Archive for September 2009
Ekonomi Islam Dan Kebebasan
Kebebasan adalah nalar fithrah.. keberadaanya diakui dan diberikan tempat dalam porsi yang sesuai dengan haknya mengelola hajat hidup untuk menambah maksimalitas arti hidupnya sebagai hamba di atas pentas peradaban manusia.yang, bagi Sayyid Muhammad Baqir Shadr, hanya dalam Islam kebebasan bertemu muka dengan konsep Khalifah yang justru membukakan pintu gerbang bagi manusia mengelola alam dan sumber dayanya seluas-luasnya. Tapi beranjak dari sebuah sabda Rasulullah, keberadaanya bagaikan lilin yang panas namun berkali-kali serangga coba untuk menerobos lilin itu dan terbakar. Begitu juga dengan perilaku manusia, In The Name of Freedom, tanpa melihat lagi dampak mafsadat yang ditimbulkan asal memenuhi konsumsi syahwatnya nyaris tak lagi diperlukan usaha untuk menggapainya.
Di era sekuler, salah seorang anggota parlemen Turki dari Partai Keadilan dan Pembangunan, Edibe Sozen, pernah mengusulkan dirancangnya draft undang-undang yang mengatur larangan minuman keras dan alcohol di seantero Turki. Namun memang sebuah Negara sekuler yang konon memegang teguh asas demokrasi, idea perancangan drfat undang-undang itu mendapatkan reaksi keras dari para sekularis di seluruh Turki dan mendapatkan vonis sebagai pilot project rencana mengembalikan Turki sebagai Shariah State. Padahal, Negara tetangganya, sudah telanjur menghalalkan minuman keras dan harus membayar social cost yang sangat besar dalam hal demoralisasi penduduknya. Hatta, di Indonesia, untuk mendapatkan sebuah tabloid bernuansa “panas” hamper tak diperlukan usaha sama sekali. Entah apakah Indonesia nyatanya lebih liberal dan sekuler dari pada Negara yang mengaku embahnya liberal dan sekuluer pun. Tapi biasanya angka di atas statistik selalu berbicara demikian.
Intelektual Ekonomi Islam dan Pergerakannya
Hidup yang selalu penuh dengan gerak. Sekalipun banyak pilihan yang membuat kita diuji untuk memilih. Kalau dulu Gie atau Soe Hok Gie pernah menyindir sikap mahasiswa Indonesia dengan ungkapan “di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau idealis” seakan-akan telah terblok dua kubu tipikal manusia. Yang pertama nampak pemuja hedonistis dan euforisme gegap gempita dengan nuansanya politik dan ekonomi yang memburuk. Dan yang kedua, tetap bertahan di tengah gempuran gaya hidup dan hegemoni kkonspirasi pada cita-cita idealnya.
Zona Nyaman Vs Idealisme
“’Ah kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini, dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat , bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan Amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti . Kalau tak ingat , bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat bahwa aku belajar disini dengan menjual satu-satunya sawah warisan kakek. Kalau tak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah, dan sanak saudara. Kalau tak ingat itu semua, shalat zuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalkan kipas dan mendengarkan lagu El Hub El Haqiqi dan untaian shalawatnya Emad Arabiy dari Syiria itu tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir mangga yang sudah didinginkan atau satu minggu d dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan MashaAllah alangkah segarnya “
( Habiburahman El Shirazy , Ayat-Ayat Cinta )
Rangkaian tulisan panjang tadi diambil dari salah satu karya sastra Islam terbaik yang dimiliki oleh bangsa Indonesia . Bahkan pernah diangkat ke layer lebar serta di saat yang sama novel tersebut telah banyak diterjemahkan ke pelabagai bahasa dunia dari mulai Malaysia hingga Jerman. Tetapi membaca rangkaian cuplikan dari karyanya Ustadz Habiburahman El Shirazy, satu poin penting terikat dengan apa yang banyak disebut oleh para aktivis da’wah sebagai “Zona Nyaman”. Bagi para Aktivis Da’wah Kampus hingga para businessman papan atas sangat risau dengan tiap kekayaan yang menumpuk di depositonya maupun emergency savingnya. Karena, bagi mereka, itulah zona nyaman, yang malah-malah mengantarkan mereka pada zona stagnan dan bahkan meluncur sama sekali.
Akhina Riza Rizky Pratama, CEO KSEI Lisensi UIN Jakarta, pernah menulis di facebooknya apa yang menjadi alsan mahasiswa UIN memilih bergerak di tengah-tengah opini kampusnya sebagai sarang penyakit liberalisme. Comfort Zone dipahami sebagai suatu sikon yang sekilas telah banyak memberikan banyak keleluasaan dan kecukupan materi hingga bagi mereka yang jeli akan tegas banyak “mengkritisi” dengan cara sibuk sendiri dan menenggelamkan diri ke pelbagai kepanitiaan. Itulah yang saya rasakan selama menjadi mahasiswa matrikulasi sebelum memasuki semester awal yang juga bnayak dirasakan oleh mahasiswa lainnnya. Mencari kegiatan serasa menjadi PR terbesar yang harus digarap oleh Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi di setiap musyawarah atawa syuraa. Dari mulai Menerbitkan MARGIN (Matrikulasi Magazine) hingga Pekan Peduli Ekonomi Syariah sebagai jurus pamungkasnya mengekssistensikan nama mahasiswa sebagai pelopor perubahan. Maka, selepasnya dari Matrikulasi, kami serempak mencari pelbagai kegiatan dari mulai nyebur di Progres hingga membuat UKM baru. Atau Akhina Johanh Rio Pamungkas, temen kapmi di FIB UI juga pernah cerita di blognya kala pertama kali melihat fenomena “orang-orang kiri “ terlihat lebih eksis di kampusnya dibandingkan dengan para aktivis da’wah kampus yang katanya sudah Futuh dan banyaknya anak mushalla yang masuk ke kursi senat.
Membaca riwayat dan atsar para ulama terdahulu, Comfort Zone menjadi periode atau poin yang sangat menakutkan. Hingga Imam Ahmad yang telah berkali-kali mengalami penyiksaan leh rezim Al watsiq Billah dari Dinasti Abbasiyah “Tiada Kata Istirahat hingga kakiku menapak di SurgaNya “ atau Imam Zamakhsyari yang bersenandung puitis “jari-jemari di atas kertas dan buku-buku lebih kusukai dari pada pahanya para wanita ana alunan rebana “ dan nyatanya itu pulak yang menjadi jawabannya kala seorang ulama salaf berdoa “ ya Allah, tabahkanlah agar aku mampu bersabar di saat Kau berikan aku kelapangan “ .
Semoga itu jua yang ternyata menjadi semangat teman-temanku di usianya yang belia hanya terpikir satu kalimat “Just Do The Best “ bagai para pejuang, istirahat itu justru ketika mampu melepaskan diri dari satu kekangan ke kekangan yang lain sampai sempurna misi yang ia jalankan
Antitesanya adalah perubahan dan keluar dari zona nyaman harus siap dengan konsekuensinya karena ia kembali mendudukan keteguhan idealisme. Nah, bicara idealisme berate bicara kriterie ketegasan moral yang mengawal keberlangsungannya sbeuah misi. Dengan tegas, kita ummat muslim, kriteria ketegasan moral itu berangkat dari wahyu Allah SWT daan sunnah Muhammad Rasulullah. Sebab baru dengan demikian diterimanya sebuah amal. Tapi Idealisme juga perlu berdialog dengan wajah zaman dan keterbatasan ruang. Mendobrak zona nyaman dengan model tahun 1965 an jelas tak lagi relevan. Tidak selamanya Pemerintah adalah Tiran atawa Thagut yang harus digulingkan atau bahkan secara gegabah mencap mereka yang berhukum di bawah Pemerintahan yang sah secara yuridis dan aspek maslahah luas,dengan anggapan Thagut, mencapnya sebagai ashobiyah dan sebagainya. Karena di situasi dan massa yang telah banyak bergerak menuju titik penentuan sejarah akan ada banyak kerugian yasng harus rela dibayar mahal oelh ummat. Serta haruskah memperpanjang daftar kekalahan dengan logika Negara di saat yang sama kita adalah populasi muslim terbesar di dunia.?? Padahal logika Negara juga dibangun atas usmbangan dan kontribusi konsensus ummat. Ibarat babak belur di kandang dan gawang sendiri.
Para sahabat Rasulullah SAW, hingga para aktivis da’wah juga manusia. Ada ruangan manusiawi di sejumlah episode kepahlawanannya. Umar Ibn Khattab sangat manja di depan istrinya, tapi lain cerita, kala ia mendengar ada seorang non muslim yang terpaksa menajdi pengemis karena jizayah yang dirasa memberatkan kebutuhan ekonomi serta ditambah usia lanjut. Umar pun memegang tangan sang pengemis non muslim ini dan membawanya ke Baitul Maal kemudian membebaskan Jizyah serta memberikan sedekah yang diambil dari Baitul Maal tersebut. Di era kiwari, salah seoarang ikhwah bercerita dalam sebuah program daurah Al Qura’an. Tentang masa mudanya dilewati penuh dengan perjuangan keras dan habis di masa sulit. Sampai suatu ketika ia meminta izin kepada ibunya untuk berangkat demontrasi. Sampai tiga kali ia meminta izin namun barulah izin keempat mendapatkan izin. Yang mengharukan, sang ibu tidak membiarkan dirinya tangan kosong. Dibuatkanlah sebotol susu hangat untuk sang anak yang akan berangkat demonstrasi. Maka melinanglah air mata mengalir dari seorang ikhwah kita ini karena Cinta yang selalu dialirkan oleh ibundanya meski sempat sampai tiga kali menolak perizinan untuk bias ikut serta demonstrasi.
Disini. Di ruangan pertarungan untuk keluar totalitas dari zona nyaman punya seninya sendiri. Mereka yang mengaku idealis jangan sampai di pecundangi oleh berlimpahnya informasi yang tak juga menambah intelektualitas bertambah dewasa. Mereka yang mengaku paling idealis, jangan sampai atas nama idealisme telah ikut menyumbang orang lain menjadi apatis karena egonya lebih banyak muncul seolah-lah dunia miliknya sendiri. Tapi mereka yang mengaku moderat, yang ada semakin dalam terperosok dengan zaman yang ada. Pragmatis. Ungkapan –ungkapan seperti “ buat apa lagi aktif di pergerakan mahasiswa, keadaan tak juga semakin berubah “ kian nyaring terdengar senyaring teriakan apatisme sebagian masyarakat yang seolah-olah sudah bias memastikan besok matahari takkan terbit dari timur lagi. Mereka lupa kalau agama ini adalah agama ‘proses” bukan hasil. Surah Al Anfal, yang konon menjadi “nyanyian perang” bagi para mujahidin Palestina, diturunkan menjelang surah At Taubah lebih banyak berbicara, apa yang perlu dipersiapkan, bagaimana mengarunginya, dan apa yang kita peroleh kelak dari Allah SWT bahkan dijanjikan dengan SurgaNya setelah bertransaksi dengan jiwa dan harta para mukminin.
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).( Surah Al Anfal :60 )
Tentang hubungan keterikatan hati para mukmin disentuh pula oleh Al Qura’an
dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)622. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. ( Surah Al Anfal :63)
dan jual beli yang abadi
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. ( At Taubah :111)
Sejarah yang unik dan kerap membuat pembacanya terhenyak pernah mengajari kita. Di Masa Bani Ummayah, ummat ini pernah mengalami menyiksa tapi justru begitu dikenang sejarah. Adalah sang Penasihat Khalifah, Raja’ bin Haiwah dengan konspirasi keshalihannya memunculkan Umar Ibn Abdul Aziz di tengah-tengah dominasi keturunan keluarga Abdul Malik
Ala Kulli Hal, keluar dari zona nyaman dengan segenap perubahan memang menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan lagi tetap bertahan dalam status quo, melanggengkan rezim kebathilan dan memperpanjang usia tua dalam asuhan sang rezim. Entah lah itu kita sebut realitas bobrok atau sistematika jahiliyah !!
Bandung, Syawal 1430 H
Nafs
Oleh : Hamid Fahmy Zarkasy
Manusia bagi Karl Marx disetir oleh perutnya (ekonomi) dan bagi Sigmund Freud oleh libido seksnya alias kemaluannya. Ketika berhijrah di abad ke 7 M, Nabi sudah menyinggung temuan Marx dan Freud. Orang berhijrah itu disetir oleh tiga orientasi : seks, materi dan idealisme atau keimanan (lillah wa rasulihi). Artinya, manusia itu bisa jadi seharga dorongan perutnya, atau dorongan seksualnya dan dapat menjadi sangat idealis, meninggalkan kedua dorongan jiwa hewani dan nabati itu.
Jadi semua perilaku manusia hakekatnya disetir oleh jiwa atau nafs-nya. Tapi nafs mempunyai banyak anggota, yang oleh al-Ghazzali disebut tentara hati (junud al-qalbi). Anggota nafs dalam al-Qur’an diantaranya adalah qalb (hati), ruh (roh), aql (akal) dan iradah (kehendak) dsb. Al-Qur’an menyebut kata nafs sebanyak 43 kali, 17 kali kata qalb-qulub, 24 kali kata ta’aqilun (berakal), dan 6 kali kata ruh-arwah. Itulah, modal manusia untuk hidup di dunia.
Nabi menjelaskan peran qalb dalam hidup manusia. Menurutnya, aspek penentu hakekat manusia adalah segumpal darah (mudghah), yang disebut qalb. Gumpalan itulah yang menjadi penentu kesalehan dan kejahatan jasad manusia (HR. Sahih Bukhari). Karena begitu menentukannya fungsi qalb itulah Allah hanya melihat qalb manusia dan tidak melihat penampilan dan hartanya. (HR. Ahmad ibn Hanbal). Sejatinya, qalb adalah wajah lain dari nafs, maka dari itu qalb atau nafs manusia itu bertingkat-tingkat. Para ulama menemukan tujuh tingkatan nafs dari dalam al-Qur’an:
Baca entri selengkapnya »
Laporan Keuangan Bank Syariah Sudah Transparan
Kamis, 10 September 2009 pukul 16:21:00 <!–

–>
JAKARTA–Direktur Utama Bank Mega Syariah, Beny Witjaksono, menyambut baik pendapat agar bank syariah bisa listing di lantai bursa.
“Itu bagus-bagus saja kalau bisa jadi perusahaan terbuka sehingga bisa lebih terbuka pada publik dan melaporkan performanya,” kata Beny, Kamis (10/9).
Meski demikian, menurut Beny, bukan berarti bank syariah tak transparan. Pasalnya, setiap bulan bank syariah juga memiliki laporan keuangan yang dirilis setiap bulannya.
Email Dari Seorang Sahabat
Diawali dengan sebuah pertanyaan.. ..
Saudaraku, kalau saja ada yang bertanya, siapakah orang yang paling berbahagia hidupnya di dunia ini?
Insya ALLAH, orang dimaksud tidak lain adalah orang2 yang beriman.
Saudaraku, meskipun seolah-olah, mungkn saja terlihat dari luar, orang2 yang beriman begitu berjuang dengan gigihnya. Mungkin juga, cobaan, entah itu cobaan yang berupa nikmat atau ujian, datang silih berganti. Tanggung jawab amanah yang demikian besar. Pengorbanan. Dan sebagainya.. ..Sebenarnya, tidak menjadi sebuah masalah bagi mereka yang beriman.








