hal nya yang dtunjukkan oleh capres dan cawapres JK-Win yang menjanjikan market share Bank Syariah meningkat sebesar 25 %
Sekali lagi Seputar Zakat !!
Afzhalurrahman dalam Economics Doctrines of Islam mendekripsikan bahwa Zakat memiliki makna “tumbuh”, “ suci”,”berkembang” yang semuanya mengarah pada penyucian jiwa itu sendiri sebagai sebuah bentuk “obligatory to God “ bukan sekedar amal sumbangsih atau charity dan bukan pula pajak yang dibebankan dan memberatkan atau Tax namun, masih menurut Afzhalurrahman , ZAKAT demikianlah tetap disebut sebagai zakat pada term apapun .”Obligatory to God sendiri juga memiliki makna sebuah ibadah, namun disisi lain Zakat memberikan tambahan atau asupa spiritual yang mampu menyehatkan jiwa dan menyucikan harta dengan membayarkannya melalui Baitul Mal untuk kemudian disalurkan kepada kalangan-kalangan yang berhak menerimanya .Inilah salah satu point yang mencerahkan dan dapat dirasakan manfaat yang berkali-kali lipat justru di saat harta kit secara hitungan kalkulatis telah dikurangi nishab zakat sebesar 2,5 %








