Asia sukuk draw Gulf funds as crisis worsens

Tinggalkan Komentar

berita menarik dari Islamicfinance.de dampak krisis politik di Libya telah memaksa perusahaan-perusahaan di Timur Tengah dan Malaysia  menerbitkan sukuk untuk menghimpun dana lebih banyak. memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan :-)

The political conflict that has spread to Bahrain, Libya, Yemen and Morocco will make it more expensive for companies to issue Islamic bonds in the region and in Malaysia. The Asian nation is attractive to borrowers because of its lower yields.
But spreading unrest across the Middle East may be encouraging Shariah-compliant investors to increase purchases of Asian assets and will spur sales of Islamic bonds.

 

Harap-Harap Cemas

Tinggalkan Komentar

Semua harap-harap cemas. Apa yang sedang berlaku bak bola salju di Timur Tengah tidak ikut merembet ke negaranya. Bahkan kalau perlu tidak ikut menggoyangkan roda pemerintahan seberapa pun tuanya roda itu telah bergulir. Semua harap-harap cemas, berharap masih ada kasih sayang Tuhan terhampar di bumi para anbiya akan perubahan dan taraf kehidupan kea rah yang lebih baik. Bebas dari genggaman tangan besi sang Tiran yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Kecemasan itu menjadi-jadi setelah melihat perilaku brutal Muammar Khadaffi melakukan provokasi untuk membantai rakyatnya sendiri. Muammar Khadaffi yang selama ini dipuji-puji oleh sebagian ormas islam dan majalah islam di Indonesia sebagai Kekuatan Baru Dunia Islam atau juga disebut sebagai Singa Afrika.

 

Semua Harap-Harap Cemas, apa yang menimpa Bahrain tidak segera menganggu  industry keuangan syariah yang sejak tahun 2007 menikmati berkah dari kolapsnya lembaga keuangan di Amerika Serikat dan menyebarnya cap junk terhadap surat utang negara Yunani,Spanyol,dan Portugal. Sejak tahun 2007-2010, Lembaga Keuangan Islam di Timur Tengah terutama di Kuwait dan Bahrain tampil sangat atraktif dalam mengambil kesempatan melimpahnya surplus industry minyak. Tidak terkecuali di Dubai, keadaan surplus dari industry minyak tersebut ternyata disikapi dengan semangat hedonitas, sebutlah Buruj Al Arab, Pulau Kurma, dan sebagainya yang dibalas oleh skenario Allah oleh kegagalan bayar Sukuk Nakheel, sebuah subsidiary Dubai World, dan diketahui sebab kegagalannya adalah selain adanya off balancing sheet juga manipulasi akad jual beli. Yang seharusnya dalam akad jual beli memiliki apa yang disebut sebagai ma’qud alaih atau objek jual beli yang ada, Nakheel hanya menyediakan asset yang belum lagi jadi atau sempurna. Mirip dengan transaksi muzabanah yang dilarang oleh Baginda Rasulullah, menjual buah yang masih berada di pohonnya.

Lagi

Isyarat Dari Maydan Tahrir

Tinggalkan Komentar

Lapangan Pembebasan 2011 bisa jadi menjadi sebuah tahun momentum yang sarat catatan sejarah dunia terinspiratif. Awal Januari kita dikagetkan dengan kenaikan bahan pangan yang mengancam kebutuhan pangan dunia tidak terkecuali di Indonesia. Bahkan di akhir januari hingga menjelang akhir februari ini kita dipertontonkan adegan transformasi sejarah dunia yang baru saja “meledak”. Ibarat gunung es. Ketidak puasan penduduk dunia khususnya rakyat jazirah arab pada model modernisasi yang sejak lama di cangkokkan Barat ke dalam dunia Muslim melalui rezim-rezim Politik yang berkuasa di atas 30 tahun harus menemui jalannya mellaui sejumlah fragmen reformasi demi fragmen reformasi.

Seorang Demonstran di Bahrain menulis di posternya, “ Syukran Ya Mishr Ya Tunisia” Terima Kasih Mesir dan Tunisia. Menandakan di mana awal mula fragmen revolusi ini bergerak dan efek domino yang ditimbulkannya di seantero jazirah arab. Hosni Mubarak yang berhasil ditumbangkan oleh dua minggu aksi massa rakyat Mesir di Maydan Tahrir dirayakan dengan Sujud Syukur umat muslim dan Doa Syukur umat Koptik, seolah mengindikasikan spirit beragama menjadi cambuk  reformasi Mesir yang berdampak komprehensif ke seantero jazirah arab. Al Jazair, Yaman, dan Bahrain juga menandai peristiwa jatuhnya Mubarak ibarat sekelompok tahanan yang selama dalam tahun-tahun pedih di bawah pemerintahan tua tiba-tiba “kerasukan” spirit pembebasan dari Maydan Tahrir yang artinya sendiri “Lapangan Pembebasan “ untuk melepaskan diri dari gaya pemerintahan arab yang kental dengan spirit modernism dibandingkan reformasi jazirah arab untuk kembali ke ashalahnya sebagai bangsa Arab sebagaimana yang dulu digaungkan oleh para pemimpin Arab sebelum pecah perang enam hari Arab-Israel. Sebagaimana pula dulu seorang pemimpin partai Ba’ath, mengakui akan Keislaman sebagai elemen penting dalam dunia Arab yang tidak mungkin dilepaskan begitu saja sekalipun dunia Arab hidup dalam aroma modernisasi

Lagi

Alangkah Lucunya ( Negeri ) Ini

Tinggalkan Komentar

Deliberalisasi Alangkah Lucunya ( Negeri ) Ini. mungkin itu yang bisa kita katakan pada keadaan republik ini pada hari-hari yang sangat menggelikan. Dan itu juga yang menjadi sebuah judul film besutan Deddy Mizwar tahun 2010 untuk menggambarkan pelbagai fragmen-fragmen paradoks dan gokil namun merupakan cerminan dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Berapa kali kita akan tertawa terbahak-bahak dalam film tersebut namun di waktu yang sama kita juga ingat bahwa yang ditertawakan juga realitas masyarakat kita dan bukan tak mungkin yang kita tertawakan adalah wajah keseharian diri kita sendiri. Berapa kali kita akan mengkritik sejumlah perilaku sosial di film tersebut namun di saat yang sama kita baru sadar bahwa itu juga terjadi di Republik Indonesia, negara yang kita cintai, para pencopet yang dalam film tersebut ternyata juga memiliki cita-cita sebagai koruptor. Atau wajah masyarakat yang gemar dalam pelbagai jenis undian dan untung-untungan yang penuh gharar dan maysir. Kemudian belum ditambah sesosok wajah sarjana pendidikan ternyata ikut bingung luar biasa dan mempersoalkan apakah pendidikan itu penting atau tidak.

Alangkah Lucunya Negeri Ini, juga bisa kita sebutkan untuk menggambarkan realitas dan gejolak di tengah masyarakat kita bulan februari ini. disamping penerbitan sukuk ritel yang disambut dengan gairah oleh para investor hingga Ahmad Ghazalli di twitternya merasa perlu untuk membuat kultwit tentang serba-serbi sukuk dan pertimbangan serta perbandingan sukuk dengan instrument investasi lain. Bulan February 2011 juga menampilkan kepada kita kerancuan pemahaman masyarakat atas kemanusiaan dan humanism untuk menghujat nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh agama. Kemudian dibuat dan ditawarkan logika kepada publik. Jauh lebih manusiawi menjadi atheis daripada seorang shaleh namun tak jua menoleh. Bahkan baru-baru ini seorang pengamat politik menganalisis bahwa tingkat penolakan warga muslim di Indonesia terhadap keberadaan tempat ibada umat agama lain sangat tinggi.

Lagi

Sedekah Abdurahman Ibn Auf

Tinggalkan Komentar

kurmaImam Abu Ubaid pernah meriwayatkan hadits mengenai sedekah Abdurahman Ibn Auf. “Dari Atha bin Farukh bahwa ada seseorang yang meminta-minta kepada Abdurahman Ibn Auf, sedangkan di sisi Abdurahman ada satu biji kurma, dia pun memberikannya kepada orang yang meminta-minta kepadanya. Lalu sang peminta-minta marah kepada pemberian satu biji kurma itu kepadanya. Sang peminta-minta itu berkata kepada Abdurahman Ibn Auf, “apa yang dapat dilakukan dengan ini ? “ Abdurahman menjawab, “ Allah mau menerima sedekah, walaupun hanya seberat biji sawi, sedangkan kalian tidak mau rela dengan pemberian ini. “

Dalam hadits yang dipaparkan tadi. Ada sejumlah hikmah yang harus kita ambil sebagai seorang muslim. Dalam perspektif sekular, seolah-olah ingin menunjukkan Abdurahman Ibn Auf yang hanya bersedekah dengan sebutir kurma adalah orang yang bakhil padahal di saat yang sama dalam pelbagai atsar Abdurahman Ibn Auf juga seorang pengusaha yang sukses dan memiliki harta yang melimpah. Namun tidak demikian dari kacamata Islam. Justru sebenarnya Abdurahman Ibn Auf tengah menguji seorang pengemis yang datang kepadanya seberapa bersyukurnya sang pengemis dengan pemberian dari Allah. Karena, seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW, barangsiapa yang tidak mensyukuri yang sedikit tidak akan mensyukuri yang banyak. Dan, sambung Baginda Nabi SAW. Orang yang tak mampu berterima kasih kepada manusia maka ia tidak akan bersyukur kepada Allah.

Jadilah kufur ni’mat. Apa yang nampak lalai namun bila sudah lenyap baru akan menyesal dan memang dimanapun menyesal selalu ada dibelakang. Sebab bersyukur atas ni’mat sesederhana apapun adalah di awal yang membuka pintu-pintu rezeki yang lebih baik lagi berlipat ganda. Maka seperti yang diajarkan oleh Baginda Nabi SAW, “bila kamu mendapat kebaikan dari orang lain, maka balaslah. Bila tidak bisa, maka berdoalah untuknya ( jazakumullah ) hingga kamu tahu bahwa kamu telah berterima kasih. Sebab Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu Berterima Kasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur “ ( HR Thabrani )

Hikmah kedua, sang pengemis yang ternyata tidak lulus dari “ujian “ Abdurahman Ibn Auf dengan anggapan bahwa Abdurahman Ibn Auf tengah mempermainkannya. Dan inilah yang tidak disukai Baginda Nabi SAW. “barangsiapa yang tidak mampu mensyukuri yang sedikit tidak akan mampu mensyukuri yang banyak. Karena masalahnya bukan sekedar mengucapkan syukur ketika tengah berada dalam kelapangan namun berapa banyak yang tidak mampu sabar ketika berada dalam keadaan terhimpit dan kondisi yang serba terbatas. Padahal Allah hampir tiap detik memberinya nikmat tanpa bayaran. Berapa banyak darah yang dipompamkan ke tiap aliran darah kita. Berapa banyak nafas yang masih sanggup kita hirup tanpa bayaran sesen pun. Dan itulah sunnatullah dalam kondisi seburuk apapun selalu ada celah untuk memperlihatkan rasa berterima kasih  kepada Dzat Yang Maha Berterima Kasih

Hikmah ketiga, Baginda Nabi SAW juga mengajarkan kepada kita untuk berdoa sebagai bukti penting bahwa berterima kasihnya kita kepada manusia tidak serta merta dan selalu melibatkan peran Allah, Dzat Yang Maha Pemberi. Itulah sebabnya Baginda Nabi SAW mengajarkan doa sederhana “ Jazakumullah “ atau bagusnya “Jazakumullah Khairan Katsira” , semoga Allah mengampunimu, dan semoga memberikan balasan yang setimpal dan lebih baik. Terima Kasih kepada sesama juga bermakna investasi kebajikan yang diberikan orang pada kita. Penerimanya pun harus selalu siap memberi dan mengasih sebagai manifestasi dari rasa berterima kasih. Berterima kasihlah, karena ucapan “Terima Kasih” itu lebih dari sekedar basa-basi melainkan penghargaan manusia yang ikhlas kepada usaha sesamanya.

Jakarta

10:11 PM

Zaim Saidi Dan Pemikiran Ekonomi Islamnya,

3 Komentar

Dari artikel saya yang lalu,yang mengungkap tentang gairah dan semangat masyarakat mempelajari ekonomi Islam dalam pelbagai bentuknya, baik melalui seminar-seminar ataupun diskusi-diskusi di milist begitu mengagumkan dan menambah rasa tahu masyarakat akan pentingnya bertransaksi sesuai syariah. Bagi orang Indonesia dalams sejumlah penelitian label syariah tidak menjadi begitu penting dibandingkan dengan service dan kualitas jasa yang ditawarkan oleh sebuah entitas keuangan syariah yang menawarkan produk-produknya berbeda dengan keuangan konvensional atau hampir mirip di sisi praktikal namun berbeda penuh dan total ketika kita mulai memasuki ranah filosofis dan kebijakan pengembangan produk perbankan syariah.

Namun tumbuhnya ghirahnya masyarakat mengenal perbankan syariah tenryata mengundang sejumlah provokasi dari kalangan yang lagi-lagi mengklaim “ingin menegakkan syariah” dengan berpijak pada landasan syariah yang benar dan memandang bahwa kita umat muslim tidak perlu sama sekali berhubungan dengan apapun lembaga keuangan modern baik itu syariah atau tidak. Karena bagi keompok ini semua yang datang dari barat dikerahkan bak kuda troya yang masuk ke ranah paradigm dan cara berfikir umat muslim. Dan itulah tantangan yang harus dihadapi oleh umat islam saat ini. Ketika sejumlah orang dari kalangan liberal menganggap semua yang datang dari barat harus diterimka sebagai keharusan sejarah dan pandangan hidup maka kalangan ini mengatakan yang totally 180 derajat bersebrangan kemudian mengklaim, bahwa barat identik dengan kufur, kalau ingin tidak terjebak menjadi kufur jauhilah segala perangkat yang datang dari barat.

Gokil ?? tapi itulah realitas yang terjadi di tengah umat islam dewasa ini. Seolah-seolah mampu mengembalikan kejayaan umat islam yang saat ini telah didokumentasikan dengan program 1001 inventions  di dunia islam. Dan itulah yang ditampakkan dari mereka yang konon sengaja berbeda dari kalangan mainstream dalam pengembangan ekonomi islam dengan kalim kalangan mainstream saat ini terlalu lambat dan ditambah doktrin tanpa dalil bahwa mereka bergerak bukan dari dasar melainkan hanya mengcopy paste.

Lagi

Problem Modernitas dan Gejolak Dunia Muslim

4 Komentar

modernitas ekonomi Kekokohannya bukan berasal dari keadaan tak beragama ,kejayaanya bukan berasal dari naskah latin pula. kekuatan barat, dari ilmu dan teknologi asalnya dengan nyala itu juga lampunya terang bercahaya,kearifan tidak berasal dari potongan dan kerapian pakaian; bagi ilmu dan teknologi sorban bukan halangan, bagi ilmu dan teknologi,wahai orang muda, diperlukan otak bukan pakaian orang Eropa. Di jalan ini hanya penglihatan tajam yang diperlukan, topi macam ini atau itu tak dibutuhkan. Bila kau memiliki kecerdasan yang cekatan, cukuplah itu, Sir Muhammad Iqbal, Javid Namah

Modernitas sebagai sebuah bagian dari proses perubahan sosial diyakini oleh sejumlah cendekiawan muslim menjadi sebuah keharusan dan bahkan pandangan hidup akan perubahan yang pasti terjadi dalam sebuah komunitas masyarakat. Tidak terkecuali di komunitas masyarakat muslim Seperti yang ditunjukkan oleh Lapidus (2000) dalam bukunya Sejarah Sosial Umat Islam modernisme menjadi sebuah keharusan dari doktrin yang utamanya menekankan bahwasanya kekalahan Muslim di tangan kekuasaan Eropa menyadarkan kelemahan mereka, dan bahwasanya pemulihan kekuasaan politik menuntut mereka meminjam teknik-teknik militer Eropa, memusatkan kekuasaan negara, memodernisir perekonomian mereka berdasarkan cara Eropa menjalankan ekonominya yang berbasis pasar bebas dan menyelenggarakan pendidikan modern bagi kalangan mereka. Kemudian, Ira Lapidus juga menyebutkan bahwa bentuk-bentuk peradaban Islam masa pertengahan harus disingkirkan tetapi Islam semata tidak dapat dilepaskan.

 

Apa yang diutarakan dan definisikan oleh Lapidus ini masih lebih soft dibandingkan dengan mereka yang juga aktor utama yang menjalankan proses modernisasi di belahan dunia muslim menjelang abad 20. Seperti Abdullah Cevdet, seorang pendiri partai Commite and Union Progress yang kelak berperan besar dalam menggulingkan kekhalifahan Usmani tahun 1924, mengatakan bahwa “hanya ada satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa, karenanya, kita harus meminjam dari peradaban Barat baik mawarnya maupun durinya “ kepongahan Abdullah Cevdet kemudian diikuti dan diamini secara berjamaah oleh para pelaku modernisasi di belahan dunia Islam lainnya. Seperti Albert Hourani,seorang modernis arab, mengatakan “telah menjadni sebuah norma umum dalam pemikiran Eropa bahwa Agama, baik secara umum, dan khususnya Islam menjadi faktor utama melemahnya kemauan dan memnbatasi akal pikiran. Maka, lanjut Albert Hourani, kemajuan hanya akan dapat tercapai dengan mengabaikannya atau kurang lebih dengan membuat pemisahan antara kehidupan beragama dengan kehidupan sekular. Nah dengan kata lain Albert Hourani seperti menjadi gong akan identitas sebenarnya dari tawaran modernism. Kalau mau mencapai kemajuan dan berhasil mengejar ketertinggalan maka kita harus “membersihkan diri “ dari jejak-jejak sebagau umat yang beragama atau menyandarkan hidupnya kepada agama sebagai pijakan dasarnya “ .

Lagi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.