Membaca Arah Ekonomi Global

1 Komentar

sampai saat ini, dunia belum bisa tenang dari ketakutan terbesar dengan adanya dua krisis yang dilalui oleh Eropa dan Amerika Serikat.ditambah krisis yang sedang terjadi di Amerika Serikat diwarnai gejolak rakyat yang mulai sadar bahwa selama ini dunia hanya dikangkangi oleh 1% para pelaku pasar di Wall Street yang sama sekali tak ada hubungannya dengan Main Street. maka gerakan rakyat ini pun lahir dengan slogan yang kontras “we are 99 percent “. mereka mengaku banyak belajar dan terinspirasi dari gerakan rakyat yang baru saha bergelora di Timur Tengah yang oleh akademisi dan jurnalis Barat disebut sebagai gerakan Arab Spring.dan seolah mengaminkan ramalannya Nouriel Roubini pada saat krisis ekonomi global tahun 2007, bahwa resesi akan terus berlanjut hingga dua tahun lagi, gerakan yang menamai diri sebagai Occupy Wall Street dan gejola defisit hutang di darat Eropa semakin membenarkan ramalan dari ekonom dari New York University tersebut.

dan berikut ini adalah sebuah analisa dari seorang pelaku pesar, seorang CEO, dan seorang Muslim :) ,dengan perspektifnya sebagai seorang pelaku pasar dan juga seorang muslim memberikan bobot analisa yang lebih padat dan hampir mengenai akar permasalahan yang dihadapi oleh ekonomi Barat saat ini. selamat menikmati :) )

Lagi

Sudah Sampai Dimana kah FoSSEI Kita ?

Tinggalkan Komentar

perjalananBulan November sudah melangkahkan kaki nya ke pekarangan rumah kita. Pun demikian ada yang baru saja meninggalkan rumah besar ini dan ada yang baru mengemas koper-koper kontribusi nya ke loby rumah ini. ah, tiba-tiba saya teringat dengan tulisan teman tentang bangunan yang harus dipertahankan. Sebuah essay dari seorang sahabat saya yang menggunakan bashirah langit dalam menganalisa kegalauan sejumlah kader akan nasib hari esok rumah perjuangannya. Dalam konteks yang pas, tulisan sahabat saya itu juga mengalir sebagai sebuah perspektif ketika menganalisa. Jadinya kita akan berbicara pada dua hal. Satu point mengenai bangunan rumah kita dan yang lain dengan keadaan rumah kita saat ini sudah berapa banyak perjalanan yang kita tempuh beserta masukan yang diterima oleh rumah ini sebagai outcome.

Dan jujur saja walau sudah beberapa minggu saya meninggalkan rumah ini karena masa studi saya sudah selesai, tetapi entah kenapa selalu terpikirkan di benak saya, seperti apa rumah yang baru saya tinggalkan ini dalam jangka waktu 5 tahun ke depan ? belum ditambah pertanyaan sederhana sudah sampai dimana perjalanan dan perjuangan ini. aku semakin ragu untuk menjawab nya sendiri dalam kondisi rumah kita saat ini. tapi asa yang masih tersisa sebagai hamba Allah yang beriman membuatnya untuk menatap ke langit biru yang megah seakan pertanyaan tadi sudaj terjawab dengan sendirinya yakni : harapan yang masih dan selalu ada. Maka catatan yang bisa jadi merupaka catatan terakhir saya tentang rumah kita bersama ini, akan menuliskan sejumlah poin yang harus kita perhatikan terutama pemegang kebijakan yang bahasa politis nya “amanah “ ;-)

Manifesto Rapimnas

Pada rapimnas fossei kemarin, kita telah menyimak sejumlah poin-poin kesimpulan dan kesepakatan antara presidium nasional dengan koordinator regional yang intinya kedua nya sepakat untuk melakukan revitalisasi perangkat-perangkat perjuangan fossei untuk da’wah ekonomi islam yang lebih baik. Pada rapimnas tahun lalu, juga mencakup pembenahan perangkat-perangkat perjuangan fossei bahkan dalam dokumen rapimnas tahun lalu yang saya miliki menyimpulkan pembenahan internal secara kolektif di sejumlah aspek. Ada yang harus dibenahi di sektor media dan ada pula yang harus dikaji ulang di sektor jalur komunikasi dari tingkat KSEI-Komsat-Regional-Depnas-Presnas. Sebab, bukan rahasia lagi, regional merasa lebih nyaman untuk mengadukan masalah internal di wilayahnya secara langsung kepada presnas. Akibatya Depnas yang tadinya di bentuk untuk memperbantukan Presnas dalam menjalankan fungsi dan perangkat perjuangan. Mati nya Depnas bukan saja disebabkan salah arahnya jalur komunikasi yang terjadi tetapi berkembang sebuah peraturan tidak tertulis bahwa depnas baru akan bergerak setelah Presnas bergerak. Depnas tidak lahir sebagai lembaga di bawah presnas yang kreatif menjalankan fungsi serta perangkat perjuangan dan dari pengalaman sejumlah depnas pada masa fossei sebelumnya, kematian depnas juga disebabkan faktor lain yang sangat vital yaitu komunikasi yang tidak solid.

Asumsinya para staff di depnas tersusun dari orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai visi depnas. Oleh karena itu diambilah para staff dari pelbagai pojok nusantara yang dipertimbangkan memiliki keahlian untuk memperbantukan depnas. Sayangnya, asumsi ini akhirnya overvalued, karena luasnya wilayah Indonesia dan perbedaan waktu membuat komunikasi para staff di depnas dengan presnas terhambat. Sejumlah program depnas pun benar-benar mati gaya, mungkin yang di luar akan melihat hal ini sebagai pemborosan dan ineffisensi tetapi pengalaman saya setahun di depnas RPE secara empiris memang membuktikan masalah utama bukan pada jumlah depnas atau kematian depnas atau depnas yang dianggap tidak signifikan dalam revitalisasi fossei tetapi jalur komunikasi di tingkat regional yang harus diubah atau dirombak paradigma nya.

Kembali kepada pertanyaan di atas, memasuki usia fossei yang ke-11 tahun ini perhatian utama kita bukan hanya implementasi dari manifesto rapimnas tetapi juga kedisplinan para koordinator regional dalam melihat masalah ke-fossei-an. Kurikulum fossei yang disusun oleh depnas RPE juga sudah rampung tinggal pengawasan dan eksekusi dari kurikulum tersebut membutuhkan banyak kerja sama antara depnas rpe dengan regional. Jakarta 25 Raya Agung 1432 H B

Catatan Akhir Kuliah

Tinggalkan Komentar

next stagepengetahuan bersemayam dalam pikiran. Tempat cinta ialah hati yang sadar jaga. Selama pengetahuan tak sedikit juga mengandung cinta adalah itu hanya permainan sulap si samiri. Pengetahuan tanpa roh kudus hanyalah penyihiran. Tanpa wahyu orang bijak pun takkan menemukan jalan. Ia mati dipukul angan-angan nya sendiri, tanpa wahyu, hidup ini hanya derita rana yang membawa mati.” Muhammad Iqbal, Javid Namah

Semuanya segera dan sudah akan berakhir, dunia kampus, dunia mahasiswa, dunia akademik, sudah usai dan lega rasanya dapat menyelesaikan perjalanan panjang kuliah selama 4 tahun di bumi kota hujan sebagai mahasiswa. Rasanya lebih dari setahun jika aku hitung aku mengerjakan skripsiku. Bahkan dua bulan terakhir aku bertempur dengan banyak metode penelitian dan buku-buku econometric. Beruntung aku mempunyai dosen pembimbing yang sekaliber Pak Achmad Djazuli SE MM background beliau yang konvensional dan mempunyai ghirah yang tinggi dengan ekonomi syariah membuatku kembali bersemangat mengerjakan skripsi. Dan dengan banyak bimbingan dari beliau bab 4 & 5 yang banyak menimbulkan masalah, malah aku banyak mendapatkan banyak ilmu yang lebih dari sekedar kuliah 3 sks dan tujuh semester. Ilmu yang tak pernah aku dapatkan di kelas, atau ilmu yang tak pernah diberikan oleh dosen di prodi akuntansi yang notabene lebih mengajarkan mahasiswa untuk taat terhadap textbook. Dan itu semua sudah berakhir. dari mulai coret2an dari dosen metolit yang tdk hobi membaca buku hingga dosen audit yang berorientasi sekuler. Akan tetapi selalu ada saja sahabat-sahabatku yang senantiasa menguatkan, maka memang itu cerita para sahabat sejati. Sahabat yang boleh datang dan pergi namun keberadaannnya meneguhkan jiwa saat sedang lemah, memapah saat sedang jatuh. hingga mengusap air mata saat sedang tertimpa musibah.

Amanahku di fossei pun sudah usai seiring usainya rapimnas sebulan yang lalu, dan pada hari ini, baru saja prosesi wisuda diselenggarakan. Sebuah akhir yang indah bagi yang merasakan kerja keras dan dedikasi yang luhur pada dunia mahasiswa. Aku hanya tersenyum melihat sebuah rangkaian panjang dan tak pernah bisa ditebak setiap kelokan alurnya. Tidak selamanya semanis dalam novel-novelnya kang habiburahman el shirazy tetapi juga tidak identik dengan jalan cerita kebanyakan mereka yang digolongkan sebagai mahasiswa berprestasi.

Saat rapimnas kemarin, Ustadz Ali Sakti banyak memberikan taujihnya tentang takdir. Kata beliau, dalam hidup ini tidak ada yang perlu disesali, para pemain kehidupan memperoleh kesempatan 24 jam sebuah episode yang harus ia mainkan sebagaimana telah diatur oleh Yang Maha Mengatur dan menambah bagaimana semakin manis peranan yang kita mainkan dengan muraqabah dengan Yang Maha Mengatur. Karena konsep takdir bagi seorang muslim bukan soal beriman pada qadha dan qadar tetapi juga meletakkan keredhaan atas tiap ketentuan yang Ia telah tetapkan dan gariskan. Demikian juga Dr AIdh Al Qarni baik saat menulis bukunya yang paling fenomenal “La Tahzan “ atau melalui pelbagai twitternya selalu mengatakan redha atas apa yang telah Allah berikan akan menimbulkan kekayaan jiwa dan redha atas takdir yang telah Ia tuliskan akan menimbulkan kebahagiaan jiwa “ soal kemudian bagaimana sebuah takdir kita mainkan maka kembali nya pada seberapa dekat kita dengan yang telah memberi peran terbaik dalam tiap kehidupan. Memang tidak selalu di atas tetapi di bawah tidak selalu buruk. Karena, kata Allah SWT, boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu sangat buruk bagimu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu sangat baik bagimu. Finally there is no regret. Persoalannya kembali seberapa dekat kita dengan Allah, agar Allah selalu membersamai dalam setiap kerja-kerja dan amal-amal keshalihan yang kita lakukan baik saat sebagai mahasiswa atau saat jadi kalangan professional. Dan saat itulah tidak ada amal yang sia-sia, setiap jengkal peluh nya, setiap cucur letihnya dhitung oleh Allah SWT sebagai pahala yang agung.

Maka benar lah kekata Baginda Nabi SAW “ sesungguhnya setiap muslim itu selalu beruntung, jika memperoleh keberuntungan ia bersyukur maka karunia baginya, jika ia mendapat musibah jika bersabar maka pahala bagi nya “

Kembali, Dialektika Emas

Tinggalkan Komentar

Sampai saat ini dialektika soal emas hampir tidak pernah usai. Dari zamannya Adam Smith dengan Theory of Moral Sentiment dan The Wealth Nations nya memulai sentuhan pertama pada dunia ekonomi hingga bangkitnya mazhab Keyness saat resesi ekonomi dunia tahun 2007. Adam Smith mengungkapkan mekanisme pasar bebas dengan sejumlah asumsi yang ia telah tetapkan sendiri. Perilaku pelaku ekonomi yang bermoral hingga standart emas. Dengan standar emas yang diterapkan pada bangunan manajemen moneter, menurut asumsi Adam Smith, regulasi pemerintah sama sekali tidak diperlukan. sebab, yang diperlukan oleh pemerintah adalah memproduksi emas, emas yang semakin banyak diproduksi, akan membuat money supply di pasar barang beredar lebih luas, semakin banyak uang yang ditopang dengan emas beredar di pasar, harga emas akan menjadi murah secara otomatis harga kebutuhan di pasar pun lebih rendah.

Namun perlu digaris bawahi, teori Adam Smith tadi tidak selamanya manjur di lapangan sekalipun saat dibandingkan dengan eksperimen ekonomi dunia islam ketika emas sebagai bahan instrinsik dari mata uang dinar dan dirham. Regulasi dan lembaga hisbah yang bertugas mengawasi transaksi ekonomi baik secara mikro ataupun makro tetap ada. dengan amat bertumbuh kembang serta pesatnya pertumbuhan pusat-pusat bisnis dan perekonomian sepanjang era Ummayah dan Abbasiyah. S.M Ghanzafar(2008) mencatat di era Abbasiyah, ada sebuah kerajaan bisnis yang namanya sangat terkenal di dunia Islam terutama di Baghdad yaitu keluarga Karimi yang jika dihitung-hitung nilai kekayaan dan nilai seluruh assetnya mencapai 1juta dinnar. Kerajaan Bisnis ini hampir telah menjelajah seluruh kawasan Barat Tengah, meminjam istilah Tamim Ansary (2010)terutama Kairo, Aleksandria, hingga Jeddah. Kemudian jalur Laut yang terbentang dari Andalusia hingga China pun sudah pernah disinggahi kerajaan bisnis yang turun temurun ini. maka tentunya jika kita melihat gambaran transaksi mikro yang besaran volume nya sangat besar seperti contoh di atas, tentu regulasi yang melindungi pelanggan dari tindak buruk perilaku pelaku ekonomi atau terjaminnya transaksi satu caravan dagang dengan yang lain dalam hal importir atau eksportir, regulasi sang Khalifah selalu ada.

Lagi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.