Hedonisme

Tinggalkan Komentar

Kalau anda sempatkan diri jalan-jalan kearah kemang dan sekitar nya, dengan mudah anda temukan pelbagai kafe dan kawasan hang out dengan pelbagai jenis dn tingkat tongkrongan nya. ada yang diperuntukkan untuk kalangan eksekutif hingga anak muda. Selain Kemang dikenal sebagai tempt pemukimn warga exspatriat dan pejabat, bukan ragu lagi kemang telah menjelma surga di Jakarta bagi para pemuja aliran yang sedang kita bincangkan ini. Hedonisme secara empiris memang kental dengan gaya hidup tetapi tidak dengan history nya yang identik dengan merebak nya Sekularisme pertam kali mencengkramkan kaki nya di Eropa pasca revolusi industry dan tersingkirnya institusi Gereja dari kehidupan.
Maka harusnya memang klop hedonisme pasti berhubungan mesra dengan ilmu ekonomi barat sebab kehadiran nya ditandai dengan muncul nya On Liberty, magnum opus ny John Stuart Mill, menurut Mill, protes nya yang menghendaki kebebasan individu lebih didominasi protes terhadap moralisme koersif, seperti  fanatisme, intoleransi, sikap ingin benar sendiri, puritanisme, cara pandang John Stuart Mill seperti inilah yang merangsek msuk dalam suasana intelektualitas barat setelah renaissance. Tidak jauh berbeda dengan murid nya, sang guru, Jeremy Bentham mendefinisikan kepuasan dalam berkonsumsi dlam tataran pelaku mikro hanya lah dengan kepuasan atas rasa senang dan mengeliminsi penderitaan atas rasa sakit. Bagi Jeremy Bentham, peperangan sebenar nya dalam hidup bukan masalah kebaikan melawan keburukan atau antar akal dengan nafsu tetapi antara kepuasan di atas kesenangan melawan penderitaan atas rasa sakit. Dan memang benar seperti yang di deskripsikan oleh Mark Skousen, penulis The Making of Modern Economic, Jeremy Bentham memuja Dewa Utilitas bukan Invisible Hand seperti Adam Smith  dengan murid-muridnya. Dari kalangan sekolah Fabian, yang diwakili oleh William Stanley Jevons melihat teori marginal utilitas oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill dengan sudupt pandang demand dan supply, semakin banyak quantitas yang tersedi maka konsumen semakin bisa memenuhi kebutuhannya tetapi dengan marginal utilitas yang menurun atau jenuh. Persis dengan hukum gossen. Setelah lari kencang, kemudian haus membutuhkan air segelas, kemudian segelas lagi, kemudian segels lagi hingga kembung.
Ternyata yang mendefinisikan marginal utilitas secara agak lebih rasional dari sisi akuntansi nya muncul dari kalangan mazhab  Austria seperti yang diungkapkan Carl Menger dengan mazhab Austria, utilits marginal menunjukkan bahwa harga dan biaya ditentukn oleh margin atau keuntungan, sehingga analisis marginal seperti ini yang akhir nya membentuk cost of good sold dalam accounting nya dan menciptakan basis analisis tersendiri dalam mikroekonomi modern.
Dari perdebatan theory ini yang membuat hedonisme dengan istilah marginal utilits dalam kamus mikroekonomi bukan lagi soal gaya hidup. Sebab kalau mau jujur gaya hidup seorang individu mencerminkan ideology nya atau pandangan hidup nya. dan bicara soal pandangan hidup menurut Ustadz Hamid Fahmy Zarkasy ibarat berlayar di sebuah samudera tanpa tepi. dan terjadi nya clash of worldview bukan secara fisik tetapi dalam lintasan minda, kata orang Malaysia,  lalu persoalannya mengapa hedonisme akhirnya menggumpal menjelma sebuah kepercayaan yang dianut keabsahaannya dengan pesta clubbing sebagai ritual ibadah nya, feel dan mood sebagai keimanannya, dan akhirnya hawa nafsu sebagai tuhan nya. ternyata jawabannya juga belum jauh dari kerangka kerja mikroekonomi modern dengan teori indefferensial nya yang menyatakan bahwa secara teori pelaku konsumsi  bisa jadi memperoleh tingkat utilitas atau kepuasan yang sama karena kepuasan dari konsumsi sebenarnya sangat subjektif. Belum pernah riset empiris pengaruh seseorang membeli gadget itu dimotivasi secara kuat oleh dorongan kebutuhan, dorongan ekonomi atau dorongan gaya hidup atau tuntutan pekerjaan kalaupun ada lagi-lagi belum clear karena akhirnya kepuasan ditentukan oleh “kebutuhan” per individu yang tidak dapat diwakili oleh “kebutuhan “ lain.
Salah kalau ada yang mencap hedonisme hanya dimonopoli oleh kalangan ajeb2 atau kalangan menengah ke atas. Sebab  dalam tataran makroekonomi sikap dan keyakinan dari hedonisme telah menjerumuskan penanggaran  keuangan negara dalam posisi yang kritis. Secara empiris jika memang benar kemarin subsidi BBM dicabut dengan menaikkan harga minyak dalam negeri dengan argumen kenaikan harga minyak dunia alokasi pertama sebesar 50 % dari harga minyak impor dialoksikan untuk pos belanja pegawai sisa nya dialoksikan untuk proyek MP3EI, seperti MDGs, Infrastruktur baru bantuan tunai langsung.
Padahal kesejahteran, lapangan pekerjaan, dan perbaikan nasib adalah priorits pertama rakyat untuk terus menyambung usah dan hidup keluarga nya. memberi ikan yang cepat dikonsumsi dan kayu yang cepat dijadikan bahan bakar dibandingkan dengn kail dan kapak sebagai pemantikny jelas tak produktif seolah-olah menciptakan “kekayaan universal “ dalam istilah ekonom neoklasik yang ada meruntuhkan produkttifitas dan kreatifitas manusia itu sendiri untuk mencintai mengumpulkan asset tanpa usaha. Dampak nya secara makroekonomi seperti yang diungkapkan ekonom muslim dari maroko abad pertengahan, Ibnu Khaldun, “kehancuran dan kebinasaan mereka ditentukan oleh sejauh mana kemakmuran dan kesenangan hidup yang mereka nikmati dan jelaslah bahwa kemewahan hidup merupakan slah satu faktor penghambat bagi suatu kabilah untuk mencapai kekuasaan “

Jakarta
Kemanggisan
14 Jumadil Awwal 14433 H

Islamis

Tinggalkan Komentar

Entah kapan lahirnya istilah Islamist. Sebab umat muslim sendiri dari mulai yang puritan hingga bebas tidak pernah mengklaim diri sebagai Islamist atau menggunakan ungkapan islamist sebagai penamaan diri mereka. Islamist baru bisa ditelusuri lahirnya istilah tersebut tidak lain dari dunia jurnalistik Barat memandang permasalahan dunia islam dalam posisi dialog dengan Barat. Berawal dari perjalanan keagamaan mereka, sebuah ajaran yang dianut oleh sekelompok orang pasti dilekatkan dengan nama pendirinya. Tidak terkecuali bagi agama Islam, Mohammadanism, ajaran yang dibuat oleh Muhammad. Demikian definisi islam dari perspektif Barat. Ungkapan Islamis kemudian menjadi istilah yang khas di ruang tamu media Barat hingga ruang pemikiran serta kajian ketimuran yang berfokus membahas tidak hanya soal ajaran Islam untuk didamaikan dengan perspektif sekuler tetapi juga permasalahan dunia islam yang kelak di bagi dua antara kalangan modernis dengan Islamist.
Modernis identik dengan reformasi tatanan masyarakat dan sosial dunia muslim. Modernis similar dengan membawa warna Barat ke ruang tamu dunia Islam, hingga menurut Tamim Ansary, seorang sejarawan dunia islam kontemporer, menuliskan bahwa akhirnya ide-ide yang dibawa kalangan modernis dari mulai Sayyid Ahmad Khan di India, Amir Kabir di Iran, Mustafa Kamal dan Abdullah Cevdet di Turki hingga Fazlur Rahman  di Amerika Serikat, memiliki kesamaan agenda bahkan tidak dapat dipungkiri bagian dari grand scenario pemerintahan bertembok besi yang notabene kental dengan karakter represivitas dan militeristik nya. Dan itulah yang menjelaskan kepada umat manusia saat ini mengapa Partai Ba’aath begitu mengakar di Timur Tengah, saat Saddam Husein dan rezimnya ambruk ternyata tak serta merta membawa partai yang didirikan oleh seorang aktivis nasionalis Kristen Arab ini ambruk malah saat sedang bergolak dunia Arab pada tahun 2010-2011, Syria, menjadi satu-satunya negeri di dunia Arab yang tetap tenang. Tenang dalam diamnya menyibakkan ketakutan.

Lagi

Mencari Spirit Yang Hilang Dari Sebuah Forum

1 Komentar

“Orang yang tak menciptakan perubahan dalam dirinya, karena keputusasaan, akan kehilangan hari-hari yang mendatanginya untuk mendapatkan hidup yang lebih baik “ Syaikh Alaa Shadiq
Melihat situasi terkini yang sedang terjadi di FoSSEI, baik melalui milist atau facebook, saya jadi teringat pada apa yang akan saya tulis berikut ini. terhenyak  dan bangun dari kumpulan ingatan bahwa kita hanyalah atau awal mula nya forum.  Forum, wadah silaturahim dan mengumpulkan kekuatan penggerak ekonomi islam dari pelbagai pojok nusantara yang akhirnya bak senandung Muhammad Iqbal, Pujangga Anak Benua, walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal, himpunlah daun-daun yang berhamburan ini. hidupkan lagi ajaran saling mencintai. Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu. Dan untuk menghimpun daun-daun berserak itu dibutuhkan sebuah sapu besar bernama Ukhuwwah.   Tapi masalahnya dalam agama kita hanya mengenal Ukhuwwah yang dilandasi keimanan dengan yang dilandasi keturunan. Yang pertama disebut Ukhuwwah Diniyah dan yang kedua disebut sebagai Ukhuwwah Basyariah. Anis Matta menulis dalam bukunya yang best seller di pasaran,  Hanya kerendahan hati yang membuat semua orang mampu bekerja sama, tetapi hanya iman dan keyakinan pada risalah Ilahi yang dapat membantu setiap orang memiliki kerendahan hati yang memadai.  Sebagaimana yang diungkapkan jua oleh Dr Aidh Al Qarnee di twitternya, Hubungan manusia dengan Allah tidak akan terputus tetapi hubungan manusia dengan yang lainnya selalu bisa terputus. Berarti sapu besar yang mengumpulkan daun-daun terserak di jalanan ini harus diikat dengan ikatan iman. Dan para pendahulu kita telah melakukannnya. Pertemuan awal di Universitas Diponegoro yang bersambung dan saling terikat hingga Kongres KSEI tidak menjadi sia-sia sebagamana kumpul-kumpul agenda mahasiswa lainnya.

Sebagaimana halnya sebuah bangsa, negara dan rakyat. Konsekuensi atas pilihan masing-masing elemen tadi membawa implikasi signifikan tercipta nya serangkaian kekuatan yang senantiasa tercatat dalam sejarah dalam bab kontribusi. Karena ada kolektifitas ide yang dirangkai sebuah komunitas besar.besar anggota nya. Massif massa nya. Dan jelas tujuannnya. Sang pendahulu boleh datang dan pergi. Anggota oleh silih berganti memasuki rumah besar ini. tetapi sekali lagi yang menentukan bukan pencapaian demi pencapaian atas nama progresivitas atau atas nama efisiensi karena bab kontribusi masih akan terus bersambung pada pencapaian akhir saat para pahlawan menemukan momentumnya. Itu juga yang diajarkan oleh sejarah peradaban dunia islam pada kita,

Lagi

Ka’bah

Tinggalkan Komentar

Ka’bah

Bergegas kami dalam deru rindu
Saat gelombang nafas berteriak pilu membubuh sendu
Ka’bah
Di ujung mata, kaki kami tergelosor mencari bumi
Dari ubun hingga telapak hanya membacakan tasbih tak berujung

Bergegas kami dalam deru rindu
Mata menjalang menyasar ampunan agar segera diberangkatkan
Dijamu dan dilayani oleh yang menjaga Al Haramain.
Yang Maha Agung telah menitahkan, hamba –hamba yang dicintai berkenan mengecup bumiNya
Bernama Makkah dan Madinah

Bergegas kami dalam deru rindu
Keanggunan malam dalam pupujian hanya tertumpu padamu semata.
Petilasan dhuha sepanjang senyuman mentari hanya tersisa bayanganmu saja.
Kantong rezeki bagi dhuafa, pun tertitipkan namamu jua.
Yang Maha Agung telah menitahkan, hamba-hamba yang dicintai berkenan mencium batu hitam
Bernama Hajar Aswad.

Ka’bah
Masih setia menanti, sesetia Rasulullah menunggu umatnya di telaga bening bernama Al Kautsar.
Ka’bah, jenak-jenak bersahaja dan sederhana yang menyimpulkan pujian hanya milik Yang Maha Besar
Totalitas doa terhimpun diseantero masjid haram, menghujam ke ufuk jiwa manusia paling dasar.
Ka’bah
Mengajarkan kemuliaan takkan diraih dengan kekayaan yang kasar
Sebab akhirnya yang dipanggil hanya jiwa mereka yang seluas samudera sabar
Sebenggol demi sebenggol
Sekeping demi sekeping
Serupiah demi serupiah
bagi manusia , itu semua soal maru’ah
Tetapi Tuhan hanya berfirman : Inna Akramakum Indallahi Atqakum.

Bandung dan Kemiskinannya

Tinggalkan Komentar

Bandung dengan segala kegemerlapannya, Bandung dengan menyimpan sejuta cerita tentang tumbuh pesatnya industry jasa di bumi Jawa Barat tanpa dipungkiri telah banyak mendorong terserapnya tenaga kerja yang berimbas pada pelipatan pendapatan asli daerah kota Bandung lebih besar dari seluruh kota besar yang ada di provinsi Jawa Barat.  Sejumlah kawasan penting bagi anak muda pun ikut menyumbang pada Pendapatan Domestik Regional Bruto seperti Dago Pakar, Setia Budi, Cihampelas, hingga kawasan yang kental nuansa religius nya seperti Geger Kalong Girang. Tercatat dalam PDRB yang diterbitkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bahwa pendapatan domestik regional bruto pada tahun 2007  berdasarkan harga berlaku untuk kota Bandung sebesar Rp 50.552.180 terbesar pertama di kota di Jawa Barat yang kemudian diikuti oleh Kota Bekasi sebesar Rp 25. 419.184, atau sebesar 10,30 % sementara itu jika merujuk pendapatan asli daerah kota Bandung, dalam data yang dikeluarkan resmi oleh pemprov Jawa Barat pada tahun 2010 tercatat sebesar Rp 313.356.408. dengan dua indikator tadi kita bisa membedakan makna dari keduanya. PDRB jelas mempunyai cakupan ekonomi yang lebih luas dengan pos-pos yang menjadi sumber pemasukan yang menggerakan roda perekonomian daerah. Sementara PAD, berdasarkan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah hanya menjelaskan kepada kita sumber pemasukan regional yang bersumber dari pajak mulai dari pajak provinsi hingga pajak reklame. Melihat pesatnya pertumbuhan industry jasa dan komersil di Kota Bandung maka memang wajar jika PDRB berbanding lurus dengan meningkatnya PAD

                                                                                        

Tapi permasalahannya, apakah PDRB juga mencakup pemerataan kesejahteraan dan memberikan model yang sesuai tentang kelayakan hidup warga kota Bandung. Sebagaimana teori ekonomi mengenai pertumbuhan, merupakan sebuah debat klasik dalam ilmu ekonomi antara pertumbuhan dan pembangunan ekonomi bahkan pertumbuhan dengan pemerataan. Namun seolah telah menjadi konsensus para ekonom bahwa GDP memiliki problem dengan distribusi kekayaan dalam sebuah negara sehingga tidak bisa dijadikan satu-satu nya indikator kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Jika menggunakan perspektif konvensional, ukuran atau indikator itu bisa menggunakan apa saja sebagaimana dalam teori ekonominya Keynessian, bahwa besarnya output nasional merupakan gambaran awal tentang seberapa efisien sumber daya dalam perekonomian, besarnya output nasional merupakan gambaran awal tentang produktivitas dan tingkat kemakmuran rakyat dalam sebuah negara, maka, hasilnya secara konkret bisa kita perjelas bahwa seolah-olah teori ekonomi Barat ingin mengatakan semakin banyak anak muda hingga pekerja kantoran yang memegang gadget update bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi itu sedang membaik karena daya beli sudah meningkat. Nah demikian juga dengan konteks ekonomi regional, semakin banyak mobil berplat B masuk kota Bandung dapat dipastikan telah terjadi transfer modal dan distribusi kekayaan dari pusat ke regional secara massiv dan mendorong tumbuhnya home dan creative industry di Kota Bandung. Itu jika menggunakan tools ekonomi konvensional melihat permasalahan ekonomi regional.

 

 

                                                                                 

 

 

 

 

Namun ternyata secara realitas dan empiris yang terjadi tidak hanya transfer modal dan kekayaan saja yang membuat Bandung pada tahun-tahun ini sedemikian gemerlap dan menjadi one of main destination tidak hanya pelancing domestik tetapi juga pelancong internasional seperti dari Malaysia yang banyak menjadikan Bandung sebagai tujuan wisata kedua setelah New York. Yang terjadi juga soal permasalahan akut mulai dari kemiskinan, anak jalanan, kesenjangan sosial hingga tingkat kualitas hidup warga Bandung. Tercatat sejumlah indikator penting yang akan menjelaskan kepada kita bahwa besaran volume industry jasa dan komersil yang tercatat dalam PDRB belum banyak menjelaskapan apa-apa tentang penyakit yang menjadi ekses atau inherent dari permasalahan ekonomi regional.

                                                                                

Berdasarkan Jawa Barat Dalam Data 2010, jumlah penduduk miskin di kota Bandung dan prosentasenya sebesar 106,8 jiwa atau sebesar 4,42 % kemudian jumlah anak jalanan di kota Bandung tercatat sebanyak 1.879, kemudian di sisi lingkunga, pesatnya pertumbuhan kota Bandung sebagai sebuah pusat industri jasa dan komersil ternyata juga membawa ekses yang tak kalah ironis dan menyakitkan yaitu timbunan sampah. Per hari terdapat sebesar  2.539.342 liter sampah menumpuk di sejumlah pojok kota Bandung belum ditambah timbunan sampah yang sudah diangkat ke TPA dan timbunan sampah kota. Efek lainnya, seorang blogger pernah menulis sebuah artikel yang menyindir salah arahnya pembangunan kota Bandung, alih-alih pemerintah kota Bandung membuka gerbang pariwisata lebar-lebar baik yang berasal dari domestik atau mancanegara tetapi melupakan hak-hak warga kota Bandung itu sendiri untuk bisa menikmati dengan leluasa kotanya. Akhirnya setiap akhir pekan walau hanya untuk menikmati taman kota atau ke lembang, warga Bandung harus menghadapi kemacetan luar biasa di sejumlah pojok kota Bandung. Tak pelak sang blogger memberi judul pada tulisannya “Bandung Punya Siapa ?? “

 

Perspektif Ekonomi Pembangunan

 

Dalam teori ekonomi pembangunan, ada yang disebut sebagai Teori Dependensia, sebuah teori yang menjelaskan kepada kita bagaimana proses ketergantungan permanen yang selama ini dihadapi oleh negara-negara berkembang tidak lain diakibatkan kehadiiran pusat industry dan pompa kekayaan yang berpusat di negara-negara maju. Keberadaan negara-negara maju itu akan selalu menghegemoni dan menekan dari sisi ekonomi, politik dan militer. Menurut Andre Gunder Frank, ekonom sosialis Amerika Serikat dalam (Damanhuri, 2010)  Teori Dependensia menjelaskan bahwa asimetri hubungan ketergantungan yang sifatnya asimetris ditunjukkan oleh hubungan antara pihak-pihak yang tidak seimbang, hal ini, masih menurut teori dependensia, karena pembangunan-pembangunan daerah pinggiran, tergantung pada pembangunan metropolis, pada poin ini kita bisa memahami bahwa transfer kekayaan dan modal yang begitu besar dari Jakarta sebagai pusat ibukota Indonesia ke Bandung sebagai ibukota Bandung menyebabkan ketergantungan pembangunan ekonomi regional terhadap Jakarta sehingga imbasnya tidak pelak menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial terutama bagi warga Bandung yang ingin merasakan Bandung seperti tempo doeloe yang sejuk dan tenang. Bukan Bandung yang padat dan semakin menambah daftar permasalahan sosial yang lahir akibat salah arahnya perencanaan pembangunan kota Bandung.

 

 

Teori dependensia juga melahirkan konsekuensi lain, secara ekonomi, bagi kalangan fundamentalis pasar, teori dependensia merupakan reaksi dari pertumbuhan ekonomi. Semakin besar tingkat pendapatan domestik maka akan menambah pendapatan pemilik produksi yang akhirnya memperbaiki daya beli dan membuat pasar kelas menengah semakin bergairah. Namun seperti yang saya ungkapkan di atas,  lebih banyak lagi indikator yang tidak secara dangkal dalam mendefinisikan kesejahteraan masyarakat. Sebab, pada akhirnya, indikator kue kesejahteraan bisa menggunakan variable manapun tetapi apakah itu semua sudah representatif ? atau dalam memberikan jawaban terhadap persoalan kemiskinan akhirnya menjadikan sebagai faktor nasib atau efek dari perilaku masa lalu bukan imbas dari sistem yang melembaga dalam logika ekonomi modern dan menjadi industri bawah tanah yang beromzet jutaan rupiah dalam sebulan ?

 

Kalau jawaban nya adalah normatif sebagai faktor nasib atau efek dari perilaku masa lalu berarti benar ungkapan Tibor Scitovsky “ Kemiskinan di tengah-tengah orang kaya yang tak berbahagia tidak lain adalah symptom dari kerusakan yang mendalam “ . sebagaimana, Kota Bandung yang anggun dengan sejarah dan romantisme nya harus mengalami trade off plesiran pekanan  dengan terkikisnya nilai-nilai budaya sunda yang kental dengan moralitas dan religiusitas warga Bandung. Klasik tetapi tetap menyakitkan.

 

 

12 Muharaam 1433 H

Membaca Arah Ekonomi Global

1 Komentar

sampai saat ini, dunia belum bisa tenang dari ketakutan terbesar dengan adanya dua krisis yang dilalui oleh Eropa dan Amerika Serikat.ditambah krisis yang sedang terjadi di Amerika Serikat diwarnai gejolak rakyat yang mulai sadar bahwa selama ini dunia hanya dikangkangi oleh 1% para pelaku pasar di Wall Street yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Main Street. maka gerakan rakyat ini pun lahir dengan slogan yang kontras “we are 99 percent “. mereka mengaku banyak belajar dan terinspirasi dari gerakan rakyat yang baru saha bergelora di Timur Tengah yang oleh akademisi dan jurnalis Barat disebut sebagai gerakan Arab Spring.dan seolah mengaminkan ramalannya Nouriel Roubini pada saat krisis ekonomi global tahun 2007, bahwa resesi akan terus berlanjut hingga dua tahun lagi, gerakan yang menamai diri sebagai Occupy Wall Street dan gejola defisit hutang di darat Eropa semakin membenarkan ramalan dari ekonom dari New York University tersebut.

dan berikut ini adalah sebuah analisa dari seorang pelaku pesar, seorang CEO, dan seorang Muslim :) ,dengan perspektifnya sebagai seorang pelaku pasar dan juga seorang muslim memberikan bobot analisa yang lebih padat dan hampir mengenai akar permasalahan yang dihadapi oleh ekonomi Barat saat ini. selamat menikmati :) )

Lagi

Sudah Sampai Dimana kah FoSSEI Kita ?

Tinggalkan Komentar

perjalananBulan November sudah melangkahkan kaki nya ke pekarangan rumah kita. Pun demikian ada yang baru saja meninggalkan rumah besar ini dan ada yang baru mengemas koper-koper kontribusi nya ke loby rumah ini. ah, tiba-tiba saya teringat dengan tulisan teman tentang bangunan yang harus dipertahankan. Sebuah essay dari seorang sahabat saya yang menggunakan bashirah langit dalam menganalisa kegalauan sejumlah kader akan nasib hari esok rumah perjuangannya. Dalam konteks yang pas, tulisan sahabat saya itu juga mengalir sebagai sebuah perspektif ketika menganalisa. Jadinya kita akan berbicara pada dua hal. Satu point mengenai bangunan rumah kita dan yang lain dengan keadaan rumah kita saat ini sudah berapa banyak perjalanan yang kita tempuh beserta masukan yang diterima oleh rumah ini sebagai outcome.

Dan jujur saja walau sudah beberapa minggu saya meninggalkan rumah ini karena masa studi saya sudah selesai, tetapi entah kenapa selalu terpikirkan di benak saya, seperti apa rumah yang baru saya tinggalkan ini dalam jangka waktu 5 tahun ke depan ? belum ditambah pertanyaan sederhana sudah sampai dimana perjalanan dan perjuangan ini. aku semakin ragu untuk menjawab nya sendiri dalam kondisi rumah kita saat ini. tapi asa yang masih tersisa sebagai hamba Allah yang beriman membuatnya untuk menatap ke langit biru yang megah seakan pertanyaan tadi sudaj terjawab dengan sendirinya yakni : harapan yang masih dan selalu ada. Maka catatan yang bisa jadi merupaka catatan terakhir saya tentang rumah kita bersama ini, akan menuliskan sejumlah poin yang harus kita perhatikan terutama pemegang kebijakan yang bahasa politis nya “amanah “ ;-)

Manifesto Rapimnas

Pada rapimnas fossei kemarin, kita telah menyimak sejumlah poin-poin kesimpulan dan kesepakatan antara presidium nasional dengan koordinator regional yang intinya kedua nya sepakat untuk melakukan revitalisasi perangkat-perangkat perjuangan fossei untuk da’wah ekonomi islam yang lebih baik. Pada rapimnas tahun lalu, juga mencakup pembenahan perangkat-perangkat perjuangan fossei bahkan dalam dokumen rapimnas tahun lalu yang saya miliki menyimpulkan pembenahan internal secara kolektif di sejumlah aspek. Ada yang harus dibenahi di sektor media dan ada pula yang harus dikaji ulang di sektor jalur komunikasi dari tingkat KSEI-Komsat-Regional-Depnas-Presnas. Sebab, bukan rahasia lagi, regional merasa lebih nyaman untuk mengadukan masalah internal di wilayahnya secara langsung kepada presnas. Akibatya Depnas yang tadinya di bentuk untuk memperbantukan Presnas dalam menjalankan fungsi dan perangkat perjuangan. Mati nya Depnas bukan saja disebabkan salah arahnya jalur komunikasi yang terjadi tetapi berkembang sebuah peraturan tidak tertulis bahwa depnas baru akan bergerak setelah Presnas bergerak. Depnas tidak lahir sebagai lembaga di bawah presnas yang kreatif menjalankan fungsi serta perangkat perjuangan dan dari pengalaman sejumlah depnas pada masa fossei sebelumnya, kematian depnas juga disebabkan faktor lain yang sangat vital yaitu komunikasi yang tidak solid.

Asumsinya para staff di depnas tersusun dari orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai visi depnas. Oleh karena itu diambilah para staff dari pelbagai pojok nusantara yang dipertimbangkan memiliki keahlian untuk memperbantukan depnas. Sayangnya, asumsi ini akhirnya overvalued, karena luasnya wilayah Indonesia dan perbedaan waktu membuat komunikasi para staff di depnas dengan presnas terhambat. Sejumlah program depnas pun benar-benar mati gaya, mungkin yang di luar akan melihat hal ini sebagai pemborosan dan ineffisensi tetapi pengalaman saya setahun di depnas RPE secara empiris memang membuktikan masalah utama bukan pada jumlah depnas atau kematian depnas atau depnas yang dianggap tidak signifikan dalam revitalisasi fossei tetapi jalur komunikasi di tingkat regional yang harus diubah atau dirombak paradigma nya.

Kembali kepada pertanyaan di atas, memasuki usia fossei yang ke-11 tahun ini perhatian utama kita bukan hanya implementasi dari manifesto rapimnas tetapi juga kedisplinan para koordinator regional dalam melihat masalah ke-fossei-an. Kurikulum fossei yang disusun oleh depnas RPE juga sudah rampung tinggal pengawasan dan eksekusi dari kurikulum tersebut membutuhkan banyak kerja sama antara depnas rpe dengan regional. Jakarta 25 Raya Agung 1432 H B

Catatan Akhir Kuliah

Tinggalkan Komentar

next stagepengetahuan bersemayam dalam pikiran. Tempat cinta ialah hati yang sadar jaga. Selama pengetahuan tak sedikit juga mengandung cinta adalah itu hanya permainan sulap si samiri. Pengetahuan tanpa roh kudus hanyalah penyihiran. Tanpa wahyu orang bijak pun takkan menemukan jalan. Ia mati dipukul angan-angan nya sendiri, tanpa wahyu, hidup ini hanya derita rana yang membawa mati.” Muhammad Iqbal, Javid Namah

Semuanya segera dan sudah akan berakhir, dunia kampus, dunia mahasiswa, dunia akademik, sudah usai dan lega rasanya dapat menyelesaikan perjalanan panjang kuliah selama 4 tahun di bumi kota hujan sebagai mahasiswa. Rasanya lebih dari setahun jika aku hitung aku mengerjakan skripsiku. Bahkan dua bulan terakhir aku bertempur dengan banyak metode penelitian dan buku-buku econometric. Beruntung aku mempunyai dosen pembimbing yang sekaliber Pak Achmad Djazuli SE MM background beliau yang konvensional dan mempunyai ghirah yang tinggi dengan ekonomi syariah membuatku kembali bersemangat mengerjakan skripsi. Dan dengan banyak bimbingan dari beliau bab 4 & 5 yang banyak menimbulkan masalah, malah aku banyak mendapatkan banyak ilmu yang lebih dari sekedar kuliah 3 sks dan tujuh semester. Ilmu yang tak pernah aku dapatkan di kelas, atau ilmu yang tak pernah diberikan oleh dosen di prodi akuntansi yang notabene lebih mengajarkan mahasiswa untuk taat terhadap textbook. Dan itu semua sudah berakhir. dari mulai coret2an dari dosen metolit yang tdk hobi membaca buku hingga dosen audit yang berorientasi sekuler. Akan tetapi selalu ada saja sahabat-sahabatku yang senantiasa menguatkan, maka memang itu cerita para sahabat sejati. Sahabat yang boleh datang dan pergi namun keberadaannnya meneguhkan jiwa saat sedang lemah, memapah saat sedang jatuh. hingga mengusap air mata saat sedang tertimpa musibah.

Amanahku di fossei pun sudah usai seiring usainya rapimnas sebulan yang lalu, dan pada hari ini, baru saja prosesi wisuda diselenggarakan. Sebuah akhir yang indah bagi yang merasakan kerja keras dan dedikasi yang luhur pada dunia mahasiswa. Aku hanya tersenyum melihat sebuah rangkaian panjang dan tak pernah bisa ditebak setiap kelokan alurnya. Tidak selamanya semanis dalam novel-novelnya kang habiburahman el shirazy tetapi juga tidak identik dengan jalan cerita kebanyakan mereka yang digolongkan sebagai mahasiswa berprestasi.

Saat rapimnas kemarin, Ustadz Ali Sakti banyak memberikan taujihnya tentang takdir. Kata beliau, dalam hidup ini tidak ada yang perlu disesali, para pemain kehidupan memperoleh kesempatan 24 jam sebuah episode yang harus ia mainkan sebagaimana telah diatur oleh Yang Maha Mengatur dan menambah bagaimana semakin manis peranan yang kita mainkan dengan muraqabah dengan Yang Maha Mengatur. Karena konsep takdir bagi seorang muslim bukan soal beriman pada qadha dan qadar tetapi juga meletakkan keredhaan atas tiap ketentuan yang Ia telah tetapkan dan gariskan. Demikian juga Dr AIdh Al Qarni baik saat menulis bukunya yang paling fenomenal “La Tahzan “ atau melalui pelbagai twitternya selalu mengatakan redha atas apa yang telah Allah berikan akan menimbulkan kekayaan jiwa dan redha atas takdir yang telah Ia tuliskan akan menimbulkan kebahagiaan jiwa “ soal kemudian bagaimana sebuah takdir kita mainkan maka kembali nya pada seberapa dekat kita dengan yang telah memberi peran terbaik dalam tiap kehidupan. Memang tidak selalu di atas tetapi di bawah tidak selalu buruk. Karena, kata Allah SWT, boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu sangat buruk bagimu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu sangat baik bagimu. Finally there is no regret. Persoalannya kembali seberapa dekat kita dengan Allah, agar Allah selalu membersamai dalam setiap kerja-kerja dan amal-amal keshalihan yang kita lakukan baik saat sebagai mahasiswa atau saat jadi kalangan professional. Dan saat itulah tidak ada amal yang sia-sia, setiap jengkal peluh nya, setiap cucur letihnya dhitung oleh Allah SWT sebagai pahala yang agung.

Maka benar lah kekata Baginda Nabi SAW “ sesungguhnya setiap muslim itu selalu beruntung, jika memperoleh keberuntungan ia bersyukur maka karunia baginya, jika ia mendapat musibah jika bersabar maka pahala bagi nya “

Kembali, Dialektika Emas

Tinggalkan Komentar

Sampai saat ini dialektika soal emas hampir tidak pernah usai. Dari zamannya Adam Smith dengan Theory of Moral Sentiment dan The Wealth Nations nya memulai sentuhan pertama pada dunia ekonomi hingga bangkitnya mazhab Keyness saat resesi ekonomi dunia tahun 2007. Adam Smith mengungkapkan mekanisme pasar bebas dengan sejumlah asumsi yang ia telah tetapkan sendiri. Perilaku pelaku ekonomi yang bermoral hingga standart emas. Dengan standar emas yang diterapkan pada bangunan manajemen moneter, menurut asumsi Adam Smith, regulasi pemerintah sama sekali tidak diperlukan. sebab, yang diperlukan oleh pemerintah adalah memproduksi emas, emas yang semakin banyak diproduksi, akan membuat money supply di pasar barang beredar lebih luas, semakin banyak uang yang ditopang dengan emas beredar di pasar, harga emas akan menjadi murah secara otomatis harga kebutuhan di pasar pun lebih rendah.

Namun perlu digaris bawahi, teori Adam Smith tadi tidak selamanya manjur di lapangan sekalipun saat dibandingkan dengan eksperimen ekonomi dunia islam ketika emas sebagai bahan instrinsik dari mata uang dinar dan dirham. Regulasi dan lembaga hisbah yang bertugas mengawasi transaksi ekonomi baik secara mikro ataupun makro tetap ada. dengan amat bertumbuh kembang serta pesatnya pertumbuhan pusat-pusat bisnis dan perekonomian sepanjang era Ummayah dan Abbasiyah. S.M Ghanzafar(2008) mencatat di era Abbasiyah, ada sebuah kerajaan bisnis yang namanya sangat terkenal di dunia Islam terutama di Baghdad yaitu keluarga Karimi yang jika dihitung-hitung nilai kekayaan dan nilai seluruh assetnya mencapai 1juta dinnar. Kerajaan Bisnis ini hampir telah menjelajah seluruh kawasan Barat Tengah, meminjam istilah Tamim Ansary (2010)terutama Kairo, Aleksandria, hingga Jeddah. Kemudian jalur Laut yang terbentang dari Andalusia hingga China pun sudah pernah disinggahi kerajaan bisnis yang turun temurun ini. maka tentunya jika kita melihat gambaran transaksi mikro yang besaran volume nya sangat besar seperti contoh di atas, tentu regulasi yang melindungi pelanggan dari tindak buruk perilaku pelaku ekonomi atau terjaminnya transaksi satu caravan dagang dengan yang lain dalam hal importir atau eksportir, regulasi sang Khalifah selalu ada.

Lagi

Emas Oh Emas

Tinggalkan Komentar

sebuah tulisan dan pemaparan sederhana namun runtut serta sistematis dari sahabat saya, brother bimo ali guntoro, yang pernah melayangkan pandanganya mengenai anggaran kinerja beberapa waktu lalu di blog ini. mari kita simak pemikiran beliau yang dalam dalam pemaparan yang santai ini ;-)

Ramai sekarang investasi emas, gadai emas, sampai istilah berkebun emas. Emas kembali menjadi primadona investasi dalam pilihan hedging meredam inflasi. Seperti kita tau emas merupakan logam mulia yang nilai nominalnya trus naik karena inflasi, sehingga dapat kita pahami nilai intrinsik dari emas ini tetap. Harga nya terus naik (long term) karena pelemahan mata uang (inflasi). Wah jelas ini salah satu intrumen yang baik sekali untuk me-hedging harta kita dari rayap inflasi.

Banyak dari kita menyatukan antara penjaga nilai dan investasi. Padahal ada karakteristik yang berbeda pada 2 sikap ini. Menjaga nilai, merupakan bentuk mengconvert aktifa agar tidak habis di telan waktu tanpa harapan yang berlebihan di masa yang akan datang. Namun invetasi adalah perencanaan dan perhitungan sedemikian rupa untuk membuat harta saat ini menjadi lebih bernilai dimasa depan (return oriented).

Menjaga nilai banyak kita temui pada orang tua kita antara lain dengan menyimpan emas dan dipakai dikemudian hari, mereka berfikir beli saat ini mumpung masih mampu, mumpung belum pensiun, untuk tabungan sekolah anak. Begitu kira-kira. Lalu yang lebih property oriented membeli tanah, mereka beli tanah, di biarkan begitu saja, dengan pemikiran nanti harganya naik senidiri, untuk anak saat kawin nanti. Yahhh kira begitulah pemikiran orang tua kita.

Bagaimana dengan investasi? Investasi dibedakan karena tujuannya dia lebih agresif dari sekedar menjaga nilai, investasi sudah pasti mejaga nilai. diperhitungkan dengan baik, dan diharapkan memberikan keuntungan yang proporsional seiring dengan resiko yang ditanggung. Baik di sector riil asset ataupun finance asset.

Lalu sampailah kita pada rumusan masalah dimanakah letak emas sebagi instrument, penjaga nilai atau investasi? Apakah bisa untu keduanya? Penulis beropini, ya bisa keduanya, emas merupakan instrument penjaga nilai dan bagian dari diversivikasi investasi. Untuk investasi emas haruslah bagian dari diversivikasi. Mengapa? Akan terjawab pada paragraph selanjutnya (keep reading :p)

Untuk menjaga nilai emas tidak diragukan kemampuan dan tentu sifatnya harus long term atau jangka panjang karena untuk jangka pendek emas harganya berfluktuasi sesuai supply demand dan harga emas dunia. Jadi tidak menarik untuk spekulan jangka pendek yang short term gain oriented. Bagaimana untuk investasi? Emas tidak masalah untuk investasi tapi haruslah bagian dari diversivikasi, seperti kata Markowitz don’t put your eggs into one basket, investasi apapun sebaiknya di sebar dalam beberapa instrument yang memiliki karakteristik berbeda. Sehingga dalam kasus ini apabila emas dijadikan single fighter atau dominan sekali dalam investasi kita, justru akan menjadi kontra produktif dan menjadikan harta tidak produktif. Padahal seperti yang kita tahu penimbunan bukanlah hal yang dibolehkan dalam perekonomian maupun islam.

Kita tahu emas menjadi mahal bukan karena nilai intrinsiknya naik tapi karena nilai uang yang turun, contoh: kambing dari zaman dahulu sekitar 1 dinar, sampai sekarang 1 kambing sekitar 1 dinar juga (4,25 gram emas). Maka penyimpanan emas berlebihan tidaklah memberikan multiplayer efek bagi kegiatan ekonomi, padahal kegiatan ekonomi lah yang membuat harta menjadi berputar. Pada emas tidak ada cash flow, hanya spread saat kita beli dan jual. Sehingga apabila kita menjadikan emas the one of investation tak ubahnya kita menimbun harta, dan menunggu harga tinggi lalu dijual, tidak ada kegiatan ekonomi yang terjadi, tidak ada maslahat untuk masyarakat/umat. Hal inilah yang perlu dipikirkan.

Emas is oke-able selama itu bagian dari diversifikasi investasi kita. J

 

Bimo ali guntoro

Staff Departemen Nasional Riset dan Pengembangan Ekonomi Islam FoSSEI

 

 

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.