Kesaksian Enam Puluh Empat Tahun Pembangunan
Agustus 13, 2009
Saat kata kita merangkai dunia
Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka
Telah enam puluh empat tahun negara kita merdeka
Telah menua usia bendera merah putih disana
Seharusnya kita lebih belajar lebih dewasa dari anak TK
Saat kata kita harus merangkai wacana
Pada permulaanya hanyalah di atas kalam
Buah pikir yang tersantunkan dan menggeliat
Menggeliat menjadi poros.
Menggelinding ia sentuhkan perubahan
Saat kata kita kembali bicara jujur
Dari ruangan hati ke meja berhiaskan speaker
Dari ruangan hati ke bilik kekuasaan Presiden
Atau malah dari ruangan yang tak mempunyai hati nurani
Yang penting merdeka lebih punya isi
Yang melawan retorika para politisi.
Yang melawan kelaparan bayi-bayi
Kesaksian dari arah pembangunan menjerit peka
Sudah enam puluh tahun kita merdeka
Sudah renta usia negara kita
Dan kata-kata kita masih dijajah dari berkata jujur.
Kau adalah anak baik-baik
Andai diam saja dan katakan sesuai apa yang dipesan pemilik modal
Andai tetap tersenyum dan katakan sesuai apa yang dipesan pelaku pasar
Kau adalah ulama yang terhormat
Andai selalu merapat pada barisan koalisi kekuasaan Sang Presiden
Andai tak terlalu banyak berfatwa
Fatwamu cukup untuk si miskin dan si pengangguran
Mereka berdosa karena kemalasan mereka dan dapat menjadi beban negara !
Kesaksian dari arah pembangunan menjerit pedih
Sudah enam puluh empat tahun kita merdeka
Masih jua meronta perih
Sudah renta usia ibukota kita
Masih jua menangis pasrah
Dan kata-kata kita masih dibelenggu dari berkata ikhlas
Lalu siapa yang bisa memberi arti pada tulang-tulang berserakan
Pasca 10 November dan antara krawang dan bekasi ??
Lalu apa artinya kita berteriak gagah-gagahan merdeka !
Untuk Tanah, Air, Minyak, Bumi, dan Api bukan kita yang punya
Menghirup udara pun perlu proyek privatisasi
Kesaksian dari arah pembangunan
Masih berteriak lemas dan marah !





