Archive for April 10th, 2008
Akuntansi: Milik Umat Islam
Tatkala saya masih duduk di bangku kelas 12 SMA jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial , yang selalu saya ingat dari nasihat guru-guru saya khususnya tatkala kami memulai mempelajari Akuntansi yang “resmi “ diberikan setelah melalui penjurusan . Akuntansi sebuah ilmu yang kerap diidentikkan pada sejumlah paradigma yang sempit atau gambaran pembukuan yang rumit dan ‘ njelimet “ apalagi setelah mendapatkan banyak cerita dari kakak-kakak kelas yang juga dari jurusan yang sama kemudian sikap teman-teman bila dulu mulai ada sebuah kecendrungan masuk jurusan IPS malah setelah ada penjurusan mlai bangga dengan sejumlah predikat “wajah rumus” pada mereka yang masuk jurusan IPA . Fiuh ada pesta paradoks yang berulang tercatat sejumlah pesta paradoks akan dikotomisasi Ilmu pengetahuan atau yang lain dalm bentuk tak jauh berbeda paradigma sempit selalu ditebarkan kemudian cukup lah ilmuwan sekuler barat yang berpulang sebagai tempatnya memnta keputusan perusahan muslim di bidang Akunta nsi . Hingga biarlah waktu yang menjawab betapa urgennya PASAR kembali bertemu dan berrsua dengan MASJID , hingga biarlah segelintir gelombang fenomena mendebur dan memukul dada kaum muslimin mempertemukan keduanya pada jalinan yang romantis dan harmonis , seperti sedia kala misi Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq yang gilang gemilang menciptakan kestabilan perekonomian Madinah , misi yang kini kelabu dan nampak bak utopia , bila Masjid yang hidup maka otomatis pasar kan tumbuh dengan subur namun bila pasar yang hidup masjid akan redup .
Sayangnya sejak kejatuhan Daulah Khilafah Islamiyah di Turki pada tahun 1924 karena lebih banyak diakibatkan keterpurukan moral pejabat khalifah dan desakan seorang Mustafa Kemal Atturk ke konsep negeri sekuler , misi tersebut kian meredup dan hanya lelaki tua nan renta pulang dan pergi ked an dari masjid .tentunya ada pertanyaan dalam dada teman-teman bukankah tatkala kita mengambil jurusan Akuntansi Syariah sudah pasti kita akan mempelajri seluk-beluk akuntansi Syariah tersebut ? saudaraku, garis-garis yang kini membedakan mana si pemuda yang tahu dan telah mengembara ke berbagai kitab seta majelis ahli ilmu adakah jaminan untuknya segera beranjak menuju “mau” atau mereka yang “mau” namun karena hanya di bekali dengan semangat yang bergejolak untuk segera mengobarkan obor-obor Ekonomi Syariah tanpa bekal di perjalanan panjang yang cukup , garis-garis yang telah menyeleksi dengan bijak dan perhatian tanpa bermaksud untuk mengesampingkan apalagi mencoret hanya saja disini level-level pahala utuk mereka yang berjuang akan sangat bertolak belakang untuk sang pemuda berbekal ilmu tanpa amal dengan san pemuda lain beramal tanpa ilmu hingga ia dikembalikan pada rumusan agung yang selalu berjalan identik dengan nilai-nilai islam yang tawazun dan moderat .








