Archive for Oktober 2009
Kronologi Kasus Bank Century
Sumber: http://www.infobank news.com
Hingga kini, meski Bank Century telah berganti nama menjadi Mutiara Bank, kasus ini masih terus bergulir. Bahkan, hak angket tengah dipersiapkan DPR untuk menguak kasus ini. Berikut kronologi kasus Bank Century yang di data oleh Biro Riset Infobank.
Failed and Bancruptcy American Banking !!
di Indonesia boleh saja merasa sedikuit lega seusai Krisis Ekonomi Global tak banyak berefek pada sektor riil. Pasar Market yang luas dan juga ketahanan Industri kreatif Indonesia membuat semakin kokoh bangunan perekonomian Indonesia di Masa Depan. Namun diseberang sana, Amerika Serikat, The Centre of Capitalism World sedang dilanda demam yang sangat akut dan berpotensi menggoyang lebih mendasar fundamental perekonomian. Ditambah dengan tumbangnya Bank-Bank Swasta Amerika hampir secara massif plus bail out yang terbesar sepanjang sejarah. Gokilnya insentif pemerintah yang diberikan bagi perindustrian perbankan Amerika malah membuat para CEO semakin nyaman berisitirahat dengan tenang bersama fasilitas yang dihasilkan dari bail out Trilyunan itu. Betapa Mudahnya bagi Amerika Serikat untuk terus mencetak dollar dengan mengesampingkan biaya inflasi dan resesi yang akan terus dibayar.
Selamat Datang Krisis !!!
The UK Goes Right, The USA Goes Wrong
When a financier lends money, he wants to know exactly what it’s going to be used for. He then determines the prospects of getting not only his money back but also some profit. When he does decide to lend the money, he lays down conditions on its use and the repayment mode. The larger the loan, the more concerned the financier will be over the proper use of the money.
Barack Obama rode into Washington with a posse of what he claimed were the smartest guys to rescue hapless America — and the rest of the world — from the financial crisis and wrangled astronomical amounts out of Congress. But it looks like the Wall Street gang has outwitted the neophyte in the White House.
Last fall, financial conglomerate AIG (“too huge to be allowed to fail”) had last fall already demonstrated it had no qualms about using the taxpayers’ bailout money for anything but productive purposes. So, why didn’t treasury secretary Timothy Geithner set out the rules for how this money was to be used? To top it off, the US government, which has an 80% stake in AIG, couldn’t impose on the latter’s managers how to use the public funds.
Baying for Geithner’s blood aside, this episode, which is the news of the week, serves to underline the urgency for ethics, good governance and aboveboard practices. This, at least, seems to be the train of thought across the Atlantic as the UK busily organizes the agenda for the G-20 summit in London on the 2nd April to fashion a new financial world order.
To set the pace, the UK’s Financial Services Authority (FSA) has begun working on a banking overhaul which could lead to, among others, a ban on the complex financial products blamed for triggering the credit crunch. These include instruments such as collateralized debt obligations. The FSA feels that some sophisticated financial instruments are simply too complicated to be used without unacceptable financial risks.
Also expected are much tighter rules on mortgage lending to prevent the lax credit conditions that preceded the current crisis. In the FSA’s crosshairs, too, are an overhaul of the bonus culture of banks and other financial institutions.
The FSA has promised a “revolution” that will lead to simpler banks and tougher regulation. Chairman Adair Turner sees less profitable banks taking fewer risks. The FSA’s faith in market forces and reliance on management’s scruples was “a mistaken philosophy”, he said, suggesting that a heavy hand will instead guide banks’ choices on what they invest in and how they account for them, whom they appoint to senior management and their remuneration.
The FSA said its new regime will likely cause banks “to pursue strategies which are primarily focused on classic commercial and retail banking activity”. There will be “fewer resources — in terms of people or total balance sheet — devoted to the complex and risky trading ctivities.”
With the FSA also having set the lead in nurturing and promoting Islamic finance, the UK could well be the role model Obama ought to be looking to. For the well-being of the global economy, he needs to succeed.
Best regards,
IFN team
Diskusi Seputar Perbedaan Antara Ekonomi Islam dengan Kapitalisme di Facebook
Post #1
1 reply
Mahbubi Ali wroteon April 29, 2009 at 9:22am
Benarkah ekonomi islam hanya menjadi alat kapitalisas?Kapitalisme Religius, demikian Vadillo mengungkapkan..banyak pihak menuding, praktek ber-ekonomi syariah di dunia, termasuk jga d indonesia masih sangat pragmatis dan terlalu profit oriented. Yang pntng sesuai syariah..!Adiwarman menyebutnya dengan istilah, “Formalisasi Syariah Tanpa Jiwa” bagaimana menurut anda??
Report
Post #2
Tatto Sugiopranoto wroteon April 30, 2009 at 6:24am
Assalamu’alaikum Wr.Wb. Mas Mahbubi. Semoga Allah SWT meridhoi apa yg kita usahakan. Salawat serta salam kita sampaikan buat Muhammad SAW, rasul Allah, yg telah mengajarkan kita semua bagaimana mensyukuri nikmat.
Menurut saya, apa yg disampaikan para akhli ekonomi, pengamat ekonomi islam termasuk Umar Vadillo adalah praktek ekonomi islam saat ini merupakan salinan (foto copy) dari ekonomi kapitalis barat.Pendapat saya didasari atas fenomena saat ini yg diusung oleh praktisi ekonomi islam saat ini adalah instrumen ekonomi yg mengarah ke kepentingan kapitalis. Contoh, bank dan segala instrumen perbankan lebih berpihak untuk kepentingan kapitalis. Produk simpanan diarahkan bagi pemilik modal dengan iming2 lebih menguntungkan, demikian juga dengan produk pembiayaan yg lebih diarahkan pada sektor konsumtif seperti murabahah, ijarah dsb.
Tujuan ekonomi sendiri adalah untuk pemenuhan kebutuhan manusia, mazhab apapun akan mengatakan hal demikian (kecuali Keynes yg selalu bicara capital dalam bentuk materi).
Tujuan utama dari Ekonomi Islam itu sendiri hampir sama dengan apa yang dicetuskan oleh Adam Smith, Karl Marx dll. Yg membedakan adalah bahwa dalam kegiatan EKONOMI ISLAM harus didasari Amar Makruf Nahi Munkar (AMNM). Seperti apa AMNM itu. Al-Qur’an dan Al-Hadist menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti apa kita harus bersikap terhadap modal/harta/keahlian/tenaga, bagaimana tata cara bertransaksi dan melakukan perjanjian.
Perbankan Syariah, Reksadana Syariah, Pasar modal Syariah dan instrumen ekonomi lain, bahkan SUKUK, masih jauh dari tujuan “pemenuhan kebutuhan manusia”. Artinya, sektor produksi yang dapat memberikan nilai tambah dan memberikan kontribusi lapangan kerja pada masyarakat belum tersetuh secara utuh. Semuanya dibuat seolah hanya untuk kebutuhan pemilik modal saya, bukan untuk menggerakkan sektor riil untuk menciptakan produksi dan nilai tambah. Ini menurut pendapat saya yg bukan akhli ekonomi.
Wallahu’alam bishowab
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Report
Post #3
Achyat Ahmad wroteon May 3, 2009 at 6:24am
assalamualaikum
sebetulnya saya tidak punya otoritas apapun di bidang ini. di sini, saya hanya menghormati saudara pengundang. menurut saya, dia mengundang saya bukan karena saya bisa memberikan solusi, tapi mungkin untuk membuka kran pendapat-pendapat ‘yang salah’, agar mengalir lebih deras. bukan begitu, bung boby? he he he…
saya melihat, di sekeliling lingkungan saya, terdapat begitu banyak para penjual cireng, cilok, teote, guddu, jemblem, dls-dls, yang bergerak tanpa modal dari bank, termasuk yang berbasis ’syariah’ sekalipun.
saya mengundang para pakar ekonomi untuk tidak sekadar berteori, tapi bagaimana teori-teori itu diramu, kemudian digerakkan di lingkungan saya, atau mungkin juga di lingkungan anda.
di sini, di pasar yang dibuka sendiri ini, mereka akan dapat langsung menerapkan teori-teori ekonomi syariah yang menyelamatkan itu, lalu mungkin kelak akan menjadi besar, dan memiliki suara yang cukup lantang untuk berteriak pada para kapitalis yang berbaju syariah itu…
Report
Diskusi Seputar Peran dan Eksistensi Ekonomi Islam di facebook
Post #1
Andi Faisal wroteon May 23, 2009 at 6:57am
memasuki abad ke 21 alur ekonomi menempuh pengembangan yang cukup signifikan, ekonomi pada abad-abad sebelumnya berada pada level mikro dengan hanya menganalisis kondisi pasar dan harga, namun, sejak keynes dan kawan2 membawah ekonomi dari riil ke moneter, terjadi lompatan yang sangat jauh, namun sayang ekonomi meleompat tanpa memiliki kaki yang kuat, akibatnya, ekonomi pada tahun 30an, mengalami patah kaki, kondisi yang sama terjadi pada tahun 97-98 dan tahun 07-08.
para ekonom pun berpikir, apa yang salah dari kapitalisme.
disisi lain, terjadi perlawanan dari timur terhadap hegemoni ekonomi barat, sebut saja Amartya sen, peraih nobel ekonomi asal india, yang tampil dengan kritikannya.
dan dari pemikir-pemikir islam, konsep ekonomi islam semakin didengungkan,..
nah, babakan sejarah telah dimulai, apakah timur bisa mengalahkan barat??? apakah ekonomi islam bisa jadi solusi??
itu tergantung anda..!!!!
Post #2
1 reply
Ariz Mencari Cinta wroteon May 24, 2009 at 6:22am
Timur dan barat adalah dikotomi yang telah usang. siapa yang kapitalis siapa yang sosialis, timur ataukah barat?. tapi pada dasarnya teori ekonomi kapitalis dan sosialis awal kemunculannya juga dari wilayah yang disebut “barat”.
pun pula ekonomi islam, yang dianggap “timur”, karena tinjauan historis, kelahirannya bersamaan dengan agama islam yang muncul dari jazirah arab (dalam peta dunia masuk benua asia yang dianggap “timur”).
perlu diperjelas bahwa ekonomi islam sebagaimana pembawa agama islam (Muhammad S.A.W) adalah rahmatan lil alamin. ekonomi islam adalah solusi universal, tanpa harus dikondisikan sebagai bagian dari “timur atau barat”.
Post #3
1 reply
Andi Faisal replied to Ariz’s poston May 27, 2009 at 11:52pm
aduh, apa yang anda maksud dengan islma adalah solusi universal, konsep ekonomi islam hanya lahir karena lemahnya kapitalisme, akan tetapi islam pun tidak punya pondasi teoritis yang kuat
Post #4
Mahmal Rizka (Indonesia) wroteon May 28, 2009 at 5:30am
Setau saya dalam islam, spekulasi sangat dilarang. Yang mana spekulasi merupakan salah satu faktor penyebab jatuhnya kapitalisme. Dalam islam objek transaksi harus jelas. Kalau anda menyatakan islam tidak pondasi yang kuat, bukankah yang saya sebutkan di atas merupakan prinsip yang mana jika dilupakan niscaya ekonomi islam pun akan mengalami nasib yang sama dengan kapitalisme. Itu baru salah satu prinsip di samping prinsip-prinsip lainnya. Tugas kita selanjutnya adalah mengembangkan prinsip-prinsip tersebut agar bisa diimpelementasikan pada kondisi sekarang.
No More Simplicity
Salah satu poin penting kritik yang sangat fundamental terhadap asumsi bebas nilai adalah simplikasi masalah dan efek yang ditimbulkan secara makro ekonomi dan jangkuan luas secara holistik. Asumsi Bebas nilai mengasumsikan dalam sains hanya ada kekosongan nilai yang tergantung siapa bisa menguasai dan memberikan warna pada sains tersebut. Itulah mengapa kala dihadapkan pada gagasan Islamisasi Pengetahuan ataua Aslama Al Ma’rifah, sejumlah cendikiawan menolak mentah-mentah gagasan tersebut dengan asumsi segala sains yang telah dan patut kita telaah pada dasarnya tergantung di tangan siapa menjadi bermanfaat. Secara moderat, Ziaddin Sardar pun menilai kalaulah Sains itu bebas nilai,seperti yang ditunjukkan ilmu-ilmu eksakta, maka pendekatan kepadanya yang membuat kita menjadi lebih sekuler.
Merujuk pada bahasan Dr Muhammad Syafii Antonio di seputar gagasan mengapa perlunya kita menyediakan SDM yang kapabel untuk memasuki ranah Perbankan dan Lembaga Keuangan Syariah ternyata dunia telah terbagi menjadi dua. Yang pertama, kata beliau, mereka yang terbiasa dengan tradisi Turats di pondok pesantren dan menguasai pelbagai tools ilmu-ilmu keislaman seperti bahasa Arab,Fiqh, kitab kuning dan lain-lain. Di saat yang sama, kata beliau, para bankir menguasai manajemen keuangan,Akuntansi Finansial,Statistik, Manajemen Operasional, Akuntansi Biaya namun minim pengetahuan di bidang Islam. Otomastis hal-hal seperti inilah yang menyebabkan terjadinya misunderstanding dan asumsi bebas nilai itu senantiasa muncul. Tanpa mengetahui terlebih dahulu akar epistomologi dan sejarah yang melatarbelakangi keilmuan itu muncul efeknya adalah penyederhanaan persoalan makro menjadi semata moral hazard dan error human saja. Padahal dalam Islam, tiga pilar yang menopanginya yaitu akidfah, syariah, dan akhlak membentuk sistem sekaligus para pelakunya. Syariah itu sendiri tak semata-mata berputar pada Fiqh saja tetapi juga seluruh ruang lingkup gerak individu yang terjalin dengan akidah dan akhlak itulah Syariah.
Oktober, Momennya Kebangkitan Pergerakan Mahasiwa Muslim Indonesia ??
Entah momennya tepat atau sengaja grand designnya, bulan oktober ini terjadi dua perhelatan akbar yang dimunculkan kembali oleh pergerakan mahasiswa. Saat aku berada di Semarang, aku baru sadar kalau hari ahad yang lalu itu 5000 mahasiwa muslim Indonesia dari Lembaga Da’wah Kampus senusantara berkumpul di Gelora Bung Karno dalam rangkaian Kongres Mahasiswa Muslim Indonesia yang terselanggara oleh BADAN Lembaga Da’wah Kampus. Kongres akbar yang akhirnya terselanggara di Luar Basket Hall Gelora Bung Karno juga bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olah Raga. Inilah kongres Akbar yang menggebrak dunia mahasiswa bangun dari tidurnya yang lelap dalam nuansa apatisme dan hedonism.
Di saat yang sama Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam bekerja sama dengan KSEI UNDIP selaku tuan rumah dan Rohis Fakultas Ekonomi Universitas Undip menggelar event SEHATI, Shariah Economics Activity, juga RAPIMNAS FoSSEI yang bertajuk Revitalisasi FoSSEI Untuk masyarakat Indonesia yang Madani pada tgl 15-17 Oktober 2009. Event SEHATI dihadiri banyak delegasi mahasiswa muslim dari pelbagai kelompok Studi Ekonomi Islam seIndonesia dan sedikitnya ditambah juga dengan Rohis sert SKI dari pelBAGAI Fakultas Ekonomi Senusantara. Aku benar-benar tersentak. Realitas telah berubah. Yang tadinya cenderung apais kini kian berghirah. Yang tadinya hedonis, kini kian menjadi spritualias.
Pencerahan Strategi Industri Kreatif (berbasis) Reaktif
Merujuk pada gejolak industry perekonomian yang melibatkan pro rakyat pada elemen-elemen tertentu, seperti pada idul Fithri atau semasa bulan Ramadhan yang membuka pintu baru sentral kekuatan ekonomi rakyat. Momen sepanjang Ramadhan dan Idul Fitri juga mencatat pertambahan kualitas kekuatan industry kreatif mulai dari Industri parsel semepat khawatir “gulung tikar “ karena keputusan KPK tentang pelarangan gratifikasi dari bawahan ke atasan bagi para pegawai negeri sipil. Di ramadha pupla tempatnya bagi industry makanan yang membanjir tiap tahun. Di lain sisi, Industri Kreatif ini ada pula yang bersifat reaktif dan mempunyai kedudukan antara positif dan negatif. Seperti produk-produk muslim style pasca ekspansi Zionis ke Ghaza Palestina. Mengundang pelbagai raksi dari public dunia tak terkecuali berimbas ke sentral perdagangan. Seruan boikot yang diserukan oleh Rabithah Alam Al Islamy untuk memboikot tiap produk yang diidentifikasi menyumbang 1 % untuk Israel.Sebutlah produk-produk yang lahir dari implikasi gejolak tadi.
Implikasi dan ouput yang bisa diterima dari imbas ini sangat penting. Ibarat boomerang, pereokonomian bisa menjadi senjata politik ampuh untuk setidaknya menahan invasi yang lebih besar. Juga kadar reaktifitas dari industry “kreatif ini telah membuka kanal baru bagi para konsumen yang nota bene memiliki ghirah keislaman yang kental dan melebar lagi konsumen muslim yang sadar akan identitas keislamannya. Belum dengan adanya Industri kreatif itu sendiri berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan, PDB Industri kreatif telah menyumbang pada PDB nasional sebesar 6,3% atau setara dengan 154 Trilyun terhadap PDB dengan harga yang berlaku.
Progres,Hari Esok
Sebelumnya aku harus berterima kasih kepada Progres dalam membina tiap generasi angkatan STEI Tazkia dengan ruh pejuang yang rindu membumikan Ekonomi Islam. Kalau dittany, pada siapa pertama kali saya menengal ekonomi Islam seusad aku tercelu dengan nilai-nilai Islam melalui interaksiku dengan Tarbiyah, maka saya akan menjawab:Progres. Aku telah banyak menulis catatan-catatan tentang perkembangan Progres dan pada tulisan ini, aku hanya akan menuliskan sejumlah analisa tentang hal-hal yang menjadi tantangan Progres ke depan sekaligus juga sejumlah Otokritik yang inshaAlah membangun kepekaan kita pada jalan yang telah kita pilih (Catatan Malam Hari Selepas Isya, Bogor )
Semenjak aku menjabat sebagai waka kadiv Luar Negeri progres, semenjak saat itu pula beringsut-ingsut hasrat memandang persoalan KSEI lebih luas dan tak hanya dari satu sudut saja. Bersyukur adalah hikmah yang selalu saya dapatkan. Sementara semangat adalah yang kutebar ke KSEI-KSEI Lain. Karena saya memandag persoalan KSEI lebih komparatif dan komprehensif. Inilah Progres dan dari situ pula banyak pintu terbuka untuk menilai baik dan buruk perkembangan Progres yang dari namanya saja merefleksikan sebuah asa yang dinamis dan sarat nilai-nilai Hayawi.Terlalu banyak kejutan di dalamnya tapi tak sedikit ada masukan yang,InshaAllah berarti untuknya.
Dengan standar rating penilaian yang dibuat oleh stakeholder Ekonomi Syariah manapun, aku berani memprediksi Prores adalah salah satu KSEI di Jadebotabek yang selalu stabil temu Ilmiahnya. Yang selalu bertenaga perkasa para personilnya. Serta selalu kreatif dalam memuncratkan idea-ideanya. Even, hanya ada di Progres, Kajian Ekonomi Islam dalam skup Fiqh Muamalah Klasik selalu mendominasi.Hingga tak perlu heran kerap diadakan debat Ekonomi Islam dalam kerangka muamalat dan tinjauan hukum syariah.







