Jakarta; Cerita Tentang Kota Besar yang Terbengkalai

Tinggalkan Komentar

“Sirih Kuning Nona, di atas meja manis,

Yang putih kuning ya sayang, yang putih kuning ya sayang,

Punya siapa ? “ ( Lagu Rakyat Betawi, Sirih Kuning )

 

 

 

Sekitar bulan November tahun 2010 pengurus pusat HIPMI, Mengestimasikan kerugian akibat kemacetan dan banjir di Jakarta selama 5-7 hari sampai tanggal 25 november 2010 ditaksir sekitar Rp 3 Trilyun. WALHI juga memberikan estimasi bahwa kerugian yang diderita akibat banjir di pelbagai wilayah di seluruh Tanah Air dapat mencapai Rp 20 Trilyun per tahun yang menurut manajer desk bencana eksekutif nasional WALHI, menyebutkan julah sebesar itu ekuivalen dengan 2,94 APBD Pemprov DKI Jakarta.

Hampir pada waktu yang bersamaan Bank Dunia dan PBB  meliris laporan World Bank-UN Report Charts Path to Prevent Death and Destruction from Natural Hazards  yang memberikan statement bahwa pencegahan  memerlukan biaya, tetapi kita tidak selalu harus membayar lebih untuk itu “ . di samping pernyataan tersebut, PBB dan Bank Dunia mengestimasikan bahwa kerugian global tahunan dari bencana alam bisa naik tiga kali lipat. Menembus angka US$ 185 Miliar. Kerugian akibat perubahan iklim juga mencapai US$ 28-68 Miliar, itu juga belum termasuk bencana alam dan bencn akibat ulah manusia di kota-kota besar yang walaupun hanya ditempati 1,5 dari seluruh permukaan bumi namun mampu memproduksi setengah PDB dunia. Termasuk di antaranya Jakarta.

Hiruk pikuk kota Jakarta dan pesatnya pembangunan di ibukota ini telah mengubah yang dulunya hanya pelabuhan sunda kalapa di masa jayakarta, menjadi kota luar biasa dengan empat kota penyangga sekaligus pemasok tenaga kerja. Yaitu Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Kesejahteraan kota seketika menjadi magnet bagi kaum urban untuk mengadu nasib di kota sebesar Jakarta ini. sekalipun permasalahan-permasalahan yang harus dihadapi oleh kota sebesar Jakarta semakin lama semakin akut dan parah. Dua laporan dari HIPMI dan WALHI serasa sudah cukup untuk menggambarkan dan memberikan penjelasan kepada publik, di usianya yang semakin renta, Jakarta ibarat wanita tua yang dulunya dipuja-puja sebagai Queen of The East sekarang menjadi pesakitan yang tetap memiliki sihir luar biasa dan tumpuan hidup  ribuan  komuter dari empat kota penyangga ibukota. Tak terkecuali bagi para turis dari mancanegara, menjadi sebuah ironis pinggiran rel kereta atau bantaran kali yang padat dan penuh sampah menjadi objek pariwisata tersendiri menggantikan hotel-hotel mewah atau jalan-jalan utama di Jakarta.

Lagi

Mencari Negara

2 Komentar

Dalam sebuah obrolan di forum FoSSEI Executive, saya berbincang dengan dua orang aktivis ekonomi islam arus mainstream dan arus kiri. Dua orang aktivis ekonomi islam ini kembali memutar lagu lama tentang absennya pemerintah dalam hal pengembangan ekonomi islam ditambah tren yang sedang terjadi ekonomi islam tak ubahhnya diperlakukan bak pintu belakang agar tuan rumahnya tetap bisa selamat jika terjadi kebakaran. Sebelum jauh-jauh ke sektor lain, sebenarnya tak susah bagi pemerintah jiak ingin menjadikan masalah-masalah akut selesai, satu saja, bayangkanlah jika dana abadi ummat untuk biaya penyelenggaran haji dan umrah disimpan dalakalau sam bentuk tabungan haji di perbankan syariah. Atau kalau saja kementrian perhubungan menjadikan sukuk intifa berbasis akad ishtisna sebagai solusi kekeringan dana pihak BUMN di bidang transportasi untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kualitas fisik transportasi, PT KA salah satu BUMN yang konon katanya merugi terus tidak perlu sebegitu ektrim menelantarkan penumpang di stasiun tertentu jika ada gangguan akibat hujan.

 

Lalu bukan tak jarang kita melayangkan pandangan ke negeri tetangga, betapa pemerintahnya demikian agresif mencari berkah dari yang berbau “Islamic” dan hasilnya, sama sekali tidak ada yang perlu dikhawatirkan sebagaimana di sini yang begitu phobia dan benci dengan apa yang disebut “Syariah” saking bencinya terkadang kita perlu berkali-kali sejumlah institusi keislaman dicap tidak syariah. Lembaga keuangan syariah dicap kapitalis religius, dan sebagainya. Lalu apa keuntungannya ? sudahkah ada yang berubah lebih baik daripada sebelum ada bank syariah misalnya ?? .

 

Maka demikian kita rindu kehadiran sosok Negara yang kuat, ditambah Pasar yang berdaulat hingga masyarakat yang lingkungan dan bahasanya bahasa madani nan beradab. Saat saya sedang mengerjakan skripsi saya tentang akuntansi pemerintahan, diskusi mengenai negara dan tamadun menjadi dua hal yang saya masukkan dalam pembahasan skripsi saya. Mengingat semakin similarnya hari ini dan percayalah kalau di antara kita mendengar sistem ekonomi islam apakah yang segera terbetik di fikiran ? hampir mayoritas di antara kita menjawabnya bank syariah dan pelbagai lembaga keuangan syariahnya.persoalannya bukan sudah syariah atau belum tapi sudahkah kita memberikan kontribusi lebih dalam membumikan ekonomi syariah di bidang lain, birokrasi dan akuntansi pemerintahan contohnya. Sepanjang saya bergelut dengan kajian pustaka akuntansi pemerintahan hampir jarang ekonom muslim yang membahas mengenai dunia satu ini. memang selain kondisi negara yang berbeda-beda standar akuntansi yang digunakan juga berbeda. Sedangkan IFRS hanya untuk akuntansi keuangan.

Teringat waktu ada pertanyaan menggelitik, apakah ada dalam sejarah Indonesia memiliki prestasi yang sedikit membanggakan dalam hal pemberantasan korupsi dan mewujudnya pemerintahan yang sesuai dengan good governance ? saya jawab why not ? entah kita setiap hari :”dijajah” oleh media untuk terus menyaksikan seolah isi pemerintahan yang sedang berjalan saat ini penuh kebobrokan dan amoralitas maka penilaian kita tentang reformasi birokrasi menjadi absurd dan sangat bias. Media selalu marah kalau ada yang menuntutnya dengan pasal kebebasan press tapi sadarkah kita setiap hari sudah demikian “tunduk dan dijajah “ oleh kepentingan segelintir orang yang memegang media di republik ini ??

Saya jawab pertanyaan di atas dengan realistis. Walaupun masih dalam proses yang sangat panjang dan sekali lagi kepercayaan masyarakat yang sangat rendah terhadap urusan publik. Namun tidak bisa dihindari juga perlahan namun pasti, pemerintah daerah semakin optimis dalam menjalankan visinya sesuai prinsip value for money dan good governance, beberapa di antara kabupaten yang telah berhasil menjalankan program pelayanan publik nya sudah pernah ditayangkan di Kick Andi sisanya sebagaimana berikut

. • Perbaikan Pelayanan Publik khususnya masalah perizinan, studi kasus : Kab Sragen, Kab Pare-Pare, Kab Sidoarjo

• Perampingan struktur instansi pemerintah daerah, studi kasus : Kab Jembrana • Pelayanan pendidikan dan kesehatan, studi kasus : Kab Jembrana

• Penataan Kelembagaan Pemerintahan dibarengi dengan penerapan tunjangan kinerja, Kab Gorontalo

• Pakta Integritas dalam pengadaan barang dan jasa, studi kasus : Kab Solok

• Menertibkan uang negara dalam bentuk honor-honor proyek di lingkungan birokrasi, studi kasus :Kab Solok, Kota Pekanbaru, Provinsi Gorontalo

Dan ditambah sejumlah daerah lainnya dalam mempersempit masuknya korupsi di lingkungan birokrasi sedang menerapkan perbaikan sistemn pelayanan public dengan pola Pelayanan Terpadu Satu Atap yakni penyelenggaran pelayanan dalkam satu pintu sehingga lebih terkontrol arus kas negara keluar dan masuknya. Publik pun lebih jelas dengan siapa yang sedang dilayani dan jelas akuntabilitas lebih terlihat. Dan artinya kesempatan untuk korupsi pun semakin bisa diminimalisir.

Kembali pada poin diskusi kita di atas, tidak sedikit pejabat pemerintah yang mengakui bahwa sistem ekonomi islam merupakan jawaban atas kebingungan sistem ekonomi dunia saat ini. namun kesannya hanya bersifat politis dan tetap menjadikan sistem ekonomi langit hanyalah pintu belakang sebuah rumah besar yang kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berarti semakin sering juga pemerintah absen memberikan solusi yang menyelesaikan masalah tanpa masalah. Apalagi dalam hal membumikan ekonomi islam. Bisa dinilai dari sedikitnya pemerintah dalam membesarkan pangsa pasar perbankan syariah masih memperlakukan perbankan syariah sebagai pintu belakang walaupun sangat paham pintu utama nya dalam hal ini ekonomi kapitalis sudah berkali-kali terbakar dan sering nge hang

Banyak yang apatis terhadap politik. Namun melihat absennya Negara hari ini dari menjadikan sistem ekonomi islam sebagai solusi yang mengakomodir semua kalangan dan golongan, menjadikan siyasah syar’iyah salah satu kewajiban dari dakwah ekonomi islam itu sendiri. Ma la yatimmul wajib ila bihi fahuwa wajib itulah kaidah yang hari ini sedang kita lupakan.

Banyak yang memandang miring terhadap politik. Tapi setelah melihat betapa letak strategis reformasi birokrasi di tangan mereka yang shalih dan professional, tidak hanya meningkatkan investasi tapi juga menghemat anggaran atau menyelamatkan trilyunan uang negara dari pelbagai transaksi tender-tender yang tidak terhormat atau dalam bentuk honor-honor proyek gharar bahkan fiktif. Maka saya selalu terngiang nasihatnya Ust Rahmat Abdullah rahimahullah “berbahagialah mereka yang mau berpolitik dan menjinakkan politik, karirnya sebagai penjinak politik “

Bogor 13 Rajab 1432 H

Penyair Terakhir

Tinggalkan Komentar

Penyair Terakhir membenamkan harapan

Kala bumi tergagap di buai ancaman

 

Alangkah mirisnya wajah pilu anak insan

Mimpinya pada masa depan adalah kegelapan

Itulah nyanyian penyair terakhir

Saat detak waktu tak kenal berfikir

Karena semua telah ada dalam suratan takdir

Agar nampak di muka manusia kerdil

Yang baginya semua bisa diatur dengan uang, tahta dan wanita

Sepaket sandiwara muara binasa

 

Zaman terus bergerak, namun syairnya selalu tak kehilangan letak

Sebagaimana menimpa hamba dinar dan dollar

Mereka yang nekat menjilat-jilat purbakalanya artefak

 

Inilah zaman akhir

Saat sajak sang penyair

Mulai dicari bagi yang kehilangan jati diri

Semuanya Tentang Palestina

Tinggalkan Komentar

Semuanya Tentang Palestina

Sebab tak ada yang mempertanyakan tergulingnya Zainal Abidin

Dan tak ada yang mempersoalkan ambruknya Hosni Mubarrak

 

Semuanya Tentang Palestina

Sebab tak ada yang menggugat bergolaknya Bahrain

Pusat keuangan islam terbesar di dunia

Sebab tak ada yang meributkan meledaknya Damaskus

Catatan panjang perjalanan para Nabi

Semuanya Tentang Palestina

Merajut semangat kemerdekaan, menghapus duka janda syuhada

Dibalaskan atasnya bara revolusi

Tanpa pelatuk politisi

Hanya rakyat hanya harga diri

Dan wajibnya ditumpasnya para Tirani

Semuanya paham berkobarnya Revolusi dari ujung jari

Ya semuanya tentang garis batas Palestina, kebebasan dan jati diri

The Miskinh Corporate

2 Komentar

Sudah tiba saatnya kita memerlukan visi yang baru yang lebih terang dan menjamin hidup kita. Visi yang membebaskan,bukan menekan kaum miskin, yang meski bagaimanapun merupakan mayoritas penduduk dunia. Politik yang berliku-liku dan teori ekonomi tanpa hasil hanya memperlakukan mereka, yang notabene manusia sebagaiunit ekonomi belaka. Tidak ada yang kita harapkan dari situ. Politisi yang mereka pilih malah meludahi wajah mereka, sementara ahli ekonomi menyingkirkan mereka karena dianggap “bukan manusia “. Mumia Abu Jamal, Memberangus Keadilan

Badan Pusat Statistik pada 1 july 2010 mengeluarkan data resmi tentang berapa juta orang yang tergolong miskin di republik  yang berpenduduk 230 juta ini. pada Maret 2010  mengalami penurunan 1,51 juta menjadi 31.02 juta dibandingkan dengan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 yang mencapai angka sebesar 32,53 juta. Untuk di daerah perkotaan, penduduk yang dikategorikan dalam garis kemiskinan berkurang hanya 0,81 juta dibandingkan dengan tahun sebelumnya 11,91 juta menjadi 11,10 juta. Nah, khusus untuk daerah  khusus Ibukota  Jakarta yang menjadi pusat hilir mudik dan lalu lintas administrasi pemerintahan hingga ekonomi dan bisnis, tercatat jumlah penduduk yang dikategorikan miskin berkurang 10,99 ribu menjadi 312,18 juta penduduk dari sebelumnya pada bulan Maret 2009,sebesar 323,17 juta jiwa.

Pada tulisan saya kali ini sama sekali tidak berminat untuk memperdebatkan data-data resmi di atas baik yang dikeluarkan secara resmi versi BPS atau versi pemprov DKI Jakarta. Namun topik permasalahan kemiskinan di republik kita kali bukan saja tentang hitung menghitung jumlah berapa juta penduduk NKRI yang masih meraba-raba dalam kegelapan sedangkan dari kue pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan mencapai 6.5 % versi departemen keuangan hanya dinikmati segelintir orang di sektor konsumtif akibatnya fundamental ekonomi kita yang dibangga-banggakan sangat kuat tidak mempunyai tricle down effect bagi kesejahteraan masyarakat republik ini. poorest policy for poorest public, seakan menjadi dogma yang keyakinan yang mengakar bagi  para pengambil kebijakan di NKRI ini

maka tak heran bagi sebagian ekonom yang kritis dan out of mainstream, kemiskinan diyakini  telah menjelma satu industry utuh dengan supply dan demandnya tersendiri. Bagi yang pernah menyaksikan film Alangkah Lucunya Negeri Ini, betapa satu sektor saja seperti para pencopet dalam industri kemiskinan di Indonesia telah memainkan volalitas yang luar biasa. Anak-anak jalanan yang butuh makan direkrut menjadi pencopet, sang makelar sekaligus boss berperan sebagai  CEO dari Copetz Groups Corporate  ini ditambah sejumlah “komisaris  sekaligus  pemegang saham “ yaitu sejumlah oknum polisi yang rutin menerima “deviden “ dari sang CEO dan “perusahaannya “ setiap kali mencetak laba dari operasional yang dijalankan “perusahaan”  ini. tak ketinggalan Muluk, seorang sarjana manajemen berperan pula sebagai “akuntan” juga “ auditor internal “  dari perusahaan yang beralamat di bawah hiruk pikuk ibukota Jakarta . kalau aye sih gak asing lagi dah tu daerah sekitar kawasan tanah abang agak kesonoan dikit kalo gak salah hehehe

Pelbagai kebijakan fiskal telah diterapkan dalam mengurangi angka kemiskinan. Pelbagai kebijakan public telah diambil oleh pemerintah provinsi dalam mengakomodasi mereka yang lapar dan sakit dan telah divonis sebagai part of Mishkin Heaven ini. untuk di provinsi DKI Jakarta sendiri tercatat sejumlah program pelayanan publik dari mulai Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Keluarga Miskin atau JPK Gakin, Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah Atau JAMKESDA, Asuransi Kesehatan Miskin atau ASKEKIN  dan sebagainya, maka, sektor publik sebagaimana dalam sejumlah diktat akuntansi sektor publik memerlukan value for money sebagai element dalam serangkaian pemerintahan yang menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik. Let’s say output,input and outcome. Output unit  untuk di DKI Jakarta 17 Rumah Sakit Umum Daerah, 18 Pusat Kesehatan Medis, obat generik hingga mobil jenazah dari pemprov DKI Jakarta, sedangkan outputnya  telah dianggarkan oleh Bang Foke selaku gubernur DKI Jakarta  pada tahun 2009 sekitar 350 Milyar hingga  440 Milyar.  inputnya, mereka yang telah dikategorikan dalam garis kemiskinan dan ber ktp DKI, dan telah mendapatkan kartu GAKIN, orang terlantar, hingga korban kekerasan dalam rumah tangga.

Lagi

Di Balik Layar

Tinggalkan Komentar

Ust Ali Sakti M.Ec dalam salah satu tulisannnya di blog beliau mengangkat sebuah topic tarbawi yang layak kita ingat. Betapa akhirnya posisi-posisi yang tidak banyak dicatat dalam sejarah namun memberikan kontribusi melebihi catatan berlembar-lembar sejarah dalam peradaban umat manusia. Mungkin ia tidak terkenal namun posisi ketenaran sang pahlawan dalam arti formalitas mencetak perubahan apa-apa tidak ada artinya tanpa keberadaan orang yang enggan namanya disebut atau tidak pernah disebut tersebut. Mungkin juga ia tercatat dalam sejarah, tapi akhirnya hanya diketahui oleh segelintir saja dari para sejarawan yang semakin menua setua umur peradaban umat manusia. Atau malah sebuah kenyataan dari serangkaian catatan otak manusia, yang begitu amat terbatas menuliskan kembali jasa-jasa beribu orang baik yang tidak pernah kita kenal.

Hal-hal seperti ini secara materi bagi seorang aktivis pemula sangat merugikan. Bagaimana bisa sudah capek-capek jadi panitia dari mulai kegiatan di kampus A hingga event organizer dari kampus Z harus menerima kenyataan sedikit orang yang mengenalnya. Sedikit orang yang paham eksistensi dan keberadaannya. Akhirnya hanya menghibur diri mungkin belum nasibnya untuk dikenal. Tapi bagi mereka yang melihat dengan mata bathin atau bashirah, sungguh ia kembali mendefinisikan takwa dalam definisi Baginda Nabi SAW “ jika kau belum mampu melihatNya, Ia Melihat ibadahmu” . bagi mereka yang memahami definisi ihsan Baginda Nabi SAW, eksistensi dirinya, dimanapun berada baik di kampus atau organisasi ekternal tidak pernah menjadi persoalan serius. Karena titik tekan sikapnya adalah pada kontribusi yang bermanfaat apapun bentuknya dan siapapun penerima manfaat tersebut.

Walaupun ada saatnya kalau Allah sudah menggariskan kita keluar dari zona yang tidak perlu dikenal  kea rah wilayah publik yang memerlukan pencitraan sebagai salah satu uslub dalam da’wah. Maka sekali lagi titik tekan sikapnya pada kontribusi yang bermanfaat tanpa harus terkungkung dengan sistem ataupun jumlah pendukung. Amanah memerlukan mereka yang sanggup memikulnya, karena ia akan berhadapan dengan bukan hanya kalangan dirinya saja maka yang diperlukan jiwa akomodasi yang lahir bersama kaumnya dan berkarya untuk kaumnya. Nahnu minhum wa nahnu lahum itulah syiar kita.

Apa yang sedang saya tulis ini bukan sama sekali bermaksud mengecilkan peran lahirnya pemimpin di tengah masyarakat heterogen sebagai sebuah keharusan. Tetapi persoalannya berapa banyak akibat dalih kepemimpinan dan pengambilan keputusan yang strategis fenomena penyimpangan niat selalu bermunculan di tiap zaman. Di tiap pergerakan. Inilah yang perlu kita perhatikan.

Karena hanya menjadi skrup atau mereka yang berperan di balik layar tidak lah hina. Bukankah kadar pahalanya tetap tergantung sebanyak mana kadar letihnya sebagaimana dalam sebuah hadits ajruki ala qadri nashabik. Bukanlah iman kita mengajarkan sesungguhnya Allah tidak pernah tertidur dan lalai dari amal-amal yang dalam hitungan hitam putih manusia begitu remeh dan seakan tidak berharga. Teringat kisah seorang ketua ksei yang gelisah mengapa bukan dari kampusnya yang maju sebagai presidium nasional saat munas tahun lalu. Ia pun menyalahkan sejumlah orang yang dulu ia percaya bisa maju sebagai presidium nasional dan bahkan kegelisahannya itu ia tumpahkan dalam kajian yang setiap pecan diselenggarakan. Padahal mengambil keputusan strategis tidaklah selalu strategis untuk menjadi presnas sebagaimana dalam dunia politik kita jumpai idiom memiliki belum tentu menikmati tetapi menikmati menjadi berharga dengan memiliki. Lalu untuk apa menyimpan ambisi seolah-olah predisium nasional hanya dapat dimiliki oleh kampus yang itu-itu saja. Belum lagi ditingkahi provokasi pihak luar yang memandang persoalan internal ksei tersebut bak outsider atau orientalis, memberikan solusi namun memiliki hidden agenda. Posisi Presidium Nasional yang semestinya amanah malah berubah menjadi pertarungan ide dan ambisi politik lokal, analisis liar bermunculan tanpa mengetahui akar masalahnya saat-saat inilah tidak sedikit sejumlah pihak yang diuntungkan dan menjadi penonton gratis perdebatan yang tidak penting.

Namun, sekali lagi Allah akan menggariskan yang ia tunjuk sebagai cahaya bagi kabilahnya hanya buat mereka yang pantas dan layak serta tanpa persiapan spesial sudah ditempa dalam tarbiyah panjang dari Allah SWT Sang Maha Menadbir akan tampil dengan sendirinya. Dan ingat, kalau sudah demikian jangan lari dengan alasan “peran di balik layar” seolah-olah tawadhu enggan menerima amanah malah terlihat jiwanya yang pengecut dan tidak siap membayar semua konsekuensi pilihan pribadinya.

Sebuah pesan sederhana buat mereka yang bekerja dan berbakti dalam diam tanpa banyak publikasi, sebuah pesan yang bersahaja buat mereka yang dimanapun membaktikan dirinya pada Islam dengan pelbagi bentuk posisinya, atau apapun peran kehidupan yang ia terima dari Yang Maha Menentukan, sebuah pesan penting dari Baginda Nabi SAW  “ Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan, sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu “ dan itulah sebabnya ketika saya ditanya, apa posisi sekarang di FoSSEI oleh pelbagai rekan di regional dan ksei, saya jawab dengan penuh bersahaja “ hanya warga biasa “ :-D :D

 

While listening rap song from DAM at Sentul Earth and Heavy Rain

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.