Semoga (Masih ) Ada Ukhuwwah Di Tengah Kita( Catatan Perjalanan Di Temilnas X Banjarmasin )

Tinggalkan Komentar

Hari ini aku baru sampai dari perjalanan panjang Banjarmasin. Kota Seribu Sungai, Seribu Masjid, sebuah wajah lain Kalimantan dengan alam raya nya yang sangat melimpah. Tetapi juga wajah lain Indonesia yang lukanya menganga dengan paradoks kemakmuran dan kemiskinan atau bisa jadi persepsi tentang kita menyikapi bumi yang seperti sebuah judul  pernah saya  baca “The Crowded and Flat Earth “ maka perjalanan ke bumi Kalimantan mengingatkan saya pada salah satu episode perjalanan ke bumi Lancang Kuning, Riau. Dengan sungai siak indrapura ditambah dengan jejak-jejak kebudayaan Melayu Islam yang hingga kini masih megah berdiri baik itu di Siak Indrapura ataupun di Pulau Penyengat. Baik Kalimantan maupun Riau, keduanya memiliki problem yang sama dalam hal pengelolaan sumber daya alam dan sebagaimana Kalimantan, Riau juga memberikan gambaran wajah lain Indonesia yang lagi-lagi sarat paradoks. Lebih tepatnya seperti yang diungkapkan oleh Tibor Scitovsky “Kemiskinan di tengah-tengah manusia yang tak berbahagia tidak lain adalah symptom dari sebuah kerusakan yang mendalam “

Di Kalimantan Selatan, pemerintahnya mempunyai pendapatan sebesar Rp 51,42 Trilyun, di Kalimantan Tengah sebesar Rp 36,2 Trilyun, Kalimantan Barat mencapai Rp Rp 28,4 Trilyun. Maka secara keseluruhan PDRB seluruh bumi Kalimantan jika diakumulasikan pada tahun 2009 mencapai Rp 422,7 Trilyun.

Lagi

Menyoal Regional Madani ??

Tinggalkan Komentar

Ekonom rabbani untuk regional madani, adalah sebuah tagline yang baru diangkat oleh dan dicanangkan di Rakernas FoSSEI kemarin. Idea yang dicanangkan oleh para presnas dan disepakati oleh  semua regional yang hadir dalam rakernas tersebut.  Idea, yang menurut harapan mereka, menjadi misi bersama tiap langkah mereka yang concern dengan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Islam di tanah air. Kerinduan mereka, pada suatu perubahan yang mendasar dan membawa kesejahteraan dan maslahah bagi umat manusia.

Ekonom Rabbani, saya lebih melihat  sebagai sebuah cita-cita sebagaimana yang dicita-citakan  Dr Muhammad Syafii Antonio M.Ec, bahwa mereka adalah para intelektual hybrid yang satu sisi mereka sangat kepakaran mengenai dunia keuangan,ekonomi, dan bisnis di saat yang sama analysis mereka bersumber dari petunjuk Rabbani dan merujuk langsung pada kekayaan khazanah Islam atau turats yang menjadi referensi dunia islam di basic keilmuan. Maka, hampir mendekati apa yang didefinisikan oleh Dr Ugi Suharto, dalam wawancaranya di Jurnal Islamia, worldview ekonomi Islam, kata Ustadz yang terpilih menjadi mahasiswa ekonomi terbaik di IIUM ini, harusnya terintegrasi dengan sistematis dan utuh dengan bangunan ekonomi Islam itu sendiri. Epistemologinya Islam, sebab seorang muslim tanpa worldview Islam hanya akan menjadi korban dalam ekspansi pemikiran yang menurut Ust Hamid Fahmy Zarkasy, korbannya tidak kelihatan, yang ada adalah mereka yang linglung dan bingung siapa dirinya dan untuk apa dirinya lalu berpihak ke siapa ?? jika ke Islam, harus siap dengan stigma teroris jika ke barat harus siap dituduh konspirator. Oh My God !!

Lain halnya dengan istilah regional madani,apalagi menggandengkannya dengan tataran bersifat cita-cita seperti Ekonom Rabbani namun lebih khusus, konsep masyarakat madani oleh sebagian sarjana muslim dan cendikiawan muslim dengan tergesa banyak yang menggandengkannya dengan konsep Civil Society yang malah notabene secular.

Sebagai sebuah produk peradaban Barat, Civil society berangkat dari kenyataan sejarah dan pengalaman yang dialami oleh masyarakat barat pasca revolusi prancis dengan sejalan seiring dengan masa renaissance dan aufklarung.  di dialami sebagai masa “pencerahan” dan symbol fase barat yang lebih “beradab”. Trauma dan geli, yang dialami masyarakat barat saat hidup dalam kungkungan agama. Sindiran pedas seorang intelektual barat pernah mengibaratkan jika berjalan di belakang seorang wanita saja seseorang harus hati-hati maka berjalan di belakang seorang pendeta jauh sangat lebih hati-hati. Jika dipetakan lebih lanjut, Civil Society ini ternyata ada di semua kubu pemikiran barat. Mulai dari kalangan Karl Marx yang pernah menghangatkan sejarah dunia dengan warna merah darah, hingga Hegelian dan Gramsci bahkan aristoteles tak satupun yang melewatkan civil society dalam bahasan mereka pada sebuah dunia yang dimpikan lebih beradab dan kesejahteraan serta kemakmuran menjadi cita utama dari perjalanan konsep civil society ini.

Berbanding terbalik dengan apa yang dinyatakan oleh Syed Muhammad Naquib Al Attas (1978),  dalam bukunya Islam and secularism, Syed Naquib Al Attas menguraikan perspektif lain dari akarnya bahasa melayu yang menurut beliau sangat berat jika dipisahkan dari kemapanan tradisi agama dari mulai membentuk epistemology hingga mengatur hal-hal terkecil  yaitu bahasa arab. Madinah, memang menjadi rujukan awal sebuah kehidupan yang mana Baginda Nabi SAW dan para sahabat-sahabatnya membangun sebuah system kehidupan. Tidak saja sebagai utusan Allah tetapi semuanya tidak terkecuali Fazlur Rahman, rujukan utama kalangan liberal, menyatakan bahwa Baginda Nabi SAW  adalah selain  sebagai pemimpin ummat juga sebagai kepala negara. Walaupun gokilnya fakta ini diingkari oleh murid-muridnya sendiri di Indonesia. Tetapi Madinah tidak berhenti sebagai sebuah nama kota yang didoakan oleh nabi diberi rahmat oleh Allah dua kali lipat lebih banyak dari Mekkah. Madinah tidak berhenti sebagai The Main Role Model sebuah gambaran dan tatanan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan di bawah naungan  Islam.

Kembali pada sejumlah poin yang dipaparkan oleh Syed Muhammad Naquib Al Attas mengenai regional madani, penerjemahan religion dalam bahasa inggris untuk entry agama dirasa kurang dari makna yang dikehendaki oleh karakteristik keyakinan sebagai seorang Muslim. Oleh karena itu yang paling mendekati adalah Din. Nah, Din diuraikan menjadi Dyn,Dana, Dayyan, Duyyun, yang memiliki kandungan makna hutang,keadaan berhutang,penyerahan diri, dan  kecenderungan alami. Untuk Dana, atau duyyun, memberikan gambaran proses hidup manusia sebagai keadaan berhutang dengan Sang Penciptanya. Nah logikanya, orang diberi hutangan akan menerima syarat-syarat yang pemberi hutang. Jadilah ada makna tunduk, berserah dan taat agar proses berhutang itu menjadi mudah. Agar hutangan itu diterima oleh Yang Maha Memberikan Kehidupan manusia harus mengikut syarat-syarat yang ditetapkaNya sebaimana menurut Syed Naquib Al Attas mengenai  firman Allah SWT

 

“Demi langit yang mengandung Hujan” ( QS At Thariq : 11 )

 

Ra’j menurut Al Attas secara literal bermakna “kembali “ hujan sebagai sebuah proses yang terus menerus dan selalu kembali setiap saat. Maka pengembalian ini, menurut Al Attas dilihat dari segi manfaat, keuntungan, dan perolehan. Oleh karena itu Ra’j bermakna similar dengan Rabah.Ribhun,Roobih yang semuanya berarti untung, laba dan keuntungan. Lain halnya konsep laba dalam akuntansi Islam ada yang menyebutnya sebagai Ghallah ada juga yang tetap menggariskannya sebagaimana Ribhun. Atau keuntungan. Maka, menurut Syed Al Attas, apabila seorang ingin beruntung hidupnya di dunia dan akhirat sebagai seorang abid atau hamba yang berhutang maka ia harus mengembalikan dirinya kepada Allah SWT Yang Maha Menciptakan kehidupan dan Yang Maha Mematikan.jadinya beragama adalah bentuk rasa berhutang pada Yang Maha Pencipta.  Benarlah sabda Baginda Nabi SAW “ Man Dana Nafsahu raabiha “ barangsiapa yang memperhambakan dirinya, dialah yang beruntung’ begitu kata Nabi akhir zaman ini.

Tetapi uniknya sekalipun telah dipaparkan secara detail oleh Syed Naquib Al Attas bahwa  Madani mempunyai relasi yang kuat dengan konsep din berikut turunannya dan mempunyai akar kata hingga membentuk istilah Maddana yang bermakna membangun, atau membina kota,  ia lahir justru setelah muncul Madinah !, Berarti kita bisa simpulkan bahwa Madani adalah tatanan masyarakat yang menjadikan berperilaku dan berkarakteristik seperti penduduk Madinah yang menyerahkan diri kepada aturan dan syariah Allah sebagai syarat untuk memperoleh keuntungan dan kebahagiaan. Sebagai syarat kalau dirinya adalah hamba Allah yang berhutang padaNya dengan cara menerapkan aturan dan kehendakNya dalam berperilaku sebagai makhluk sosial. Jadilah Madani duduk bersama Tamaddun,Madaniyah, Peradaban, Tatanan Masyarakat yang beradab dengan menjadikan ketaatan sebagai inspirasi membangun jati diri bangsa dan pola pikir ummatnya jika tak beradab maka jadilah biadab !!

Ala Kulli Hal, Ekonom Rabbani Untuk Regional Madani menempatkan kembali antara perilaku individu pelaku ekonomi ke sarangnya, atau ke worldview bahwa ia punya kewajiban sebagai seorang hamba pada Rabbnya agar ia beruntung dunia akhirat berbuat sesuai petunjuk Yang Memberikan Hutangan.agar berperilaku ekonomi yang jauh dari gharar,zhalim,gambling dan maksiyat.  Dualism jiwa yang biasa terjadi pada kalangan intelektual barat diharapkan bukan bagian dari elemen kejiwaan seorang ekonom Rabbani. Kalau Politik saja bisa untuk Da’wah apalagi Ekonomi sangat bisa  Untuk Maslahah. Begitulah gambarannya. Komprehensif dan truly Rabbani !!

 

Sentul

Desa Cadas Ngampar

 

2 November 2010 / 25 Hapit 1431 H

FoSSEI,Sekali Lagi !!

Tinggalkan Komentar

Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam By :Ali Sakti M.Ec (Peneliti Yunior DPBS BI )

Seperti yang saya sampaikan pada banyak kesempatan terakhir ini, saya selalu membanggakan komunitas Fossei (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) yang berkembang dengan azam perjuangan yang juga semakin menguat. Dibandingkan dengan lembaga-lembaga mahasiswa yang lain, Fossei memiliki garis dan sasaran perjuangan yang lebih jelas, definitif dan spesifik. Semangat dan panji Ekonomi Islam yang diusung Fossei membuat jatidirinya menjadi unik jika dibandingkan lembaga perjuangan mahasiswa yang ada. Ekonomi Islam bukan hanya menjadi visi pemersatu dan objek yang diperjuangkan, tetapi juga menjadi idealisme yang coba didarah-dagingkan pada diri pejuang-pejuangnya yang kemudian memunculkan budaya komunitas baru di masyarakat dan ummat.

Fossei menjadi tunas baru dari banyak tunas yang saat ini tumbuh berkembang menjadi perangkat perjuangan, dimana dipundaknya harapan-harapan masa depan Islam digantungkan. Fossei bukan hanya sekedar menjadi kumpulan yang perjuangannya menakhlukkan kehidupan, tetapi perjuangan pertama dan utamanya adalah menakhlukkan dirinya sendiri. Membuat dirinya akrab dengan nilai-nilai dan akhlak ekonomi dalam Islam dan konsisten dengan hukum-hukumnya. Mereka menjaga dan memelihara dirinya agar tidak terjebak dalam lembah fitnah dunia yang telah berkali-kali meruntuhkan banyak peradaban, yaitu kemegahan harta yang menghanyutkan.

Mereka adalah benih komunitas baru dengan budaya baru. Komunitas Islam yang mencoba mengenalkan kembali seperti apa Islam dalam budaya-budaya prilaku ekonomi. kalimat saya ini pada dasarnya bukanlah kalimat baru, karena sejatinya perjuangan penegakkan panji Islam akhir zaman di semua lini kehidupan memiliki skenario yang sama, yaitu dimulai dengan munculnya komunitas-komunitas baru dengan budaya baru pada berbagai aspek kehidupan. Untuk kehidupan ekonomi, perjuangan ekonomi sepatutnya berawal dari sebuah komunitas yang memberikan tauladan seperti apa bentuk dan budaya ekonomi yang ideal dalam Islam, baik secara visi, paradigma, prinsip-prinsip dan tatacaranya.

Oleh sebab itu, Fossei akan menjadi ujung tombak yang sangat tajam perjuangan ini. Jikapun perjuangan mereka mengajak ummat gagal untuk membangun peradaban baru Islam dalam berekonomi, maka merekalah nanti yang akan menjadi ummat itu. Karena nilai-nilai, prinsip-prinsip dan prilaku ekonomi Islam telah menjadi kebiasaan, kelaziman atau bahkan karakter mereka.

Karenanya, saya secara pribadi berharap semua punggawa Fossei menjaga dirinya atas prilaku mereka dalam berekonomi. Gaya hidup Fossei adalah Ekonomi Islam, jangan cari-cari gaya hidup yang lain. Jangan menari diatas tabuhan genderang “musuh”, karena Ekonomi Islam memiliki tabuhan genderangnya sendiri. Jangan lakukan seremoni-seremoni diluar prinsip-prinsip kemanfaatan yang menjadi paradigma utama Ekonomi Islam. Semoga kebanggaan ini betul-betul beralasan, dan menemukan singgasananya untuk terus dibanggakan. Bismillah, maju Fossei!

Haruskah Selalu Turun Ke Jalan Menyikapi Persoalan Bangsa ( Sebuah Catatan Atas Pergerakan Mahasiswa 2009-2010 )

Tinggalkan Komentar

Tidak sedikit kalangan intelektual dan pemerhati alur politik nasional yang mempercayai kalau ada momen-momen tertentu yang sangat penting dalam sejarah Indonesia sebagai start startegis untuk menggalakan kembali serta merevitalisasi pergerakan mahasiswa. Sebab, kenyataan perjalanan bangsa-bangsa di dunia juga menunjukkan bahwa mahasiswa memang mengambil peranan besar dalam sebuah perubahan dengan idealisme nya yang menyala-nyala tapi juga perlu diketahui kalau mahasiswa adalah bagian yang tidak terlepaskan dari akumulasi kebobrokan moral dan semangat hedonism kampus.

Dulu orang percaya,kalau mahasiswa dilukiskan sebagai sosok heroik,benteng moral dan kekuatan potensial sebagai oposan Tiran yang berkuasa di tiap decade. Tapi kenyatannya itu juga bisa berbalik fatal. Hedonisme,budaya clubbing,diskotik,tawuran antar kampus bahkan antar warga, juga dipenuhi oleh mayoritas mahasiswa saat ini. Even seorang pengamat dari LIPI, pun menyayangkan kurangnya partisipasi pergerakan mahasiswa dalam mengontrol pemuilu dan pilpres tahun 2009 lalu dan lebih banyak focus pada dunianya sendiri: Studi Oriented

Bersyukur juga generasi mahasiswa dekade ini telah “dilimpahi” segudang persoalan mendasar tentang kebangsaan dan sangat fundamental yang mampu menjadi “soal latihan” untuk jiwa pergerakan mahasiswa memanaskan mesin intelektualnya. Seperti yang kita saksikan pada kasus kriminalisasi KPK,Skandal Century,terorisme dan bencana alam.
Sadar atau tidak sadar, sejatinya pergerakan mahasiswa sedang menghadapi perubahan kondisi global yang sangat cepat. Model politik sudah berubah. Serta di dunia ekonomi, isu-isu permberdayaan masyarakat kelas bawah agar bisa bertahan juga bisa menyelamatkan ketahan ekonomi domestik juga menjadi tren perubahan sosial pasca krisis ekonomi global. Maka, hal-hal seperti ini menuntut pergerakan mahasiswa lebih strategis dalam bergerak. Tidak turun ke jalan bukan berarti equivalent dengan mandul. Tidak berjibaku dengan aparat keamanan dan anarkis bukan berarti tidak memperlihatkan semangat militant.atau malah sejalan dengan kebijakan pemerintah bukan berarti tidak idealis.

Secara nyata, pergerakan mahasiswa bisa mengambil banyak cara menuju visi misinya dan kontribusi pada masyarakat serta untuk bangsa. Mulai dari membiasakan kajian strategis di kampus-kampus, melibatkan pihak yang selama ini dikaji sebagai bentuk dialog publik seperti dari DPR RI atau Perbankan sebagai pembicara,bekerja sama dengan LSM-LSM yang komitmen pada perubahan. Bekerja sama melalui silaturahim di awal dengan media massa lalu beralihlah pada penguasaan opini public dan ruang wacana masyarakat dengan memenuhinya oleh tulisan hasil pemikiran mahasiswa atau dalam bentuk dialog dan talkshow tentang aksi yang sedang berlangsung. Kalau masih merasa perlu untuk turun ke jalan, sampaikan dengan arif dan melibatkan pihak kepolisian untuk bersama menjaga ketertiban ditambah gandeng dukungan dari ormas yang sejalan dengan opini yang akan disampaikan.

Ala Kulli Hal, kaidah fiqh mengajarkan pada kita selaku mahasiswa, Al Ghayah La Tubarirrul Washilah. Tujuan pergerakan mahasiswa untuk menyempurnakan dan menuntaskan perubahan jangan sampai menghalalkan segala cara yang illegal. Apakah artinya memperjuangkan kebenaran dengan menista kebenaran itu sendiri ? lalu akah artinya membela kepentingan rakyat banyak kalau telah menodai kemanan dan kenyamanan masyarakat itu sendiri ? tampaknya perlu kita revaluasi perjlanan pergerakan ini. InshaAllah

Izinkan Saya Maju Sebagai Kandidat CEO Progres

Tinggalkan Komentar

Resapilah kembali ajaran keberanian,kebenaran,dan keadilan.

Karena kau akan dipanggil kembali memimpin bangsa-bangsa

di dunia

(Sir Muhammad Iqbal, Shikwa )

Setahun lamanya, saya telah mengabdikan diri saya di sebuah kawah candradimuka pejuang ekonomi Islam yang kita,dengan akrab menyebutnya sebagai Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam . setahun lamanya pula kita pernah saling sapa dan bertukar pemikiran dan amal tentang hendak kemana perjalanan panjang rekonstruksi bangsa ini dengan nilai-nilai Islam akan menemukan titik peaknya. Dan setahun itu pula saya menyelami belantara pemikiran Islam di hati kawan-kawan seperjuangan semuaanya. Fahamilah dan kerana kita memang faham ada selalu ruangan yang berbeza di antara kita tetapi tiadalah ia menjadi penyebab robohnya ukhuwwah yang telah lama kita bina.Fahamilah, FoSSEI memang berragam kultur dan budaya sehingga tentu ada miskomunikasi dan salah faham di antaranya. Sebagai sebuah pergerakan islam yang mulai membesar, tentulah wajar ada sebuah episode yang dipenhui clash-clash namun especially untuk regional FoSSEI,tempat dimana saya mengabdikan diri,FoSSEI Jadebotabek , ruangan pembelajaran yang teramat indah dan kini dipimpin oleh ArdiasyahSelo Yuda, sahabat saya yang selalu calm down.

Dan pada hari jua, saya telah didaulat untuk maju sebagai kandidat CEO Progres oleh teman-teman I samping tiga kandidat lainnya. Terlepas dari unsure permainan gambling dan politik yang berlaku , seperti yang pernah dikatakan oleh penyair Taufik Ismail, Tidak Ada Jalan Lain, Karena berhenti atau mundur berarti hancur !” mereka yang telah dibina dengan shibgah-shibgah Islam sejatinya merefleksinya hampir kesempurnaan Islam dengan kesempurnaan pribadi pemeluknya. Terlepas dari ketidaksefahaman antara saya dengan sejumlah petinggi FoSSEI , saya anggap kita tak perlu mengulangi sejarah perang shiffin dan jamal. Sejarah kelam dinasti Ummayah dan Abbasiyah tentang teori-teori kekuasaan. Karenakehadiran kita adalah berpangkal pada tiga pokok perjuangan :Afiliasi, Partisipasi dan kontribusi.

Lagi

Oktober, Momennya Kebangkitan Pergerakan Mahasiwa Muslim Indonesia ??

Tinggalkan Komentar

Entah momennya tepat atau sengaja grand designnya, bulan oktober ini terjadi dua perhelatan akbar yang dimunculkan kembali oleh pergerakan mahasiswa. Saat aku berada di Semarang, aku baru sadar kalau hari ahad yang lalu itu 5000  mahasiwa muslim Indonesia dari Lembaga Da’wah Kampus senusantara berkumpul di Gelora Bung Karno dalam rangkaian Kongres Mahasiswa Muslim Indonesia yang terselanggara oleh BADAN Lembaga Da’wah Kampus. Kongres akbar yang akhirnya terselanggara di Luar Basket Hall Gelora Bung Karno juga bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olah Raga. Inilah kongres Akbar yang menggebrak dunia mahasiswa bangun dari tidurnya yang lelap dalam nuansa apatisme dan hedonism.

Di saat yang sama Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam bekerja sama dengan KSEI UNDIP selaku tuan rumah dan Rohis Fakultas Ekonomi Universitas Undip menggelar event SEHATI, Shariah Economics Activity, juga RAPIMNAS FoSSEI yang bertajuk Revitalisasi FoSSEI Untuk masyarakat Indonesia yang Madani pada tgl 15-17 Oktober 2009. Event SEHATI dihadiri banyak delegasi mahasiswa muslim dari pelbagai kelompok Studi Ekonomi Islam seIndonesia dan sedikitnya ditambah juga dengan Rohis sert SKI dari pelBAGAI Fakultas Ekonomi Senusantara. Aku benar-benar tersentak. Realitas telah berubah. Yang tadinya cenderung apais kini kian berghirah. Yang tadinya hedonis, kini kian menjadi spritualias.

Lagi

Progres,Hari Esok

Tinggalkan Komentar

Sebelumnya aku harus berterima kasih kepada Progres dalam membina tiap generasi angkatan STEI Tazkia dengan ruh pejuang yang rindu membumikan Ekonomi Islam. Kalau dittany, pada siapa pertama kali saya menengal ekonomi Islam seusad aku tercelu dengan nilai-nilai Islam melalui interaksiku dengan Tarbiyah, maka saya akan menjawab:Progres. Aku telah banyak menulis catatan-catatan tentang perkembangan Progres dan pada tulisan ini, aku hanya akan menuliskan sejumlah analisa tentang hal-hal yang menjadi tantangan Progres ke depan sekaligus juga sejumlah Otokritik yang inshaAlah membangun kepekaan kita pada jalan yang telah kita pilih (Catatan Malam Hari Selepas Isya, Bogor )

Semenjak aku menjabat sebagai waka kadiv Luar Negeri progres, semenjak saat itu pula beringsut-ingsut hasrat memandang persoalan KSEI lebih luas dan tak hanya dari satu sudut saja. Bersyukur adalah hikmah yang selalu saya dapatkan. Sementara semangat adalah yang kutebar ke KSEI-KSEI Lain. Karena saya memandag persoalan KSEI lebih komparatif dan komprehensif. Inilah Progres dan dari situ pula banyak pintu terbuka untuk menilai baik dan buruk perkembangan Progres yang dari namanya saja merefleksikan sebuah asa yang dinamis dan sarat nilai-nilai Hayawi.Terlalu banyak kejutan di dalamnya tapi tak sedikit ada masukan yang,InshaAllah berarti untuknya.

Dengan standar rating penilaian yang dibuat oleh stakeholder Ekonomi Syariah manapun, aku berani memprediksi Prores adalah salah satu KSEI di Jadebotabek yang selalu stabil temu Ilmiahnya. Yang selalu bertenaga perkasa para personilnya. Serta selalu kreatif dalam memuncratkan idea-ideanya. Even, hanya ada di Progres, Kajian Ekonomi Islam dalam skup Fiqh Muamalah Klasik selalu mendominasi.Hingga tak perlu heran kerap diadakan debat Ekonomi Islam dalam kerangka muamalat dan tinjauan hukum syariah.

Lagi

Zona Nyaman Vs Idealisme

2 Komentar

“’Ah kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini, dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat , bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan Amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti . Kalau tak ingat , bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat itu semua, shalat zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalkan kipas dan mendengarkan lagu El Hub El Haqiqi dan untaian shalawatnya Emad Arabiy dari Syiria itu tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan atau satu minggu d dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan MashaAllah alangkah segarnya “

( Habiburahman El Shirazy , Ayat-Ayat Cinta )

Rangkaian tulisan panjang tadi diambil dari salah satu karya sastra Islam terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia . Bahkan pernah diangkat ke layer lebar serta di saat yang sama novel tersebut telah banyak diterjemahkan ke pelabagai bahasa dunia dari mulai Malaysia hingga Jerman. Tetapi membaca rangkaian cuplikan dari karyanya Ustadz Habiburahman El Shirazy, satu poin penting terikat dengan apa yang banyak disebut oleh para aktivis da’wah sebagai “Zona Nyaman”. Bagi para Aktivis Da’wah Kampus hingga para businessman papan atas sangat risau dengan tiap kekayaan yang menumpuk di depositonya maupun emergency savingnya. Karena, bagi mereka, itulah zona nyaman, yang malah-malah mengantarkan mereka pada zona stagnan dan bahkan meluncur sama sekali.

Akhina Riza Rizky Pratama, CEO KSEI Lisensi UIN Jakarta, pernah menulis di facebooknya apa yang menjadi alsan mahasiswa UIN memilih bergerak di tengah-tengah opini kampusnya sebagai sarang penyakit liberalisme. Comfort Zone dipahami sebagai suatu sikon yang sekilas telah banyak memberikan banyak keleluasaan dan kecukupan materi hingga bagi mereka yang jeli akan tegas banyak “mengkritisi” dengan cara sibuk sendiri dan menenggelamkan diri ke pelbagai kepanitiaan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi mahasiswa matrikulasi sebelum memasuki semester awal yang juga bnayak dirasakan oleh mahasiswa lainnnya. Mencari kegiatan serasa menjadi PR terbesar yang harus digarap oleh Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi di setiap musyawarah atawa syuraa. Dari mulai Menerbitkan MARGIN (Matrikulasi Magazine) hingga Pekan Peduli Ekonomi Syariah sebagai jurus pamungkasnya mengekssistensikan nama mahasiswa sebagai pelopor perubahan. Maka, selepasnya dari Matrikulasi, kami serempak mencari pelbagai kegiatan dari mulai nyebur di Progres hingga membuat UKM baru. Atau Akhina Johanh Rio Pamungkas, temen kapmi di FIB UI juga pernah cerita di blognya kala pertama kali melihat fenomena “orang-orang kiri “ terlihat lebih eksis di kampusnya dibandingkan dengan para aktivis da’wah kampus yang katanya sudah Futuh dan banyaknya anak mushalla yang masuk ke kursi senat.

Membaca riwayat dan atsar para ulama terdahulu, Comfort Zone menjadi periode atau poin yang sangat menakutkan. Hingga Imam Ahmad yang telah berkali-kali mengalami penyiksaan leh rezim Al watsiq Billah dari Dinasti Abbasiyah “Tiada Kata Istirahat hingga kakiku menapak di SurgaNya “ atau Imam Zamakhsyari yang bersenandung puitis  “jari-jemari di atas kertas dan buku-buku lebih kusukai dari pada pahanya para wanita ana alunan rebana “  dan nyatanya itu pulak yang menjadi  jawabannya  kala seorang ulama salaf berdoa “ ya Allah, tabahkanlah agar aku mampu bersabar di saat Kau berikan aku kelapangan “ .

Semoga itu jua yang ternyata menjadi semangat teman-temanku di usianya yang belia hanya terpikir satu kalimat “Just Do The Best “ bagai para pejuang, istirahat itu justru ketika mampu  melepaskan diri dari satu kekangan ke kekangan yang lain sampai sempurna misi yang ia jalankan

Antitesanya adalah perubahan dan keluar dari zona nyaman harus siap dengan konsekuensinya karena ia kembali mendudukan keteguhan idealisme. Nah, bicara idealisme berate bicara kriterie ketegasan moral yang mengawal keberlangsungannya sbeuah misi. Dengan tegas, kita ummat muslim, kriteria ketegasan moral itu berangkat dari wahyu Allah SWT daan sunnah Muhammad Rasulullah. Sebab baru dengan demikian diterimanya sebuah amal. Tapi Idealisme juga perlu berdialog dengan wajah zaman dan keterbatasan ruang.  Mendobrak zona nyaman dengan model tahun 1965 an jelas tak lagi relevan. Tidak selamanya Pemerintah adalah Tiran atawa Thagut yang harus digulingkan atau bahkan secara gegabah mencap mereka yang berhukum di bawah Pemerintahan yang sah secara yuridis dan aspek maslahah luas,dengan anggapan Thagut, mencapnya sebagai ashobiyah dan sebagainya. Karena di situasi dan massa yang telah banyak bergerak menuju titik penentuan sejarah akan ada banyak kerugian yasng harus rela dibayar mahal oelh ummat. Serta haruskah memperpanjang daftar kekalahan dengan logika Negara di saat yang sama kita adalah populasi muslim terbesar di dunia.?? Padahal logika Negara juga dibangun atas usmbangan dan kontribusi konsensus ummat. Ibarat babak belur di kandang dan gawang sendiri.

Para sahabat Rasulullah SAW, hingga para aktivis da’wah juga manusia. Ada ruangan manusiawi di sejumlah episode kepahlawanannya. Umar Ibn Khattab sangat manja di depan istrinya, tapi lain cerita, kala ia mendengar ada seorang non muslim yang terpaksa menajdi pengemis karena jizayah yang dirasa memberatkan kebutuhan ekonomi serta ditambah usia lanjut. Umar pun memegang tangan sang pengemis non muslim ini  dan membawanya  ke Baitul Maal kemudian membebaskan Jizyah serta memberikan sedekah yang diambil dari Baitul Maal tersebut. Di era kiwari, salah seoarang ikhwah bercerita dalam sebuah program daurah Al Qura’an. Tentang masa mudanya dilewati penuh dengan perjuangan keras dan habis di masa sulit. Sampai suatu ketika ia meminta izin kepada ibunya untuk berangkat demontrasi. Sampai tiga kali ia meminta izin namun barulah izin keempat mendapatkan izin. Yang mengharukan, sang ibu tidak membiarkan dirinya tangan kosong. Dibuatkanlah sebotol susu hangat untuk sang anak yang akan berangkat demonstrasi. Maka melinanglah air mata mengalir dari seorang ikhwah kita ini karena Cinta yang selalu dialirkan oleh ibundanya meski sempat sampai tiga kali menolak perizinan untuk bias ikut serta demonstrasi.

Disini. Di ruangan pertarungan untuk keluar totalitas dari zona nyaman punya seninya sendiri. Mereka yang mengaku idealis jangan sampai di pecundangi oleh berlimpahnya informasi yang tak juga menambah intelektualitas bertambah dewasa. Mereka yang mengaku paling idealis, jangan sampai atas nama idealisme telah ikut menyumbang orang lain menjadi apatis karena egonya lebih banyak muncul seolah-lah dunia miliknya sendiri. Tapi mereka yang mengaku moderat, yang ada semakin dalam terperosok dengan zaman yang ada. Pragmatis. Ungkapan –ungkapan seperti “ buat apa lagi aktif di pergerakan mahasiswa, keadaan tak juga semakin berubah “ kian nyaring terdengar senyaring teriakan apatisme sebagian masyarakat yang seolah-olah sudah bias memastikan besok matahari takkan terbit dari timur lagi. Mereka lupa kalau agama ini adalah agama ‘proses” bukan hasil. Surah Al Anfal, yang konon menjadi “nyanyian perang”  bagi para mujahidin Palestina, diturunkan menjelang surah At Taubah lebih banyak berbicara, apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana mengarunginya, dan apa yang kita peroleh kelak dari Allah SWT bahkan dijanjikan dengan SurgaNya setelah bertransaksi dengan jiwa dan harta para mukminin.

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).( Surah Al Anfal :60 )

Tentang hubungan keterikatan hati para mukmin disentuh pula oleh Al Qura’an

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)622. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( Surah Al Anfal :63)

dan jual beli yang abadi

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( At Taubah :111)

Sejarah yang unik dan kerap membuat pembacanya terhenyak pernah mengajari kita. Di Masa Bani Ummayah, ummat ini pernah mengalami menyiksa tapi justru begitu dikenang sejarah. Adalah sang Penasihat Khalifah, Raja’ bin Haiwah dengan konspirasi keshalihannya memunculkan Umar Ibn Abdul Aziz di tengah-tengah dominasi keturunan keluarga Abdul Malik

Ala Kulli Hal, keluar dari zona nyaman dengan segenap perubahan memang menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi tetap bertahan dalam status quo, melanggengkan rezim kebathilan dan memperpanjang usia tua dalam asuhan sang rezim. Entah lah itu kita sebut realitas bobrok atau sistematika jahiliyah !!

Bandung, Syawal 1430 H

Da’wah Kampus Di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Adalah Keharusan

Tinggalkan Komentar

STEI Tazkia

STEI Tazkia

Rekontruksi adalah serangkaian Proses. Ia memerlukan usaha multi sikap dari para intelektual yang memiliki latar belakang pendidikan dan sisplin yang berbeda . Seluruh konsentrasinya dan fokusnya adalah dalam rangka segala usaha lintas disiplin ilmu untuk merekonstruksi peradaban kaum muslimin kembali (Ziauddin Sardar, Islamic Future: The Shape of Ideas to Come)

Membaca buku yang ditulis oleh akh Arya Sandiyudha “Renovasi Da’wah kampus” semakin menguatkan tema wacana ini menuju alam yang nyata. Kalau selama ini telah dipandang umm dan wajar geliat dan restrukturisasi bangunan da’wah kampus yang notabene menda[patkan tempatnya di kampus-kampus “Konvensional” maka wajar jugakah keberadaan pergerakan dakwah kampus di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam ?

Lagi

Segores Catatan Dari Konferensi Mahasiswa Muslim Indonesia

4 Komentar

Hari kemarin seharusnya menjadi hari luapan dari selesainya ujian UAS bagi saya tetapi ada agenda yang belum selesai. Yach salah satunya menghadiri sebuah perhelatan akbar dengan undangan atau peserta dari pelbagai Lembaga Da’wah Kampus seIndonesia dan termasuk juga LDK Al Iqtishod STEI Tazkia turut serta menjadi tamu undangan dal;am Perhelatan akbar yang bernama Konferensi Mahasiswa Muslim Indonesia yang pertama kalinya diselenggarakan di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan FSLDKN dan SALAM UI sebagai penyelenggaranya.

Lagi

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.