Archive for Maret 2009
Menjelang Petang
Menjelang Petang
Menatah Matahari
Ketika terbangun dengan geliatnya
Dari lelapan mimpi
Cerita seperti dimulai
Semua bergegas
Tanpa permisi
Tanpa basa basi
Kita Dan Krisis Ekonomi Global
Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. (Surah Al Hajj : 67)
Ada yang salahkah dengan kita di hari ini ? tatkala seorang ulama Saudi dalam La Tahzan mengingatkan kita agar tak hentinya berpijak pada kacamata orang lain. Dari mulai cara berjalan, mode,pakaian, hingga prinsip pun yang lebih baik berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri Secara global kita adalah sekumpulan manusia-manusia yang lahir dan tumbuh serta mengaku bertanah air satu, berbahasa satu kemudian kelahirannya yang mengantarkan pada sebuah negara merdeka di kawasan asia tenggara atas dasar senasib dan sepenanggungan yang satu terikat perih si bawah corong penjajahan kolonial.
Dari Istanbul, Kuala Lumpur, Hingga Jakarta (2)
Indonesia Kita …..
Ada cerita dari Indonesia kita, Cerita ketika statistic angka mayoritas dapat dibuyarkan seketika dengan hitungan minoritas. Ada cerita dari ruangan tamu negeri kita yang paling terbelakangan adalah mereka yang mayoritasnya saudara-saudara kita sendiri. Yang memenuhi Masjid setiap Shalat Juma’at dan Hari Raya Idul Fitri. Saudara-saudara kita juga, yang kata Pak Syafii Antonio, bila Naik Haji dan pulang dari tanah suci, oleh-olehnya made in Chinna, Taiwan,Canada, Hong Kong dll. Bukan Made In Egypt, Marocco, atau bahkan KSA dan bahkan tabungan hajinya dari Bank Konvensional yang notabene sarat dengan riba.
Tapi saksikanlah ada cerita juga dari negeri kita, segolongan anggota DPR dari sebuah Fraksi yang jumlah mereka tak lebih dari 10 % tapi berani mengembalikan gratifikasi sebesar 1,9 Milyar ! Sisanya, fraksi-fraksi lain yang totalnya 90 % hanya sangup mengembalikan 21,8 Juta! What’s Wrong ?? Ada Cerita lain yang ternyata kita amsih ada di Indonesia ini, Cerita ketika para anggota Dewan ini kerap menjadi Key person praktik korupsi anggota DPR.
Dari Istanbul, Kuala Lumpur, Hingga Jakarta (1)
Sebenarnya, tulisan ini sudah sangat lama direncanakan oleh saya dari beberapa bulan yang lalu. Seketika saya menyaksikan sebuah fenomena baru yang terjadi dan berlakunya fenomena tersebut bagaikan rangkaian bola salju yang menggelinding menggulirkan warna perubahan pada wajah tiga negeri tersebut. Secara garis umum, tentunya pembaca sekalian sudah hampir bisa menebak tema apa yang diangkat dalam tulisan ini. Tetapi sebenarnya lebih luas dari itu semua. Lebih luas dari sekedar batas-batas geografis yang menyekat satu sama lain dan memberikan pandangan hidup yang murni kelahirannya dalam perjalanan bangsa-bangsa dan Peradabannya
Buku, Film, Dan Kemanusiaan Yang Tercecer 2
Buku bukan satu-satunya media yang padat dan berharga menyampaikan sebuah gagasan. Dan malah yang jauh lebih terbukti efektif pada gejala-gejala globalisasi dan secara mendunia dapat segera ditangkap dan diakses oleh milyaran penduduk dunia dengan kecanggihan teknologinya. Bukan menafikan siapa yang banyak memerankan perkembangan teknologi. Tapi, semakin nampak mana yang patut diambil dan mana yang lebih layak dilempar ke tong sampah. Dan sudut pandangnya pun tinggal memilih menjadi penonton yang selalu setia bersikap “spectators “ atau bersedia mengambil jalan “panas “ dalam sudut pandang yang obyektif dan memiliki landasan kuat.
Kalau ada yang telat menyaksikan film-film Box Office yang telah mengundang decak kagum ribuan penonton dan berkali-kali diobrolin di pelbagai blog dan situs internet mungkin salah satunya adalah saya sendiri. Especially film-film keluaran 2005 seperti Film Gie yang keluar sebagai film terbaik, actor terbaik, dan sinematografi terbaik.
Film ini diangkat dari buku harian seorang aktifis mahasiswa eksponen 65 an. Saya sendiri sudah pernah membaca dengan jelas gagasan yang ditawarkan oleh Soe Hok Gie, sosok aktivis mahasiswa tadi, dalam bukunya yang diterbitkan oleh LP3ES berjudul “ Catatan Sang Demonstran “. Berdarah Chinesse dan kuliah di Universitas Indonesia Fakultas Sastra jurusan sejarah. Memang saya sudah beberapa kali malah menonton film tersebut.
Seru dan memberikan makna lain yang harusnya tidak boleh dilupakan dalam demam euforia hedonitas. Tentang arti dari mencintai Tanah Air. Ada banyak orang selepas menonton film ini segera berburu buku “Catatan Seorang Demontran “ hingga berani menghargai sampai ratusan ribu rupiah ! atau berburu ke pasar-pasar bukend (Buku sekend ) di kawasan Kwitang (sekarang dah almarhum ), Bursa Buku Palasari di Bandung, dan Taman Topi di Bogor. Mungkin almarhum Soe Hok Gie nya sama sekali tidak menyangka bahwa sebuah buku harianya akan dibaca oleh banyak orang, bahkan diangkat menjadi sebuah film yang disutradarai oleh Riri Riza.
Buku,Film,Dan Kemanusiaan Yang Tercecer
Fiuh….sudah sangat banyak pengarang tak lelah jua mengulas benda satu ini. Antara berbagai keistimewaannya serta ironi -ironi yang banyak bermunculan. Akan tetapi ada sebuah alasan yang paling sering dilontarkan oleh banyak orang mengapa enggan membaca buku sedangkan mustahil rasanya suatu peradaban yang terdiri dari pandangan Hidup dan identitas yang jelas dapat tumbuh dan berkembang dan berpengaruh dalam dan menghangatkan kopi sejarah peradaban dunia .
Especially keagungan para Khalifah yang memukau dengan kegemilangan prestasi bagaimana membawa sebidang tatanan masyarakat menjadi begitu ternama dan dipandang tidak dengan sebelah mata. Jauh sebelum mereka yang terpukau dan hingga tertetes alir liurnya pada peradaban Westren yang sukses menggadaikan Izzah dan kehormatan diri sebagai makhluk yang bernurani fitrah merdeka dari belenggu ikatan apapun selain Allah Ta’ala yang Maha Terpuji .
Memaknai Kembali Asa Perubahan Pemuda Islam
Harapan akan reformasi dan perubahan selalu disandarkan pada kaum muda. Sayangnya kenyataan menunjukkan ketika kaum muda mendapatkan apresiasi untuk duduk dikursi kehormatan dengan menjadi anggota dewan maupun duduk di kementrian, banyak diantara mereka yang tidak mampu mengemban amanah reformasi. (Muhammad Nadjib , Mahasiswa S3 University of Tokyo )
Di tiap detak jantung manusia yang setia dengan seizin sang Maha Pencipta selalu ada gelegak bangun dan rebah dari nuansa yang lebih dominan stagnan menuju relung manusia yang lebih dinamik dan penuh berkibar murninya estetika.
Maka demikianlah gerak manusia yang mudah jenuh untuk segera melepaskan jiwa raganya pada arah taraf berkehidupan yang lebih baik lalu kita memaknainya dengan nama
erubahan Baca entri selengkapnya »
Ghaza Dan Ketidapedulian Intelektulitas Kita
“Dalam pandangan saya , Israel sebagai negara Yahudi membawa bahaya tidak saja bagi dirinya sendiri dan bagi warganya, tapi juga bagi semua bangsa dan negara lain baik di Timur Tengah maupun di luarnya “
(Dr Israel Shahak, Jewish History, Jewish Religion:1992. dalam Adian Husaini “Wajah Peradaban Barat” )
Ghaza. Apa yang bisa kita perbuat untuknya? Dari perputaran sejarah entah berapa mayat syuhada yang kembali bergelimpangan dengan ledakan bom curah dan terbakar bom fosfor. Maka kini semakin memberikan goresan-goresan kental dengan warna merah darah, debu,kobaran api, dan jerit tangis para wanita dan anak-anak tak berdosa.
Tesisnya Irwan , seorang sahabat saya dari Unpad Jatinangor, semakin jelas terbaca dan malah jelas bahwa barangsiapa yang memahami persoalan ekonomi maka ia akan memahami peta perpolitikan dan barangsiapa yang menguasai perekonomian maka akan dengan mudah menguasai catur kekuasaan dan politik dunia. Penguasa negara-negara arab yang bertetangga dengan Palestina seperti Mesir, Saudi Arabia, Yordania, Syria, Libanon, semakin rapat terbungkam seiring dengan tingkat eskalasi penyerangan udara Israel ke Ghaza dan seragang darat yang kini telah memasuki hari ke 16 dengan jumlah syuhada telah mencapai 1000 orang dan sementara itu adzan shubuh tetap berkumandang di Ghaza kala deru pertempuran yang dahsyat antara balatentara Zionis Israel dengan Mujahidin Hammas.
Quo Vadis Indonesia Di Era Globalisasi
Film Supersize Me yang berhasil mendapatkan penghargaan di Festival Film Sundance 2004 dan juga berhasil menggondol penghargaan kategori sutradara terbaik di Festival Edinburg 2004, setidaknya telah membuka kembali lembaran file ingatan kita akan satu dekade yang sarat dengan gelembung fenomena panjang dan membayar dengan mahal hari-hari panjang dalam dekade itu dengan sejumlah eksploitasi negara-negara berkembang. Kemudian para sosiolog serta ekonom dunia hampir telah sepakat belakangan ini sebagai sebuah grand design peradaban penduduk dunia pada satu wajah, satu bendera,satu brand,dan satu kekuatan tunggal.
Hasan Al Banna Dan Doktrin Reformasi Ekonomi Ummat
Itulah Jiwa Sistem Ekonomi Islam dan ringkasan kaidah-kaidahnya, yang saya utarakan dengan seringkas-ringkasnya.Setiap kaidah itu memerlukan perincian yang dapat ditulis dalam berjilid-jilid buku.Apabila kita mau menjadikannya sebagai pedoman dan berjalan di atas cahayanya, niscaya kita dapatkan padanya banyak kebaikan. (Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan)
Sulit. Demikianlah kiranya jika kita hendak memisahkan sosok seperti Hasan Al Banna dari peta perjalanan kebangkitan Islam di paruh awal abad 20. Namanya dan sosoknya demikian unik untuk kembali dibedah.Seiring dengan semakin maraknya aroma kebangkitan yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam itu kian menjalar dan bergelora di pelosok bumi Islam. Ketika Majmuatur Rasailnya dan risalah pergerakannya terbit sebagai jawaban atas banyaknya permintaan yang masuk pada beliau agar membukukan seluruh visi dan gagasannya akan kebangkitan Islam dan dari mana harus dimulai. Maka tak bisa dipungkiri gagasannya ternyata tak hanya mencakup idea-idea politik semata namun juga seruan reformasi ekonomi umat dengan berpijak pada nilai-nilai islam. Lalu system ekonomi itu mampu memberdayakan potensi spiritual masyarakat dan kekuatan sosialnya. Mampu membangun keseimbangan antara produksi dan eksplorasi, antara investasi dan penyimpan. Serta antara ekspor dan impor.
Sekilas Hasan Al Banna
Doi, yang memiliki nama lengkap Hasan bin Ahmad bin Abdurahman Al Banna ini, lahir di sebuah kawasan dekat kota Kairo yaitu Mahmudiyya pada tahun 1906. Di usianya yang ke 12, Hasan Al Banna berhasil menghafal Al Qura’an berkat sentuhan didikan ayahnya, Syaikh Ahmad Al Banna. Dan juga kejeniusan dalam membagi waktu antara belajar di sekolah dan membantu ayahnya meraparasi jam dari siang hari hingga sore hari. Di usianya yang ke 16, Hasan Al Banna telah menjadi mahasiswa di Darul Ulum dan selepas kuliah, beliau ditunjuk untuk menjadi seorang guru SD di Ismailiyah. Dalam memoarnya, Hasan Al Banna juga memaparkan pengalamannya selain sebagai seorang guru sd di se buah madrasah di Ismailiyah juga beliau merintis perjalanan da’wahnya yang justru dimulai di kedai-kedai kopi di Kairo. Beliau banyak mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk mulai menyampaikan kembali risalah islam di kedai-kedai kopi dengan cara dan teknik yang sangat unik. Dari sana aktivitas Hasan Al Banna mulai merambah ke pelbagai mushalla.
Sepakat dengan yang dipaparkan oleh Anis Matta dalam sebuah ulasannya mengenai Hasan Al Banna yang bahkan disebut olehnya sebagai “ Pemegang Saham Kebangkitan Islam”, Karena pemetaan jalan perubahan itu telah ia mulai susun dengan rapi lalu menyempurnakannya pada umur ke-22 dengan berdirinya Ikhwanul Muslimun.Ya, hingga digambarkan oleh Muhammad Iqbal, Intuisi dan fikrahnya telah menyatukan kembali masyarakat muslim mesir bak ikatan sapu lidi yang mengumpulkan kembali daun-daun yang berserakan. Hatta, dari kematiannya di ujung berondongan peluru para penembak misterius pada umurnya yang ke-40 tak membuat sistem kaderisasi ummat berhenti malah hampir dapat dipastikan pemikirannya dijadikan referensi perubahan transisi masyarakat muslim di penjuru dunia tak terkecuali di Indonesia dan Asia Tenggara.








