Archive for the ‘Catatan Harian’ Category
Oktober, Momennya Kebangkitan Pergerakan Mahasiwa Muslim Indonesia ??
Entah momennya tepat atau sengaja grand designnya, bulan oktober ini terjadi dua perhelatan akbar yang dimunculkan kembali oleh pergerakan mahasiswa. Saat aku berada di Semarang, aku baru sadar kalau hari ahad yang lalu itu 5000 mahasiwa muslim Indonesia dari Lembaga Da’wah Kampus senusantara berkumpul di Gelora Bung Karno dalam rangkaian Kongres Mahasiswa Muslim Indonesia yang terselanggara oleh BADAN Lembaga Da’wah Kampus. Kongres akbar yang akhirnya terselanggara di Luar Basket Hall Gelora Bung Karno juga bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olah Raga. Inilah kongres Akbar yang menggebrak dunia mahasiswa bangun dari tidurnya yang lelap dalam nuansa apatisme dan hedonism.
Di saat yang sama Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam bekerja sama dengan KSEI UNDIP selaku tuan rumah dan Rohis Fakultas Ekonomi Universitas Undip menggelar event SEHATI, Shariah Economics Activity, juga RAPIMNAS FoSSEI yang bertajuk Revitalisasi FoSSEI Untuk masyarakat Indonesia yang Madani pada tgl 15-17 Oktober 2009. Event SEHATI dihadiri banyak delegasi mahasiswa muslim dari pelbagai kelompok Studi Ekonomi Islam seIndonesia dan sedikitnya ditambah juga dengan Rohis sert SKI dari pelBAGAI Fakultas Ekonomi Senusantara. Aku benar-benar tersentak. Realitas telah berubah. Yang tadinya cenderung apais kini kian berghirah. Yang tadinya hedonis, kini kian menjadi spritualias.
Progres,Hari Esok
Sebelumnya aku harus berterima kasih kepada Progres dalam membina tiap generasi angkatan STEI Tazkia dengan ruh pejuang yang rindu membumikan Ekonomi Islam. Kalau dittany, pada siapa pertama kali saya menengal ekonomi Islam seusad aku tercelu dengan nilai-nilai Islam melalui interaksiku dengan Tarbiyah, maka saya akan menjawab:Progres. Aku telah banyak menulis catatan-catatan tentang perkembangan Progres dan pada tulisan ini, aku hanya akan menuliskan sejumlah analisa tentang hal-hal yang menjadi tantangan Progres ke depan sekaligus juga sejumlah Otokritik yang inshaAlah membangun kepekaan kita pada jalan yang telah kita pilih (Catatan Malam Hari Selepas Isya, Bogor )
Semenjak aku menjabat sebagai waka kadiv Luar Negeri progres, semenjak saat itu pula beringsut-ingsut hasrat memandang persoalan KSEI lebih luas dan tak hanya dari satu sudut saja. Bersyukur adalah hikmah yang selalu saya dapatkan. Sementara semangat adalah yang kutebar ke KSEI-KSEI Lain. Karena saya memandag persoalan KSEI lebih komparatif dan komprehensif. Inilah Progres dan dari situ pula banyak pintu terbuka untuk menilai baik dan buruk perkembangan Progres yang dari namanya saja merefleksikan sebuah asa yang dinamis dan sarat nilai-nilai Hayawi.Terlalu banyak kejutan di dalamnya tapi tak sedikit ada masukan yang,InshaAllah berarti untuknya.
Dengan standar rating penilaian yang dibuat oleh stakeholder Ekonomi Syariah manapun, aku berani memprediksi Prores adalah salah satu KSEI di Jadebotabek yang selalu stabil temu Ilmiahnya. Yang selalu bertenaga perkasa para personilnya. Serta selalu kreatif dalam memuncratkan idea-ideanya. Even, hanya ada di Progres, Kajian Ekonomi Islam dalam skup Fiqh Muamalah Klasik selalu mendominasi.Hingga tak perlu heran kerap diadakan debat Ekonomi Islam dalam kerangka muamalat dan tinjauan hukum syariah.
Zona Nyaman Vs Idealisme
“’Ah kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini, dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat , bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan Amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti . Kalau tak ingat , bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat itu semua, shalat zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalkan kipas dan mendengarkan lagu El Hub El Haqiqi dan untaian shalawatnya Emad Arabiy dari Syiria itu tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan atau satu minggu d dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan MashaAllah alangkah segarnya “
( Habiburahman El Shirazy , Ayat-Ayat Cinta )
Rangkaian tulisan panjang tadi diambil dari salah satu karya sastra Islam terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia . Bahkan pernah diangkat ke layer lebar serta di saat yang sama novel tersebut telah banyak diterjemahkan ke pelabagai bahasa dunia dari mulai Malaysia hingga Jerman. Tetapi membaca rangkaian cuplikan dari karyanya Ustadz Habiburahman El Shirazy, satu poin penting terikat dengan apa yang banyak disebut oleh para aktivis da’wah sebagai “Zona Nyaman”. Bagi para Aktivis Da’wah Kampus hingga para businessman papan atas sangat risau dengan tiap kekayaan yang menumpuk di depositonya maupun emergency savingnya. Karena, bagi mereka, itulah zona nyaman, yang malah-malah mengantarkan mereka pada zona stagnan dan bahkan meluncur sama sekali.
Akhina Riza Rizky Pratama, CEO KSEI Lisensi UIN Jakarta, pernah menulis di facebooknya apa yang menjadi alsan mahasiswa UIN memilih bergerak di tengah-tengah opini kampusnya sebagai sarang penyakit liberalisme. Comfort Zone dipahami sebagai suatu sikon yang sekilas telah banyak memberikan banyak keleluasaan dan kecukupan materi hingga bagi mereka yang jeli akan tegas banyak “mengkritisi” dengan cara sibuk sendiri dan menenggelamkan diri ke pelbagai kepanitiaan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi mahasiswa matrikulasi sebelum memasuki semester awal yang juga bnayak dirasakan oleh mahasiswa lainnnya. Mencari kegiatan serasa menjadi PR terbesar yang harus digarap oleh Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi di setiap musyawarah atawa syuraa. Dari mulai Menerbitkan MARGIN (Matrikulasi Magazine) hingga Pekan Peduli Ekonomi Syariah sebagai jurus pamungkasnya mengekssistensikan nama mahasiswa sebagai pelopor perubahan. Maka, selepasnya dari Matrikulasi, kami serempak mencari pelbagai kegiatan dari mulai nyebur di Progres hingga membuat UKM baru. Atau Akhina Johanh Rio Pamungkas, temen kapmi di FIB UI juga pernah cerita di blognya kala pertama kali melihat fenomena “orang-orang kiri “ terlihat lebih eksis di kampusnya dibandingkan dengan para aktivis da’wah kampus yang katanya sudah Futuh dan banyaknya anak mushalla yang masuk ke kursi senat.
Membaca riwayat dan atsar para ulama terdahulu, Comfort Zone menjadi periode atau poin yang sangat menakutkan. Hingga Imam Ahmad yang telah berkali-kali mengalami penyiksaan leh rezim Al watsiq Billah dari Dinasti Abbasiyah “Tiada Kata Istirahat hingga kakiku menapak di SurgaNya “ atau Imam Zamakhsyari yang bersenandung puitis “jari-jemari di atas kertas dan buku-buku lebih kusukai dari pada pahanya para wanita ana alunan rebana “ dan nyatanya itu pulak yang menjadi jawabannya kala seorang ulama salaf berdoa “ ya Allah, tabahkanlah agar aku mampu bersabar di saat Kau berikan aku kelapangan “ .
Semoga itu jua yang ternyata menjadi semangat teman-temanku di usianya yang belia hanya terpikir satu kalimat “Just Do The Best “ bagai para pejuang, istirahat itu justru ketika mampu melepaskan diri dari satu kekangan ke kekangan yang lain sampai sempurna misi yang ia jalankan
Antitesanya adalah perubahan dan keluar dari zona nyaman harus siap dengan konsekuensinya karena ia kembali mendudukan keteguhan idealisme. Nah, bicara idealisme berate bicara kriterie ketegasan moral yang mengawal keberlangsungannya sbeuah misi. Dengan tegas, kita ummat muslim, kriteria ketegasan moral itu berangkat dari wahyu Allah SWT daan sunnah Muhammad Rasulullah. Sebab baru dengan demikian diterimanya sebuah amal. Tapi Idealisme juga perlu berdialog dengan wajah zaman dan keterbatasan ruang. Mendobrak zona nyaman dengan model tahun 1965 an jelas tak lagi relevan. Tidak selamanya Pemerintah adalah Tiran atawa Thagut yang harus digulingkan atau bahkan secara gegabah mencap mereka yang berhukum di bawah Pemerintahan yang sah secara yuridis dan aspek maslahah luas,dengan anggapan Thagut, mencapnya sebagai ashobiyah dan sebagainya. Karena di situasi dan massa yang telah banyak bergerak menuju titik penentuan sejarah akan ada banyak kerugian yasng harus rela dibayar mahal oelh ummat. Serta haruskah memperpanjang daftar kekalahan dengan logika Negara di saat yang sama kita adalah populasi muslim terbesar di dunia.?? Padahal logika Negara juga dibangun atas usmbangan dan kontribusi konsensus ummat. Ibarat babak belur di kandang dan gawang sendiri.
Para sahabat Rasulullah SAW, hingga para aktivis da’wah juga manusia. Ada ruangan manusiawi di sejumlah episode kepahlawanannya. Umar Ibn Khattab sangat manja di depan istrinya, tapi lain cerita, kala ia mendengar ada seorang non muslim yang terpaksa menajdi pengemis karena jizayah yang dirasa memberatkan kebutuhan ekonomi serta ditambah usia lanjut. Umar pun memegang tangan sang pengemis non muslim ini dan membawanya ke Baitul Maal kemudian membebaskan Jizyah serta memberikan sedekah yang diambil dari Baitul Maal tersebut. Di era kiwari, salah seoarang ikhwah bercerita dalam sebuah program daurah Al Qura’an. Tentang masa mudanya dilewati penuh dengan perjuangan keras dan habis di masa sulit. Sampai suatu ketika ia meminta izin kepada ibunya untuk berangkat demontrasi. Sampai tiga kali ia meminta izin namun barulah izin keempat mendapatkan izin. Yang mengharukan, sang ibu tidak membiarkan dirinya tangan kosong. Dibuatkanlah sebotol susu hangat untuk sang anak yang akan berangkat demonstrasi. Maka melinanglah air mata mengalir dari seorang ikhwah kita ini karena Cinta yang selalu dialirkan oleh ibundanya meski sempat sampai tiga kali menolak perizinan untuk bias ikut serta demonstrasi.
Disini. Di ruangan pertarungan untuk keluar totalitas dari zona nyaman punya seninya sendiri. Mereka yang mengaku idealis jangan sampai di pecundangi oleh berlimpahnya informasi yang tak juga menambah intelektualitas bertambah dewasa. Mereka yang mengaku paling idealis, jangan sampai atas nama idealisme telah ikut menyumbang orang lain menjadi apatis karena egonya lebih banyak muncul seolah-lah dunia miliknya sendiri. Tapi mereka yang mengaku moderat, yang ada semakin dalam terperosok dengan zaman yang ada. Pragmatis. Ungkapan –ungkapan seperti “ buat apa lagi aktif di pergerakan mahasiswa, keadaan tak juga semakin berubah “ kian nyaring terdengar senyaring teriakan apatisme sebagian masyarakat yang seolah-olah sudah bias memastikan besok matahari takkan terbit dari timur lagi. Mereka lupa kalau agama ini adalah agama ‘proses” bukan hasil. Surah Al Anfal, yang konon menjadi “nyanyian perang” bagi para mujahidin Palestina, diturunkan menjelang surah At Taubah lebih banyak berbicara, apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana mengarunginya, dan apa yang kita peroleh kelak dari Allah SWT bahkan dijanjikan dengan SurgaNya setelah bertransaksi dengan jiwa dan harta para mukminin.
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).( Surah Al Anfal :60 )
Tentang hubungan keterikatan hati para mukmin disentuh pula oleh Al Qura’an
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)622. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( Surah Al Anfal :63)
dan jual beli yang abadi
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( At Taubah :111)
Sejarah yang unik dan kerap membuat pembacanya terhenyak pernah mengajari kita. Di Masa Bani Ummayah, ummat ini pernah mengalami menyiksa tapi justru begitu dikenang sejarah. Adalah sang Penasihat Khalifah, Raja’ bin Haiwah dengan konspirasi keshalihannya memunculkan Umar Ibn Abdul Aziz di tengah-tengah dominasi keturunan keluarga Abdul Malik
Ala Kulli Hal, keluar dari zona nyaman dengan segenap perubahan memang menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi tetap bertahan dalam status quo, melanggengkan rezim kebathilan dan memperpanjang usia tua dalam asuhan sang rezim. Entah lah itu kita sebut realitas bobrok atau sistematika jahiliyah !!
Bandung, Syawal 1430 H
Email Dari Seorang Sahabat
Diawali dengan sebuah pertanyaan.. ..
Saudaraku, kalau saja ada yang bertanya, siapakah orang yang paling berbahagia hidupnya di dunia ini?
Insya ALLAH, orang dimaksud tidak lain adalah orang2 yang beriman.
Saudaraku, meskipun seolah-olah, mungkn saja terlihat dari luar, orang2 yang beriman begitu berjuang dengan gigihnya. Mungkin juga, cobaan, entah itu cobaan yang berupa nikmat atau ujian, datang silih berganti. Tanggung jawab amanah yang demikian besar. Pengorbanan. Dan sebagainya.. ..Sebenarnya, tidak menjadi sebuah masalah bagi mereka yang beriman.
Film Merah Putih, Kemerdekaan RI, Dan Ummat Islam

Film Merah Putih
merah putih, hormaat grakkk!
buat semua bangsa lain tersentak
kibarkan sang saka dengan serentak
harumkan nama ibu pertiwi serempak
di bawah langit biru berkibar tertiup angin
bangga jadi orang indonesia ku semakin
terpacu tuk memajukan bangsa
tunjukkan kita kuat kita bukan mangsa
berbeda suku, beda golongan dan agama
bhinneka tunggal ika kami yang pertama
bahu membahu bimbing saling membimbing
berat sama dipikul ringan sama dijinjing
ini nusantara kita satu darah
satu nusa bangsa bahasa dan satu arah
takkan kulupakan selama lamanya
bangsaku, INDONESIA NAMANYA!
( Saykoji, Merah Putih )
Tak lama, aku sudah menonton film Merah Putih. Sangat menggelora dan menggedorkan kembali ghirah cinta pada bumi persada ini. Momennya pun sangat tepat . Menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Cerita dalam Film Merah Putih ini mengambil setting Indonesia dalam agresi Belanda di daerah Jawa Tengah, Pasca menyerahnya Jepang serta diproklamasikannya kemerdekaan Republik ini. Dalam sebuh video yang beredar di Youtube, aku juga pernah menyaksikan orasi Bung Tomo kala membakar semangat penduduk Surabaya menyambut kedatangan balatentara Sekutu dan NICA. yang membuat aku bergetar, adalah fakta sejarah para pejuang di negeri ini menyambut mereka dengan pertempuran yang seru disertai takbir.
Kesaksian Enam Puluh Empat Tahun Pembangunan
Saat kata kita merangkai dunia
Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka
Telah enam puluh empat tahun negara kita merdeka
Telah menua usia bendera merah putih disana
Seharusnya kita lebih belajar lebih dewasa dari anak TK
Saat kata kita harus merangkai wacana
Pada permulaanya hanyalah di atas kalam
Buah pikir yang tersantunkan dan menggeliat
Menggeliat menjadi poros.
Menggelinding ia sentuhkan perubahan
Saat kata kita kembali bicara jujur
Dari ruangan hati ke meja berhiaskan speaker
Dari ruangan hati ke bilik kekuasaan Presiden
Atau malah dari ruangan yang tak mempunyai hati nurani
Yang penting merdeka lebih punya isi
Yang melawan retorika para politisi.
Yang melawan kelaparan bayi-bayi
Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka
Sudah enam puluh tahun kita merdeka
Sudah renta usia negara kita
Dan kata-kata kita masih dijajah dari berkata jujur.
Kau adalah anak baik-baik
Andai diam saja dan katakan sesuai apa yang dipesan pemilik modal
Andai tetap tersenyum dan katakan sesuai apa yang dipesan pelaku pasar
Kau adalah ulama yang terhormat
Andai selalu merapat pada barisan koalisi kekuasaan Sang Presiden
Andai tak terlalu banyak berfatwa
Fatwamu cukup untuk si miskin dan si pengangguran
Mereka berdosa karena kemalasan mereka dan dapat menjadi beban negara !
Kesaksian dari arah pembangunan menjerit pedih
Sudah enam puluh empat tahun kita merdeka
Masih jua meronta perih
Sudah renta usia ibukota kita
Masih jua menangis pasrah
Dan kata-kata kita masih dibelenggu dari berkata ikhlas
Lalu siapa yang bisa memberi arti pada tulang-tulang berserakan
Pasca 10 November dan antara krawang dan bekasi ??
Lalu apa artinya kita berteriak gagah-gagahan merdeka !
Untuk Tanah, Air, Minyak, Bumi, dan Api bukan kita yang punya
Menghirup udara pun perlu proyek privatisasi
Kesaksian dari arah pembangunan
Masih berteriak lemas dan marah !
Da’wah Kampus Di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Adalah Keharusan

STEI Tazkia
Rekontruksi adalah serangkaian Proses. Ia memerlukan usaha multi sikap dari para intelektual yang memiliki latar belakang pendidikan dan sisplin yang berbeda . Seluruh konsentrasinya dan fokusnya adalah dalam rangka segala usaha lintas disiplin ilmu untuk merekonstruksi peradaban kaum muslimin kembali (Ziauddin Sardar, Islamic Future: The Shape of Ideas to Come)
Membaca buku yang ditulis oleh akh Arya Sandiyudha “Renovasi Da’wah kampus” semakin menguatkan tema wacana ini menuju alam yang nyata. Kalau selama ini telah dipandang umm dan wajar geliat dan restrukturisasi bangunan da’wah kampus yang notabene menda[patkan tempatnya di kampus-kampus “Konvensional” maka wajar jugakah keberadaan pergerakan dakwah kampus di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam ?
Segores Catatan Dari Konferensi Mahasiswa Muslim Indonesia
Hari kemarin seharusnya menjadi hari luapan dari selesainya ujian UAS bagi saya tetapi ada agenda yang belum selesai. Yach salah satunya menghadiri sebuah perhelatan akbar dengan undangan atau peserta dari pelbagai Lembaga Da’wah Kampus seIndonesia dan termasuk juga LDK Al Iqtishod STEI Tazkia turut serta menjadi tamu undangan dal;am Perhelatan akbar yang bernama Konferensi Mahasiswa Muslim Indonesia yang pertama kalinya diselenggarakan di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan FSLDKN dan SALAM UI sebagai penyelenggaranya.
Muslim Bersatu Bukan Utopia
Bahkan Seribu Masjid , sejuta masjid niscaya satu belaka jumlahnya , sebab tujuh samudra gerakan sejarah bergetar dalam satu ukhuwwah islamiyah . ( Emha Ainun Nadjib , Seribu Masjid Satu Jumlahnya )
Tatkala selongsong misi yang ditembakkan jauh hari dalam baying-bayang penekanan represif dan gejolak budaya yang berangkat dari satu konspirasi beranting-ranting dan mengakar telah begitu lama digaungkan jauh sebelum kita kembali mempopulerkan dengan berkali-kali seminar atau bahan hangat satu konferensi internasional.
Jalan Panjang Generasi Perubahan
Jalan Panjang Generasi Perubahan
Ingin kukirimkan sejenak rimbun kata sesudah ashar tatkala senandung asma husna membelah jiwa yang hampa hidayah dan bercengkrama bersama pikiran besar untuk dicairkan di tiap lembar .Ingin kukirimkan separuh dukaku pada keangkuhan bebukit dan gunung belakang lonceng , tentang sayatan pedih pejuang yang memilih jalan kematiannnya di ujung lorong panjang hanya sunyi sendiri .Saat harapan yang hanya secawan , terhempas deru sengit perdebatan dan tak ada lagi disini kepalantangan meninju langit kecuali dunia pondok yang menjenuhkan
Tiada mengapa bila ia mampu mendobrak dominasi jahiliyah , jahiliyah yang tidak selalu lekat dan identik dengan keterbatasan , jahiliyah yang diwariskan tiap dekade zaman . Pada transformasi yang kian memukau sekaligus menjerat , bermuara kebodohan dan kemusyrikan lalu membiarkan diri dipenjara oleh sederet doga,-dogma using dan diterjemahkan mkini menjadi “ akidah” tersendiri .








