modernitas ekonomi Kekokohannya bukan berasal dari keadaan tak beragama ,kejayaanya bukan berasal dari naskah latin pula. kekuatan barat, dari ilmu dan teknologi asalnya dengan nyala itu juga lampunya terang bercahaya,kearifan tidak berasal dari potongan dan kerapian pakaian; bagi ilmu dan teknologi sorban bukan halangan, bagi ilmu dan teknologi,wahai orang muda, diperlukan otak bukan pakaian orang Eropa. Di jalan ini hanya penglihatan tajam yang diperlukan, topi macam ini atau itu tak dibutuhkan. Bila kau memiliki kecerdasan yang cekatan, cukuplah itu, Sir Muhammad Iqbal, Javid Namah

Modernitas sebagai sebuah bagian dari proses perubahan sosial diyakini oleh sejumlah cendekiawan muslim menjadi sebuah keharusan dan bahkan pandangan hidup akan perubahan yang pasti terjadi dalam sebuah komunitas masyarakat. Tidak terkecuali di komunitas masyarakat muslim Seperti yang ditunjukkan oleh Lapidus (2000) dalam bukunya Sejarah Sosial Umat Islam modernisme menjadi sebuah keharusan dari doktrin yang utamanya menekankan bahwasanya kekalahan Muslim di tangan kekuasaan Eropa menyadarkan kelemahan mereka, dan bahwasanya pemulihan kekuasaan politik menuntut mereka meminjam teknik-teknik militer Eropa, memusatkan kekuasaan negara, memodernisir perekonomian mereka berdasarkan cara Eropa menjalankan ekonominya yang berbasis pasar bebas dan menyelenggarakan pendidikan modern bagi kalangan mereka. Kemudian, Ira Lapidus juga menyebutkan bahwa bentuk-bentuk peradaban Islam masa pertengahan harus disingkirkan tetapi Islam semata tidak dapat dilepaskan.

 

Apa yang diutarakan dan definisikan oleh Lapidus ini masih lebih soft dibandingkan dengan mereka yang juga aktor utama yang menjalankan proses modernisasi di belahan dunia muslim menjelang abad 20. Seperti Abdullah Cevdet, seorang pendiri partai Commite and Union Progress yang kelak berperan besar dalam menggulingkan kekhalifahan Usmani tahun 1924, mengatakan bahwa “hanya ada satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa, karenanya, kita harus meminjam dari peradaban Barat baik mawarnya maupun durinya “ kepongahan Abdullah Cevdet kemudian diikuti dan diamini secara berjamaah oleh para pelaku modernisasi di belahan dunia Islam lainnya. Seperti Albert Hourani,seorang modernis arab, mengatakan “telah menjadni sebuah norma umum dalam pemikiran Eropa bahwa Agama, baik secara umum, dan khususnya Islam menjadi faktor utama melemahnya kemauan dan memnbatasi akal pikiran. Maka, lanjut Albert Hourani, kemajuan hanya akan dapat tercapai dengan mengabaikannya atau kurang lebih dengan membuat pemisahan antara kehidupan beragama dengan kehidupan sekular. Nah dengan kata lain Albert Hourani seperti menjadi gong akan identitas sebenarnya dari tawaran modernism. Kalau mau mencapai kemajuan dan berhasil mengejar ketertinggalan maka kita harus “membersihkan diri “ dari jejak-jejak sebagau umat yang beragama atau menyandarkan hidupnya kepada agama sebagai pijakan dasarnya “ .

Dan rupanya itu yang menjadi salah satu teori dalam sosiologi, bahwa memang ada kesamaan yang kental antara modernisasi dengan sekularisasi. Selain keduanya produk peradaban barat, keduanya juga merupakan hasil perbandingan dari berbagai aspek kehidupan manusia yang dirasionalkan. Namun selain itu ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa apabila semua masyarakat semakin maju maka komitmen mereka pada beragama juga semakin kurang dan menurun. Singkatnya seperti yang diutarakan oleh Albert Hourani, kalau mau mencapai kemajuan dan berhasil mengejar ketertinggalan maka kita kita harus “membersihkan diri “ dari jejak-jeka sebagai umat yang beragama atau paling tidak memisahkan antara kehidupan beragama dan kehidupan dunia. Secular Life ! kata Albert Hourani.

 

Pertemuan antara Modernisasi dengan sekularisasi ini yang kemudian melahirkan modernisme . sekularisme memang tidak pernah menghapuskan kehidupan beragama tetapi memindahkankannya ke tempat lain yang jauh dari ruang publik. Karena jika masih diletakkan di ruang publik, bagi kalangan modernis akan menyebabkan apa yang diutarakan oleh Lapidus, ketertinggalan dan kekalahan dari kekuasaan Eropa secara khusus atau barat secara umum. Itu juga yang barangkali menjadi inspirasi oleh Bung Karno, ketika menyatakan bahwa yang ia ia lihat saat ini adalah Islam yang kehilangan apinya hanya tinggal debu dan arangnya saja. Karena ternyata Bung Karno lebih setia berguru dan mengaji pada Mustafa Kemal Attaturk yang dikenal dan dipuji-puji selama berabad-abad sebagai pionis perubahan dunia Islam. Dibandingkan dengan gurunya, HOS Cokroaminoto.

 

Proses Modernisasi dan penanaman benih-benih sekularisme dalam wajah pembangunan dan globalisasi terus dilanjutkan di penjuru dunia muslim. Selepas kemerdekaan masing-masing negara berpopulasi muslim agennya bukan lagi penjajah kolonial inggris,belanda atau perancis. Tetapi para orientalis yang mendapat gelar ‘modernis “ atau “reformis” sebutlah nama-nama seperti Fatima Mernisi, Abed Al Jabiri, Hasan Hanafi, Mansour Fakih, Qasim Amin, Taha Al Husayn. Di Indonesia pun berlimpahan mulai dari Ahmad Wahib hingga Zuhairi Misrawi. Kalau yang di tanah Afrika Utara seperti Maroko, Tunisia dan Mesir berwarna orientalis berwajah arab maka disini berderet sejumlah murid orientalis berwajah melayu.namun searah mendengung-dengungkan modernisme yang lekat dengan sekularisasi sebagai wujud dari apa yang disebut oleh mereka sebagai Islam Progressif. Islam yang berkemajuan katanya. Seolah-olah Islam adalah agama primitif yang tumbuh dari racikan tangan manusia dan proses tidak pernah lepas dari pengaruh manusia sehingga merasa perlu “memajukan “ Islam sesuai agenda Barat sejalan dengan proses demokratisasi secara sempurna.

 

Namun persoalannya, yang kemudian menjadi faktor utama penghambat laju modernisme sebagaimana yang sedang didengung-dengungkan ternyata bukan dari faktor eksternal yang mereka sebut sebagai “Islam Fundamentalis” atau “ Islam Revivalis “ namun dari kalangan internal mereka sendiri dalam hal epistemology akan definisi modernisasi sebagai produk dari modernisme itu sendiri yang perlu diuji hipotesisnya. Apakah dengan menjadi modern sudah pasti mencapai kemajuan dalam pelbagai bidang pendidikan, ekonomi, budaya, dan sebagainya. Apakah dengan menjadi modern sebagaimana definisi yang dikehendaki oleh Albert Hourani sudah mencapai taraf hidup manusia yang lebih beradab atau malah sebaliknya.

 

Dan itulah yang dikemukakan oleh sebuah laporan UNDP dalam Human Development Report 2010: The Real Wealth of Nations: The Pathways To Human Development menyimpulkan bahwa ternyata antara tingkat [ertumbuhan ekonomi dengan indeks perkembangan taraf hidup manusia atau yang disebut oleh para ekonom sebagai Human Development Index. Nah dalam penelitian yang dilakukan oleh UNDP tenryata tidak ditemukan korelasi yang konsisten atau mendukung antara tingkat pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan human development development index. Kontras, dengan apa yang diutarakan oleh Sekjen PBB, Ban Ki Moon, dalam peluncuran HDR 2010, mengatakan bahwa HDR telah mengubah cara pandang penduduk dunia bahwa pertumbuhan ekonomi sangat penting. Yang membuatnya penting adalah penggunaan pendapatan nasional untuk memberikan kesempatan kesehatan yang lebih panjang dan hidup yang lebih produktif. Namun bertabrakan dengan hasil empiris yang ditemukan oleh UNDP ini. pendapatan negara yang gemuk tidak serta merta mengangkat kualitas pendidikan dan kualitas manusia modern menjadi lebih beradab.dengan kata lain Kaya namun belum tentu happy. Gap antara mereka yang dinobatkan sebagai orang terkaya seantero dunia sebagaimana yang kerap dilansir oleh majalah Forbes semakin menganga dengan mereka yang tinggal di bawah stasiun kereta api di Tebet atau mereka yang tinggal di bantaran sungai. Begitu juga kemegahan Buruj Al Arab di Dubai yang merefleksikan modernitas di tengah padang pasir semakin lebar jurangnya dengan negara seperti Bangladesh yang disebut oleh Robert McNamara, mantan Presiden Bank Dunia, sebagai Internasional Basketplace sebagai symbol dari kemiskinan asia dengan pendapatan per kapita US$380 dan penduduk miskin sekitar 50 % dari 132 Juta Jiwa Penduduk Bangladesh.

 

Studi Kasus; Tunisia, Mesir dan Indonesia

 

Revolusi yang saat ini sedang terjadi dan masih bergolak di Tunisia ternyata menjadi sebuah ledakan akumulatif dari serangkaiain ketidak puasan rakyat terhadap kinerja pemerintah Tunisia dalam merealisasikan tujuan berekonomi dan tujuan berbangsanya Tunisia. Presiden yang sudah mengakar selama 30 tahun, Ali Zainal Abidin atau Zine Ben Ali terguling dalam revolusi yang yang dilancarkan rakyat Tunisia yang sudah bosan dengan pemiskinan negara di ujung afrika utara tersebut. Menurut Ira M Lapidus (2000) sebelum menjadi negara kolonial Perancis, Tunisia merupakan salah satu daerah yang dikuasai oleh Daulah Khilafah Usmaniyah. Pada tahun 1881, Perancis masuk ke Tunisia untuk memperluas perbatasan Al Jazair dan mengambil ali semua pos pemerintahan di Tunisia bidang finansial,pendidikan,komunikasi,pekerjaan umum dan pertanian. Membentuk system peradilan Eropa dengan tetap mempertahankan pengadilan Syariah untuk menangani kasus-kasus warga Tunisia dan melancarkan pembangunan jalan,pelabuhan, dan pertambangan. Namun di era kolonisasi Perancis juga tanah Wakaf dan tanah warisan adat dkemudian menjualnya kepada para pembeli Eropa maka Perancis menguasai sekitar 1/5 dari jumlah tanah pertanian. Perancis juga mengintervensi kurikulum pendidikan Tunisia. Perlawanan baru timbul dari kalangan ulama untuk menentang tiap jengkal intervensi Perancis sejak tahun 1880 yang mempunyai latar belakang intelektual usmani. Pemberontakan yang dilakukan pun uniknya lebih mengarah ke pendewasaan pemikiran dengan digagas oleh alumni perguruan Zaytuna dan Perguruan Sadiqi membentuk surat kabar Al Hadira. Kalangan ini juga mendirikan sekolah Khalduniah pada 1896 untuk melengkapi pendidikan Zaytuna dengan beberapa pelajaran umum dan nuansa intelektualitas inilah melahirkan sejumlah generasi baru yang disebut sebagai generasi “Pemuda Tunisia “ yang banyak mendapatkan pengaruh atau inspirasi dari Jamaludin Al Afghani, Muhammad Abduh dan partai Nasional Mesir. Generasi pemuda Tunisia ini mendukung kebangkitan kultur Arab,sejarah, geografi dan teori-teori sosial, dan dengan mendapatkan inspirasi dari nilai salafiyah mereka menyerukan reformasi pendidikan dan hukum dunia muslim serta administrasi wakaf. Mungkin gerakan “Pemuda Tunisia “ ini sama tarafnya dengan Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan

Pada tahun 1956, Tunisia merdeka dengan Habib Bourghuiba sebagai kepala negara pertamanya dengan sebelumnya Munsif Bey, kepala otoritas Tunisia sebelum merdeka, oleh majelis konstituante melucuti anggaran,gelar hingga kekuasaanya dan berdasarkan konstitusi tahun 1959 mempercayakan seluruh pengendalian pemerintah kepada Presiden. Namun sejak tahun 1956 sampai tahun 1960an sejak lama Tunisia sudah membuang identitas sebagai negara berpopulasi muslim dan pernah menjadi bagian dari kekhalifahan Usmaniyah. Karena sejak tahun 1956 itu juga Pemerintahan Tunisia yang baru terbentuk di bawah Rezim Habib Bourghiba memberlakukan kebijakan ekonomi liberal. Seperti menempatkan kekayaan wakaf di bawah pengawasan pemerintah dan membuka kesempatan bagi kepemilikan pribadi terhadap pertanahan kolektif. Namun disebabkan gelombang kalangan sosialis sedang menguat, Habib Bourghiba mengambil kebijakan orientasi tanah sosialis. Nasionalisasi tanah warga eropa yang pernah membeli tanak kolektif rakyat Tunisia. Kemudian disusun juga system kerja sama pertanian dan manajemen pertanian negara. Bagaimanapun dengan gaya ekonomi campuran seperti ini Tunisia terlihat banyak bergantung pada kebijakan fiskal terutama di sisi expenditure banyak mengandalkan pinjaman dari luar negeri dan investasi dibandingkan dengan pemberdayaan tanah wakaf yang menjadi potensi utama kekuatan ekonomi rakyat Tunisia yang malah menjadi sapi perahan rezim penjajah Perancis dan selanjutnya dijual kembali ke tangan asing oleh pemerintah otoritas Tunisia sebelum kemerdekaan Tunisia.

Arus sekularisasi mulai secara massive dirasakan di Tunisia juga pada tahun 1956. Habib Bourghiba merasa perlu untuk mencontek gaya Attaturk menjalankan sekularisasi di negeri bekas Khilafah Usmaniyah tersebut. Mulai dari Perguruan Masjid Zaytuna yang setara dengan Universitas Al Azhar di Mesir diambil alih dibawah penguasaan Kementerian Pendidikan dan sejumlah sekolah agama dimasukkan ke dalam sistem sekolah negeri, melarang poligami,persamaan gender yang dibakukan dalam kitab hukum, hingga merasa perlu untuk mengecam puasa Ramadhan sebagai penghambat produktivitas dan Partai Sosialis Destorian yang menjadi pelopor dari semua movement sekularisasi ini. namun gerakan sekularisasi membentur karang pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an. Pergerakan Islam yang berbasiskan anak muda dengan kesadaran sebagai seorang muslim yang tinggi telah berhasil menjadi motf kebangkitan Islam di Tunisia. Gejalanya hampir sama dengan yang terjadi di Maroko di masa penjajahan Perancis, warga etnik Berber malah mengidentifikasikan dirinya sebagai etnik kaum muslimin dan mengintegralkan etniknya dengan budaya dan bahasa arab. Akhirnya benar apa yang ditesisnya dengan teori “Ekonomi Agama “ bahwa sekularisasi tidak akan berumur panjang karena justru akan menimbulkan dampak sebaliknya yaitu menghidupkan kembali semangat beragama di masyarakat yang ditandai dengan kasus seperti Tunisia dan Maroko, tarikat-tarikat sufi.

 

Gejala Modernisme dan hasilnya yang paradoks juga terjadi di Mesir. Dan hasilnya sebagaimana yang bisa kita saksikan hari-hari ini bagaimana puluhan ribu orang turun ke jalan siang dan malam untuk menjatuhkan Presiden Mesir Hosni Mubarak yang sudah berkuasa sejak 1981 hingga sekarang. dan telah berjatuhan korban berjatuhan yang muncul dari ketidakpuasan rakyat Mesir atas kinerja pemerintah Hosni Mubarak yang membungkam kalangan oposisi dan memenjarakan independensi Al Azhar sebatas lembaga pendidikan Islam tertua di dunia dan tidak bisa bergerak bebas baik dalam mengeluarkan fatwa atau berkontrubusi di dunia Muslim.

 

Secara politik, banyak yang meyakini bahwa revolusi yang terjadi Tunisia melahirkan efek domino sebagaimana yang bisa kita saksikan di Mesir. Namun sejatinya tidak semudah itu. Mesir memiliki sejarah sekularisasi yang panjang dibandingkan dengan di Tunisia. Gerakan Sekularisasi yang menyamar dalam kedok wajah pembangunan atau modernime telah dimulai sejak jatuhnya Daulah Khilafah Usmaniyah. Apalagi dengan lahirnya sebuah buku yang ditulis oleh Abdur Raziq Ali, yang mengklaim sebagai mufti menulis sebuah buku yang merestui sekularisasi dengan alasan tidak ada praktik negara Islam dalam sejarah Nabi SAW yaitu Al Islam Wa Ushul Al Hukm diterbitkan pada bulan april 1925 namun buku yang yang ditulis oleh Abdur Raziq Ali tersebut mendapatkan kritik dari Syaikh Rasyid Redha ketika buku tersebut baru dikeluarkan. Kemudian pada tahun 1926 buku Ali Abdur Raziq kembali mendapat kritik pedas dengan disertai argument dan dalil yang lengkap tentang wajibnya khilafah Islamiyah yaitu Syaikh Muhammad Bakhit Al Muthi’I yang menjabat sebagai mufti negara Mesir dengan bukunya Haqiqah Al islam wa Ushul Al Hukm dan Syaikh Muhammad Al Khidr Husein dengan bukunya Naqdhu Kitab Al Islam Wa Ushul Al Hukm. Tidak terkecuali Syaikh Muhammad Rasyid Redha juga menulis kitab yang mengkritik habis pemikiran sekular yang ditanamkan dalam bukunya Ali Abdur Raziq dalam bukunya Al Khilafah Auw Al Imammah Al Uzhma ( Abdul Aziz :2005 )

 

Dan pada tahun 1927 para ulama berinisiatif untuk menggelar konferensi di Kairo yang menghasilkan berdirinya Jam’iyah Asy Syuban Al Muslimin dan pada tahun berikutnya Hasan Al Banna mendirikan jamaah Al Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi pertama bagi reformasi pergerakan Islam di era kontemporer.di pada hari ini Al Ikhwanul Muslimin menjadi bagian dari sejumlah gerakan oposisi yang dibungkam oleh pemerintahan dictator Hosni Mubarak selama 28 tahun. Al Ikhwanul Muslimun memang pernah ikut pemilu pada tahun 2007 dan sempat menguasai separoh kursi parlemen namun itu tidak lama sebelum akhirnya pemerintah Mesir memberangus para aktivis Al Ikhwanul Muslimin dan melarang tiap bentuk pertemuan anggota al ikhwanul muslimun. Aksi demonstrasi yang terjadi di seluruh penjuru Kairo pada hari-hari ini bukan saja lahir dari akibat sikap tangan besi Hosni Mubarrak tetapi juga ketidakmampuan pemerintah Mesir dalam menangani sejumlah hubungan luar negeri seperti kasus Palestina-Israel dan ketidakmampuan pemerintah Mesir dalam menanganui krisis kelangkaan pangan dunia yang juga berdampak sistemik terhadap perekonomian rill Mesir

 

Indonesia juga pernah mengalami gejolak yang melebihi Mesir hari ini pada tahun 1998. Sebagai sebuah akumulasi ketidak puasan rakyata Indonesia atas korupnya pemerintahan Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun. Namun gejala modernisasi dengan wajah pembangunan ekonomi dan stabilitas politik telah berjalan sejak era Snouck Hurgronje menjadi penasihat pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah Kolonial Belanda cukup menumpas para santri dan kyai yang berjuang tidak hanya kebebasan beribadahnya tetapi juga menegakkan syariat. Tetapi jangan ganggu mereka yang hanya sibuk berzikir dengan beraneka wiridnya. Di masa Orde Baru, NKK/BKK diterapkan selain untuk mematikan ghirah mahasiswa juga benar-benar untuk menciptakan stabilitas politik sesuai dengan yang dikehendaki oleh Rezim Orde Baru. Namun seperti yang ditesiskan teori “Ekonomi-Agama” . sejatinya sekularisasi tidak pernah berumur panjang yang ada akan menciptakan kesadaran baru bagi pemeluk agama kembali kepada agamanya. Dan itulah yang terjadi pada dunia kampus pada tahun 1980an bagaimana kampus-kampus seperti UI,ITB,IPB,ITS,dll menjadi lumbung lahirnya generasi baru pemuda Islam yang selanjutnya di tahun 2010 masing-masing dari kalangan aktivis dan kalangan anak mushalla ini mengambil peranan penting dalam kebijakan negara. Tidak seperti yang terjadi di Tunisia yang dilatar belakangi pergerakan ulama dan intelektual muslim dan perguruan Zaytuna sebagai iconnya yang mendorong proses kebangkitan di masa penjajahan Perancis, kebangkitan Islam dari kalangan mahasiswa dan pemuda justru lahir dari kampus-kampus yang tadinya telah di setting sebagai pusat pendidikan yang mencetak manusia-manusia pembangunan sekuler (Matta :2006 )

 

Di bidang ekonomi, menurut analisis Prof Didin S Damanhuri (2009 ) latar belakang kehancuran pembangunan di era soeharto sudah lama diindikasikan dari gaya berekonomi Soeharto yang pro pasar bebas. Gaya ekonomi soeharto di dasarkan pada grand theory nya yang mengasumsikan efisiensi,efektifitas dan pareto optimum serta good governance hingga akan berefek pada pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. Akan tetapi, grand theory ini mengalami dua kebocoran , yang pertama, absen pemberdayaan langsung ekonomi rakyat dan biasnya globalisasi terhadap kepentingan negara industri maju. Yang kedua, asumsi yang menyatakan semua pelaku ekonomi homogen tidak terpenuhi karena ternyata jelas ada ketimpangan sangat lebar antara konglomerasi dan sector ekonomi informal akhirnya pertumbuhan ekonomi sebesar berapapun hanya dinikmati segelintir elit dan ibarat gunung es yang siap meledak, di saat yang sama bertemu muka dengan flutuasi mata uang Baht dan karuan saja Indonesia yang paling menerima imbasnya.

 

Ala Kulli Hal, kita perlu ingat mengejar ketertinggalan sebagaimana yang selama ini kerap didengung-dengungkan kalangan Modernis di Eropa dan Timur Tengah dan kalangan Liberal di Indonesia bukan apa yang harus kita kejar karena kita merasa tertinggal namun apa manfaatnya dan apa maslahatnya bagi kita jika secara pandangan hidup (worldview ) berbeda secara diametral dengan pandangan hidup dan pengalaman peradaban Barat. Meletakkan pandangan hidup yang notabene jauh dari pengalaman kebangsaan sebuah negeri muslim akan bertabrakan sendirinya dengan perangkat modernisme yang kita merasa perlu untuk mengadopsinya. Jadilah apa yang menimpa Tunisia, Mesir,Pakistan, Yordania hari ini dan Indonesia di tahun 1998/1999 mengalami gejolak yang luar biasa. Selain memperlihatkan gejala pembaharuan yang salah arah juga menegaskan betapa inferiornya kita terhadap peradaban Barat. Jadinya benar apa yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun, The Founder of Sociology, Bangsa yang kalah akan selalu mengekor bangsa yang menang. Subhanallah …..!!!

 

Jakarta

24 Sapar 1432 H

Pukul 10: 24 PM, ditemani senandung Al Mualim dari Sami Yusuf

 

About these ads