Telaga Kautsar

Menjadi Telaga Bagi Ekonomi,Keuangan dan Perbankan Islam

Archive for the ‘Fikrah’ Category

Antara Kriminalisasi KPK Vs Kriminalisasi Al Aqsha

without comments

Menyaksikan pelbagai getir yang terjadi depan mata bangsa Indonesia, rasa-rasanya hati ini juga tak mampu dibendung untuk tidak angkat suara. Pada hari-hari ini kriminalisasi KPK sudah hampir mencapai titik terangnya.siapa yang sejatinya membuat maker telah terkuak. Namun entah mengapa , untuk menguak kasus kriminalisasi KPK seperti memutar dan membongklar sebuah skrup yang membutuhkan satu koper peralatan bengkel. Dibutuhkan ribuan orang dari pelbagai elemn utnk turun ke jalan.dibutuhkan pelbagai LSM baik itu dari kalangan Mahasiswa dan elemen LSM Sosial Independen yang merasa perlu untuk mendatangi Komisi III DPR RI.Dibutuhkan pelbagai pernyataan p[ara pejabat tinggi Negara yang siap pasang badan dan mendaftar sebagai anggota tim pencari fakta.belum Wall-Wall di Facebook yang jumlahnya telah meleibihi angka 1 juta member pada grup yang membela Bibit dan Chandra Hamzah. Ditambah tren Pita Hitam yang dipasang di blog-blog.dan banyak lagi aksi yang diambil untuk memutar dan membongkar baut bermasalah yang bernama “krminalisasi KPK” itu.

Titik terangnya baru Nampak dobrakanya kala seorang Wiliardi Wizar pada selasa 10 november 2009, “Demi Allah saya bersumpah, waktu itu ada ada Direktur, Wadir, Kabag dan Kasat-Kasat. Dikatakan sasaran kami cuman Antasari,” begitulah kesaksian sang Wiliardi Wizar. Itu pun masih saja ditingkahi kelakuan aneh Jaksa Agung Ri, Hendarman Supanji, “Mungkin untuk menentukan ini,kasih polling saja.supaya jelas berapa banyak yang setuju kasus Bibit dan Chandra dibawa ke pengadilan. Rekomndasi DPR,mendorong maju ke pengadilan.lalu apa yang harus kami lakukan ? apa harus polling atau Quick count” seperti yang dikutip oleh harian Media Indonesia ,21 November 2009, Inilah kiranya yang kita sebut sebagai pucuk dari puncak frutasi lembaga hokum Indonesia !! Presiden kita yang akrab kita pangil SBY itu tampaks angat menjaga pencitraanya di tengah-tengah amarah rakyat pada lembaga hokum Negara. Hatta, nama SBY dicatut oleh Anggodo,”tersangka rekaman KPK, cukup disudahi dengan permohonan maaf oleh Anggodo ! betapa murahnya harga keadil;an di muka bumi ini. Dan hari ini, di Tv One, Pengacara Anggodo,Bonaran Situmeang mewakili Anggodo agar kasus dirinya juga bisa dihentikan sama halnya dengan dihentikannya kasus Bibit dan Chandra. Keadilan di ujung tanduk, diperkosa oleh pasal-pasal hukum yang melindungi para bandit dari hukum.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

November 30, 2009 at 3:32 am

Kenapa Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta Movie Mengidolakan Badiuzzaman Said Nursi ????

without comments

Ustadz Badiuzzaman Said Nursi

July 13th, 2008

Itu karena Bediuzzaman Said Nursi…..

1877-1960 Masehi

Bediuzzaman (Keajaiban Zaman) Said Nursi
adalah seorang ulama sekaligus pejuang/pahlawan yang berasal dari
Turki. Hidup pada zaman perang dunia pertama dan kedua, beliau gigih
mempertahankan Turki dari gempuran penjajah, baik Rusia maupun Inggris
yang saat itu ingin merongrong Kekhalifahan Turki Ustmaniyah. Selain
perjuangan di medan perang, perjuangan beliau yang tidak kalah penting
adalah perjuangan dakwahnya dalam mempertahankan keimanan dan keislaman
masyarakat Turki (pada khususnya) dan seluruh umat Islam (pada umumnya)
dari serangan materialisme, filsafat-filsafat sesat, komunisme dan
sekularisme. Beliau secara totalitas mendermakan seluruh hidupnya untuk
kemaslahatan serta menjaga keimanan umat. Meski beberapa kali
ditangkap, dipenjara, dan hidup dalam pengasingan maupun kamp
penyiksaan, beliau tetap konsisten untuk berdakwah, meski dengan sarana
dan prasarana yang amat terbatas. Sobekan-sobekan kertas yang beliau
dapatkan selama dalam penahanan penjara, dengan alat tulis sekedarnya,
namun dengan pikiran cemerlang dan hati yang ikhlas akhirnya mampu
menjadi harcopy bagi ide cemerlangnya yang nanti dikenal dengan nama
kitab ”Risallah an Nur”. Buku setebal sekitar 6000 halaman ini adalah
sebuah karya yang begitu berharga bagi umat Islam, yang dengannya
banyak umat Muslim mendapat hidayah atas kebenaran Islam dan juga
menjadi memperkokoh iman mereka. Risallah an Nur memancarkan cahaya Al
Quran dan Hadist.

Yang
begitu saya suka dari Said Nursi adalah metode beliau dalam menjelaskan
konsep-konsep keimanan dan keislaman memakai pendekatan analogi dan
logika, sehingga orang-orang mampu memahami konsep-konsep keimanan dan
keislaman dengan pemahan yang kuat. Beliau juga memakai dalil-dalil
ilmu pengetahuan untuk mendukung pemahaman kita terhadap ajaran Islam
tersebut, karena menurut beliau, agama maupun ilmu pengetahuan,
kedua-duanya, adalah sama-sama berasal dari sumber kebijakan yang sama:
Al Haq, ALLAH swt., sehingga pastinya akan saling mendukung dan
sebaliknya, mustahil untuk saling bertentangan atau meruntuhkan.
Kesukaan saya dengan Said Nursi yang lain adalah terhadap keikhlasan
beliau dalam mendermakan seluruh hidup dan apa pun yang beliau miliki
untuk dakwah Islam dan penjagaan keimanan umat Islam. Beliau berjuang
sekuat tenaga dan pikiran untuk menjaga keimanan umat sehingga aman
dari serangan atheisme, filsafat kotor, komunisme, dan sekularisme,
yang merongrong.

Harapan
saya, sebenarnya, adalah bahwa kita tidak cukup hanya sebatas mengenal
perjuangna beliau atau menghormatinya, tapi akan lebih baik lagi jika
kita bisa meniru amalnya dalam dakwah Islam, dan tentunya melanjutkan
perjuangan beliau. Insya ALLAH.

Sebagai
penutup, berikut saya tuliskan kata-kata beliau yang melukiskan betapa
Said Nursi begitu perhatian kepada kemaslahatan umat Islam:

Said Nursi: ”Saya
bisa menanggung penderitaan saya sendiri, tetapi penderitaan akibat
bencana yang menyeret agama dan umat Islam telah meghimpi saya. Setiap
pukulan ke dunia Islam terasa terlebih dahulu menghujam ke hati saya. Itulah mengapa saya terguncang.”

Said Nursi:
Seumur hidup saya lebih dari 80 tahun ini, saya belum pernah mengenyam
kesenangan duniawi. Hidup saya berlalu di medan perang, penjara , atau
tempat-tempat penderitaan lainnya. …Tidak ada siksaan yang belum pernah
saya tanggung, dan tidak ada penindasan yang belum pernah saya rasakan.
Saya tidak lagi peduli dengan Surga dan tidak takut pada Neraka. Asalkan
keimanan negara saya (umat Islam, penulis) aman, dibakar di neraka pun
saya tidak peduli. Sebab, meskipun tubuh saya terbakar, hati saya
seakan-akan berada di taman mawar

from blognya ardiansyah selo yudha


Written by Willy Mardian

November 22, 2009 at 6:41 am

Ditulis dalam Fikrah

Rekonstruksi Filsafat Akuntansi Islam, Sebuah Revolusi Paradigma

without comments

Model manusia muslim bermuara pada referensi apa yang menjadi kepatuhan logikanya.Dengan nalar logika ia mampu mengisi ruangan kosong yang merindukan keadilan. Dengan menentukan mana yang haq dan mana yang bathil. Kalau tidak demikian, berarti there’s something right had loss from muslim mind. Walaupun dengan seribu kali lipat argumentasi yang pada dasarnya sudah sangat akut dan rapuh. Pembuktian logika juga mengikuti konsensus atas standar yang disepakati sehingga jika dalam pelaporan ada yang disclaimer atau tidak wajar dapat denganm mudah dideteksi dan dikoreksi. Tapi sayangnya terlalu banyak mereka yang silau dengan manipulasi angka di atas kertas untuk menggambarkan kepentingan pemilik modal adalah hal pertama yang harus diselamatkan dan disejahterakan. Krisis perbankan bulan-bulan ini juga berkutat pada pelitnya bank menurunkan suku bunga agar deposan yang memiliki dana investasi di atas 50 % tetap memberikan loyalitas bagi bank. Walaupun baru hari ini seperti yang dilansir dan menjadi headline utamanya oleh harian Kontan, sekitar 14 bank sepakat untuk menurunkan suku bunga. Dan itu pun hanya 1% dari keseluruhan total suku bunga yang telah ditetapkan oleh bank bagi investasi deposan. Dan sayangnya juga terlalu banyak dengan strategi manipulasi angka di atas kertas yang menyebabkan orang di luar menilai kalau Akuntansi tidak lebih dari :jurnal buku besar, penyesuaian, ayat pembalik, posting,neraca, arus kas masuk dan arus kas keluar. Sekali lagi, hanya sebatas itu.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

November 22, 2009 at 5:51 am

No More Simplicity

without comments

 

Salah satu poin penting kritik yang sangat fundamental terhadap asumsi bebas nilai adalah simplikasi masalah dan efek yang ditimbulkan secara makro ekonomi dan jangkuan luas secara holistik. Asumsi Bebas nilai mengasumsikan dalam sains hanya ada kekosongan nilai yang tergantung siapa bisa menguasai dan memberikan warna pada sains tersebut. Itulah mengapa kala dihadapkan pada gagasan Islamisasi Pengetahuan ataua Aslama Al Ma’rifah, sejumlah cendikiawan menolak mentah-mentah gagasan tersebut dengan asumsi segala sains yang telah dan patut kita telaah pada dasarnya tergantung di tangan siapa menjadi bermanfaat. Secara moderat, Ziaddin Sardar pun menilai kalaulah Sains itu bebas nilai,seperti yang ditunjukkan ilmu-ilmu eksakta, maka pendekatan kepadanya yang membuat kita menjadi lebih sekuler.

Merujuk pada bahasan Dr Muhammad Syafii Antonio di seputar gagasan mengapa perlunya kita menyediakan SDM yang kapabel untuk memasuki ranah Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah ternyata dunia telah terbagi menjadi dua. Yang pertama, kata beliau, mereka yang terbiasa dengan tradisi Turats di pondok pesantren  dan menguasai pelbagai tools ilmu-ilmu keislaman seperti bahasa Arab,Fiqh, kitab kuning dan lain-lain. Di saat yang sama, kata beliau, para bankir menguasai manajemen keuangan,Akuntansi Finansial,Statistik, Manajemen Operasional, Akuntansi Biaya namun minim pengetahuan di bidang Islam. Otomastis hal-hal seperti inilah yang menyebabkan terjadinya misunderstanding dan asumsi bebas nilai itu senantiasa muncul. Tanpa mengetahui terlebih dahulu  akar epistomologi dan sejarah yang melatarbelakangi keilmuan itu muncul efeknya adalah penyederhanaan persoalan makro menjadi semata moral hazard dan error human saja. Padahal dalam Islam, tiga pilar yang menopanginya yaitu akidfah, syariah, dan akhlak membentuk sistem sekaligus para pelakunya. Syariah itu sendiri tak semata-mata berputar pada Fiqh saja tetapi juga seluruh ruang lingkup gerak individu yang terjalin dengan akidah dan akhlak itulah Syariah.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Oktober 27, 2009 at 7:19 am

Ditulis dalam Fikrah, Tafakur

Zona Nyaman Vs Idealisme

with 2 comments

“’Ah kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini, dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat , bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan Amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti . Kalau tak ingat , bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat itu semua, shalat zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalkan kipas dan mendengarkan lagu El Hub El Haqiqi dan untaian shalawatnya Emad Arabiy dari Syiria itu tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan atau satu minggu d dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan MashaAllah alangkah segarnya “

( Habiburahman El Shirazy , Ayat-Ayat Cinta )

Rangkaian tulisan panjang tadi diambil dari salah satu karya sastra Islam terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia . Bahkan pernah diangkat ke layer lebar serta di saat yang sama novel tersebut telah banyak diterjemahkan ke pelabagai bahasa dunia dari mulai Malaysia hingga Jerman. Tetapi membaca rangkaian cuplikan dari karyanya Ustadz Habiburahman El Shirazy, satu poin penting terikat dengan apa yang banyak disebut oleh para aktivis da’wah sebagai “Zona Nyaman”. Bagi para Aktivis Da’wah Kampus hingga para businessman papan atas sangat risau dengan tiap kekayaan yang menumpuk di depositonya maupun emergency savingnya. Karena, bagi mereka, itulah zona nyaman, yang malah-malah mengantarkan mereka pada zona stagnan dan bahkan meluncur sama sekali.

Akhina Riza Rizky Pratama, CEO KSEI Lisensi UIN Jakarta, pernah menulis di facebooknya apa yang menjadi alsan mahasiswa UIN memilih bergerak di tengah-tengah opini kampusnya sebagai sarang penyakit liberalisme. Comfort Zone dipahami sebagai suatu sikon yang sekilas telah banyak memberikan banyak keleluasaan dan kecukupan materi hingga bagi mereka yang jeli akan tegas banyak “mengkritisi” dengan cara sibuk sendiri dan menenggelamkan diri ke pelbagai kepanitiaan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi mahasiswa matrikulasi sebelum memasuki semester awal yang juga bnayak dirasakan oleh mahasiswa lainnnya. Mencari kegiatan serasa menjadi PR terbesar yang harus digarap oleh Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi di setiap musyawarah atawa syuraa. Dari mulai Menerbitkan MARGIN (Matrikulasi Magazine) hingga Pekan Peduli Ekonomi Syariah sebagai jurus pamungkasnya mengekssistensikan nama mahasiswa sebagai pelopor perubahan. Maka, selepasnya dari Matrikulasi, kami serempak mencari pelbagai kegiatan dari mulai nyebur di Progres hingga membuat UKM baru. Atau Akhina Johanh Rio Pamungkas, temen kapmi di FIB UI juga pernah cerita di blognya kala pertama kali melihat fenomena “orang-orang kiri “ terlihat lebih eksis di kampusnya dibandingkan dengan para aktivis da’wah kampus yang katanya sudah Futuh dan banyaknya anak mushalla yang masuk ke kursi senat.

Membaca riwayat dan atsar para ulama terdahulu, Comfort Zone menjadi periode atau poin yang sangat menakutkan. Hingga Imam Ahmad yang telah berkali-kali mengalami penyiksaan leh rezim Al watsiq Billah dari Dinasti Abbasiyah “Tiada Kata Istirahat hingga kakiku menapak di SurgaNya “ atau Imam Zamakhsyari yang bersenandung puitis  “jari-jemari di atas kertas dan buku-buku lebih kusukai dari pada pahanya para wanita ana alunan rebana “  dan nyatanya itu pulak yang menjadi  jawabannya  kala seorang ulama salaf berdoa “ ya Allah, tabahkanlah agar aku mampu bersabar di saat Kau berikan aku kelapangan “ .

Semoga itu jua yang ternyata menjadi semangat teman-temanku di usianya yang belia hanya terpikir satu kalimat “Just Do The Best “ bagai para pejuang, istirahat itu justru ketika mampu  melepaskan diri dari satu kekangan ke kekangan yang lain sampai sempurna misi yang ia jalankan

Antitesanya adalah perubahan dan keluar dari zona nyaman harus siap dengan konsekuensinya karena ia kembali mendudukan keteguhan idealisme. Nah, bicara idealisme berate bicara kriterie ketegasan moral yang mengawal keberlangsungannya sbeuah misi. Dengan tegas, kita ummat muslim, kriteria ketegasan moral itu berangkat dari wahyu Allah SWT daan sunnah Muhammad Rasulullah. Sebab baru dengan demikian diterimanya sebuah amal. Tapi Idealisme juga perlu berdialog dengan wajah zaman dan keterbatasan ruang.  Mendobrak zona nyaman dengan model tahun 1965 an jelas tak lagi relevan. Tidak selamanya Pemerintah adalah Tiran atawa Thagut yang harus digulingkan atau bahkan secara gegabah mencap mereka yang berhukum di bawah Pemerintahan yang sah secara yuridis dan aspek maslahah luas,dengan anggapan Thagut, mencapnya sebagai ashobiyah dan sebagainya. Karena di situasi dan massa yang telah banyak bergerak menuju titik penentuan sejarah akan ada banyak kerugian yasng harus rela dibayar mahal oelh ummat. Serta haruskah memperpanjang daftar kekalahan dengan logika Negara di saat yang sama kita adalah populasi muslim terbesar di dunia.?? Padahal logika Negara juga dibangun atas usmbangan dan kontribusi konsensus ummat. Ibarat babak belur di kandang dan gawang sendiri.

Para sahabat Rasulullah SAW, hingga para aktivis da’wah juga manusia. Ada ruangan manusiawi di sejumlah episode kepahlawanannya. Umar Ibn Khattab sangat manja di depan istrinya, tapi lain cerita, kala ia mendengar ada seorang non muslim yang terpaksa menajdi pengemis karena jizayah yang dirasa memberatkan kebutuhan ekonomi serta ditambah usia lanjut. Umar pun memegang tangan sang pengemis non muslim ini  dan membawanya  ke Baitul Maal kemudian membebaskan Jizyah serta memberikan sedekah yang diambil dari Baitul Maal tersebut. Di era kiwari, salah seoarang ikhwah bercerita dalam sebuah program daurah Al Qura’an. Tentang masa mudanya dilewati penuh dengan perjuangan keras dan habis di masa sulit. Sampai suatu ketika ia meminta izin kepada ibunya untuk berangkat demontrasi. Sampai tiga kali ia meminta izin namun barulah izin keempat mendapatkan izin. Yang mengharukan, sang ibu tidak membiarkan dirinya tangan kosong. Dibuatkanlah sebotol susu hangat untuk sang anak yang akan berangkat demonstrasi. Maka melinanglah air mata mengalir dari seorang ikhwah kita ini karena Cinta yang selalu dialirkan oleh ibundanya meski sempat sampai tiga kali menolak perizinan untuk bias ikut serta demonstrasi.

Disini. Di ruangan pertarungan untuk keluar totalitas dari zona nyaman punya seninya sendiri. Mereka yang mengaku idealis jangan sampai di pecundangi oleh berlimpahnya informasi yang tak juga menambah intelektualitas bertambah dewasa. Mereka yang mengaku paling idealis, jangan sampai atas nama idealisme telah ikut menyumbang orang lain menjadi apatis karena egonya lebih banyak muncul seolah-lah dunia miliknya sendiri. Tapi mereka yang mengaku moderat, yang ada semakin dalam terperosok dengan zaman yang ada. Pragmatis. Ungkapan –ungkapan seperti “ buat apa lagi aktif di pergerakan mahasiswa, keadaan tak juga semakin berubah “ kian nyaring terdengar senyaring teriakan apatisme sebagian masyarakat yang seolah-olah sudah bias memastikan besok matahari takkan terbit dari timur lagi. Mereka lupa kalau agama ini adalah agama ‘proses” bukan hasil. Surah Al Anfal, yang konon menjadi “nyanyian perang”  bagi para mujahidin Palestina, diturunkan menjelang surah At Taubah lebih banyak berbicara, apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana mengarunginya, dan apa yang kita peroleh kelak dari Allah SWT bahkan dijanjikan dengan SurgaNya setelah bertransaksi dengan jiwa dan harta para mukminin.

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).( Surah Al Anfal :60 )

Tentang hubungan keterikatan hati para mukmin disentuh pula oleh Al Qura’an

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)622. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( Surah Al Anfal :63)

dan jual beli yang abadi

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( At Taubah :111)

Sejarah yang unik dan kerap membuat pembacanya terhenyak pernah mengajari kita. Di Masa Bani Ummayah, ummat ini pernah mengalami menyiksa tapi justru begitu dikenang sejarah. Adalah sang Penasihat Khalifah, Raja’ bin Haiwah dengan konspirasi keshalihannya memunculkan Umar Ibn Abdul Aziz di tengah-tengah dominasi keturunan keluarga Abdul Malik

Ala Kulli Hal, keluar dari zona nyaman dengan segenap perubahan memang menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi tetap bertahan dalam status quo, melanggengkan rezim kebathilan dan memperpanjang usia tua dalam asuhan sang rezim. Entah lah itu kita sebut realitas bobrok atau sistematika jahiliyah !!

Bandung, Syawal 1430 H

Written by Willy Mardian

September 28, 2009 at 12:01 pm

Nafs

without comments

Oleh : Hamid Fahmy Zarkasy

Manusia bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu.

Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi nafs mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.

Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb.  Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal).  Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb atau nafs manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam al-Qur’an:
Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 12, 2009 at 3:01 pm

Ditulis dalam Fikrah, Tafakur

Email Dari Seorang Sahabat

without comments

Diawali dengan sebuah pertanyaan.. ..

Saudaraku, kalau saja ada yang bertanya, siapakah orang yang paling berbahagia hidupnya di dunia ini?

Insya ALLAH, orang dimaksud tidak lain adalah orang2 yang beriman.

Saudaraku, meskipun seolah-olah, mungkn saja terlihat dari luar, orang2 yang beriman begitu berjuang dengan gigihnya. Mungkin juga, cobaan, entah itu cobaan yang berupa nikmat atau ujian, datang silih berganti. Tanggung jawab amanah yang demikian besar. Pengorbanan. Dan sebagainya.. ..Sebenarnya, tidak menjadi sebuah masalah bagi mereka yang beriman.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

September 12, 2009 at 2:44 pm

Ditulis dalam Catatan Harian, Fikrah

Film Merah Putih, Kemerdekaan RI, Dan Ummat Islam

without comments

Film Merah Putih

Film Merah Putih

merah putih, hormaat grakkk!
buat semua bangsa lain tersentak
kibarkan sang saka dengan serentak
harumkan nama ibu pertiwi serempak

di bawah langit biru berkibar tertiup angin
bangga jadi orang indonesia ku semakin
terpacu tuk memajukan bangsa
tunjukkan kita kuat kita bukan mangsa

berbeda suku, beda golongan dan agama
bhinneka tunggal ika kami yang pertama
bahu membahu bimbing saling membimbing
berat sama dipikul ringan sama dijinjing

ini nusantara kita satu darah
satu nusa bangsa bahasa dan satu arah
takkan kulupakan selama lamanya
bangsaku, INDONESIA NAMANYA!

( Saykoji, Merah Putih )

Tak lama, aku sudah menonton film Merah Putih. Sangat menggelora dan menggedorkan kembali ghirah cinta pada bumi persada ini. Momennya pun sangat tepat . Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Cerita dalam Film Merah Putih ini mengambil setting Indonesia dalam agresi Belanda di daerah Jawa Tengah, Pasca menyerahnya Jepang serta diproklamasikannya kemerdekaan Republik ini. Dalam sebuh video yang beredar di Youtube, aku juga pernah menyaksikan orasi Bung Tomo kala membakar semangat penduduk Surabaya menyambut kedatangan balatentara Sekutu dan NICA. yang membuat aku bergetar, adalah fakta sejarah para pejuang di negeri ini menyambut mereka dengan pertempuran yang seru disertai takbir.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Agustus 19, 2009 at 4:21 pm

Ditulis dalam Catatan Harian, Fikrah, Tafakur

Tengah-tengah

without comments

Dalam setiap diskursus peradaban dan pemikiran akan selalu mencuat kalangan –kalangan yang satu sama lain bersebrangan baik itu secara kontras atau setidaknya mempunyai titik singgung yang mencerminkan substansi dari sebuah kalangan lain pada ajaran,mazhab,pemikiran yang dianutnya.

Mudahnya, sebelum robohnya tembok Berlin, Dunia hanya terbagi dua blok.Amerika Serikat dengan sekutunya yang baik secara politik membentuk kubu liberal atau ekonomi dengan gaya kapitalisme klasiknya Vis A Vis dengan Unisovyet yang hasil interpretasi Lenin atas Das Kapital ke format Negara yang baik secara politik membentuk kubu komunisme atau Ekonomi dengan gaya sosialisme utopianya. Tetapi sejarah juga mencatat, kalau perang dunia I & II tidak sedang memberikan kemenangan kepada siapa-siapa, yang ada kekalahan sudah mutlak dialamatkan pada negeri-negeri dunia ketiga di sepanjang setengah penduduk dunia di Asia dan benua hitam Afrika.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Juli 23, 2009 at 5:32 am

Ditulis dalam Fikrah, Tafakur

Di Antara Dua Belah Batu Karang

without comments

Di antara dua belah batu karang adalah sebuah judul pidato yang sangat monumental dari Bung Hatta. Pidato yang disampaikan kurang lebih berisi penegasan sikap negara Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaanya dari penjajah kolonial Belanda dalam hal kemandirian bangsa di tengah percaturan dagang dunia.

Bung Hatta menegaskan keberpihakannya pada prinsip dan sikap yang berdikari serta berdaulat di tengah dua belah batu karang yang dilukiskan sebagai sistem Ekonomi berbasis Free Fight Liberalism dan sosialisme. Ke depanny, prinsip dan sikpa itulah yang kemudian diperjuangkan oleh para Ekonom UGM seperti Prof Mubyarto dan sekarang diwariskan pada “penerus” generasi “Ekonomi Konstitusi”. Maka tersebutlah nama-nama seperti Iman Sugema, Umar Juoro, Faisal Basri, Ichsanuddin Noorsy, Revrisond Baswir hingga Hendri Saparini dan Aviliani.

Baca entri selengkapnya »

Written by Willy Mardian

Juli 19, 2009 at 9:28 am

Ditulis dalam Fikrah, Peristiwa Ekonomi dan Politik

Ditandai dengan