Emas Oh Emas

Tinggalkan Komentar

sebuah tulisan dan pemaparan sederhana namun runtut serta sistematis dari sahabat saya, brother bimo ali guntoro, yang pernah melayangkan pandanganya mengenai anggaran kinerja beberapa waktu lalu di blog ini. mari kita simak pemikiran beliau yang dalam dalam pemaparan yang santai ini ;-)

Ramai sekarang investasi emas, gadai emas, sampai istilah berkebun emas. Emas kembali menjadi primadona investasi dalam pilihan hedging meredam inflasi. Seperti kita tau emas merupakan logam mulia yang nilai nominalnya trus naik karena inflasi, sehingga dapat kita pahami nilai intrinsik dari emas ini tetap. Harga nya terus naik (long term) karena pelemahan mata uang (inflasi). Wah jelas ini salah satu intrumen yang baik sekali untuk me-hedging harta kita dari rayap inflasi.

Banyak dari kita menyatukan antara penjaga nilai dan investasi. Padahal ada karakteristik yang berbeda pada 2 sikap ini. Menjaga nilai, merupakan bentuk mengconvert aktifa agar tidak habis di telan waktu tanpa harapan yang berlebihan di masa yang akan datang. Namun invetasi adalah perencanaan dan perhitungan sedemikian rupa untuk membuat harta saat ini menjadi lebih bernilai dimasa depan (return oriented).

Menjaga nilai banyak kita temui pada orang tua kita antara lain dengan menyimpan emas dan dipakai dikemudian hari, mereka berfikir beli saat ini mumpung masih mampu, mumpung belum pensiun, untuk tabungan sekolah anak. Begitu kira-kira. Lalu yang lebih property oriented membeli tanah, mereka beli tanah, di biarkan begitu saja, dengan pemikiran nanti harganya naik senidiri, untuk anak saat kawin nanti. Yahhh kira begitulah pemikiran orang tua kita.

Bagaimana dengan investasi? Investasi dibedakan karena tujuannya dia lebih agresif dari sekedar menjaga nilai, investasi sudah pasti mejaga nilai. diperhitungkan dengan baik, dan diharapkan memberikan keuntungan yang proporsional seiring dengan resiko yang ditanggung. Baik di sector riil asset ataupun finance asset.

Lalu sampailah kita pada rumusan masalah dimanakah letak emas sebagi instrument, penjaga nilai atau investasi? Apakah bisa untu keduanya? Penulis beropini, ya bisa keduanya, emas merupakan instrument penjaga nilai dan bagian dari diversivikasi investasi. Untuk investasi emas haruslah bagian dari diversivikasi. Mengapa? Akan terjawab pada paragraph selanjutnya (keep reading :p)

Untuk menjaga nilai emas tidak diragukan kemampuan dan tentu sifatnya harus long term atau jangka panjang karena untuk jangka pendek emas harganya berfluktuasi sesuai supply demand dan harga emas dunia. Jadi tidak menarik untuk spekulan jangka pendek yang short term gain oriented. Bagaimana untuk investasi? Emas tidak masalah untuk investasi tapi haruslah bagian dari diversivikasi, seperti kata Markowitz don’t put your eggs into one basket, investasi apapun sebaiknya di sebar dalam beberapa instrument yang memiliki karakteristik berbeda. Sehingga dalam kasus ini apabila emas dijadikan single fighter atau dominan sekali dalam investasi kita, justru akan menjadi kontra produktif dan menjadikan harta tidak produktif. Padahal seperti yang kita tahu penimbunan bukanlah hal yang dibolehkan dalam perekonomian maupun islam.

Kita tahu emas menjadi mahal bukan karena nilai intrinsiknya naik tapi karena nilai uang yang turun, contoh: kambing dari zaman dahulu sekitar 1 dinar, sampai sekarang 1 kambing sekitar 1 dinar juga (4,25 gram emas). Maka penyimpanan emas berlebihan tidaklah memberikan multiplayer efek bagi kegiatan ekonomi, padahal kegiatan ekonomi lah yang membuat harta menjadi berputar. Pada emas tidak ada cash flow, hanya spread saat kita beli dan jual. Sehingga apabila kita menjadikan emas the one of investation tak ubahnya kita menimbun harta, dan menunggu harga tinggi lalu dijual, tidak ada kegiatan ekonomi yang terjadi, tidak ada maslahat untuk masyarakat/umat. Hal inilah yang perlu dipikirkan.

Emas is oke-able selama itu bagian dari diversifikasi investasi kita. J

 

Bimo ali guntoro

Staff Departemen Nasional Riset dan Pengembangan Ekonomi Islam FoSSEI

 

 

Marginal

Tinggalkan Komentar

kaum marginalDalam sebuah perjalanan pulang dari sidang skripsi seminggu yang lalu, saya sempatkan diri di cawang untuk menyantap seporsi sate padang dan saat sedang menunggu sate padang pesanan saya, tak sengaja saya mendengar celotehan sejumlah pedagang stasiun yang sedang mengobrol, “ ni juga Alhamdulillah dah masih bisa jualan, bangku aje kemaren kucing-kucingan “ celoteh seorang pedagang minyak wangi dan buku-buku agama, “ iye, untungnye juge kita bunyi nye bukan meong-meong “ sahut seorang ibu paruh baya yang juga berprofesi sebagai seorang pedagang di sebelahnya  yang disambut tawa ala kadarnya dari sekeliling

tiba-tiba saya memasang telinga baik-baik tentang apa yang sebenarnya baru terjadi di stasiun cawang ini, “mang tadi ade ape bang, koq kayaknye heboh bener “  tanya saya memberanikan diri kepada salah seorang pedagang yang sedang mengobrol tadi, “ eni, dalam rangka hut PT KAI, biase dah yang dianggep kurang ngenakin pemandangannye di sekitar stasiun diharap minggir dulu, padahal kite aje ni hari untung nye belon balik modal eh udeh “ditertibin” dulu “, saya pun manggut-manggut membayangkan betapa kerasnya kehidupan para pelaku sektor riil ini, kemudian sang pedagang minyak wangi ini melanjutkan ceritanya, “ saye udeh 11 taon dagang disini, yah kalo soal untung mah bisa 15 juta an perbulan tapi ntu juga masih kotornya bang, Alhamdulillah dah bisa kebeli rumah permanen, gak ngontrak lagi, tetangga kiri kanan juga pada heran, yang lain rumahnya 350 jutaan, nah keluarga saye mah malah dapetnye 100 jutaan, “ subhanallah” celetukku, “kalo boleh aye tau rahasia nya apaan bang” tanya saya agak mengejar “ yah kalo saye mah ngebiasain diri bangun malem, shalat tahajud, bersosialisasi atau bermasyarakat, nah yang terakhir sedekah “ setelah itu sang pedagang banyak bercerita tentang pelbagai sisi lain perusahaan kereta api Indonesia, dari mulai kerap mengusir pedagang kecil hingga tidak transparannya keuntungan  PT KAI dan terakhir ia memberikan bocoran kepadaku tentang rencana pengurangan armada kereta api dengan tujuan penambahan profit PT KAI, hingga ia bercerita dan memberikan opini yang berbeda tentang pemberian gelar raja Saudi oleh rektor UI, untungnya saya bukan mahasiswa UI hehehe

Lagi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.