Dari artikel saya yang lalu,yang mengungkap tentang gairah dan semangat masyarakat mempelajari ekonomi Islam dalam pelbagai bentuknya, baik melalui seminar-seminar ataupun diskusi-diskusi di milist begitu mengagumkan dan menambah rasa tahu masyarakat akan pentingnya bertransaksi sesuai syariah. Bagi orang Indonesia dalams sejumlah penelitian label syariah tidak menjadi begitu penting dibandingkan dengan service dan kualitas jasa yang ditawarkan oleh sebuah entitas keuangan syariah yang menawarkan produk-produknya berbeda dengan keuangan konvensional atau hampir mirip di sisi praktikal namun berbeda penuh dan total ketika kita mulai memasuki ranah filosofis dan kebijakan pengembangan produk perbankan syariah.

Namun tumbuhnya ghirahnya masyarakat mengenal perbankan syariah tenryata mengundang sejumlah provokasi dari kalangan yang lagi-lagi mengklaim “ingin menegakkan syariah” dengan berpijak pada landasan syariah yang benar dan memandang bahwa kita umat muslim tidak perlu sama sekali berhubungan dengan apapun lembaga keuangan modern baik itu syariah atau tidak. Karena bagi keompok ini semua yang datang dari barat dikerahkan bak kuda troya yang masuk ke ranah paradigm dan cara berfikir umat muslim. Dan itulah tantangan yang harus dihadapi oleh umat islam saat ini. Ketika sejumlah orang dari kalangan liberal menganggap semua yang datang dari barat harus diterimka sebagai keharusan sejarah dan pandangan hidup maka kalangan ini mengatakan yang totally 180 derajat bersebrangan kemudian mengklaim, bahwa barat identik dengan kufur, kalau ingin tidak terjebak menjadi kufur jauhilah segala perangkat yang datang dari barat.

Gokil ?? tapi itulah realitas yang terjadi di tengah umat islam dewasa ini. Seolah-seolah mampu mengembalikan kejayaan umat islam yang saat ini telah didokumentasikan dengan program 1001 inventions  di dunia islam. Dan itulah yang ditampakkan dari mereka yang konon sengaja berbeda dari kalangan mainstream dalam pengembangan ekonomi islam dengan kalim kalangan mainstream saat ini terlalu lambat dan ditambah doktrin tanpa dalil bahwa mereka bergerak bukan dari dasar melainkan hanya mengcopy paste.

Maka itulah ditunjukkan oleh salah satu dari kalangan ini. Zaim Saidi dengan pelbagai karyanya maupun karya murid-muridnya yang tersebar luas di internet selain mereka produktif dalam mensosialisasikan dinar dirham mereka juga dengan nada provocative mengajak umat islam menjauhi masyarakat dari perbankan syariah karena selama perbankan syariah berada dalam lingkaran kapitalisme modern yang disimbolkan dengan riba dan uang kertas. Maka perbankan syariah belum dapat dikatakan lepas atau murni syariah.

Sejumlah karyanya yang beredar di masyarakat antara lain “Jangan Telan Bulat-Bulat: Panduan Konsumen Menghadapi Iklan “ (PIRAC,2002 ), Secangkir Kopi Max Havelaar: LSM dan Kebangkitan Masyarakat (Gramedia :1995) beberapa bukunya yang berbicara mengenai perbankan syariah Tidak Islamnya Bank Islam (Pustaka Adina : 2003 ), Ilusi Demokrasi; Kritik dan Otokritik Islam ( Republika :2007 ) dan terakhir Tidak Syariah Bank Syariah (Delokomotif :2010 ) tentu saja yang paling tidak bisa diterima oleh kalangan mainstream tiga buku terakhir. Permasalahannya bukan pada siapa yang dikritik atau menurut klaim Zaim Saidi, menganggapnya sebagai buku yang berbahaya dan bisa merusak keyakinan masyarakat tetapi metodologi yang digunakan oleh Zaim Saidi dalam memvonis bahwa bank syariah tidak murni sesuai syariah. Disinilah yang perlu kita soroti. Tidak pernah akan berhasil perjuangan dengan tujuan seagung dan semulia apapun namun apabila cara yang ditempuh kontras dan paradoks dengan substansi dengan tujuan yang mulia itu. Dan itu memang sudah menjadi fitrah seorang muslim. Islam sebagai agama yang ummatan wasathan atau siger tengah memandang persoalan perbankan syariah, potensi dan kesempatan untuk bisa tumbuh lebih berkembang dan membagikan manfaat yang adil dan menentramkan yang sesuai maqashid syariah.

Zaim Saidi awalnya mempunyai latar belakang teknologi pangan dan gizi IPB tahun 1986. Sejak tahun 1987-1996 Zaim Saidi aktif di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia pada 1993-1997 ikut serta dalam pendirian lembaga ekolabel Indonesia. Dan selain memimpin PIRAC, Zaim Saidi giat bersama komunitasnya mensosialisasikan dinar dirham melalui lembaga wakala nusantara. Sejak lama, Zaim Saidi kertap menulis di media massa seperti di Tempo,Republika dsb dan pernah membawakan dua acara talkshow di televisi. Tahun 1991, Zaim  Saidi memperoleh Publik Interest Research Fellowship dari Multinational Monitor dan dipimpin Ralph Nader, aktivis konsumen terkemuka di AS. Pada tahun 1996 Zaim Saidi menerima Merdeka Fellowship dari pemerintah Australia, dalam rangka 50 tahun kemerdekaan RI.

Selain itu buku terakhir Zaim Saidi juga pernah dibedah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tahun 2010, Tidak Syariahnya Bank Syariah di Indonesia, dan Jalan Keluarnya Menurut Muamalat. Dan jumlah peserta yang disertai ingin tahu serta penasaran membludak hingga mencapai 200 orang. Kemudian buku yang diterbitkan tahun 2007, Ilusi Demokrasi, lebih banyak mengulang-ngulang yang pernah ia tulis di bukunya yang pertama tentang Islamisasi Ekonomi yang menurutnya hanya trap dari kalangan “modernis” dan “reformis” Islam. Dan tentu saja terdapat sejumlah kerancuan pemahaman dari awal tentang Syariah itu sendiri.  Salah satunya yang fundamental adalah definisi dan pemahaman mengenai riba. Zaim Saidi dan pengikutnya hanya mengambil definisi Riba hanya dari pemaknaan “Ziyadah “ yang artinya bertambah namun Zaim Saidi tidak mendapatkan pemahaman yang kafaah apa yang dimaksud dengan ‘tambahan “ atau “ziyadah” dan hanya memaknainya secara literal kemudian diterjemahkan menjadi system keuangan yang menggurita dan merusak.

Padahal secara fundamental Jumhur Ulama sudah mendefinisikan secara lengkap apa yang dimaksud dengan riba.. Jumhur Ulama mendefinisikan riba sebagai “ Al Fadhlu Maalin bila iwadhin fi  mu’awadhah maalin bi maalin “ Kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan gantinya.  Pemahaman yang lain mengenai riba bagi Zaim Saidi, Riba adalah tiap tambahan atas modal kepada pembeli  lebih dari harga perolehan asset. Padahal hal ini tidak termasuk riba. Karena jumhur ulama juga menyatakan “Riba, Al Ziyadah alal Qardhin “ bukan Ziyadah alal Buyu’ “ Riba adalah tiap tambahan atas pinjaman yang jatuhnya pada riba nasiah bukan pada riba atas kelebihan antara harga perolehan dengan harga jual.

Zaim Saidi juga mengklaim, praktik operasional perbankan syariah dalam memberlakukan akad mudharabah, murabahah, wadiah dan lain-lain tidak sesuai dengan tradisi islam yang berlaku. Mudharabah diklaim tidak sesuai dengan tradisi syariah disebabkan ada dua kali pemutaran modal antara shahibul maal dengan mudharib. Zaim Saidi mengatakan hal inilah perbankan syariah terjebak dalam ambigu mana dana shahibul maal dengan dana mudharib. Mengenai alasan yang pertama, Syaikh Wahbah Zuhaily dalam kitabnya Fiqhul Islam Wa Adilatuhu memaparkan banyak dalil mengenai sahnya akad mudharabah dan jejak riwayat yang menjadi dalil bahwa prakti mudharabah sebagaimana yang dipahami dalam praktik perbankan syariah saat ini juga pernah ada.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, ia mengatakan adalah  Abbas Ibnu Abdul Muthalib jika menyerahkan hartanya untuk mudharabah menetapkan syarat terhadap orang diberi modal untuk tidak menggunakan jalan laut dan tidak bermalam di lembah, serta tidak membeli hewan yang jika dibeli maka ia menanggung kerugiannya.maka telah sampai kepada Rasulullah syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Abbas dan Rasulullah membolehkannya “ ( HR Thabrani dari Ibnu Abbas, ) kemudian Ibnu Majah juga meriwayatkan dari syu’aib ra. Sesungguhnya Nabi telah bersabda “ada tiga perkara di dalamnya terdapat berkah, menjual sampai waktu yang ditentukan, muqaradhah dan juga mencampur gandum dengan tepung untuk dimakan bukan untuk dijual “  .

kemudian diriwayatkan juga dari Abdullah dan Ubaidillah, putra umar Ibn Khattab, saat mereka bergabung dengan pasukan irak yang akan ke madinah, ketika akan berangkat, mereka bertemu dengan Musa Al Asyari dan berkata “jika saya sanggup membantu kalian dalam suatu hal saya akan lakukannya” kemudian ia berkata “ di sini ada harta kepunyaan Allah yang akan saya kirim ke Amirul Mu’minin. Aku akan mengutangi kalian, maka dengan uang tersebut kalian bisa membeli barang dari Irak kemudian kalian jual di Madinah, lalu kalian kembalikan modal itu kepoada Amirul Mu’minin dan untungnya buat kalian” kemudian mereka pun menyatakan kesepakatannya dengan yang ditawarkan oleh Abdullah dan Ubaidiillah maka Musa Al Ashari menulis surat ke umar untuk memgambil modal yang ia pinjamkan kepada mereka. Ketika mereka sampai ke Madinah mereka menjual barang-barang tersebut dan mendapat untung. Umar lalu bertanya “ apakah semua prajurit berutang sebagaimana kamu berdua berhutang ??”, mereka menjawab “Tidak” Umar pun berkata “ Wahai Amirul Mu’minin, kalian telah berutang, kembalikanlah modal beserta hutangnya” . Abdullah hanya diam, kemudian Ubaidillah berkata “hai  Amirul Mu’minin, jika harta tersebut rusak bukankahj kami menjamin kerugiannya”. Umar ibn Khattab berkata “kembalikanlah semua harta itu “. Abdullah hanya diam lalu menjawab sebagaimana jawaban tadi dan seorang lelaki yang duduk di majlis Umar berkata “Wahai Amirul Mu’minin, jika saja kau jadikan harta itu sebagai qiradh ( jika anda tahu tentang hukum Mudharabah yaitu dijadikan harta itu separo buat mereka dan separo buat Baitul Maal “ Maka Umar pun sepakat dengan pendapat tersebut. Lalu ia memngambil  modal dan separo dari keuntungan begitu juga Abdullah dan Ubaidillah.

Kemudian soal ambiguitas perputaran antara dana shahibul maal dengan mudharib. Ulama Fiqh berbeda pendapat tentang hal ini.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak boleh bagi Mudharib seusai menerima dana dari Shahibul Maal memutar kembali dana tersebut ke mudharib lain tanpa seizin oleh Shahibul Maal yang pertama kali menitipkan dananya. Jika mudharib memberikan harta pada yang lain sebagai Mudharabah dan ada izin dari pemilik harta, maka harta itu, menurut Imam Abu Hanifah, dijamin oleh mudharib yang pertama walaupun sudah menyerahkan harta pada yang kedua, dan tidak ada penjelasan mudharib yang kedua sampai beruntung. Jika mudharib yang pertama memperoleh keuntungan, maka mudharib yang pertama menjami untuk pemilik pertama. Adapun sebelum beruntung, maka tidak ada jaminan . kalau harta rusak, menurut Syaikh Wahbah Zuhaili, di tangan orang kedua sebelum beruntung, rusaknya seperti rusaknya amanat.

Menurut Imam Malik, pengelola adalah dhamin jika ia pinjamkan harta tanpa izin pemiliknya. Artinya, pelimpahan pada yang lain untuk dikelola dan untung saat itu adalah milik pengelola dana dan pemilik harta, tidak ada laba bagi pengelola pertama , kerana keuntungan pertama adalah bonus. Dengan kata lain jumhur ulama mazhab empat sepakat bahwa mudharib tidak boleh memutar kembali dana shahibul maal ke mudharib lain tanpa izin dan tanpa pemasrahan serta kesetujuan dari shahibul maal. Maka yang saat ini terjadi dalam perbankan syariah, nasabah saat menitipkan dannya di bank syariah sudah diberikan pilihan apakah dana nya boleh diputar ulang ke sector riil sebagai mudharib ke-dua atau tidak.dan itu sudah tergantung kesepakatn di awal.

Dalam buku “Ilusi Demokrasi” Zaim Saidi, sebelum beranjak pada pembahasan mengenai perbankan Islam, banyak menguraikan mengenai awal mula kehadiran ekonomi Islam. Menurut Zaim Saidi, Ekonomi Islam banyak muncul dari kalangan Al Ikhwanul Muslimun dan sejumlah harakah Islamiyah , yang masih menurut beliau, berambisi besar mengislamkan semua bidang. Zaim Saidi  juga menyebutkan sejumlah tokoh yang dianggap paling bertanggung jawab dalam menyebarkan “Ekonomi Islam” ini seperti Hasan Al Banna, Dr Yusuf  Qardhawi, Muhammad Abduh. Di saat yang sama saya teringat dengan sebuah buku yang ditulis oleh David B Johnson “ Islamic Economic, The Final Jihad” . David B Johnson mempunyai latar belakang sebagai seorang pendeta juga misionaris protestan dan dalam buku yang ia tulis kemudian ia terbitkan tahun 2006. David B Johnson menyebutkan di antaranya

“goal of Islamic Economic is changing the world political landscape . including to create a totalitarian counter force to dominant position of the West, particulary The United States. The Islamist alliance’s hope is to eliminate the concept of liberty, freedom,and democracy” ( preface )  kemudian Johnson menggambarkan cara-cara yang ditempuh oleh para penegak ekonomi islam atau kalangan aktivis Islam dengan gambaran sebagai berikut

“The Strategy of Islamist, pool all financial resources, collect the zakat to fund, the venture, put enemy to the hock, create a fear and promote multiculturalism “ termasuk diantaranya David B Johnson menyebutkan secara  sinis  “The Muslim Brotherhood ( Al Ikhwanul Muslimun ) was the main motivator behind setting up experiments in Islamic Financing on a nationality and internationally workable scale”

Apa yang dideskripsikan oleh Zaim Saidi dalam pelbagai karyanya, serasa tidak ada bedanya apa yang digambarkan oleh seorang orientalis di atas.seolah-olah Zaim Saidi ingin menunjukkan bahwa idea dan gagasan Islamisasi pengetahuan khususnya di bidang ekonomi lebih banyak muncul karena ambisi politik tertentu bukan karena reaksi intelektual; muslim melihat pelbagai kepincangan sosial di negeri-negeri berpopulasi muslim mayoritas.

Poin lain yang  perlu dikoreksi dari pemikiran mengenai muamalat dari Zaim Saidi adalah mengenai uang kertas. Baginya seperti yang sudah pernah ditulis oleh Umar Vadillo dan Syaikh Abdul Qadir As Sufi bahwa merunut pada sejarah uang kertas awalnya ditopang dengan emas. Hingga kemudian emas dilarang dan uang beredar di tengah masyarakat tidak mencerminkan keadilan dan tujuannya sebagai alat tukar, yang dalam Islam, dilarang untuk memperdagangkannya. Akan tetapi persoalan syariah tidak serta merta hanya karena uang kertas lahir atas “ pengkhianatan” terhadap emas menjadi haram kedudukan hukumnya. Apalagi dari uang kertas bisa tercipta riba seperti anggapan Zaim Saidi dalam bukunya Ilusi Demokrasi; Kritik dan Otokritik Islam ( 2007 ). Ingat kaidah hukum syariah, La Tuzhlimuna Wa La Tuzhlamun. Tidak ada yang menzalimi atau tidak ada yang terzalimi. Dengan pemaksaan posisi hukum uang kertas menjadi haram, maka berdosa jua semua orang yang berta’amul dan tasharuf dengan menggunakan uang kertas itu sendiri. Apalagi Kanjeng Nabi SAW juga pernah menyatakan semua yang datang dari yang haram akan menghasilkan keburukan jua. Maka tidak terkecuali semua yang kita makan dan minum dengan menggunakan uang kertas sedang uang kertas dengan anggapan ini mengandung riba. Maka kita telah melakukan dosa-dosa besar selama ini. Terjadilah masyaqqah atau kesulitan yang seharusnya tidak harus terjadi. Sebab Allah SWT telah berfirman

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” ( Surah Al Baqarah : 286 )

Kemudian juga dasar syariah firman Allah Ta’ala

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. “ ( Al Maidah : 87 )

Kaidah Fiqh

“Al Maisur La Yasqutu bi al-Ma’sur “

Sisi –sis yang mudah tidak menjadi batal dengan sebab sisi-sisi yang sulit

“Al Masyaqqah Tajlibu Al Maysir “

Kesulitan mengundang kemudahan

Karena, menurut Dr Ahmad Hassan yang pernah membahas kedudukan mata uang dalam Islam secara komprehensif, uang  kertas juga diperlukan untuk menunaikan zakat dibandingkan dengan ditunaikan melalui bahan makanan untuk para mustahik yang lebih membutuhkan cash atau uang tunai untuk memenuhi seluruh kebutuhan mereka

Ala kulli hal, jangan sampai perjuangan kita justru merugikan tegak dan stabilnya system yang sedang kita tawarkan pada milyaran penduduk dunia untuk menyelamatkan diri dari krisis dan resesi yang berulang. Seperti halnya jika kita membangun Masjid, apa maslahatnya kalau kita bangun masjid itu dengan Buldoser ?? tanyakanlah pada hati nurani

Bogor

24 raya agung 1431 H

About these ads