Archive for Juli 2009
Tengah-tengah
Dalam setiap diskursus peradaban dan pemikiran akan selalu mencuat kalangan –kalangan yang satu sama lain bersebrangan baik itu secara kontras atau setidaknya mempunyai titik singgung yang mencerminkan substansi dari sebuah kalangan lain pada ajaran,mazhab,pemikiran yang dianutnya.
Mudahnya, sebelum robohnya tembok Berlin, Dunia hanya terbagi dua blok.Amerika Serikat dengan sekutunya yang baik secara politik membentuk kubu liberal atau ekonomi dengan gaya kapitalisme klasiknya Vis A Vis dengan Unisovyet yang hasil interpretasi Lenin atas Das Kapital ke format Negara yang baik secara politik membentuk kubu komunisme atau Ekonomi dengan gaya sosialisme utopianya. Tetapi sejarah juga mencatat, kalau perang dunia I & II tidak sedang memberikan kemenangan kepada siapa-siapa, yang ada kekalahan sudah mutlak dialamatkan pada negeri-negeri dunia ketiga di sepanjang setengah penduduk dunia di Asia dan benua hitam Afrika.
Di Antara Dua Belah Batu Karang
Di antara dua belah batu karang adalah sebuah judul pidato yang sangat monumental dari Bung Hatta. Pidato yang disampaikan kurang lebih berisi penegasan sikap negara Indonesia yang baru saja memproklamirkan kemerdekaanya dari penjajah kolonial Belanda dalam hal kemandirian bangsa di tengah percaturan dagang dunia.
Bung Hatta menegaskan keberpihakannya pada prinsip dan sikap yang berdikari serta berdaulat di tengah dua belah batu karang yang dilukiskan sebagai sistem Ekonomi berbasis Free Fight Liberalism dan sosialisme. Ke depanny, prinsip dan sikpa itulah yang kemudian diperjuangkan oleh para Ekonom UGM seperti Prof Mubyarto dan sekarang diwariskan pada “penerus” generasi “Ekonomi Konstitusi”. Maka tersebutlah nama-nama seperti Iman Sugema, Umar Juoro, Faisal Basri, Ichsanuddin Noorsy, Revrisond Baswir hingga Hendri Saparini dan Aviliani.
Seruan Ekonomi Islam pada Saya, Anda dan Kita para Pemilik Harta
- Jangan biarkan pesan-pesan mulia Islam dalam berekonomi hanya sekedar pesan yang hanya bermakna pada mimpi, harapan atau obsesi. Jangan biarkan teori-teorinya hanya menjadi fenomena-fenomena cerita tanpa realita. Mari wujudkan pesan-pesan mulia itu menjadi fakta yang benar-benar nyata. Kita jadikan teori-teori menjadi realita berupa data-data. Mudah saja untuk memulai, latih hati untuk semakin peka dengan keadaan sekitar kita dan kemudian perbanyak infak juga sedekah. Biasakan diri hanya berorientasi pada kebutuhan saja, karena kelebihan berapapun harta kita, ternyata mampu membuat orang lain tersenyum dalam hidupnya, atau sekedar menahan mereka untuk tidak mencuri barang satu malam untuk sesuap nasi bagi anak-anaknya.
Dari Manusia Untuk Peradaban
Membaca Sejarah Kita
Adakah bangga dirasa ??
Kala sengat zaman nan garang
Pilukan ujung sembilu yang berang
Seakan hendak melawan tiran
Dari ujung pena
Dari goresan tinta
Dari jilid buku
Manusia bersyahadah pada Peradaban
Tapi ada yang inferior
Menatap Petronas begitu superior
Dari pojok kota yang kotor
Bersambung ke Eropa dan Yunanni
Ternyata Terkerdilkan oleh Syahwat Sendiri
Maka, Membaca takdir kita
Adakah takjub dirasa ??
Kala peta politik telah berubah
Dimensi geografis semakin tak tentu arah
Dan sandi peradaban bersyadahah
Kelancangan manusia sebagai arsiteknya
Itulah Budi pekerti tertinggi
Tak rendahkan manusia barang seujung jari
Tak agungkan Tiran walau sehelai rambutnya kemisik kasturi
Sejumput asa di pancang
Sebongkah dusta dibuang
Musafir ilmu enggan lelah mencari
Propaganda Tiran hantui massa
Tapi ia berfikir pasal cita-cita
Sistem Riba melaratkan bangsa
Tapi ia berceloteh tentang logika keberkahan
Skenario Politik Tiran tololkan bangsa
Malah coretannya berbicara tentang Keadilan dan Kemanusiaan
Maka itulah pelik dan rumitnya
Dan dari kemanusian tuk Peradaban
Bermula dari kemauan
Bogor
Pilpres: Menyalakan Lilin Bersama Raja’ Ibn Haiwah
“Assalamu’alaikum, wahai Raja!”
-Sa’d ibn Waqqash, ketika membai’at Mu’awiyah ibn Abi Sufyan-
Al Imam Ibnul Atsir dalam Al Kamil fit Tarikh 3/405 merekam adegan pembai’atan Mu’awiyah oleh Sa’ad ibn Abi Waqqash ini. Awalnya Mu’awiyah marah. “Apa salahnya Anda memanggilku Amirul Mukminin?”, katanya. “Demi Allah”, kata Sa’d, “Aku tidak suka memperoleh apa yang kau dapat dengan cara yang kau gunakan!”
Ya, wajar bagi Sa’d mengatakan demikian. Beberapa hari sebelumnya, sang keponakan, Hasyim ibn ‘Utbah ibn Abi Waqqash menghadapnya disertai perwakilan berbagai kabilah. “Demi Allah wahai Paman”, kata Hasyim, “Ada seratus ribu pedang terhunus yang berpendapat bahwa engkaulah yang paling berhak memegang kepemimpinan kaum muslimin!” Sang keponakan mungkin benar. Dari kesepuluh sahabat Rasulullah yang beliau jamin ke surga, tinggal Sa’d ibn Abi Waqqash yang kini masih hidup.







